Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi

Jadi pada suatu ketika saya baru saja bangun dari tidur. Saya membuka tablet saya, dan ada notifikasi dari facebook. Setelah saya cek, rupanya ada yang menulis sesuatu di wall saya. Beliau adalah Yorga, Menteri Kebijakan Nasional di KM ITB. Saya yang masih mengumpulkan nyawa mencoba memahami apa isi tulisan dia. Mimpi apa saya, kenapa saya, mahasiswa awam yang lagi culun ini dikirim wall oleh pejabat kampus.

Saya membaca tulisan tersebut beberapa kali, sampai akhirnya saya sadar, pertanyaannya berat pisan. Ini dia skrinsutnya:

Lalu, dimulailah diskusi tentang ITB, UU Dikti, Badan Hukum, dan MWA. Saya sendiri langsung buka-buka file lama lagi, maklum sekarang kepala sudah terisi hal-hal yang lain. Nah, beginilah asyiknya diskusi di facebook.

    • Muhammad Yorga Permana ini nge-like doag lah, punya jawaban ga bang Abram? Kata Mahdi ente ga mau diajak kajian kemahasiswaan lagi? maunya kajian bisnis aja. =D
    • Syarif Rousyan Fikri Wah terima kasih sekali pertanyaannya.. seneng banget dikasih pertanyaan ini. tapi sayangnya pertanyaannya susah sekaliii😀
    • Syarif Rousyan Fikri Tapi pertama-tama, saya ada yang masih belum jelas nih.. kita diskusi aja di sini ya
      1. Kenapa merasa MWA gabut dan gak fokus dan ketemuan hanya ajang seremonial?
      2. Kenapa merasa MWA bisa digantikan oleh senat akademik dan guru besar?
      3. Tau kan bedanya komponen penyusun MWA dan sebutkan komponen penyusun Senat Akademik dan Guru Besar, coba apa aja?
      4. Pernah denger tentang Meritokrasi?
    • Abram Christopher Sinaga sistem itu cenderung stagnan Yorga, sementara SDM dinamis….
      Mengkaji terlalu banyak soal sistem dengan kondisi pribadi yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan sejengkal perut ini tidak akan efisien…
      Jadi , untuk sementara tidak berniat mengkaji sistem..
      cuma, bagaimana kualitas dan profil SDM yang diharapkan mengisi posisi MWA itu?
      Itu yang harus dikaji juga lebih dalam oleh para mahasiswa..
      Thursday at 3:29pm · Like · 1
    • Syarif Rousyan Fikri Btw, kalo misalnya googling yah.. topik ttg higher education governance ini jadi topik riset sendiri loh.. gatau deh kalo di Indonesia apakah ada yang riset tentang ini (mungkin mahasiswa doktoral dr humaniora gitu)
    • Syarif Rousyan Fikri Btw, kalo misalnya googling yah.. topik ttg higher education governance ini jadi topik riset sendiri loh.. gatau deh kalo di Indonesia apakah ada yang riset tentang ini (mungkin mahasiswa doktoral dr humaniora gitu)
    • Muhammad Yorga Permana lha, malah ditanya balik. saya bukan orang dalam MWA nih kang makanya mau nanya krn sy kesulitan untuk sekadar mengakses info “MWA kerjaannya apa sih?”. Beberapa diskusi MWA yg sy ikuti pun seakan formalitas ngebahas ITB 2025 abis itu udah. MWA yg dibangga2kan krn melibatkan beragam stakeholder pun bikin sy nanya lebih lanjut, MWA wakil mahasiswa misalnya, tugasnya apa? Kok seakan cuma penyampai informasi doang.

      2. Karena dgn MWA
      – negara jadi pemegang saham PT, menteri itu setara dgn unsur lainnya. jd logikanya perusahaan
      – pemilihan rektor jd kepentingan politik krn melibatkan bnyk stakeholder, bukan akademis. saya lebih percaya kalo dikelola tok sama senat akademik (kayak di PTN cem Unpad dll), trus menteri entar tinggal menyepakati siapa yg diusulkan oleh senat. karena rektor itu bukan jabatan politis, tapi akademis.
      – pengawasan non-akademik yg digembargemborkan dgn adanya MWA pun sy rasa
      ga kerasa. Bahkan BPK smpet bilang ga efektif. saya rasa wajar soalnya MWA sekali lg isinya cuma seremoni. Belum lagi rektorat masuk ke dalam MWA. Yg diawasi jadi bagian yg mengawasi

      3. tau2, barusan googling, xp
      4. pernah, tp belom nangkep apa kaitannya?

    • Muhammad Yorga Permana jd bang abram mau bisnis dulu yak? abis sukses nanti baru masuk k ranah politik? hehe. kalo bang fikri ngapaen nih abis lulus?
    • Syarif Rousyan Fikri saya nanya biar tau asumsi kamu apa, “Tapi pertama-tama, saya ada yang masih belum jelas nih..”
      Kalau saya pribadi jujur aja, jaman saya menjabat kondisi memang sudah tidak ideal, jadi to be honest aja saya memang lebih gabut dibandingkan MWA sebelum saya.. dan di sisi lain, kualitas saya juga kurang. makanya pas laporan saya ngaku kan kalau saya nggak maksimal :DKebetulan di sini saya ketemu sama Dwi Arianto, Presiden KM dan MWA, dan saya banyak dapet cerita gimana dulu adanya MWA bisa membuat mahasiswa lebih mudah buat bergerak.. dan waktu pemilihan rektor, anggota termuda, anggota tertua serta ketua MWA tuh jadi pengawas pemilihan rektornya. Keliatan seru sih😀

      Thursday at 3:45pm · Like · 1
    • Muhammad Yorga Permana lanjut dulu kang, kalo sy masih berpikiran rektor itu jabatan akademik, gak kaya pres KM yg politis (hehe). jadi memang wajar kalo mahasiswa ga bnyk berperan dlm mengawasi, bukan soal kualitas mahasiswanya jg sih kang. makanya sy mikir lg apa mening pengawasannya, termasuk pilrek jg, pure diurus sama guru besar2 aja ya. diatasnya langsung menteri.
    • Syarif Rousyan Fikri Sebenernya saya rada gak ngerti ilmunya ya.. tapi setau saya sih yang namanya jabatan akademik itu seperti: asisten ahli, lektor, lektor kepala, guru besar.. sedangkan kalau rektorat itu udah ngurusin manajemen.. ngurusin masalah kebijakan di level kampus
    • Muhammad Yorga Permana ooh, iya jg ya, lanjut kang, ada pendapat lg gaa? enakny sy ngbrol sama siapa lg kalo mau tny2 MWA?
    • Syarif Rousyan Fikri ada, masih panjang ini. sabar
      Thursday at 3:58pm · Like · 1
    • EditDelete

      Syarif Rousyan Fikri wah banyak sih, tanyain aja semua orang yang pernah jadi MWA Wakil Mahasiswa, bisa tanya2 juga ke komunitas dosen (KD) ITB.. guru besar, mwa wakil pegawai non-akademik.. banyak yg bs ditanyain.. tanya Malik Fadjar (ex Menteri) juga boleh.. nanti jadi tau sudut pandang menteri kayak apa
    • Syarif Rousyan Fikri Kalau kontrolnya di bawah menteri nanti sistemnya jadi birokratis sekali.. nah dari baca statemen kamu, kamu juga nggak pengen seperti itu, pengennya institusi tetap punya otonomi dalam menentukan rektornya. tapi yang nentuin Guru Besar,, gitu kan?
    • Syarif Rousyan Fikri universitas berkembang.. gak cuman pengajaran doang, lama-lama muncul riset, dari riset nanti mungkin akan spin off jadi perusahaan.. perkembangan dari universitas ini akan menjadikan organisasi semakin kompleks dan gak melulu akademik doang.. salah satu yang jadi masalah ya.. uang misalnya. maka dari itu butuh juga orang-orang berpengaruh dari sektor lain untuk ikut menentukan kebijakan..
    • Syarif Rousyan Fikri yang membentuk SUK (Satuan Usaha Komersil) (Satuan Kekayaan dan Dana) itu ya MWA juga. Karena di MWA ini ada perwakilan dari berbagai sektor, maka akan ada pandangan-pandangan baru sehingga terjadi kolaborasi (minimal di level penentuan kebijakan jangka panjang) terkait dengan kolaborasi antara Academia, Government, Industry.. Ini ada artikel menarik ttg board of trustee di luar negeri http://stateimpact.npr.org/florida/2012/06/26/university-boards-of-trustees-make-academic-decisions-with-no-experience-in-education/

      stateimpact.npr.org

      Editors note: This post was written by WLRN reporter Georgia Howard. …See More
      Thursday at 4:10pm · Like · 
    • Muhammad Yorga Permana ‎”Kalau kontrolnya di bawah menteri nanti sistemnya jadi birokratis sekali.. nah dari baca statemen kamu, kamu juga nggak pengen seperti itu, pengennya institusi tetap punya otonomi dalam menentukan rektornya. tapi yang nentuin Guru Besar,, gitu kan?”
      Sebenernya ini yg jadi masalah kang, kenapa kalo diurus menteri logika kita langsung bilang “birokratis”? seolah menteri itu penghambat kemajuan kampus.iya, saya setujunya dipilih guru besar, jd pendekatannya bottom up, nanti menteri tinggal ketok palu. Atau bisa juga guru besar mengusulkan beberapa nama trus ntar tetep yg memutuskannya menteri.

    • Muhammad Yorga Permana nah kalo koment selanjutnya iya saya jg setuju pendapat akang, “..universitas berkembang.. gak cuman pengajaran doang, lama-lama muncul riset…”
      kompleks ya masalahnya.
      =D
    • Syarif Rousyan Fikri sejujurnya sistem itu ada positif ada negatifnya sih.. gak ada sistem yang sempurna lah.. maslaah pilihan.
      Kalo dibawah menteri ya memang sifatnya birokratis karena jalur komando. Saya nggak bilang birokratis itu akan menghambat kemajuan kampus.. Tapi dengan pendekatan birokratis sistem jadi tidak fleksibel
    • Syarif Rousyan Fikri Kalau mau beneran tau mungkin harus ngobrol sama Malik Fadjar.. apakah Menteri sanggup masih ngebawahin ITB.. apalagi kalau ITB semakin gede dan berkembang.. jaman beliau kan si BHMN ini..
    • Tizar Bijaksana IMHO ini kaitannya sama otonomi universitas yorg. pemerintah dan DPR itu sudah menyesatkan banyak orang dengan mengidentikkan otonomi PT dengan otonomi keuangan, padahal lebih dari itu otonomi PT itu esensinya adalah menjadikan PT sebagai wahana mencari kebenaran dan perbaikan bagi kehidupan umat manusia.

      Mungkin kalau sekat ideologis di PT Indonesia tidak terlalu berpengaruh, namun anggaplah sebuah PT punya riset unggulan di bidang teknologi tertentu yg berpotensi utk mendunia, tapi PT tsb tidak mndapat dukungan pemerintah (uang, sdm, aset, infrastruktur) karena hambatan birokratis, gimana PT tsb mau berkembang? Di swedia dan norwegia itu PTnya pada otonom lho, tapi masih dibiayai penuh oleh pemerintah (dari tulisan pak djoko suharto)

      Saya pikir MWA ini esensinya bukan mengalihkan “tanggung jawab untuk mendukung PT” dari pemerintah ke stakeholder (itu yg namanya liberalisasi atau privatisasi), namun untuk membuka perspektif PT dalam melihat realita bangsa, serta untuk memudahkan PT mengakses peluang-peluang eksternal yg dapat mendukung perkembangan PT. Saya memang belum bisa menemukan contoh kongkrit peran MWA yg kemudian benar2 berdampak signifikan terhadap PTnya.

      Toh sejarah ITB (dari awal berdirinya) pun membuktikan bahwa riset2 unggulan dan prestasi2 ITB itu bukan dimotori oleh lembaga formal seperti LAPI atau LPPM kok, tapi oleh inisiatif dan kreativitas civitas akademikanya. Sama seperti kehidupan kampus yang lebih diwarnai oleh mahasiswa ketimbang rektorat. Artinya kalau hanya menggunakan contoh ITB saja utk pertimbangan MWA, saya kira sangat tidak cukup, karena kita harus melihat konteks PT2 lain di Indonesia kalau mau menjadi solusi utk UU DIKTI. Terlepas ada MWA atau tidak, pendanaan penuh pemerintah kepada PT adalah WAJIB!😀

      Thursday at 4:22pm · Like · 1
    • Syarif Rousyan Fikri http://azrl.wordpress.com/2012/05/03/aneh-menolak-ruu-pendidikan-tinggi/

      azrl.wordpress.com

      Jangan menolak pengundangan RUU Pendidikan Tinggi. Yang harus dilakukan adalah r…See More
      Thursday at 4:23pm · Like · 
    • Syarif Rousyan Fikri Ini juga ada tulisan yg bisa menambah sudut pandang http://edukasi.kompas.com/read/2012/07/07/09460058/Menyongsong.UU.PT.Hakiki

      edukasi.kompas.com

      Sudah seharusnya bahwa perguruan tinggi di Indonesia mempunyai tata kelola yang otonom, seperti layaknya perguruan tinggi di sejumlah negara.
      Thursday at 4:27pm · Like · 
    • Syarif Rousyan Fikri Adanya SUK, SKD, itu termasuk peran MWA yang konkret selama ini.. BIUS juga konkret.. dan memang suatu ide itu perjalanannya panjang untuk bisa kejadian. Selama saya di MWA, obrolan mengenai gimana ITB ini bisa menjadi lebih baik gak pernah berhenti.. ya yang sudah terdengar karena idenya sudah terstruktur dan sedang diperjuangkan adalah ITB 2020 misalnya..

      Ya memang ga bisa instan.. MWA baru berapa tahun sih? Menurut saya udah bagus MWA bisa bikin sistem BHMN yang cukup stabil.. sayangnya sebenernya saya juga gak terlalu ngerti dan cuman melihat dari sudut pandang yang kecil.. dan saya juga masih SD jaman ITB masih PTN😀

    • Syarif Rousyan Fikri Oh iya, pertanyaan yg habis lulus mau ngapain: pengen berkelana.. karena pesan dari bapak/ibu MWA sih katanya bagusnya anak ITB tuh habis lulus ke luar negeri.. terutama yang mau jadi dosen.. cari pengalaman di industri, menetap dulu di sana.. amati best practicenya baru balik deh ke indonesia.

      Tapi kalau yang pengen dicapai sih: pengen bikin perusahaan multinasional berbasis teknologi, sekolah yang mengajarkan manusia untuk jadi diri sendiri, jadi penulis dan musisi. Hahaha (lagi nyari-nyari lagi nih tujuan hidup, nanti setelah lulus penting banget untuk selalu punya purpose, udah ga ada lagi yang nyuapin)

      Thursday at 4:35pm · Like · 1
    • Muhammad Yorga Permana oke kang Tizar Bijaksana danSyarif Rousyan Fikri, makasih pandangannya, lumayan bikin terbuka
      jadi masalah bahwa otonomi PT itu meliputi otonomi, akademik, pengelolaan keuangan, dan manajerial saya sepakat sama Dikti. sepakat jg bahwa pendanaan tetep tanggung jawabny d pemerintah.
      yg sy masih ga sreg adalah mengapa solusinya harus jd badan hukum? kenapa ga tetep PTN aja dan memperbaiki hukum2 di masa lalu yg menjamin otonomi tsb terjadi. misalkan UU keuangan, PP BLU, dll.
      dgn adanya badan hukum sy ngeliat tdk ada jaminan utk kemudahan aksesibilitas.
      Trus MWA kan slah satu unsur badan hukum. dan hari ini saya dapat pandangan bahwa MWA ternyata cukup ptg yah. hehe
    • Syarif Rousyan Fikri wah ada bung Radeya Pranata mampir.. monggo mas, dishare ateuh pemikirannya. hehee
    • Syarif Rousyan Fikri ‎Muhammad Yorga Permana Kenapa harus badan hukum? setau saya sih biar lebih fleksibel untuk menentukan aturan internal seputar banyak hal sih.. misalnya aja masalah pegawai, kalo nanti ITB mau beranjak jadi universitas ketiga dimana ikut ngembangain industri.. mungkin nanti akan ada dosen yang di assign sebagai direktur suatu perusahaan tertentu.. biar lebih fleksibel dan gak terpaku sama aturan PNS sih konon.. terus masalah kesejahteraan juga.. kalau nanti ITB menghasilkan banyak uang dari komersialisasi riset, masa iya yang bekerja keras ga dapet insentif khusus.. yang saya tau sih seperti itu
      23 hours ago · Like

Nah, dari diskusi ini justru saya melihat adanya perwakilan mahasiswa pada Board of Trustees suatu universitas itu penting. Jangan pernah menganggap remeh peran sebagai “penyampai informasi”. Akar dari banyak permasalahan adalah kesalahpahaman. Kesalahpahaman sering disebabkan oleh informasi yang kurang (entah kurang dari segi jumlah, atau kurang akurat). Apalagi sekarang adalah era informasi, seharusnya informasi yang mencari kita😀

Salah satu problem lagi adalah budaya knowledge management yang masih belum baik di kampus. Setiap tahunnya organisasi kemahasiswaan mengalami regenerasi. Namun, penurunan ilmu selalu minim. Saya tidak bisa menyalahkan juga, toh berkemahasiswaan ini berazas sukarela dan mahasiswa masih punya kewajiban utama, yakni berkuliah. Tapi, tetap sih, biarpun kita tahu bahwa kita tidak bisa meraih kesempurnaan, kita harus tetap mengejarnya. Itulah idealisme yang dimiliki oleh setiap manusia.

Btw, saya juga sebenarnya masih penasaran dan suka baca-baca tentang tata kelola dan pengembangan perguruan tinggi. Saya terkadang masih takjub dengan NTU yang usianya lebih muda dari ITB tapi rankingnya sudah di atas ITB. Mungkin karena dukungan dari pemerintah juga sehingga riset NTU sangat produktif. Tapi kalau boleh meng-quote kata-kata supervisor saya, seperti ini kurang lebih:

Jika melihat ranking jumlah publikasi mungkin kita mengalahkan MIT, itu dari segi kuantitas, tapi kualitasnya? bagaimana jika dilihat dari  impact yang diberikan dari riset? Tentu kita masih kalah. Mengejari kuantitas itu lebih mudah dari mengejar kualitas. Kamu tinggal mengerahkan banyak orang untuk riset, maka kuantitas akan meningkat. Tapi soal kualitas, itu berbeda. Maka dari itu, bekerja keraslah!

Ya. Inilah strategi yang dilakukan di Singapore. Dana riset dikucurkan sebanyak-banyaknya agar setidaknya bisa unggul secara kuantitas. Peralatan-peralatan canggih dibeli. Dan tentu saja diperlukan “tenaga kerja” untuk menggunakan alat itu, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Rusli (Associate Chair EEE for Graduate Studies), yang berasal dari Indonesia (tapi sudah jadi singaporean sejak kecil kalau tidak salah).

“We need people who can make use of our good equipments”

Sementara ITB, kalau dari ngobrol-ngobrol sama dosen sih, masih bergelut dengan minimnya jumlah publikasi😀

Ah, nanti saya juga ingin menulis lebih lanjut tentang beberapa hal yang saya amati dari universitas saya sekarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s