Cerita tentang Ospek, Kaderisasi, Troniuminion, atau Apapun Namanya (1)

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya mengamati ada sedikit kegaduhan berkaitan dengan OSKM di ITB. Well, saya sendiri selama mahasiswa juga aktif berpartisipasi di kegiatan yang berbau OSPEK/Kaderisasi/apapun namanya.. Saya juga pernah menjadi panitia, dan menurut saya rangkaian kegiatan OSPEK tersebut (baik ketika saya menjadi pihak yang diospek atau pihak yang mengospek) memberikan dampak positif dalam pembangunan karakter saya.

Hmm, yah pada intinya yang ingin saya bagi di sini adalah pengalaman saya saat menjadi panitia atau peserta dari sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menerima anggota baru di suatu organisasi atau bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari anggota untuk tujuan tertentu. Kegiatan ini terkadang isinya training di kelas, terkadang tugas, terkadang wisata, dan ada juga kegiatan di lapangan. Karena ragamnya banyak, tidak heran banyak juga yang memberinya berbagai nama. Namun, nama yang umum di sini adalah Ospek, Orientasi, atau Kaderisasi. Tapi, apapun namanya tidak penting, karena sebenarnya kegiatan ini pasti diadakan oleh organisasi manapun, termasuk di perusahaan yang disebut dengan Apprenticeship, atau Management Trainee. Nah, di blog ini kita sebut saja Troniuminion.

Nah, sekarang, saya akan share kisah saya dalam berbagai kegiatan Troniuminion.

PMB KM ITB 2007

Sebagai peserta, saya memulai portofolio Troniuminion sejak pertama masuk ITB. Saya mengikuti kegiatan PMB KM 2007 dan menemukan banyak teman baru di sana. Di situlah saya pertama menemukan teman-teman baru, karena toh dari SMA saya sangat sedikit yang masuk ITB, bisa dihitung dengan setengah jari yang ada pada satu tangan. Seru. Buat saya seru karena saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berkenalan dan belajar untuk berpikir tentang “saya nih mau jadi apa sih?”

Iya. Banyak sesi mentoring di PMB. Dan banyak sesi dimana kita disuruh terus menggali, sebenarnya apa hal yang kita suka, apa hal yang kita inginkan. Saya sendiri lupa tentang apa yang saya ungkapkan waktu itu. Yang jelas saya ingat sekali, salah seorang teman saya, Aldi, pernah bercerita bahwa salah satu impian dia adalah bisa berkeliling dunia bersama orang yang dia cintai.

Hmm, saat itu saya masih berusia 15 tahun, saya belum cukup dewasa untuk bisa melihat “impian” sebagai sesuatu yang penting. Saya bahkan sedikit tertawa dalam hati ketika mendengar impian teman-teman saya. Dan saya sendiri sepertinya menjawab asal-asalan, karena saya memang tidak benar-benar tahu mimpi saya apa. Dari kecil saya suka membaca, menggambar, dan menulis. Ayah saya membelikan saya beberapa set ensiklopedia, maka dari itu saya menuliskan cita-cita saya sebagai ilmuwan yang beriman. Beranjak SMP, saya doyan menggambar dan mengeditnya di adobe photoshop, saya juga suka iseng bermain coreldraw dan corelrave. Tapi entah apa yang terjadi, saya akhirnya masuk ke STEI ITB. Entah, apa yang terjadi saya selalu memilih Teknik Elektro sebagai pilihan pertama meskipun saya pernah bercita-cita menjadi game programmer (masih berhubungan sih) atau menjadi computer scientist.

Yah, tapi itu adalah sebuah awal. Awal dari pencarian. Dan saya baru menyadari sekarang, bahwa apa yang saya ikuti 5 tahun lalu ternyata turut berkontribusi buat diri saya dalam “learning how to be”. Dan memang banyak juga hal-hal aneh yang mungkin sifatnya pembodohan, diteriak-teriakin. Tapi, saya sendiri merasa itu adalah bentuk penyambutan yang meriah. Dan kalau boleh jujur, waktu itu banyak juga loh mahasiswa baru yang ketakutan cuman gara-gara diteriakin sama SWASTA. Dan bahkan pas saya jadi panitia Troniuminion, ada juga loh mahasiswa yang sampai menangis.

Kalau soal orasi danlap, saya sendiri terkenang satu kalimat dari salah seorang danlap, yakni Aul. Waktu itu batalion saya kebagian orasi dari Aul. Aul, yang waktu itu saya belum kenal, waktu itu bilang,

“Mengantuk itu manusiawi, tapi tidur adalah pilihan”

Saya sejujurnya nggak yakin juga apakah benar Aul orasi seperti itu atau tidak. Tapi sejujurnya kata-kata ini membekas loh buat saya. Awalnya saya mengingat kata-kata ini karena kedengaran lucu, tapi lama-lama saya sadar bahwa kata-kata ini bener banget. Kita selalu punya kesempatan untuk membuat pilihan. Hal-hal yang kurang kita sukai mungkin menimpa kita, tetapi kita selalu punya pilihan akan meresponse dengan cara apa, responsibility.

Setelah itu saya juga ingat, kami sekelompok pernah disuruh membuat semacam teater. Di sana kami membuat mini teater hanya sekitar beberapa menit tentang bangsa Indonesia yang membebek kepada bangsa lain. Kedengerannya terlalu bullshit ya? Ngomongin tentang bangsa yang sedang membebek. Bisa apa sih mahasiswa? Tapi, jangan salah, di level manapun (mau mahasiswa, mau bukan mahasiswa) kita tahu bahwa bangsa ini memang masih tertinggal. Bangsa kita ini masih follower dan kita semua tentunya ingin bangsa ini lebih baik bukan?

Kalau ada yang bilang terlalu dini lah, terlalu tinggi lah ngomongin bangsa, kalian sudah kasih apa untuk bangsa? Ya, ada benarnya sih, tapi bukan berarti kita nggak boleh mencari tahu kondisi bangsa ini saat ini kan. Itu kan bagian dari pembelajaran. Ya mungkin sekarang kita nggak bisa apa-apa, tapi di masa depan, who knows? Mungkin sama kayak riset kali ya, sekarang mungkin kita nggak punya solusi, tapi makanya kita cari! (masih hot habis ketemu supervisor, haha)

Dan di level orang-orang top di negeri ini pun, realitas bangsa ini juga masih jadi bahan obrolan. Saya pernah bergabung di Majelis Wali Amanat dimana banyak pejabat dan pengusaha yang dikenal di negara ini tergabung. Toh, mereka juga masih suka berwacana kok tentang bangsa. Tapi, bedanya, mereka sudah punya bekal untuk berkontribusi nyata. At least, mereka sudah melakukan sesuatu. Mereka juga pernah ada di posisi mahasiswa, ketika mungkin yang bisa mereka lakukan tidak banyak. Dan mereka juga sangat bangga dengan Troniuminion yang pernah mereka alami. Percaya atau enggak mungkin esensi yang didapat tidak banyak, mungkin banyak pembodohan, tapi pertemanan mereka nyata. Dan itu yang selalu dibanggakan. Keakraban dan keeratan antara satu jurusan, satu angkatan, dan bahkan satu ITB. Dan saya sendiri merasakan kalau alumni ITB itu seperti keluarga. Baru ketemu langsung nyambung, dan bisa langsung akrab. Hehe

Oh iya, waktu itu saya juga melihat teatrikal tentang tempe dan tahu. Kalau tidak salah terkait dengan isu klaim dari tetangga sebelah. Dan saya baru tahu tentang itu dari teatrikal pas PMB. Pokoknya saya nggak pernah nyesel ikutan PMB sih. Toh dari hal yang terburuk dan terbodoh sekalipun, kita masih bisa mengambil pelajaran. Mindset ini yang harus kita pegang ketika kita menjadi orang yang menerima, namun kalau kita sedang menjadi orang yang memberi, tentunya kita harus memikirkan treatment yang pas.

Kaderisasi Unit

Saya mengikuti beberapa unit selama TPB, yaitu Unit Renang dan Polo Air, Unit Aktivitas Tenis Meja, dan Amateur Radio Club. Di UATM tidak ada yang namanya kaderisasi, bahkan pelantikan pun nggak ada. Yang namanya kaderisasi di UATM waktu itu ya langsung dikasih kerjaan untuk jadi panitia. Well, buat saya kaderisasi jenis ini lebih menekan loh, dikasih tanggung jawab buat mimpin orang. Masalah selalu ada, terutama masalah sumber daya, apalagi UATM hanyalah unit kecil meskipun yang daftar setiap tahunnya selalu banyak. Tapi, saya menemukan keluarga di sana loh. Dari bullying yang terjadi, keakraban terbentuk. Kalau kata mentor saya, kita bisa ejek-ejekan satu sama lain tuh tandanya kita akrab, coba kalau kita baru kenal sama orang, nggak likely banget kita bilang,

“Woi pala lu peyang”

Hahaha. Oh iya, di akhir tahun pertama saya kebagian jadi koordinator untuk stand OHU UATM. Sepertinya itu pengalaman pertama saya kebagian tanggung jawab untuk mimpin orang selama di kampus.

Lain lagi di URPA. Saya termasuk orang yang jarang datang latihan. Saking jarang latihan, saya sampai kram dan berhenti di tengah-tengah pas tes renang akhir sebelum pelantikan. Saya inget banget waktu itu sampe ditolongin sama si Adit kalo nggak salah. Nah, kalau di URPA, kebetulan ada sesi pelantikan, ada juga sesi evaluasi yang nggak jarang isinya marah-marah. Tapi percayalah, kita pasti bisa bedain kok, mana marah-marah yang asal njeplak, mana marah-marah yang logis. Tapi ya habis itu mah santai dan bisa ketawa-ketawa bareng lagi kok.

Kalau di ARC sih yang namanya kaderisasi itu penuh dengan tugas yang berkaitan dengan web, network, dan ..(haha). Ada juga semacam sidang untuk tugas akhir di ARC. Seru lah pokoknya. Sayangnya saya sendiri pada akhirnya tidak aktif di ARC. Ya sempet sih ikutan jadi panitia wisudaan, tapi secara kultur, saya tuh nggak ARC banget lah. Gak jago soal network jugašŸ˜€

PLO, kaderisasi dengan tema manusia dewasa

Di sini saya bertemu dengan makhluk bernama Aditya Syarief untuk pertama kali. PLO menurut saya keren. Di sana peserta dipandang sebagai subjek. Kami bahkan ikut membuat kontrak belajar bersama, yakni menentukan aturan untuk PLO. Sangat disayangkan acara ini terhambat dari segi legalitas. Saya ingat betul waktu itu si Sarip bilang sambil gemeteran,

“Hanya karena saya adalah mahasiswa yang perlu ijin untuk meminjam ruangan..”

Ya, kita bisa lihat dari berbagai sudut pandang sih. Kita bisa menilai itu sebagai bentuk ketundukan dalam arti negatif. Namun, kita juga bisa nilai itu sebagai teladan dan menjunjung tinggi peraturan.

Banyak materi yang sangat bagus di PLO, termasuk yang berkaitan tentang perencanaan hidup. Ya, lagi-lagi tentang pemahaman tentang diri sendiri. Tentang apa itu SWOT kita, apa cita-cita kita. Saya ingat juga kalau saat itu ada juga training dari Marwah Daud tentang MHMMD (Merancang Hidup Mengelola Masa Depan). Satu poin yang saya ingat adalah kita institusi pendidikan formal sangat jarang memberikan fasilitas dalam “learning how to be”. Padahal toh namanya institusi pendidikan, bukan pengajaran.

Padahal, yang namanya pendidikan itu kalau di KBBI:

penĀ·diĀ·dikĀ·anĀ nĀ proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik;

kalau di wikipedia:

PendidikanĀ adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasanaĀ belajarĀ dan prosesĀ pembelajaranĀ agarĀ peserta didikĀ secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya danĀ masyarakat.

See? Buat saya pribadi pendidikan adalah proses dimana seseorang belajar menempatkan dirinya di lingkungannya, tahu apa potensinya, tahu apa yang bisa ia bagi dan beri. Dan itu semua diawali dengan proses pendewasaan. Dewasa, dimana seseorang bisa memilah-milah dan mengambil pelajaran serta bertanggung jawab.

Oh iya, di PLO ini untuk pertama kalinya saya dikenal sebagai Quizman pada sebuah drama. Entah kenapa semenjak saat itu saya jadi lebih sering dipercaya untuk jadi MC. Haha.

Ya, yang menarik di PLO ini kita diperlakukan sebagai manusia dewasa. Menurut saya itu terobosan yang bagus ketika kontrak belajar disusun bersama-sama.

Oh iya, hal yang tidak kalah keren adalah opening PLO. Simpel sebenarnya. Awalnya ada semacam simulasi rutinitas kita sehari-hari, belajar, bermain, berolahraga. Lalu, ada juga sesi dimana beberapa orang disuruh memberikan orasi dengan diberikan kata tertentu. Di sana tensinya tinggi. Dan menurut saya fine kok. Lebih fine lagi panitianya dengan terbuka bilang seperti ini pas acara beres, “Sekarang udah masuk mode biasa lagi kok, hehe”

Akhir dari opening PLO adalah kita disuruh melihat sabuga, lalu berbalik badan. Hanya dengan berbalik badan, pemandangan berubah drastis. Dari yang tadinya gedung semegah sabuga, sekarang berganti dengan rumah-rumah di bantaran kali. Timpang. Dan saya pribadi merinding loh waktu itu. Ketimpangan itu nyata. Ya sejelek-jeleknya mah, kita tahu lah bahwa ada ketimpangan di negeri ini. Perkara selanjutnya kita mau mikirin diri sendiri dan keluarga doang juga gak salah. Toh, impact itu dimulai dari lingkup terkecil.

Ah, sekian dulu di postingan ini. Mungkin masih ada satu lagi Troniuminion yang saya masih jadi peserta, yakni Masa Bina Cinta. Setelah itu, mungkin saya akan bercerita tentang kisah ketika saya menjadi panitia, masa dimana saya sebenarnya sempat ragu karena merasa tidak punya integritas. Hingga akhirnya masa dimana saya sebagai swasta yang kurang begitu suka dengan acara teriak-teriakan pada Troniuminion level kampus.

2 thoughts on “Cerita tentang Ospek, Kaderisasi, Troniuminion, atau Apapun Namanya (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s