Bukan Renungan Ramadhan #1: Berubah, Menjalani Hidup, lalu Sekarat

Sejujurnya saya adalah orang yang masih banyak meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya. Saya bukanlah ustadz yang setiap saat selalu menyeru kepada kebaikan melalui berbagai media. Tapi, saya hobi berdiskusi dan berpikir. Semalam, saya baru saja berdiskusi dengan seorang teman, dan saya pun kembali memikirkan dan mengingat banyak hal.

Entah kenapa, saya bukan termasuk orang yang sebegitu hebohnya dengan Ramadhan. Saya adalah orang yang masih mencari makna Ramadhan yang sebenarnya. Dan buat saya, Ramadhan kali ini sangat berbeda dengan Ramadhan tahun lalu. Pada Ramadhan tahun lalu, rasanya begitu banyak makna yang saya dapatkan. Mungkin beberapa orang menyebutnya pencerahan.

Nah, pada postingan kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman yang saya dapatkan dimulai dari Ramadhan tahun lalu. Mungkin saja teman-teman sekalian bisa mendapatkan sesuatu dari membaca cerita ini.

Perubahan, awal dari perjalanan baru

Ramadhan tahun lalu saya telah membuat salah satu keputusan penting dalam hidup saya, yakni meninggalkan beberapa hal yang menurut saya tidak baik apabila saya melakukannya. Saya benar-benar dihantui berbagai rasa bersalah, dan saya benar-benar ingin berubah. Apakah mudah? Tentu tidak. Tapi saya ketika itu merasa telah membuat satu perubahan yang berarti. Bagaimana caranya? Saya mengobrak-abrik archive tumblr saya dan menemukan hadits yang kebetulan saya temukan di suatu buku yang saya baca (http://rousyan.tumblr.com/post/11905628127/rasulullah-saw-bersabda-seseorang-belum-disebut)

“Rasulullah SAW bersabda,”Seseorang belum disebut bertobat dengan sebenar-benarnya tobat bila ia: tidak menambah ibadahnya; tidak menuntut ilmu; tidak mengganti temannya; tidak diampuni oleh orang yang dizaliminya; tidak mengubah pakaiannya; tidak melipat sprei dan permadaninya; tidak menyedekahkan kelebihan yang dimilikinya.” 

Hadits Riwayat Abdullah bin Mas’ud RA

Ya, rupanya makna yang sangat dalam tersembunyi dalam hadits tersebut. Ketika kita ingin membuat sebuah perubahan, kita tidak bisa menggunakan cara lama. Kita harus merubah cara kita menjalani hidup. Mulai mengganti kebiasaan, mengganti teman, mengganti buku bacaan, bahkan mengganti tontonan. Buat saya sih maknanya mirip-mirip dengan quote dari Einstein berikut.

Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.

Albert Einstein

Jadi, bagi orang-orang yang berakal, mereka seharusnya bisa membuat perubahan. Dan pada Ramadhan tahun lalu saya sempat merasakan kondisi dimana saya sedang waras-warasnya, sedang berakal.

Apakah mudah meninggalkan kebiasaan? Tentu tidak. Berubah itu selalu sulit, selalu butuh adaptasi. Ketika kesulitan itu berhasil kita lewati, tentu saja kita akan menjadi sosok baru yang lebih tangguh dari sebelumnya.

Nah, tapi sampai di situ perjalanan belum selesai. Perjalanan masih panjang untuk bisa terus berada dalam koridor kebaikan. Dan menjadi istiqomah adalah tantangan yang jauh lebih berat. Saya pribadi masih merasa belum istiqomah. Bahkan saya banyak mengalami kemunduran dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Iya, saya akui saya merugi. Rugi banyak.

Kematian, kacamata untuk memandang kehidupan

Ramadhan tahun lalu salah satu momen spesial dalam hidup saya juga terjadi. Saya termasuk perantau yang jarang pulang. Tiba-tiba saja pada suatu hari ibu saya datang. Dan besoknya, Eyang Kakung saya meninggal. Saya selalu percaya bahwa ada rencana Tuhan dibalik itu semua. Mungkin memang Tuhan menyuruh Ibu saya untuk menjemput saya agar bisa mengikuti pemakaman Eyang Kakung.

Saya pun mendadak teringat masa-masa bersama Eyang Kakung. Saya juga berusaha mengingat-ingat, apakah pesan terakhir yang diberikan Eyang Kakung kepada saya. Saya berusaha mengingat-ingat. Pada akhirnya saya tersadar bahwa saya terakhir bertemu Eyang Kakung pada lebaran tahun lalu. Ketika itu saya akan pulang ke Bandung. Eyang Kakung menasehati saya untuk bisa membantu Ibu saya, menjaga adik-adik saya. Ya, maklum, saya adalah anak pertama. Saya punya tanggung jawab lebih.

Eyang Kakung saya meninggal pada saat dituntun sholat Ashar. Sebelumnya Eyang Kakung juga sudah sering merasa didatangi oleh keluarga dari pihak ibu yang sudah meninggal. Ya, ada yang bilang buat orang setua Eyang Kakung, kehidupan di dunia adalah bonus dan seharusnya Eyang Kakung bisa segera ikhlas.

Ini dia, bagaimana ungkapan hati saya ketika itu yang saya tulis di tumblr (http://rousyan.tumblr.com/post/8914248512/sore-itu-saya-kaget-tiba-tiba-saja-mama-bilang):

Dan kini, eyang kakung (kakek dari mama) meninggal. Saya cukup dekat dengan eyang kakung. Maklum, selama masa SD saya tinggal bersama eyang kakung dan eyang putri. Dari SD saya selalu diajak eyang kakung untuk sholat berjamaah di masjid, biasanya sholat maghrib. Waktu itu saya masih nurut sama eyang. Setiap diajak sholat nemenin eyang pasti nurut. Tapi, entah kenapa nyesel juga, makin ke sini kadang makin jarang bisa nurutin kemauan eyang kakung. Sampai akhirnya.. Iya, eyang kakung meninggal. Dan kapan saya terakhir ketemu eyang kakung?

Perjalanan menuju pemakaman eyang sangat-sangat dipenuhi keajaiban kecil. Dari yang tadinya naik kereta ke Surabaya, saya dan mama turun di Jombang. Di jombang, kami naik bus ke Malang. Bus yang biasanya ngetem lama banget, waktu itu ngetemnya bentar doang. Tapi tetep, bus itu sangat lambat. Akhirnya setelah sampai Batu, saya dan mama naik ojek. 

Sampai di depan rumah, pas banget. Banyak sekali peziarah yang datang. Gimana nggak banyak, eyang sendiri temannya banyak, ada yang dari Muhammadiyah, Aisiyah, Jantung Sehat, teman Kompleks, belum lagi teman-teman dari anaknya eyang yang berjumlah sembilan orang. Seluruh orang sudah berdiri. Keranda yang berisi jenazah sedang akan disholatkan di masjid kompleks. Saya segera menyusul ke masjid. Namun sayang, ketika saya selesai wudhu, jamaah sudah selesai. Keranda sudah dimasukkan ke ambulans. Saya pun langsung ke pemakaman nebeng Mas Azhar. 

Begitu saya sampai, jenazah sudah dimasukkan ke liang lahat. Akhirnya saya tidak sempat melihat eyang kakung untuk yang terakhir kalinya. Yang jelas, kata orang-orang, eyang kakung terlihat ganteng dan bersih. Eyang terlihat sangat ikhlas di hari-hari akhir hidupnya, bahkan meninggalnya pun ketika melakukan sholat ashar dituntun oleh Mama Atik.

Entah kenapa rasanya saya tidak ingin bersedih dan menangis ketika melihat eyang dikuburkan. Tapi yang namanya air mata nggak pernah bohong. Sedih juga masih belum jadi cucu yang berbakti😦

Eyang yang telah meninggalkan saya membuat saya menjadi tersadar sekali lagi bahwa kehidupan di dunia ini sementara dan hanya permainan belaka. Namun sayang kadang kita lupa bahwa kita ini sedang diuji, apakah bisa jadi hamba Allah yang baik atau tidak. Ridho siapa yang kita cari, ridho Tuhan atau ridho dunia? Apa yang kita tuju, keabadian Tuhan, atau fananya materi?

Berpikir tentang kematian selalu membuat kita menggeser paradigma kita tentang kehidupan. Tentang apa yang sebenarnya penting dan bermakna. Kita terkadang berpikir untuk meraih banyak hal dalam hidup, sehingga terkadang kita lupa bahwa hidup adalah persiapan menuju kematian. Karena hidup yang sejati baru dimulai setelah kematian.

Saya pun jadi berpikir, apa yang sebenarnya saya cari..

Sakaratul Maut

Tentu saja, sakaratul maut adalah sebuah pintu terakhir. Sebuah pintu yang akan membuat kita berteleportasi ke dunia yang baru. Dan saya pun mengingat kembali tentang kisah sakaratul maut Eyang Kakung. Dan ya, lagi-lagi saya menemukannya di tumblr saya (http://rousyan.tumblr.com/post/8969260613/sakaratul-maut).

“Eyang putri itu selalu bilang ke Eyang Kakung. Eyang Kakung itu semasa hidup adalah orang baik, dari muda sudah orang baik.

Nah, setan itu nggak suka kalo Bapak itu baik terus. Makanya setan suka nggoda Bapak biar gelisah, biar nggak ikhlas.”

“Terus Eyang kakung itu nanya ke Eyang, gimana cara mengalahkan setan itu. Eyang Putri njawab, salah satunya dengan baca An-Naas”

Dan ya, kata Mama Atik yang mendampingi saat-saat terakhir Eyang, Eyang kakung minta dituntun untuk membaca An-Naas.

Buat saya, ini menjadi bukti bahwa setan akan terus menggoda kita untuk tidak memurnikan keesaan Tuhan hingga saat terakhir hidup kita di dunia.

“Tapi Eyang lega, di saat-saat terakhir Eyang kakung sudah ikhlas. Kelihatan dari wajahnya yang bersih dan ganteng. Orang kan meninggal mukanya macem-macem, ada yang ketakutan. Tapi Eyang itu masih minta dituntun An-Naas, artinya mungkin sempat ngerasa gelisah”

“Emangnya wajah orang di saat terakhir itu bisa jadi cerminan? Kan rohnya sudah keluar?”

“Tetep aja kan. Orang senyum, merengut, itu semua datangnya dari mana? Dari dalem kan?”

Entahlah. Sakaratul Maut, semoga kelak kita semua diberikan kekuatan untuk menghadapinya. Dan semoga kita tidak menakutinya, karena kita percaya Tuhan.

Ya, ternyata tahapan perjalanan kita jika dilihat big picturenya adalah Berubah, Menjalani Hidup, lalu Sekarat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s