Watson, Macintosh, dan Google Glasses yang Saya Tonton di Youtube Hari Ini

Hari ini saya seharian browsing sama baca-baca abstrak paper. Kebetulan minggu ini kedapetan dua tugas dari profesor. Pertama, nyari ide untuk topik. Kedua, jumat harus presentasi tentang project yang pernah saya kerjakan selama undergraduate. Nah, di sela-sela itu saya menemukan beberapa video menarik yang oke untuk ditonton.

1. IBM Watson ( http://www.youtube.com/playlist?list=PL4F1C783776E708A8&feature=plcp )

Buat yang belum tahu, watson adalah superkomputer yang dikembangkan oleh IBM Research. Watson ini dikembangkan pake NLP, jadi bisa mikir pake bahasa lah kasarannya. Bikin inget jaman TA dulu, sempet gabung group risetnya S2 tentang virtual agent. Dan sesungguhnya itu emang gila banget. Watson bisa secepat dan setepat itu tuh ngeri loh.

2.  Video presentasi steve jobs pas launching macintosh 1984 ( http://www.youtube.com/watch?v=2B-XwPjn9YY&feature=player_embedded# )

Siapa sih yang nggak tahu Steve Jobs? Nah ini adalah presentasi Steve Jobs jaman dulu. Kalau nggak salah waktu itu Steve Jobs lagi bernafsu untuk menyaingi IBM. Ini nih ada foto Steve Jobs mengacungkan jari tengah.

3. Google, Project Glass

It’s a damn cool video, the Google hangout on air => http://www.youtube.com/watch?v=D7TB8b2t3QE

Kalau yang ini semacam video previewnya => http://www.washingtonpost.com/blogs/innovations/post/google-glasses-get-a-preview-video/2012/04/04/gIQAQ0iUvS_blog.html

4. Sight

Yang ini mah film science fiction pendek. Teknologinya keren, cocok buat don juan. Sekarang masih fiksi, tapi in the future… who knows? http://vimeo.com/46304267#at=0

Cool banget yah!

Advertisements

Cerita tentang Ospek, Kaderisasi, Troniuminion, atau Apapun Namanya (1)

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya mengamati ada sedikit kegaduhan berkaitan dengan OSKM di ITB. Well, saya sendiri selama mahasiswa juga aktif berpartisipasi di kegiatan yang berbau OSPEK/Kaderisasi/apapun namanya.. Saya juga pernah menjadi panitia, dan menurut saya rangkaian kegiatan OSPEK tersebut (baik ketika saya menjadi pihak yang diospek atau pihak yang mengospek) memberikan dampak positif dalam pembangunan karakter saya.

Hmm, yah pada intinya yang ingin saya bagi di sini adalah pengalaman saya saat menjadi panitia atau peserta dari sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menerima anggota baru di suatu organisasi atau bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari anggota untuk tujuan tertentu. Kegiatan ini terkadang isinya training di kelas, terkadang tugas, terkadang wisata, dan ada juga kegiatan di lapangan. Karena ragamnya banyak, tidak heran banyak juga yang memberinya berbagai nama. Namun, nama yang umum di sini adalah Ospek, Orientasi, atau Kaderisasi. Tapi, apapun namanya tidak penting, karena sebenarnya kegiatan ini pasti diadakan oleh organisasi manapun, termasuk di perusahaan yang disebut dengan Apprenticeship, atau Management Trainee. Nah, di blog ini kita sebut saja Troniuminion.

Nah, sekarang, saya akan share kisah saya dalam berbagai kegiatan Troniuminion.

PMB KM ITB 2007

Sebagai peserta, saya memulai portofolio Troniuminion sejak pertama masuk ITB. Saya mengikuti kegiatan PMB KM 2007 dan menemukan banyak teman baru di sana. Di situlah saya pertama menemukan teman-teman baru, karena toh dari SMA saya sangat sedikit yang masuk ITB, bisa dihitung dengan setengah jari yang ada pada satu tangan. Seru. Buat saya seru karena saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berkenalan dan belajar untuk berpikir tentang “saya nih mau jadi apa sih?”

Iya. Banyak sesi mentoring di PMB. Dan banyak sesi dimana kita disuruh terus menggali, sebenarnya apa hal yang kita suka, apa hal yang kita inginkan. Saya sendiri lupa tentang apa yang saya ungkapkan waktu itu. Yang jelas saya ingat sekali, salah seorang teman saya, Aldi, pernah bercerita bahwa salah satu impian dia adalah bisa berkeliling dunia bersama orang yang dia cintai.

Hmm, saat itu saya masih berusia 15 tahun, saya belum cukup dewasa untuk bisa melihat “impian” sebagai sesuatu yang penting. Saya bahkan sedikit tertawa dalam hati ketika mendengar impian teman-teman saya. Dan saya sendiri sepertinya menjawab asal-asalan, karena saya memang tidak benar-benar tahu mimpi saya apa. Dari kecil saya suka membaca, menggambar, dan menulis. Ayah saya membelikan saya beberapa set ensiklopedia, maka dari itu saya menuliskan cita-cita saya sebagai ilmuwan yang beriman. Beranjak SMP, saya doyan menggambar dan mengeditnya di adobe photoshop, saya juga suka iseng bermain coreldraw dan corelrave. Tapi entah apa yang terjadi, saya akhirnya masuk ke STEI ITB. Entah, apa yang terjadi saya selalu memilih Teknik Elektro sebagai pilihan pertama meskipun saya pernah bercita-cita menjadi game programmer (masih berhubungan sih) atau menjadi computer scientist.

Yah, tapi itu adalah sebuah awal. Awal dari pencarian. Dan saya baru menyadari sekarang, bahwa apa yang saya ikuti 5 tahun lalu ternyata turut berkontribusi buat diri saya dalam “learning how to be”. Dan memang banyak juga hal-hal aneh yang mungkin sifatnya pembodohan, diteriak-teriakin. Tapi, saya sendiri merasa itu adalah bentuk penyambutan yang meriah. Dan kalau boleh jujur, waktu itu banyak juga loh mahasiswa baru yang ketakutan cuman gara-gara diteriakin sama SWASTA. Dan bahkan pas saya jadi panitia Troniuminion, ada juga loh mahasiswa yang sampai menangis.

Kalau soal orasi danlap, saya sendiri terkenang satu kalimat dari salah seorang danlap, yakni Aul. Waktu itu batalion saya kebagian orasi dari Aul. Aul, yang waktu itu saya belum kenal, waktu itu bilang,

“Mengantuk itu manusiawi, tapi tidur adalah pilihan” Continue reading “Cerita tentang Ospek, Kaderisasi, Troniuminion, atau Apapun Namanya (1)”

Esensi Hidup : Menjadi Orang Baik

The Ultimate Question

Dulu saya pernah berbincang-bincang dengan seorang teman yang seperti kakak sendiri. Maklum, mulai dari soal politik kampus sampai galau remaja labil selalu jadi bahan obrolan kami setiap hari. Saya ingat sekali waktu saya sedang down, dia menyuruh salah seseorang untuk menghibur saya, untuk menemani saya makan. Ya, terkadang teman itu sebegitunya peduli kepada kita meskipun kita terkadang tidak menyadarinya.

Nah, pernah suatu ketika, si teman ini sedang mengalami fase terendah dalam hidupnya. Down karena banyak masalah. Tapi buat saya, dia adalah orang yang bertanggung jawab. Dia masih punya muka untuk melakukan hal yang seharusnya sudah dia lakukan sejak setengah tahun sebelumnya, sebuah tanggung jawab yang belum tuntas. Lalu, dia waktu itu kembali ke kampus, dan kami pun berbincang kembali. Salah satu pertanyaan yang dia ajukan kepada saya adalah, “Gue sebenernya penasaran fik, gue pengen tahu sebenernya orang tua lo pengen lo jadi apa sih?”

Hmm. Saya cukup tertohok. Selama itu saya sangat jarang berkomunikasi dengan orang tua tentang hal ini, tentang masa depan, tentang seharusnya saya menjadi orang yang seperti apa. Apalagi dengan Ayah. Saya sangat jarang berdiskusi. Di sisi lain, teman saya ini sudah ditinggal oleh Ayahnya. Terkadang dia merasa dalam hidup ini kita membutuhkan sosok Ayah untuk mendiskusikan hal-hal yang penting. Saya pun mulai berpikir dan bertanya, sebenarnya orang tua saya ingin saya jadi apa ya?

Well, pada akhirnya saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan baik dari Ayah maupun Mama saya. Ya memang sih, sesekali mereka bilang, mungkin keren kalau anaknya jadi CEO, atau dosen, atau berada di pemerintahan tapi lewat jalur profesional. Tapi sebenarnya yang mereka tekankan bukan itu. Yang mereka tekankan adalah, saya mau jadi apapun terserah, tapi yang penting saya harus jadi orang baik.

Cliche?

Jadi orang baik. Terdengar klise sekali ya?

Tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa jawaban itulah yang paling tepat. Setengah tahun semenjak perbincangan dengan teman saya, saya akhirnya lulus. Saya mengisi setengah tahun saya itu dengan banyak kegiatan yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Kebetulan saya sudah tidak mengambil kuliah sehingga bisa melakukan banyak diskusi dan banyak aktivitas. Dan terlalu banyak aktivitas membuat saya bingung, sebenarnya hidup saya ini mengarah kemana? Network dan experience yang saya cicil dari sekarang ini sebenarnya ke arah mana sih? Seperti Jack of all trades, saya mencoba berbagai hal dan ujung-ujungnya tidak tahu apa specialty saya.

Mereka yang bekerja di pelabuhan, menghidupi anak istrinya. Apakah mereka lebih buruk dari mereka yang bekerja di kantor ber-AC, menghasilkan uang lebih banyak? Apakah keberadaan mereka jadi tidak lebih berarti?

We Tend to Compare Continue reading “Esensi Hidup : Menjadi Orang Baik”