Menjadi Pemimpin itu Amanah yang Berat, Dipimpin pun Amanah yang Tidak Ringan

Pernahkah Anda dipercaya untuk menjadi seorang ketua atau mengemban jabatan tertentu? Apa yang Anda rasakan? Setelah Anda selesai menjabat, apakah Anda ingin untuk menerima amanah untuk menjadi ketua lagi atau mengemban jabatan tertentu lagi?

Saya rasa semua orang pasti pernah merasakan kegamangan yang pernah saya alami. At least, jaman kuliah dulu waktu masih belum tingkat akhir, saya pernah berdiskusi mengenai hal ini dengan sahabat saya, Ichsan Mulia Permata dan dia juga pernah merasakan hal serupa.

Tigor, Saya dan Imul. Tim Elektron Legacy, tim sekecil ini pun konfliknya luar biasa, beruntung punya Ketua yang sangat berpengalaman (Ichsan Mulia, paling kanan)

Trauma

Saya tahu, manusia memang tidak ada yang sempurna. Tapi setidaknya manusia bisa berusaha menjaga integritasnya. Dan itulah yang saya rasa hilang dari saya ketika saya pernah mengemban suatu amanah. Dan celakanya saya tidak tahu, dan bahkan tidak pernah mencari tahu. Dan sungguh, sangat tidak enak mengakhiri evaluasi akhir tahun tersebut dengan suasana yang begitu berbeda. Dan sayangnya itu adalah kesempatan terakhir. Berbeda dengan evaluasi tengah tahun dimana kita masih merasa punya kesempatan untuk memperbaiki di setengah tahun ke depan. Evaluasi akhir tahun adalah titik akhir dari suatu perjalanan. Continue reading “Menjadi Pemimpin itu Amanah yang Berat, Dipimpin pun Amanah yang Tidak Ringan”

Advertisements

Ketika Wapres RI Menulis tentang Pendidikan

Saya baru saja membaca tulisan dari wapres RI Boediono yang berjudul “Pendidikan Kunci Pembangunan“, tulisannya sangat bagus. Dari tulisan ini saya menangkap kesan bahwa Wapres kita memiliki keresahan seputar Pendidikan. Tapi saya bingung, kenapa ya Pak Wapres nggak langsung aja merealisasikan pemikirannya tersebut? Beliau kan seorang Wakil Presiden, kalau ada mahasiswa bikin seminar dengan judul Presidential Lecture dan yang memberikan lecturenya Pak Boediono kan sudah legitimate. Apakah memang jadi Wakil Presiden pun tidak memiliki kewenangan apa-apa? Atau memang segitu susahnya membuat perubahan untuk bangsa ini?

Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi sekarang saya bertanya-tanya, masih perlukah saya bermimpi jadi Wakil Presiden apabila ujung-ujungnya saya tidak bisa merealisasikan gagasan saya, sekalipun saya memegang jabatan sebagai orang nomor dua di negeri ini? Apa yang salah dengan negara kita? Yah, ini mah hanya pertanyaan lugu dari seorang pemuda lugu yang tidak tahu menahu dunia perpolitikan Indonesia sama sekali. Hehe

Oh iya, saya jadi ingat beberapa hari lalu saya menonton episode Kick Andy dengan narasumbernya adalah Sultan (saya menonton di sini. Di situ juga Sultan bercerita bahwa Ayahnya sebelum meninggal berpesan kepada Sultan untuk lebih berani mengatakan kebenaran. Menurut kisah yang saya tahu, Sultan (HB X) yang ketika itu pernah menolak dicalonkan kembali menjadi wapres. Saya juga jadi teringat bahwa di akhir-akhir kebersamaan SBY-JK, konon katanya JK juga sudah tidak dianggap lagi. Entah benar atau tidak, saya tidak tahu, tapi yang saya dengar begitu.

Jadi kalau saya terus bermimpi jadi wakil presiden, lalu suatu saat benar-benar jadi wakil presiden, apakah saya bisa mengubah bangsa ini jadi lebih baik?

*saya bermimpi jadi wakil presiden hanya untuk keperluan menulis cerita ini

**sesungguhnya ini tulisan iseng belaka, tidak berkonten dan tidak berbobot, hanya sekedar kejar postingan 😀

Menanti Universitas Generasi Ketiga di Indonesia

*lagi-lagi tulisan tidak akan seberat judulnya

Kebetulan beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya berkicau seperti ini di twitter:

apalah awak ini, seorang @rousyan. mana ingat kau apa jabatanku dan fungsiku di MWA? wakil mahasiswa dihilangkan saja tidak ada yang peduli

Entah saya yang terlalu lebay atau melankolis, saya pribadi jadi berintrospeksi. Saya pribadi merasa tidak banyak kontribusi yang saya lakukan selama menjadi anggota MWA. Dan melalui postingan ini, ijinkan saya sekali lagi mencoba membagi wawasan yang saya dapatkan.

Itebeh jadul (sumber)

Pendidikan adalah hal yang sangat vital bagi pembangunan bangsa. Suatu bangsa didefinisikan oleh manusia-manusia, dan melalui senjata bernama pendidikan lah manusia-manusia tersebut dibangun. Nah, tentunya seiring dengan berkembangnya peradaban, alat yang digunakan untuk mengasah manusia ini pun berkembang.

Apa itu Universitas Generasi Ketiga? Continue reading “Menanti Universitas Generasi Ketiga di Indonesia”

Forcing My Self to Post This One

I just arrived in my room. I feel so tired, but I don’t know why I already opened this tab. I want to write my activity for today.

This morning, I attended a talk given by Dr Asvial from UI which discussed about Payload Communication Design for IiNUSAT-1. I think it is still related to the previous post in this blog. I was very excited to listen to the talk. I believe it is because I once joined ITB-SAT. I also attended one IiNUSAT consortium’s seminar as a supplementary speaker, complementing Ridwan who gave a presentation on student movement in satellite research.

From my point of view, Dr Asvial was doing well on giving his talk. Besides, I think everyone is interested on the topic. We are talking about nano satellite bro, what could be more interesting than that? (well actually many other things are same interesting as nanosatellite :D). A lot of question are asked by the audience such as, Why do you use ATMEGA? Why do you choose hexagonal shape?  Most of the questions are very technical. But, since this IiNUSAT project is a collaborative project (6 Institutions are taking part in this project, UI is responsible for the payload communication aspect), some of the questions couldn’t be answered precisely by Dr. Asvial.

And you know what, once again a non-technical aspect become a concern. Someone was throwing this question: What is lesson learned from the collaboration, in terms of project management? And I could see that a few people were smiling. Yes, it is never easy to conduct a collaborative project. Dr Asvial also told us that one of the major problem is time. Every researcher already has their activity apart from this project, that’s why sometimes Dr Asvial couldn’t attend the meeting, the same situation also happen in other institute.

In the end of his presentation, Dr Asvial also offering some collaboration opportunity with NTU. I think he could sell the past collaboration experience with other university in a very good way. Hmm, on that occasion Dr Rusli (associate chair for Graduate Studies EEE NTU) said “For some of you who are not familiar, there are 3 top engineering schools in Indonesia (UI, ITB, UGM) and they are on the team. They have a good reputation, that’s why we want to recruit their alumni too.” Some people were laughing. What about me? I just said like this (of course I said it inwardly, moreover I said it in Bahasa), “Sial, salah satu yang terjebak bujuk rayunya adalah gua“.. Haha. Just Kidding.

Well, actually I still got a plenty of stories that I would like to tell, but this eye can’t stand the drowsiness anymore. Today I saw a girl crying in front of me, that’s the longest awkward moment ever. -_-“

Lebaran di Perantauan

Setahun lalu, sebenarnya saya sudah berencana untuk berlebaran di perantauan. Sayangnya, waktu itu orang tua saya tidak memperbolehkan. Maka, pulanglah saya ke Malang, terlebih lagi lebaran kali itu adalah pertama kalinya lebaran tanpa Eyang Kakung di Malang.

Entah harus bersyukur atau bagaimana, Tuhan akhirnya mengabulkan rencana saya. Tahun ini saya berlebaran di Singapura. Jika biasanya saya bangun kesiangan dan tidak sempat sahur, pada hari raya tersebut saya bangun cukup pagi. Saya benar-benar memasang banyak alarm agar saya tidak tertinggal bus menuju KBRI. Continue reading “Lebaran di Perantauan”

Sebuah Contoh Bagaimana Sebuah Proyek Teknologi Mencari Dana dengan Crowdfunding, Kapan Pemuda Indonesia Bisa Meneladaninya?

*Disclaimer: tulisan tidak akan panjang-panjang, judulnya saja yang panjang biar terlihat serius. Hahaha

Jadi, baru saja saya chatting via facebook dengan Pak Doni. Pak Doni adalah pembimbing saya semasa mengikuti kompetisi muatan roket, ITB-SAT, dan juga salah satu penguji pada sidang tugas akhir saya. Awalnya dimulai dengan bermaaf-maafan lahir batin, lalu pembicaraan pun sedikit menyinggung tentang proyek ITB-SAT.

Proyek ITB-SAT adalah sebuah inisiatif untuk membuat satelit pertama buatan mahasiswa ITB. Sayangnya perjalanan untuk mengejar sebuah cita-cita yang tinggi tak pernah mudah. Lalu, Pak Doni memberikan saya link berikut ini, tentang satelit buatan luar yang juga berbasis arduino:

http://www.kickstarter.com/projects/575960623/ardusat-your-arduino-experiment-in-space

http://www.engadget.com/2012/06/18/ardusat-wants-to-put-arduino-satellite-your-experiments-into-orbit/

Saya ingin mengutip kata-kata yang menurut saya sangat keren:

Our fundraising goal is 35,000 USD, which will allow us to build, test, and integrate all of the hardware and software needed for a 1U ArduSat. As soon as the funding goal is met, we can move ahead with applications for free launches through various NASA or ESA ride-along programs. We believe that this project has enough technical, scientific, and outreach value to successfully secure a launch with these programs. However, if we are not successful in securing a launch with these programs within 18 month, we have secured funding to buy a commercial launch for ArduSat to make sureyou get into space!

Benar-benar mental seorang laskar pemimpi. Dan hebatnya adalah mereka dapat melampaui target mereka. Luar biasa. Dan ada 676 orang yang memback-up mereka. Selain itu mereka menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.

Saya sepakat dengan Pak Doni, dalam sebuah proyek teknologi, tidak hanya faktor teknis yang menjadi tantangan. Faktor non-teknis justru memberikan tantangan yang lebih besar. Kita tidak bisa memandang sebelah mata aspek manajemen proyek, marketing, finansial, external realation.

Dari pengalaman saya selama di ITB, hal ini bukanlah hal yang mudah. Saya masih teguh pada pendirian kepercayaan saya bahwa dibutuhkan suatu Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa ITB yang seharusnya bisa membantu mahasiswa ITB dalam mewujudkan ide-ide briliannya. Namun sekali lagi, tidak mudah untuk membentuk sebuah lembaga yang demikian. Masa saya di kampus ITB sebagai mahasiswa telah berlalu, ini adalah sebuah tantangan bagi mahasiswa ITB untuk terus berjuang membangun iklim yang kondusif untuk terciptanya proyek kreatif, terutama yang berbasis teknologi.

Ah, saya juga jadi teringat dengan chordeo. Saya kira, proyek semacam chordeo masih relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Mau jadi penonton atau aktor adalah pilihan. Semoga Anda yang membaca tulisan ini bisa menjadi aktor, tidak seperti saya yang hanya bisa komentar 😀

Bukan Renungan Ramadhan #2 TED Talks, Kebahagiaan, dan Tutorial dari Tuhan agar Manusia Bahagia

Pernahkah kita berpikir, buat apa Tuhan repot-repot menciptakan Al-Quran. Buat apa Tuhan repot-repot menuliskan surat-surat untuk manusia? 

Tuhan begitu sayang kepada kita, maka dari itu Dia menuliskan “surat cinta” kepada kita. Dalam surat-surat itu kita diberikan kunci keselamatan, kunci kebahagiaan. Sebegitu pentingnya “surat cinta” ini sehingga Tuhan sendiri yang membuatnya dan menjaganya. Tapi, kita (saya lebih tepatnya) tidak pernah menyadari hal ini. Saya begitu jarang membuka surat cinta ini, seolah-olah mengacuhkan yang sudah memberikan saya perhatian.

Baru-baru ini saya menonton video TED tentang paradoks dari adanya pilihan. Saya pun berpikir, alam semesta ini memang diciptakan dengan berbagai macam, dan dalam hidup ini kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).”

(QS. Ali Imran, 3 : 14)

Continue reading “Bukan Renungan Ramadhan #2 TED Talks, Kebahagiaan, dan Tutorial dari Tuhan agar Manusia Bahagia”

Sekolah Impian untuk Anak-anak Indonesia

Saya teringat pembicaraan dengan coach saya, Mas Ivandeva pada saat kami makan malam bersama untuk merayakan persahabatan sekaligus perpisahan. Ketika itu Mas Ivan bertanya kepada saya, “Nggak mau bikin sekolah?”

Pertanyaan ini membuat saya teringat satu mimpi yang pernah terlintas di benak saya ketika saya kuliah di ITB. Saya adalah produk dari program khusus, yakni kelas akselerasi. Empat tahun waktu belajar saya habiskan di kelas ini. Pertanyaan yang ada di benak saya waktu itu adalah seperti ini, dengan adanya berbagai program khusus seperti kelas akselerasi, kelas super, kelas bilingual, kelas ICT, dan kawan-kawannya, berarti mungkin juga kita membuat sebuah program khusus yang akan menyiapkan calon pemimpin bangsa secara khusus.

Indonesian TM (Taken with Instagram)

Cermin pendidikan kita

Continue reading “Sekolah Impian untuk Anak-anak Indonesia”

9 Hal yang Harus Dicoba Selama Kuliah di ITB

Ada banyak hal menarik yang bisa dicoba selama berkuliah di ITB, main voli bareng Dik Doang misalnya. Nah, di sini saya hendak memberikan list hal-hal yang menurut saya harus dicobain selama berkuliah di ITB, beserta alasan dan sedikit tipsnya 🙂

Main voli bareng Dik Doang (itu yang di tengah pake baju kuning)

1. NR 4.00

Well, ini adalah impian seluruh mahasiswa ITB semenjak sidang penerimaan mahasiswa baru. Sedari awal mahasiswa ITB baru masuk, di saat lembaran transkrip dan raport di ol.akademik masih bersih, semua orang bermimpi untuk mendapatkan IPK 4.00, atau minimal IP 4.00 di semester pertama kalau mikir realistisnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beberapa orang akan menyadari bahwa dirinya tidak ditakdirkan oleh Tuhan untuk mendapatkan IPK sempurna. Memang beginilah suratan takdir. 😦 Continue reading “9 Hal yang Harus Dicoba Selama Kuliah di ITB”

Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi

Jadi pada suatu ketika saya baru saja bangun dari tidur. Saya membuka tablet saya, dan ada notifikasi dari facebook. Setelah saya cek, rupanya ada yang menulis sesuatu di wall saya. Beliau adalah Yorga, Menteri Kebijakan Nasional di KM ITB. Saya yang masih mengumpulkan nyawa mencoba memahami apa isi tulisan dia. Mimpi apa saya, kenapa saya, mahasiswa awam yang lagi culun ini dikirim wall oleh pejabat kampus.

Saya membaca tulisan tersebut beberapa kali, sampai akhirnya saya sadar, pertanyaannya berat pisan. Ini dia skrinsutnya:

Lalu, dimulailah diskusi tentang ITB, UU Dikti, Badan Hukum, dan MWA. Saya sendiri langsung buka-buka file lama lagi, maklum sekarang kepala sudah terisi hal-hal yang lain. Nah, beginilah asyiknya diskusi di facebook. Continue reading “Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi”

Bukan Renungan Ramadhan #1: Berubah, Menjalani Hidup, lalu Sekarat

Sejujurnya saya adalah orang yang masih banyak meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya. Saya bukanlah ustadz yang setiap saat selalu menyeru kepada kebaikan melalui berbagai media. Tapi, saya hobi berdiskusi dan berpikir. Semalam, saya baru saja berdiskusi dengan seorang teman, dan saya pun kembali memikirkan dan mengingat banyak hal.

Entah kenapa, saya bukan termasuk orang yang sebegitu hebohnya dengan Ramadhan. Saya adalah orang yang masih mencari makna Ramadhan yang sebenarnya. Dan buat saya, Ramadhan kali ini sangat berbeda dengan Ramadhan tahun lalu. Pada Ramadhan tahun lalu, rasanya begitu banyak makna yang saya dapatkan. Mungkin beberapa orang menyebutnya pencerahan.

Nah, pada postingan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman yang saya dapatkan dimulai dari Ramadhan tahun lalu. Mungkin saja teman-teman sekalian bisa mendapatkan sesuatu dari membaca cerita ini.

Perubahan, awal dari perjalanan baru

Ramadhan tahun lalu saya telah membuat salah satu keputusan penting dalam hidup saya, yakni meninggalkan beberapa hal yang menurut saya tidak baik apabila saya melakukannya. Saya benar-benar dihantui berbagai rasa bersalah, dan saya benar-benar ingin berubah. Apakah mudah? Tentu tidak. Tapi saya ketika itu merasa telah membuat satu perubahan yang berarti. Bagaimana caranya? Saya mengobrak-abrik archive tumblr saya dan menemukan hadits yang kebetulan saya temukan di suatu buku yang saya baca (http://rousyan.tumblr.com/post/11905628127/rasulullah-saw-bersabda-seseorang-belum-disebut)

“Rasulullah SAW bersabda,”Seseorang belum disebut bertobat dengan sebenar-benarnya tobat bila ia: tidak menambah ibadahnya; tidak menuntut ilmu; tidak mengganti temannya; tidak diampuni oleh orang yang dizaliminya; tidak mengubah pakaiannya; tidak melipat sprei dan permadaninya; tidak menyedekahkan kelebihan yang dimilikinya.” 

Hadits Riwayat Abdullah bin Mas’ud RA

Ya, rupanya makna yang sangat dalam tersembunyi dalam hadits tersebut. Ketika kita ingin membuat sebuah perubahan, kita tidak bisa menggunakan cara lama. Kita harus merubah cara kita menjalani hidup. Mulai mengganti kebiasaan, mengganti teman, mengganti buku bacaan, bahkan mengganti tontonan. Buat saya sih maknanya mirip-mirip dengan quote dari Einstein berikut.

Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.

Albert Einstein Continue reading “Bukan Renungan Ramadhan #1: Berubah, Menjalani Hidup, lalu Sekarat”

Cinta Romantis dari Sudut Pandang Antropologis

Sedang galau karena cinta dalam arti sempit? Coba tonton video berikut, mungkin Anda akan merasa, “wah iya banget”.

Di sini seorang antropologis bernama Helen Fisher, Ph.D melakukan riset berkaitan dengan cinta. Dia mengumpulkan orang-orang yang sedang jatuh cinta, lalu memberi beberapa pertanyaan kepada mereka, dan melakukan MRI scan. Dia membandingkan aktivitas dari otak.

“romantic love is more than cocain”

“you can’t stop thinking about another human being.. somebody is camping in your head”

Konon, cinta romantis bukanlah perasaan, tetapi lebih ke dorongan. Cinta romantis adalah dorongan yang lebih kuat dari dorongan seksual bahkan.

Well, ini dia salah satu kata-kata yang dalam maknanya:

There’s all kinds of reasons that you fall in love with one person rather than another: Timing is important. Proximity is important. Mystery is important. You fall in love with somebody who’s somewhat mysterious, in part because mystery elevates dopamine in the brain, probably pushes you over that threshold to fall in love.” (Helen Fisher)

Menarik sekali ya dunia ilmu pengetahuan. Hal-hal yang sepertinya abstrak pun bisa dipelajari. 😀