Mau Sekolah Lagi

Kali ini saya akan menuliskan postingan tentang apa yang sedang hangat di perjalanan hidup saya. Semenjak jumat minggu lalu, saya telah resign dari IBM. Sejujurnya, resign itu bukan hal yang mudah. Tidak mudah ketika kita hendak meninggalkan tempat yang kita suka, tempat yang nyaman, sekaligus tempat kita menemukan banyak makna. Tapi, perjuangan dalam menjadi orang yang lebih baik harus terus dilakukan.

And yeah, someone said that Growth and Comfort doesn’t coexist. It is true indeed. It’s hard to leave someplace that you felt comfortable being there. But then, the process of seeking a truth needs sacrifices. What’s the point of being comfortable if you are not being your true self? If this is the only one life that we live, why don’t we at least try to do something remarkable? Why don’t we take the risk? 

Taking risk. I was not a bright undergraduate student with a high GPA. A friend once told me that it is impossible for someone like me to be a researcher. I didn’t even receive emails from some consulting company inviting me to go for an interview. In my leisure time, I don’t like to read textbooks. I prefer meet someone new in some community or organization, talking about new ideas, life, etc. But then, when I look back, I see those dots are connected. So here I am, preparing my mental for pursuing Ph.D in Electrical Engineering.

Dan kebetulan, saya orangnya lebih suka keramaian. Maka dari itu, saya berniat mengajak junior-junior saya angkatan 2008 untuk apply sekolah lagi juga. Saya kirimlah sebuah email ke civitas.

Dear Civitas,

Sekedar menyampaikan pesan dari teman yang sedang riset di School of Electrical & Electronic Engineering (EEE) Nanyang Technological University,
EEE NTU sedang ingin menjaring lebih banyak Ph.D candidate dari ITB. Program ini merupakan program PhD selama 4 tahun. Tidak harus master, undergrad juga bisa apply. Beasiswa (NTU Research Scholarship) full (perbulan S$2000 sampe qualifying exam, sekitar 1,5-2 tahun setelah admission, setelah itu naik jadi S$2500), tuition fee fully covered.
Berikut merupakan link untuk apply program sekaligus apply beasiswa,
Deadline 30 Juni untuk intake Agustus 2013. Oh iya, untuk yang belum punya GRE dan TOEFL bisa tetap mendaftar dan minta tes khusus ke NTU.
Terima Kasih

Sayangnya ternyata ada yang salah dari email itu. Sebenarnya deadline 30 Juni itu untuk intake January 2013.😦

Nah, kebetulan kemarin waktu saya ke kampus, beberapa kawan-kawan angkatan 2008 (sebenarnya mereka lebih tua dari saya, dan saya sendiri banyak bercengkrama dengan mereka karena lulus telat :D)  bertanya-tanya bagaimana memulai mencari supervisor untuk riset. Nah, di sini saya akan sedikit share bagaimana kisah saya.

Sebenarnya awalnya saya belum segitunya berpikir untuk melanjutkan sekolah lagi. Kalaupun ada keinginan, sejujurnya saya lebih ingin melanjutkan di Indonesia. Bukan apa-apa, tapi Indonesia adalah tempat yang nyaman dimana yang saya butuhkan berada. Kalau saya mau belajar agama, wahananya banyak sekali.  Kalau saya kuliah lagi di Indonesia, tentu bisa menambah keilmuan saya sekaligus masih memberikan peluang bagi saya untuk melakukan hal lain, apalagi teman-teman yang sevisi sudah ada. Tapi ya itu tadi, growth and comfort doesn’t coexist!

Lalu, kedatangan NTU ke kampus saya telah mengubah semuanya. Bukan apa-apa, tapi karena kebetulan saat itu saya mendapatkan kesempatan untuk tes. Dan semenjak saat itu saya jadi mulai berpikir lagi mengenai cita-cita saya. Setelah itu saya juga sempat ikut presentasi dari salah satu universitas dari Malaysia. Di sana saya berdiskusi tentang riset dan personal life.
Choosing to enter the world of research is a big deal. Don’t rush”

Jadi memang, sebenarnya keputusan untuk melanjutkan studi itu sesuatu yang besar. Tapi sejujurnya, saya bukan orang yang sevisioner itu, terkadang saya lebih suka menggunakan prinsip “coba aja, toh nggak rugi ini”. Akhirnya, saya pun memberanikan diri untuk mengirimkan email ke profesor:

Dear Prof XYZ,

Let me intrduce myself first, my name’s Rousyan. I am from Bandung Institute of Technology (Indonesia) and currently at the final year of Bachelor program on Electrical Engineering Department.

I’m going to apply for the SINGA scholarship that offers an opportunity to do research and to pursue PhD degree at NTU. One of the requirements of the scholarship is to find prospective projects we’re interested in and the supervisors for the projects. And as I look for the supervisors and projects in the list, I found that your research area is interactive & digital media. I am so interested in this field, May i know the detail about your research projects in this area?

For additional information, currently, i am working on my undergraduate thesis about face identification for attendance management tools. Before working on this project, i also involved in several researches about digital interactive media. I designed and implemented a multi-touch table application for museum, this project is a collaborative research with students from visual communication design department. I also had become supporting researcher in RESTU Project that want to build an Indonesian Virtual Agent with artificial general intelligence (the main researcher is master students). And i also joined ITB-SAT project and had created a rocket ground station software with 3D GUI.
I am sorry for bothering your time, i hope i can get more information about your research projects.
Thank you for your attention.

Oh iya, waktu itu saya mengirimkan email ke dua profesor. Sayangnya, profesor yang satu lagi sedang tidak menerima Ph.D student untuk sekarang.

Entah ya, sejujurnya waktu itu juga merupakan pengalaman pertama saya. Biasanya sih, pada saat hendak mengirimkan email pertama kali, rasanya berat. Terkadang sudah akan mengklik ‘send’ tapi jadi ragu karena takut salah. Tapi ya, saran saya sih, hajar saja! Toh sekarang pun saya baru sadar kalau banyak juga email saya yang salah ketik atau salah structurenya. Even waktu saya bikin research proposal untuk application. Waktu itu karena mepet deadline, saya hanya membuatnya dalam beberapa jam. Asal-asalan sih, dan kalau dibaca lagi ya banyak salahnya. Apalagi dari segi keformalan bahasa. Tapi ya sudah, Alhamdulillah akhirnya tetap diterima juga, walaupun akhirnya supervisornya beda dan topik risetnya juga berbeda.🙂

Nah berangkat dari situ, saya pun mencari kelengkapan lain. Salah satu yang agak susah diurus adalah surat rekomendasi. Bukan apa-apa, tapi dosen pembimbing saya sangat sibuk. Waktu itu bahkan saya sampai disuruh membuat sendiri draftnya. Kalau untuk kelengkapan yang lain sih, masih cukup mudah untuk dilengkapi, apalagi formulirnya online.

Satu tips bagi kita semua adalah, deadliner itu terkadang tidak baik. If anything could go wrong, it will! H-1 sebelum deadline seharusnya saya sudah mengirimkan aplikasi, tetapi ternyata sampai H-2, surat rekomendasi saya belum jadi. Bahkan ternyata dosen pembimbing saya lupa, saking sibuknya. Formulir surat rekomendasinya pun sudah lecek. Akhirnya saya pun memberikan form yang baru untuk dosen saya. Surat rekomendasi baru jadi menjelang dhuhur. Segera setelah surat rekomendasi jadi, saya langsung mengirimkannya. Beruntung, waktu untuk mengirim dokumen menggunakan DHL hanya semalam dan bisa dilacak juga.

Nah bulan demi bulan telah berlalu semenjak bulan Januari. Saya pun mulai menunggu dengan was-was. Saya mengirim email ke graduate office pun tidak dibalas. Sampai akhirnya suatu ketika saya mendapatkan telepon dari Singapore. Waktu itu saya sedang training di kantor sehingga tidak bisa berbicara keras-keras.

Can you speak louder
I am sorry, I am in the middle of something (whisper)
Okay, I’ll call you 1.30

Beruntung banget interviewernya masih mau menelepon saya sekali lagi. Interview kali itu berlangsung sekitar 19 menit. Saya banyak ditanya tentang motivasi saya, riset yang pernah saya kerjakan, serta apakah saya familiar dengan bahasa pemrograman dan software tertentu. Pertanyaan terakhir adalah kita disuruh memberikan closing remark untuk interview. Sejujurnya singlish interview by phone itu agak susah. Apalagi waktu itu saya menerima telepon di mall, karena sedang jam makan siang.

Nah setelah itu beberapa bulan kemudian akhirnya saya mendapatkan email tentang offering admission😀 Setelah itu, saya mulai mencari-cari orang Indonesia yang pernah mendapatkan beasiswa sejenis. Setelah menemukan bahwa ada orang Indonesia yang sedang menjalani program tersebut, saya langsung mengirimkan email kepadanya. Ya, kalau sudah begini mah, kita harus cuek, kita harus berani.

Fortuna Favi Fortus
Keberuntungan memihak mereka yang berani! Maka dari itu jangan takut mencoba. Jangan takut untuk meninggalkan kenyamanan. Dan, jangan takut untuk mencoba melakukan sesuatu yang nampaknya mengerikan, out of league, dan lain sebagainya. Itu semua hanya ada di kepala kita kok! Lagipula, gagal melakukan hal kecil tidak akan membuat Anda mati. Kalau toh kegagalan membuat Anda mati, toh semua yang bernyawa juga pada akhirnya akan mati😀
So, take the risk! Leave your comfort zone! Set aside your fear! Try to do something that will make your life worth living!
Mungkin segitu dulu untuk postingan kali ini, semoga berguna🙂

2 thoughts on “Mau Sekolah Lagi

  1. Kepingiiin sekolah tapi g punya duit kerja jdi tkw buat ngasih makan emak,,,grhhhrrr kapan berhentinyaaa…

  2. ngebaca postingan di atas langsung keinget pengalaman sendiri. memang harus modal nekat dulu, soal tetek bengek lainnya belakangan aja :p

    buat fikri’s blog reader: mau nambahin menekankan juga, lebih baik jangan deadliner kalau mau ngurusin aplikasi sekolah hehe. banyak faktor2 X yang kadang nggak diundang menghambat persiapan aplikasi kita😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s