Bukan Renungan Ramadhan #2 TED Talks, Kebahagiaan, dan Tutorial dari Tuhan agar Manusia Bahagia

Pernahkah kita berpikir, buat apa Tuhan repot-repot menciptakan Al-Quran. Buat apa Tuhan repot-repot menuliskan surat-surat untuk manusia? 

Tuhan begitu sayang kepada kita, maka dari itu Dia menuliskan “surat cinta” kepada kita. Dalam surat-surat itu kita diberikan kunci keselamatan, kunci kebahagiaan. Sebegitu pentingnya “surat cinta” ini sehingga Tuhan sendiri yang membuatnya dan menjaganya. Tapi, kita (saya lebih tepatnya) tidak pernah menyadari hal ini. Saya begitu jarang membuka surat cinta ini, seolah-olah mengacuhkan yang sudah memberikan saya perhatian.

Baru-baru ini saya menonton video TED tentang paradoks dari adanya pilihan. Saya pun berpikir, alam semesta ini memang diciptakan dengan berbagai macam, dan dalam hidup ini kita dihadapkan dengan banyak sekali pilihan.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).”

(QS. Ali Imran, 3 : 14)

Dan memang seperti itu adanya. Begitu banyak hal yang menyilaukan. Harta, jabatan, kekuasaan, dan kawan-kawannya selalu menyilaukan. Ya, Tuhan sendiri sudah bilang kalau manusia memang diberikan ketertarikan dan kesenangan terhadap berbagai hal di dunia.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”
(Al-Hadiid 57:20)

Sebagai makhluk yang sempurna, Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk memilih. Manusia bisa memilih hendak menjadi manusia jahat atau baik, hendak menyukai kuda atau burung, hendak menjadi guru atau menjadi polisi. Ya, dan kebanyakan pilihan yang ada, tak jarang justru membuat kita tidak puas. Pilihan-pilihan yang ada justru terkadang membuat kita menjadi tidak bahagia, tidak bersyukur.

Ya, rupanya dunia ini hanya permainan. Pilihan adalah permainannya. Dan hanya mereka yang visioner lah yang mampu melihat pilihan ini sebagai tipuan belaka. Merekalah orang-orang zuhud yang tidak dikendalikan oleh dunia, tetapi justru mengendalikan dunia. Bingung? Sama. Saya juga nggak tahu apa yang saya tulis.

Hmm, tapi rada aneh ya? Tuhan sendiri mengatakan bahwa di dunia ini akan ada banyak pilihan yang akan menjadi kesenangan buat manusia. Tapi Tuhan bilang kesenangan itu menipu.  Tapi, Tuhan juga mengatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa kembali ke surga. Lalu bagaimana agar kita bisa masuk surga? Bagaimana agar kita bisa mengejar kebahagiaan yang sejati?

Nah, ini dia, lagi-lagi saking sayangnya Tuhan kepada kita. Dia pun memberikan cara untuk meraih surga tersebut, meraih kebahagiaan sejati, melalui 6.666 ayat sebagai bentuk cinta-Nya. Dan percayalah, Tuhan tidak menginginkan manusia tidak bahagia atau terjebak kesenangan yang semu. Tuhan ingin makhluk yang disayanginya selalu senang, hepi, dan bahagia dalam kesejatian. Maka dari itu, berkali-kali Dia katakan pada “surat cintanya”

Nikmat Tuhan-Mu mana lagi yang kau dustakan?

Ya inilah kunci kebahagiaan. Bersyukur. Tuhan tau persis bahwa manusia sering tidak puas, sebab manusia selalu berandai-andai tentang pilihan yang belum ia ambil, tentang hal-hal yang tidak dimilikinya. Dan Tuhan tahu betul bahwa sebenarnya manusia ini telah memperoleh apa yang dia butuhkan. Maka dari itu, ketika manusia-manusia ini lupa, Tuhan pun kembali mengingatkan dengan pertanyaan berulang-ulang dalam “surat cinta”.

Selain itu, manusia pun terkadang membandingkan dirinya dengan manusia lain. Padahal, Tuhan sendiri yang telah mengatur rezeki setiap orang, sehingga setiap orang spesial dan memiliki jatahnya masing-masing. Tuhan juga tahu kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain ini ada dalam diri manusia. Tuhan juga tahu betul bahwa hal ini dapat membuat manusia tidak bahagia. Maka dari itu Tuhan pun kembali memberikan petunjuk

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa’ , 4:32)

 “Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An Nisaa’: 54)

Ya, simpel ya. Ternyata caranya adalah cukup dengan meyakni bahwa apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita usahakan, dan jangan pernah membandingkan dengan orang lain. Tuhan tahu betul dan telah memperhitungkan semuanya.

Jadi bagaimana cara bahagia?

Cara bahagia ternyata adalah dengan menggunakan akal. Dengan akal, kita bisa mengubah paradigma. Dari yang tadinya tidak puas dengan apa yang kita miliki, menjadi rakus dan ambisius, menjadi hidup orang yang bersyukur dan zuhud. Dari yang semula selalu iri melihat kerja keras orang lain menjadi fokus kepada diri sendiri dan bekerja lebih giat dengan semaksimal yang bisa dilakukan. Itu semua hanya bisa dilakukan dengan akal.

Semuanya hanya terjadi di dalam akal. Kebahagiaan itu rupanya bisa didapat dengan mudah oleh setiap orang. Kebahagiaan adalah hak setiap orang. Kebahagiaan dimodulasikan dalam frekuensi tertentu, dan akal manusia lah yang bisa menerima gelombang kebahagiaan tersebut.

Ya, gelombang kebahagiaan dimodulasikan pada frekuensi syukur, zuhud, dan introspeksi diri.

Hmm.. dan sebenarnya kalau diringkas, kebahagiaan akan tercapai pada saat kita mencapai posisi ikhlas.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Dengan menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat bergantung, maka kita tidak boleh berekspektasi terhadap benda, termasuk diri kita sendiri. Dan dengan meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Mengetahui dan Maha Adil, maka kita bisa menggantungkan diri kita secara total kepada Tuhan, menerima segala ketetapannya dengan rasa segenap rasa syukur. (Hmm.. kalau mau menjelaskan yang ini agak ribet sih, tapi ini adalah kesimpulan yang saya ambil dari perenungan saya)

Disclaimer

Tulisan ini hanyalah hasil perenungan saya, saya bukan ahli tafsir, saya bukan ulama. Tapi, at least, inilah makna yang saya dapatkan dari kegalauan yang saya alami, dari perenungan yang saya alami, dari video TED yang saya tonton. Saya akhirnya menyadari bahwa bahagia atau tidak hanyalah soal mindset, soal bagaimana kita menggunakan akal kita. Lalu, saya pun teringat beberapa ayat yang pernah saya hapalkan pada saat bersekolah di sekolah “berkurikulum islam”. Saya sendiri sudah lupa persisnya, beruntung ada google, saya bisa menemukan ayat-ayat tadi.

Dan yang terpenting adalah, sekali lagi ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah teknologi tertinggi, meskipun mungkin tidak dijelaskan secara detail. Terbukti toh ada relevansinya dengan sains. Kalau ada yang bilang agama itu hanya doktrin, saya sendiri tidak sepakat. Saya lebih sepakat bahwa agama adalah ilmu pengetahuan tingkat tinggi yang bahkan kita belum tahu ilmunya, belum mengkajinya sungguh-sungguh, sehingga kita berpikir bahwa perintah itu tidak rasional.

Hmm, begitu sayangnya Tuhan dengan kita, sampai-sampai demi kebahagiaan kita saja, Dia berikan manualnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s