Sekolah Impian untuk Anak-anak Indonesia

Saya teringat pembicaraan dengan coach saya, Mas Ivandeva pada saat kami makan malam bersama untuk merayakan persahabatan sekaligus perpisahan. Ketika itu Mas Ivan bertanya kepada saya, “Nggak mau bikin sekolah?”

Pertanyaan ini membuat saya teringat satu mimpi yang pernah terlintas di benak saya ketika saya kuliah di ITB. Saya adalah produk dari program khusus, yakni kelas akselerasi. Empat tahun waktu belajar saya habiskan di kelas ini. Pertanyaan yang ada di benak saya waktu itu adalah seperti ini, dengan adanya berbagai program khusus seperti kelas akselerasi, kelas super, kelas bilingual, kelas ICT, dan kawan-kawannya, berarti mungkin juga kita membuat sebuah program khusus yang akan menyiapkan calon pemimpin bangsa secara khusus.

Indonesian TM (Taken with Instagram)

Cermin pendidikan kita

Iya, saya berbicara tentang sebuah rekayasa pendidikan, agar kita dapat membangun sistem yang mampu mencetak minoriti kreatif. Sekumpulan anak-anak Indonesia dipilih dari berbagai macam parameter. Ada yang dipilih karena pintar, ada yang dipilih karena berbakat dalam bidang tertentu, ada yang dipilih karena fisiknya kuat, ada yang dipilih karena background masa lalunya kelam, dan lain sebagainya. Lalu sekumpulan orang ini dimasukkan pada suatu environment khusus yang membuat mereka memiliki mental dan kapabilitas untuk mengenal diri sendiri dan memimpin orang lain. Environment ini jauh-jauh lebih kondusif ketimbang sekolah biasa. Perkembangan mental dan spiritual mereka semua benar-benar diperhatikan dan dievaluasi. Di sini, kurikulum pendidikan lah yang menyesuaikan terhadap peserta didik. Tentu saja peserta didiknya harus terbatas.

Nah, seiring berjalannya waktu, saya pun mulai berpikir tentang apa sebenarnya passion saya. Waktu itu saya heran, mengapa saya sudah menjadi mahasiswa, tapi masih tidak tahu saya ini suka apa. Terlebih lagi, ketika saya mengingat kembali bagaimana saya memilih program studi pada saat SPMB, saya memilih berdasarkan “apa kata orang“, prestis. Gengsi.

Saya ingat, saya begitu tertarik dengan psikologi pada saat saya SMP. Tapi, waktu itu orang tua saya bilang, “Psikologi nggak keren ah“. Dan ibu saya walaupun orang IPS, waktu itu juga bilang gini, “Cowok tuh IPA aja, nggak keren kalo IPS“. Entahlah, sedari kecil kita dicuci otak. Bahwa gambar pemandangan haruslah dua buah gunung berjajar dengan matahari di tengah, dan semua anak menggambar yang sama. Kita dibiasakan untuk menjadi seragam, untuk lemah menerima pandangan umum.

Dulu saya juga sangat suka menggambar komik. Tentu saja kondisi dunia perkomikan di Indonesia juga kurang baik. Entahlah, mungkin saja ada banyak orang-orang yang terlahir sebagai komikus handal justru terjebak menjadi teller bank, menjadi sales di perusahaan MNC, dan lain sebagainya. Mungkin saja.

Mungkin saja kita terbiasa untuk tidak menjadi diri sendiri karena kita takut memilih pilihan yang berbeda dari orang kebanyakan. Mungkin saja ini semua yang menyebabkan Indonesia tidak maju. Sebab, setiap orang takut untuk berinovasi, takut untuk mendobrak pakem yang ada di masyarakat.

Aaah, lalu saya mulai menghayal tentang sekolah impian tersebut. Sekolah yang mungkin hanya berisikan sepuluh sampai dua puluh murid. Tapi, mereka adalah anak-anak istimewa, sebab sedari awal, mereka diberikan kebebasan dan kemerdekaan berpikir. Mereka dibantu untuk mempelajari apa yang ingin mereka pelajari. Mereka dibantu untuk menemukan diri terbaik mereka. Dan setelah mereka lulus, mereka berkelana, menjadi orang yang benar-benar tahu apa yang ingin dia lakukan untuk kebermanfaatan. Lalu, mereka pun kembali ke kampungnya masing-masing, membuat sekolah serupa.

Renaissance Man! Leonardo Da Vinci, one of the most recognisable polymath

 

Dan siklus ini berlangsung terus menerus. Hingga akhirnya tidak ada lagi sekolah formal dengan kurikulum yang sama rata untuk semua anak. Semua sekolah spesial, ditangani guru-guru yang spesial, dan memperlakukan semua anak dengan spesial. Anak yang berminat untuk menjadi peneliti, sedari kecil dibiasakan untuk memiliki rasa ingin tahu, persistensi, dan perseverance yang tinggi. Mereka difasilitasi dengan mini lab dan ensiklopedia. Anak yang berminat untuk menjadi seorang komikus, diajarkan menggambar dan diberikan pemahaman mengenai sejarah bangsa, sejarah dunia. Agar komiknya bukan hanya menjadi kumpulan gambar orang tonjok-tonjokan, tapi menjadi sebuah karya diapresiasi oleh masyarakat dunia. Dan setiap dari mereka dicarikan mentor, sesuai dengan minat mereka. Dan bukan tidak mungkin ada satu anak spesial yang butuh banyak mentor, bisa jadi dia adalah jack of all trades, atau mungkin the next renaissance man!

Lalu, anak-anak Indonesia pun akan dengan bahagianya bisa belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang bisa menghargai bakat dan segala potensinya sebagai karunia Tuhan, sebagai investasi Tuhan.. agar mereka bisa memakmurkan bumi ini.

Sekolah di 3 idiots, saya merasa deja vu.. merasa dilangkahi, merasa didahului.. karena saya hanya berwacana dalam kepala. (sumber currentnewsindia.com)

Ya, saya sangat suka bermain bersama anak-anak. Dan entah mengapa, saya selalu ingin anak-anak itu bisa berkembang menjadi lebih baik dari saya. Entah kenapa saya suka menjadi panitia kaderisasi. Karena di sana, meskipun saya bukan orang yang sempurna juga, tapi saya bisa memberi tahu kesalahan-kesalahan saya kepada adik-adik kelas saya. (Bahkan saya pernah mengadakan Sekolah Inovator Muda, meskipun gagal http://inovatormuda.wordpress.com/)

Dan saya juga sangat senang, selama hidup saya, saya selalu memiliki teman diskusi yang selalu memberikan saya banyak wacana. Iya, mereka banyak membuka mata saya bagaimana untuk hidup menjadi seseorang. Merekalah keluarga saya, teman saya, senior-senior saya, atasan di kantor, supervisor di kampus. Mereka selalu memberikan saya pandangan yang baru tentang, “ingin menjadi apa seorang Syarif Rousyan Fikri?”

Semoga kelak jika Tuhan mengijinkan, saya bisa membuat sekolah. Bukan sekolah yang mencetak orang-orang menjadi sekedar robot, tapi menjadi robot yang pintar dan memiliki spirit.😀

One thought on “Sekolah Impian untuk Anak-anak Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s