Lebaran di Perantauan

Setahun lalu, sebenarnya saya sudah berencana untuk berlebaran di perantauan. Sayangnya, waktu itu orang tua saya tidak memperbolehkan. Maka, pulanglah saya ke Malang, terlebih lagi lebaran kali itu adalah pertama kalinya lebaran tanpa Eyang Kakung di Malang.

Entah harus bersyukur atau bagaimana, Tuhan akhirnya mengabulkan rencana saya. Tahun ini saya berlebaran di Singapura. Jika biasanya saya bangun kesiangan dan tidak sempat sahur, pada hari raya tersebut saya bangun cukup pagi. Saya benar-benar memasang banyak alarm agar saya tidak tertinggal bus menuju KBRI.

Pukul enam lima belas, saya sudah berjalan dari Graduate Hall menuju parkiran MAE. Oh iya, pada malam sebelumnya saya berkenalan dengan beberapa mahasiswa undergraduate yang berasal dari Indonesia pada saat hendak mencari makanan untuk berbuka. Mereka yang mengingatkan saya agar tidak terlambat datang karena bus akan berangkat pada pukul enam tiga puluh.

Sesampainya di tempat mangkal si shuttle bus, saya masih mengenakan kaos oblong. Sementara itu saya melihat orang lain sudah berpakaian rapi. Saya masuk ke dalam bus dan menunggu beberapa saat. Saat itu, saya berkenalan lagi dengan seorang mahasiswa undergraduate, Evan. Anehnya dia sudah tahu terlebih dahulu kalau saya kelahiran tahun sembilan dua.

“Saya nggak usah manggil mas kan, kan tuaan saya”

Yah, faktanya demikian. Walaupun secara psikologis saya merasa lebih dewasa (karena saya sudah lulus, karena saya sempat bekerja, karena saya angkatan 2007), faktanya saya memang lebih muda dari dia. Saya pun bilang “Yo, santai aja“.

Evan rupanya berasal dari Jogja. Dia sudah tahun keempat dan berencana lulus semester depan. Kami berbincang cukup banyak selama perjalanan. Kebanyakan pembicaraan tentang start-up.

Lebaran di KBRI rupanya ramai. Jadwal sholat pun sepertinya dimundurkan mengingat masih banyaknya orang yang berdatangan. Ada beberapa hal yang cukup menarik dan berbeda pada rangkaian sholat Ied di sini. Sebelum khutbah dimulai, ada pengumuman yang menjelaskan mengenai siapa imam dan khotib kali ini. Nah lucunya adalah setelah menjelaskan dan memperkenalkan khotib dengan sebegitu panjangnya (mulai dari siapa si khotib ini, ditambah segudang recognitionnya) si orang yang mengumumkan malah berkata seperti ini, “Nah, khotib ini memang sudah sama-sama kita kenal, sehingga nampaknya tidak perlu diperkenalkan.” Setelah itu terdapat penjelasan tata cara sholat Ied. Saya tidak tahu apakah memang kebiasaan di sini demikian, tapi yang jelas penjelasannya sangat detail, sampai menjelaskan kembali tata cara sholat -_-”

Khutbah sholat Ied kali ini cukup bagus. Konon katanya ada 4 golongan yang terhalang dari disucikan: yang suka mabuk, yang durhaka kepada orang tua, yang memutus tali silaturahmi, dan.. satu lagi saya lupa. Yang jelas khutbahnya bagus banget lah, cukup bisa bikin terharu. Buat saya pribadi ramadhan kali ini kurang berkesan, tapi Alhamdulillah ketika sholat Ied saya masih mendapatkan sebuah rasa.

Setelah beres khutbah, saya mengantri cukup panjang sebelum bisa mendapatkan makanan gratis. Tak lupa ada lagu lebaran dikumandangkan, termasuk lagu dangdut. Suasana di KBRI benar-benar seperti di Indonesia. Bahkan, kalau taraweh di KBRI, ada suara petasan juga loh #truestory🙂 Sembari mengantri, saya ditelepon juga oleh orang tua saya. Saya juga sempat berusaha skype-an dengan keluarga, tapi suasana kurang kondusif.

Setelah mendapatkan makanan, saya langsung mencari kawanan yang hilang (Ina, Iwan, dan Rilla, sahabat STEI 07 yang juga berlebaran di KBRI). Begitu keluar dari gedung Ripta Loka, saya bertemu dengan Gunawan MS 07, saya pun mengajaknya untuk berkumpul dengan geng STEI. Selain geng STEI 07 ada juga Ririn, Aji, Abi, dan Lintang. Ririn adalah IF angkatan ?? (04 apa 05 ya?). Aji adalah teman sehostel Iwan, saya pertama berkenalan dengan Aji pada saat tidak sengaja bertemu dengan Aji dan Iwan di kantin sebelum Ramadhan. Sementara Abi, saya baru berkenalan hari itu meskipun sebelumnya sempat bertemu pada saat jumatan. Dan Lintang adalah saudaranya Ina yang saya juga baru berkenalan di hari itu.

Tidak lama kemudian Ina dan saudaranya pergi. Setelah itu kami semua pun hengkang menuju bus station. Dan entah kenapa terlalu banyak obrolan bodoh mulai dari KBRI, sampai di halte bus, sampai dengan di stasiun MRT. Sepanjang perjalanan ngakak doang isinya. Dan entah kenapa Abi orangnya gila, literally gila. Sesampainya di Redhill, kami harus berpisah dengan Gunawan. Gunawan tidak melanjutkan perjalanan menuju Boon Lay bersama kami. Sementara di MRT, Ririn dan Rilla kebagian tempat duduk, sedangkan kami berempat (satu pria ganteng dan tiga orang temannya) berdiri. Berdiri tidak membuat baterai kami habis, kami tetap mengobrol dengan gila dan sepertinya Ririn dan Rilla hanya bisa mengucapkan istighfar dalam hati. Pokoknya sampai Boon Lay isinya tetep aja ketawa mulu.

Sesampainya di Boon Lay, kami mengantarkan Iwan untuk mencari celana renang. Salah satu temuan kami adalah ternyata harga celana renang sebanding dengan seberapa panjang celana renang tersebut. Celana renang yang ekonomis adalah yang bentuknya persis seperti celana dalam. Celana renang yang paling mahal adalah yang panjangnya seperti celana jogging. Well, salah satu yang meragukan adalah celana renang ini boleh dicoba, karena memang ada beragam ukuran. Namun, coba sekarang dipikir, pernahkah Anda mencoba celana dalam terlebih dahulu sebelum membelinya? Hmm..

Singkat cerita, lebaran hari itu hendak kami rayakan dengan berenang. Saya berkenalan dengan Ben, seorang mahasiswa undergraduate asal Jerman yang sedang exchange ke NTU. Setelah sempat nyasar, akhirnya berkat bantuan Abi the Explorer yang bener-bener ngasal cari jalannya, kami sampai juga di pintu masuk kolam renang.

Saya sendiri sudah lama tidak berenang dan kesulitan menemukan ritme berenang. Alhasil, berenangnya kurang bagus dan gampang capek. Sementara itu Ben rupanya seorang swimming bro, dia mengajak kami untuk berenang di middle line, dimana renangnya harus full mengitari sisi yang panjang dari kolam renang. Abi ikut, tetapi saya tidak sepede itu untuk berenang jauh. Tak lama kemudian Abi menghampiri saya, dan entah mengapa kami akhirnya justru mengobrol tentang “karir dan cinta” sampai kering di tepian kolam (sounds gay ha?).

Oh iya setelah pulang dan bilas di yo:Ha (your habitat, student hostel tempat mereka tinggal), kami sholat maghrib. Setelah itu kami berencana makan malam bersama (ditambah Sodou, mahasiswa asal Mongol yang kocak juga) di Dominos Pizza. Meskipun hanya berjalan dekat, entah mengapa. Ben membawa tas ransel. Kami pun terheran. Tapi Ben mengatakan bahwa kemanapun dia pergi, dia selalu membawa tas berisi air minum. Kami pun sedikit bercanda, “I think you should bring first aid kit too, do you bring your swiss knife on your bag? what about stunt gun?” Dan Ben orangnya cukup enak diajak bercanda, “I think  I should bring a bazooka.” Saya pun jadi teringat Doraemon, sayangnya Ben tidak pernah berkenalan dengan Doraemon😦. Sebagai mahasiswa exchange, Ben cukup heran ketika saya berkata bahwa saya akan belajar di sini untuk 4 tahun ke depan. Dia sendiri baru dua minggu di sini saja sudah kangen keluarga. Yah, mungkin dalam hal ini sebagian besar orang Indonesia lebih unggul karena terbiasa merantau.

Lucunya,  awalnya kami sudah duduk di domino’s, bahkan sudah menata meja. Tapi entah kenapa, Sodou akhirnya memutuskan untuk ke McD saja. Well, dia adalah food guy di antara geng Iwan, Aji, dan Abi, maka kami pun menurut saja. Kami pun akhirnya tiba di McD. Kami memesan family bundle. Setelah menu utama habis, entah kenapa orang-orang itu masih saja punya tempat untuk es krim, sementara saya kekenyangan. “So guys, now you are celebrating Hari Raya with Ice Cream. I think we should take a picture.. well, ice cream is so guy actually” Sodou ngomong panjang lebar. Sodou ini orangnya kocak juga.

Abi, Aji, Ben, Sodou, Iwan

Setelah itu saya pun pulang menuju Graduate Hall dengan kedinginan karena hanya memakai kaos oblong dan lupa membawa jaket. Yah, tapi yang jelas pengalaman lebaran di perantauan untuk kali pertama ini cukup menarik. Sangat berbeda dari lebaran sebelumnya, dengan orang-orang yang berbeda🙂

Alhamdulillah🙂

Buat saya sendiri malam belum berakhir. Saya masih sempat iseng membuat beberapa gambar.

Ya, lebaran adalah awal dari tahun yang baru. Jika Ramadhan kurang berkesan tak perlu kecewa, kita masih punya satu tahun ke depan untuk dibuat berkesan🙂

Photo: Mohon Maaf lahir dan batin ya semuanyaa :)

Percayalah, sudah sangat lama saya tidak membuat pernak-pernik seperti ini, senang rasanya bisa membuatnya meskipun terburu-buru😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s