Menjadi Pemimpin itu Amanah yang Berat, Dipimpin pun Amanah yang Tidak Ringan

Pernahkah Anda dipercaya untuk menjadi seorang ketua atau mengemban jabatan tertentu? Apa yang Anda rasakan? Setelah Anda selesai menjabat, apakah Anda ingin untuk menerima amanah untuk menjadi ketua lagi atau mengemban jabatan tertentu lagi?

Saya rasa semua orang pasti pernah merasakan kegamangan yang pernah saya alami. At least, jaman kuliah dulu waktu masih belum tingkat akhir, saya pernah berdiskusi mengenai hal ini dengan sahabat saya, Ichsan Mulia Permata dan dia juga pernah merasakan hal serupa.

Tigor, Saya dan Imul. Tim Elektron Legacy, tim sekecil ini pun konfliknya luar biasa, beruntung punya Ketua yang sangat berpengalaman (Ichsan Mulia, paling kanan)

Trauma

Saya tahu, manusia memang tidak ada yang sempurna. Tapi setidaknya manusia bisa berusaha menjaga integritasnya. Dan itulah yang saya rasa hilang dari saya ketika saya pernah mengemban suatu amanah. Dan celakanya saya tidak tahu, dan bahkan tidak pernah mencari tahu. Dan sungguh, sangat tidak enak mengakhiri evaluasi akhir tahun tersebut dengan suasana yang begitu berbeda. Dan sayangnya itu adalah kesempatan terakhir. Berbeda dengan evaluasi tengah tahun dimana kita masih merasa punya kesempatan untuk memperbaiki di setengah tahun ke depan. Evaluasi akhir tahun adalah titik akhir dari suatu perjalanan.

Dingin dan mencekam buat saya. Ya, mungkin tidak ada yang tahu karena toh saya selalu nampak ceria dari luar🙂 Yang membuat dingin dan mencekam adalah rasa bersalah karena detik itu saya tersadar bahwa saya belum dapat memimpin dengan baik. Bukan masalah pencapaian organisasi, tapi masalah bagaimana orang-orang itu merasa dipimpin. Apakah mereka sudah merasa mendapatkan pimpinan yang baik atau belum, itu yang menjadi isu.

Ya, saya ingat betul kesalahan saya yang fatal. Ada yang merasa saya kurang memberikan arahan. Ada yang merasa saya tidak “mengetahui” kondisi dari orang yang saya pimpin secara langsung. Yang membuat saya tertohok adalah dua hal itu lah yang saya tekankan selama ini kepada orang-orang yang saya pimpin secara langsung. Entah sejak kapan saya lupa, entah sejak kapan saya menjadi kurang mau mencari tahu, kurang mau berbicara hati ke hati. Ketika itu saya berusaha memutar semua ingatan saya, kapan semua ini terjadi.

Ketika itulah saya jadi tidak pernah lagi mendengarkan pujian dari orang tentang pencapaian apapun itu. Saya justru lebih mendengarkan ketika ada kritik tentang organisasi yang pernah saya pimpin tersebut. Tapi toh, karena merasa gagal, saya pun jadi trauma dan menjauh. Di situlah saya kembali melakukan salah. Terkadang ketakutan kita menyebabkan kita menjadi takut untuk peduli, takut untuk mengungkapkan kebenaran.

Jangan salah, saya belum move on soal ini. Bahkan saya baru berani menuliskan ini sekarang, setelah setahun setengah dari kejadian tersebut. Saya belum move on karena masih ada tanggung jawab yang belum tuntas. Ya, sebegitu beratnya memimpin, sehingga kita harus berpikir ulang berkali-kali untuk mengemban amanah menjadi pemimpin.

Tapi..

Kita tidak pernah bisa lari dari takdir. Di dunia ini ada orang-orang yang sidah didesain untuk mengemban peran spesifik. Segamang apapun, setakut apapun, ada saat dimana kita tidak bisa lari dari takdir tersebut. Entahlah, saya tidak tahu kapan lagi saya akan mengemban amanah yang berat tersebut. Tapi ketika nanti saya kembali menjadi pemimpin, saya harus menyadari bahwa itu adalah sebuah amanah dari Tuhan, dan sekali lagi saya harus berhati-hati. Siap tidak siap, jika takdir berkata iya, maka kita harus melakukannya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Amanah yang terlupa

Sementara itu, orang-orang yang takut untuk menjadi pemimpin terkadang berpikir, biarlah pemimpin yang mengatur semuanya. Padahal, tanpa ada orang yang dipimpin, seorang pemimpin tak berarti apa-apa. Dan ini pula hal yang sempat saya lakukan. Karena merasa saya hanya anggota biasa, terkadang saya jadi seenaknya, dan terkadang tidak patuh dengan pimpinan. Ini pun hal yang salah, sebab pada hakikatnya jadi pemimpin atau jadi yang dipimpin adalah sama-sama amanah.

Ah, semoga kita selalu ingat bahwa apapun pilihan yang kita ambil, bahkan ketika kita memilih untuk tidak memilih, ada amanah dari Tuhan yang kita emban di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s