A Fresh Graduate Story of Mohammad Ikhsan

In this post, I will show you a story of a friend of mine. Up until now, this story is one of the best stories that ever appeared on the dashboard of my tumblr. It was a real story about how a fresh graduate is trying to live up to his dream. Life often gives us many dazzling options. If the offered options are not what you really want, what would you do? Would you reject those options? Or.. Would you choose to take those dazzling chance?

This is what happened to lots of fresh graduates, facing obstacles in their way to deliver the ideal they dreamed of. In the end, failure is not bad if it happens because your plan did not work. Well, we can’t control the universe. I mean, if you had a great preparation but other uncontrollable variables made you fail, it was not your mistake. It’s just out of your control. The point is you have done your best. That made your live worth living!

So here is a story of Ikhsan that I copied from his tumblr (http://moikhsan.tumblr.com/post/23862533494/old-friend written on May 27, 2011)

Old friend…

Last year all I had to do was show up, talk, and sign. Money. But I didn’t. I had an idea. An idea I shared with a few people. We were six. They seem to like the idea. I knew one loved it. So I walked away and decided to pursue the idea. Crazy. So time went on, the idea grew, the idea spread, the idea gained mass, and it seemed perfect. Crazy. I loved the idea, it was to be the first here in my country. It was to be my way to give back to this country. Continue reading “A Fresh Graduate Story of Mohammad Ikhsan”
Advertisements

A Fresh Graduate Story of Ade Harnusa Azril

Pulling The Plug on Chordeo

Chordeo
For those who didn’t already know, Chordeo is a project that my friends and I develop this past year or so. It is a crowdfunding service inspired by Kickstarter. Aimed to help fund people with creative ideas or social causes to make their ideas reality.

It was a noble cause (and still is), but we kept encountering obstacles on the way. The development was painfully slow, our team started to lose focus on it.

So, we decided to stop developing Chordeo. This, of course, is not an easy decision for me. I already made many promises to a lot of people. If you are one of those people, I am sorry for not living up to your expectation. Continue reading “A Fresh Graduate Story of Ade Harnusa Azril”

A Fresh Graduate Story of Azhari Surya Adiputro

Mas Romo : “Kalian tau kenapa proyek ini namanya PALAPA ?”
Massa HME : …
Mas Romo : “Dulu Patih Gajahmada pernah bersumpah, tidak akan bersenang-senang sebelum mempersatukan nusantara, sumpah itu namanya sumpah palapa. Kami juga sama, kami tidak akan bersenang-senang sebelum seluruh rakyat Indonesia merasakan listrik”

— Ramadani Wahono (Romo) EL 06, Ketua PALAPA II HME ITB.

September – Oktober 2011.

Cerita dimulai sejak dinyatakan lulus sidang, 29 September 2011. Mulailah daftar-daftar di jobfair. Kerasa banget rasanya jadi “job seeker”. Perubahan yang ngga enak dari status mahasiswa ke “pencari kerja”. Alhasil dari job fair, ikut proses Astra sampe wawancara HR, tapi belom ada panggilan lanjutan, gagal tes pauli di Telkomsel, gagal FGD di General Electric,, Pertamina, Garuda Maintenance Facility, Telkom, sama Rekayasa Industri ngga ada panggilan, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba cari magang ke XXX, soalnya rekrutmen XXX biasanya bulan Juni, jadi magang dulu aja deh gapapa, daripada nganggur, sekalian liat-liat kalo ada rekrutmen-rekrutmen lain.

Desember 2011.

XXX ini bumn strategis dan memang lagi butuh banyak orang, karena proyeknya banyak dan orangnya memang cuma sedikit. Di XXX itu ada pekerja tetap sama outsource. Yang outsource itu masuknya dari koperasi XXX, jadi dibayar sama koperasi. Sebetulnya ada satu lagi, namanya THL : tenaga harian lepas, alias “magang”, nah yang magang ini dibayarnya sama divisi yang membutuhkan, diambil dari uang proyeknya, jadi bukan dibayar sama XXX, bukan sama koperasi.

Kebetulan pas bulan desember itu diberlakukan peraturan baru, bagi yang mau jadi pegawai outsource, harus lolos psikotes XXX dulu. Kenapa, karena pegawai ini diharapkan memang jadi pegawai tetap XXX, jadi nanti pas ada proses rekrutmen ngga usah prikotes lagi, tinggal wawancara direksi sama tes kesehatan.

1 Desember 2011, saya diikutkan psikotes XXX, atas permintaan Pak AD (angkatan’ 87), GM Divisi Pusat Teknologi dan Inovasi, sama Pak H (angkatan ‘00), kepala proyek renewable energy, pembimbing KP (dulu) sama calon user saya. Buat jadi pegawai outsource dulu, kalo lolos nanti bulan juni tinggal wawancara aja sama tes kesehatan (rencananya). Tanggal 2 desember nya saya mulai masuk di XXX sebagai pegawai “magang”, selagi menunggu hasil psikotes nya keluar.

Pertengahan desember saya mimpi,
(mimpi)
Pak AD : “azhari … kamu ngga lolos psikotes”
Azhari : … (terbangun)

Dua hari kemudian ada sms masuk, saya dipangil psikotes YYY Geothermal Energy di UI. Hari itu saya mau menghadap Pak AD untuk minta izin ngga masuk kerja. Sebelum menghadap ternyata,
Pak AD : “azhari”
Azhari : “ya pak”, saya ikut ke ruangan nya
Pak AD : “seperti yang saya khawatirkan, Continue reading “A Fresh Graduate Story of Azhari Surya Adiputro”

Mau Sekolah Lagi

Kali ini saya akan menuliskan postingan tentang apa yang sedang hangat di perjalanan hidup saya. Semenjak jumat minggu lalu, saya telah resign dari IBM. Sejujurnya, resign itu bukan hal yang mudah. Tidak mudah ketika kita hendak meninggalkan tempat yang kita suka, tempat yang nyaman, sekaligus tempat kita menemukan banyak makna. Tapi, perjuangan dalam menjadi orang yang lebih baik harus terus dilakukan.

And yeah, someone said that Growth and Comfort doesn’t coexist. It is true indeed. It’s hard to leave someplace that you felt comfortable being there. But then, the process of seeking a truth needs sacrifices. What’s the point of being comfortable if you are not being your true self? If this is the only one life that we live, why don’t we at least try to do something remarkable? Why don’t we take the risk? 

Taking risk. I was not a bright undergraduate student with a high GPA. A friend once told me that it is impossible for someone like me to be a researcher. I didn’t even receive emails from some consulting company inviting me to go for an interview. In my leisure time, I don’t like to read textbooks. I prefer meet someone new in some community or organization, talking about new ideas, life, etc. But then, when I look back, I see those dots are connected. So here I am, preparing my mental for pursuing Ph.D in Electrical Engineering.

Continue reading “Mau Sekolah Lagi”

How to Resign for Dummies

Fik, ajarin gw dong How to resign for Dummies

Sejujurnya, saya adalah fresh graduate yang baru pertama kali masuk ke dunia korporat. Dan baru beberapa bulan saja, saya sudah akan resign. Baik masuk ke suatu perusahaan maupun keluar dari suatu perusahaan adalah pengalaman pertama bagi saya. Dan sejujurnya, saya agak bingung bagaimana mengungkapkan rencana ini di awal. Saya pun melakukan sedikit googling tentang cara resign, termasuk bagaimana membuat surat resign.

Nah, pada postingan kali ini saya akan share pengalaman saya dalam proses resign (karena sampai sekarang masih dalam proses).

1. Komunikasikan Rencana

Jika kita sudah tahu memiliki rencana untuk resign dari perusahaan tempat kita bekerja, ada baiknya kita mengungkapkannya kepada atasan Anda dari jauh-jauh hari. Apalagi jika yang kita ikuti adalah program sejenis management trainee dimana kita diharapkan untuk berkarir di sana. Adalah penting bagi kita untuk mengatur ekspektasi orang lain terhadap kita, sebab kita sendiri pun demikian, tidak ingin dikecewakan oleh orang lain.

2. Buat Surat Resmi

Setelah mengomunikasikan secara langsung, kita perlu membuat surat secara resmi. Ada banyak referensi di internet untuk surat resign. Di sini akan saya beri contoh surat resign dari seseorang yang akan resign karena ingin melanjutkan studi.

Dear Company,

First of all thank you for welcoming the new Apprentices with such warmth. I am extremely thankful to be in Company.

While I truly appreciate the opportunities I have been given here, I want to inform you that I just have been offered to continue my studies in Some University.  At the time I decided to join Company Apprenticeship program, I did not  expect that my application for the studies is still being processed as explained in chronological timeline below.

In December 2011,  I applied for higher degree admission. It stated that the result of admission will be released in end of March 2012.
Starting from January 2012, the Company Apprenticeship selection process is held.
In March 2012, I was selected to be Company Apprentice. On the other hand, I did not get any further notice yet from Some University while my friend, who also applied for University, had been interviewed. I had tried to ask about the status of my application, but I did not get any reply. So, I decided to accept Company offer and join Company Apprenticeship 2012.
In the middle of April 2012, I got phone interview from University.
In May 2012, I got notification that I have been offered for admission with University, for the August 2012 intake.

This was not an easy decision to make. I have been satisfied to join Company Apprenticeship. But, I decided to continue my studies. With this in mind, I am seeking your permission to allow me, Syarif Rousyan Fikri, to continue my studies in Some University, where I will be pursuing a Degree in Some Faculty.

I appreciate the opportunities I have been given here, and wish you much success in the future.

Sincerely,

Yah, sejujurnya surat di atas masih banyak salahnya, apalagi untuk surat resmi. Tapi, kurang lebih alurnya seperti itu.

3. Buat Ending yang Bagus

Ketika kita memiliki rencana untuk resign, bukan berarti kita bisa seenaknya melalaikan pekerjaan kita. Bagaimana mengakhiri sesuatu dengan baik dan bijaksana pun penting, terutama untuk kredibilitas kita. Dunia ini sempit dan adil. Bukan tidak mungkin kita akan menemui dan membutuhkan orang-orang yang saat ini bekerja sama dengan kita pada perusahaan yang akan kita tinggalkan. Belum lagi, jika kita melalaikan pekerjaan kita, tentu kita akan memberikan beban tambahan untuk orang yang nantinya akan mengisi posisi kita.

Teman saya yang sudah pernah resign dari perusahaan lain sebelumnya juga bercerita bahwa dua minggu sebelum resign, sudah ada pengganti yang akan mengisi posisinya. Selama dua minggu tersebut teman saya berusaha untuk mentransfer pengetahuan kepada orang baru tersebut. Meskipun tidak mungkin sepenuhnya tersampaikan, setidaknya proses knowledge transfer itu akan membantu orang baru tersebut untuk mengakselerasi pembelajarannya.

4. Pamit

Tentunya selama bekerja, tidak hanya hubungan profesional yang kita jalin dengan rekan-rekan kerja kita, tapi juga hubungan personal. Banyak di antara orang-orang yang baru kita kenal, akhirnya menjadi salah satu sahabat terbaik yang pernah kita punya. Sampai sekarang saya meyakini bahwa orang Indonesia lebih cenderung menjalin hubungan yang personal. Sehingga, ada baiknya jika kita berpamitan kepada rekan-rekan kerja. Jika perlu, buatlah acara farewell seperti karaoke bersama, atau doa bersama. 😀

Fikri,
Let’s celebrate our friendship and have an informal one on one before you focus on your next journey.
Thanks.

Dan jujur saja, saya sangat mengapresiasi coach saya yang mengundang saya untuk diskusi one on one secara informal sebelum saya melanjutkan perjalanan berikutnya.

Nah, mungkin sangat antiklimaks, tapi baru segini yang bisa saya tulis sekarang. Banyak dari kata-kata bijak yang saya tulis dari sini berasal dari pelajaran yang diberikan coach saya.

Semoga berguna 🙂

Ekspektasi

Seorang anak kecil merengek minta dibelikan sebuah mesin cuci. Karena tidak ingin buah hatinya merengek, Bapak menjanjikan akan membelikan mesin cuci itu besok. Esoknya, hal yang sama terulang. Si anak sudah berpikiran bahwa Bapak akan membelikan mesin cuci itu hari ini. Di sisi lain, Bapak berpikir anak kecil ini tidak butuh mesin cuci, dan tidak tahu apa-apa tentang mesin cuci, untuk apa membelikannya. Terlebih lagi, toh dia anak kecil, berikan saja janji palsu.

Lalu, kejadian itu berulang. Ekspektasi yang terus ditanam, namun tidak kunjung direalisasikan membuat si anak kecewa dan tidak percaya lagi kepada Bapak.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki ekspektasi tertentu. Sebagai makhluk sosial, manusia pun memiliki ekspektasi terhadap orang lain. Untuk itu, kita perlu mengatur ekspektasi orang lain terhadap kita dengan cara mengomunikasikannya dengan terbuka dan jelas. Adanya ekspektasi yang tidak tepat dari orang lain terhadap kita, tentunya akan menimbulkan efek yang kurang baik, terutama bagi kredibilitas kita.

Dunia ini sempit. Kemanapun kita melangkah, seluruh rekam jejak kita akan diperhitungkan. Jangan pernah berpikir, “Saya tidak akan bertemu lagi dengan orang ini” lalu berbuat seenaknya. Kita tidak pernah tahu ke mana waktu akan membawa kita.

Tidak ada salahnya melakukan set ekspektasi di awal demi menjaga kredibilitas. Jangan bilang kita bisa, jika kita memang tidak bisa. Jangan bilang kita akan melakukan sesuatu, jika kita tidak mampu melakukannya.

Set ekspektasi!