Esensi Hidup : Menjadi Orang Baik

The Ultimate Question

Dulu saya pernah berbincang-bincang dengan seorang teman yang seperti kakak sendiri. Maklum, mulai dari soal politik kampus sampai galau remaja labil selalu jadi bahan obrolan kami setiap hari. Saya ingat sekali waktu saya sedang down, dia menyuruh salah seseorang untuk menghibur saya, untuk menemani saya makan. Ya, terkadang teman itu sebegitunya peduli kepada kita meskipun kita terkadang tidak menyadarinya.

Nah, pernah suatu ketika, si teman ini sedang mengalami fase terendah dalam hidupnya. Down karena banyak masalah. Tapi buat saya, dia adalah orang yang bertanggung jawab. Dia masih punya muka untuk melakukan hal yang seharusnya sudah dia lakukan sejak setengah tahun sebelumnya, sebuah tanggung jawab yang belum tuntas. Lalu, dia waktu itu kembali ke kampus, dan kami pun berbincang kembali. Salah satu pertanyaan yang dia ajukan kepada saya adalah, “Gue sebenernya penasaran fik, gue pengen tahu sebenernya orang tua lo pengen lo jadi apa sih?”

Hmm. Saya cukup tertohok. Selama itu saya sangat jarang berkomunikasi dengan orang tua tentang hal ini, tentang masa depan, tentang seharusnya saya menjadi orang yang seperti apa. Apalagi dengan Ayah. Saya sangat jarang berdiskusi. Di sisi lain, teman saya ini sudah ditinggal oleh Ayahnya. Terkadang dia merasa dalam hidup ini kita membutuhkan sosok Ayah untuk mendiskusikan hal-hal yang penting. Saya pun mulai berpikir dan bertanya, sebenarnya orang tua saya ingin saya jadi apa ya?

Well, pada akhirnya saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan baik dari Ayah maupun Mama saya. Ya memang sih, sesekali mereka bilang, mungkin keren kalau anaknya jadi CEO, atau dosen, atau berada di pemerintahan tapi lewat jalur profesional. Tapi sebenarnya yang mereka tekankan bukan itu. Yang mereka tekankan adalah, saya mau jadi apapun terserah, tapi yang penting saya harus jadi orang baik.

Cliche?

Jadi orang baik. Terdengar klise sekali ya?

Tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa jawaban itulah yang paling tepat. Setengah tahun semenjak perbincangan dengan teman saya, saya akhirnya lulus. Saya mengisi setengah tahun saya itu dengan banyak kegiatan yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Kebetulan saya sudah tidak mengambil kuliah sehingga bisa melakukan banyak diskusi dan banyak aktivitas. Dan terlalu banyak aktivitas membuat saya bingung, sebenarnya hidup saya ini mengarah kemana? Network dan experience yang saya cicil dari sekarang ini sebenarnya ke arah mana sih? Seperti Jack of all trades, saya mencoba berbagai hal dan ujung-ujungnya tidak tahu apa specialty saya.

Mereka yang bekerja di pelabuhan, menghidupi anak istrinya. Apakah mereka lebih buruk dari mereka yang bekerja di kantor ber-AC, menghasilkan uang lebih banyak? Apakah keberadaan mereka jadi tidak lebih berarti?

We Tend to Compare

Permasalahan utama yang kita alami adalah, kita punya kecenderungan untuk membandingkan sesuatu. Kacamata kita terlalu sempit sehingga kita memiliki satu parameter yang sama untuk semua orang. Semua diukur dengan uang, kekuasaan, dan popularitas. Siapa sih yang tidak pernah berada di fasa dimana menilai segalanya dari uang. Bahwa orang sukses itu orang yang punya duit banyak, sehingga saya kelak ingin menjadi orang yang berduit banyak.

Lalu terkadang kita akan sampai pada tahap dimana orang sukses adalah orang yang mendapatkan recognition, yang mengisi berita sehari-hari, yang memiliki prestasi tertentu. Maka dari itu saya pun pernah bermimpi untuk menjadi orang yang menjuarai lomba internasional (dan nggak kesampaian, haha). Dan maka dari itu muncul pula upaya-upaya self-proclaim baik yang nampak maupun tidak nampak.

Ya, kita terbiasa dengan persaingan dengan orang lain. Memperbandingkan satu orang dengan orang lainnya lewat parameter tertentu. Sehingga, pada suatu titik, kita lebih mengidolakan sosok tertentu, kita lebih respek pada orang tertentu atas pencapaian yang dihasilkan. Padahal sejatinya, setiap orang adalah unik dan tidak dapat dibandingkan dengan orang lain. Ya, makanya sering ada kata-kata seperti ini, membandingkan Cristiano Ronaldo dengan Lionel Messi itu ibarat membandingkan Ferrari dengan Porsche yang sudah jelas mesinnya beda!

Our Engine is Unique

Sampai saat ini saya percaya setiap orang adalah unik. Setiap orang punya potensinya masing-masing, dan yang perlu dilakukan adalah memaksimalkan potensi itu. Kita tidak perlu menjadi yang terbaik di dunia. Untuk apa menjadi yang terbaik di dunia kalau sebenarnya kita bisa lebih dari itu? Ya, pada akhirnya parameternya bukanlah parameter umum yang berlaku untuk semua orang. Setiap orang memiliki batas maksimalnya. There are no regrets for being the best of ourselves, right? I mean, if you have done your best, you made your life worth the living. And if there is someone doing ‘better’ (making more money or recognition), it is his/her destiny. Besides, I believe that you have some advantages in a particular area, and in that area, you are better than him/her.

That’s why comparing ourselves to the others is useless. 

Ya, pada akhirnya kita ini buruh. Buruh yang bekerja untuk Tuhan. Tuhan bisa balikkan roda hidup kita kapan pun Dia mau. Dan kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa kita harus mengusahakan yang terbaik dimanapun kita ditempatkan. Kita tidak harus selalu menjadi panglima perang, ada kalanya kita hanya jadi penjaga kandang. Tapi ingat, berusaha untuk berpindah posisi pun tidak salah. Toh, Tuhan juga yang memberikan kita cipta, rasa, dan karsa. Sehingga, kita pun terkadang bisa merasakan bahwa, ini tempat kita, atau ini bukan tempat kita.

Namun, yang perlu menjadi catatan, ketika kita ingin pindah dari tempat yang sekarang, tidak ada salahnya untuk melakukan yang terbaik. “Saya merasa tidak cocok di sini, tapi toh saya bisa melakukan yang terbaik. Kalau saya ditempatkan di tempat yang saya suka, pasti saya bisa lebih baik” these kind of spirit that we all must have bro!

Pada akhirnya semua ada waktunya. Semua ada masanya. Apakah seorang tukang becak yang membanting tulang demi menghidupi anak istrinya lebih hina daripada seorang pengusaha terkenal yang selalu masuk chart orang terkaya di dunia? Tentu tidak. Keduanya bisa sama-sama mulia apabila mereka selalu menjadi orang baik dan selalu memberikan yang terbaik bagi sekelilingnya. Apakah orang yang bekerja kantoran di MNC menjadi lebih tidak mulia daripada mereka yang menjadi pegawai negeri sipil?

Once kita paham bahwa setiap orang unik dan mereka punya perjuangan dan kisahnya masing-masing, akan sulit bagi kita untuk memandang rendah orang lain. Kita akan mengawali asumsi kita terhadap orang lain dengan respek, prasangka baik. Toh, mereka mengambil jalan hidup seperti itu karena mereka yang mengalaminya, dan kita cuman penonton yang tidak tahu kebenaran sebenarnya. Tidak ada salahnya untuk respek kepada orang, selama orang itu orang baik. Tak peduli apa pekerjaannya, berapa uang yang dihasilkan, seberapa recognitionnya di media, selama dia baik, dia telah menunjukkan kualitas dan perjuangan dalam hidup.

Mari kita lebarkan horison kita untuk memahami bahwa hidup itu bukan soal apa yang terlihat dari luar. Yang terpenting adalah kita punya hati yang baik, rela berkorban demi orang lain, dan senantiasa memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan. Recognition hanyalah bonus. Dan orang yang kaya, bukanlah mereka yang punya uang banyak, melainkan mereka yang membutuhkan sedikit sehingga tak pernah keberatan untuk berbagi.

Dan tetap percaya, bahwa Tuhan selalu punya rencana. Tuhan tidak pernah main-main dalam menciptakan kita. So, kita tidak boleh merasa kurang, kita harus senantiasa merasa cukup, sebab Tuhan yang akan mencukupi kita. Namun, itu semua jika kita mau menuruti perintah Tuhan, jadi orang baik, yang amanah, yang selalu bisa menjadi representasi Tuhan di muka bumi.

Huff, masih sangat banyak yang harus saya pelajari dalam mengelola hati agar bisa jadi orang baik.

Di usia yang menginjak dua puluh tahun ini, saya mulai belajar untuk menggeser mindset saya. Ada banyak hal klise yang mungkin lebih kita pahami ketika kita kecil ketimbang ketika kita dewasa. Ya, tentang memberi, tentang kasih sayang, tentang kebaikan hati, dan tentang menjadi orang baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s