Tentang SoundCloud, Musisi, dan Perkembangan Jaman

SoundCloud

Semenjak 17 hari yang lalu, saya jadi keranjingan soundcloud. Jika sebelumnya saya sangat jarang meng-upload lagu, dalam rentang 17 hari ini saya telah meng-upload 5 buah lagu. Ya, terkadang saya begitu bosan sepulang kuliah atau ketika sedang malas beraktivitas di kamar. Jika bosan sudah tak tertolong, saya pun bermain gitar dan iseng merekamnya. Ya, sebagai bukan penyanyi profesional yang lebih sering menyanyi di dalam hati, tentu saja banyak miss di sana-sini. Tapi, entah kenapa di jaman social media ini, for the sake of something that I don’t really understand, saya pun jadi membagi suara kacau saya di soundcloud:

http://soundcloud.com/syarif-rousyan-fikri

Salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang song writer. Saya juga ingin kelak bisa menciptakan lagu-lagu anak. Ya, saya ingin membuat sebuah lagu yang bisa membuat hidup manusia jadi lebih baik. Entah kenapa, ada idealisme semacam ini di benak saya, dan saya tak tahu datangnya dari mana. Karena sadar bahwa suara pas-pasan, skill gitar pun segitu-segitu aja, saya pun jadi berpikir, bisanya sih jadi song writer kali ya. Sebenarnya ini juga terinspirasi oleh Arief Ibrahim, senior saya angkatan 2006 yang tempo hari bekerja untuk sebuah perusahaan India di Singapura, dan sebentar lagi hendak diekspor ke Afrika Selatan untuk nambang emas di sana.  Si Baim ini dulu pernah suka bikin ribut di HME dengan lagu ciptaannya, yang berjudul “Cari Kosan“. Waktu itu saya baru aja belajar bermain gitar, lalu muncul percakapan seperti ini dengan Baim:

“Im, lo emang pengen jadi musisi gitu entarnya?”

“Yaa, gue sih mungkin arahnya lebih ke songwriter gitu sih. Habisnya skill gitar juga mentok segini-segini aja”

Musisi

Oh iya, di soundcloud ini saya punya beberapa teman yang follow-followan. Salah satunya adalah Yonny. Yonny adalah teman seangkatan saya di Teknik Elektro ITB yang saat ini sedang menjadi mahasiswa master Computer Science di Korea Selatan. Dia benar-benar bercita-cita ingin jadi musisi. Saya juga heran pada awalnya. Aneh, mahasiswa Teknik Elektro kok mau jadi musisi. Bahkan saking serius dan niatnya, dia punya visi bahwa 2013 sudah mengeluarkan album, lihat saja bagaimana dia memvisualisasikan hal tersebut pada salah satu video youtube lagu buatannya.

Selain itu, ada juga teman saya yang sekarang menjadi bassist Vincent Vega, yakni Aulia Ramadhan. Sebagai kawan senasib sepenanggungan karena pernah mengulang kuliah, saya selalu berdoa pula agar Aul senantiasa dimudahkan Tuhan biar cepat lulus. Sebab Aul digadang-gadang akan menjadi masa depan musik indie Indonesia.

Ya, ya ya. Pada akhirnya saya tersadar bahwa setiap orang bebas untuk mengejar ‘matahari’nya masing-masing. Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang bisa membuatnya ‘on’, dan yang namanya pendidikan formal pun tidak sepatutnya mengekang seseorang dalam mengejar passionnya.

Perkembangan Jaman

Seiring dengan perkembangan jaman dan perkembangan teknologi informasi, dunia sekarang benar-benar lebih mudah sekaligus lebih susah. Saat ini infrastruktur yang ada sangat memungkinkan seseorang untuk menjadi apa yang dia mau. Ingin bikin channel tv sendiri? Sekarang sudah ada youtube. Ingin jadi penulis? Ada juga orang-orang yang menulis ebook lalu membagikannya di internet.

Maksud saya, sekarang ini semua orang bisa dibilang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi apa yang dia mau. Tapi tentu saja, karena setiap orang memiliki akses yang sama, seseorang harus benar-benar memiliki value yang tinggi untuk bisa membuat karyanya berbeda dari karya yang biasa.

Luar biasa ya, bagaimana internet bisa memberi kesempatan bagi kita untuk berkarya dalam banyak hal. Saya sampai sekarang masih amazed dengan ide-ide gila, termasuk dengan ide self-publishing ini.

Advertisements

“Indonesia Menunggu”

Tadinya saya hendak melanjutkan tulisan saya yang ini https://rousyan.wordpress.com/2012/07/31/cerita-tentang-ospek-kaderisasi-troniuminion-atau-apapun-namanya-1/. Saya hendak menulis tentang lanjutannya. Namun, ketika membaca ulang postingan tersebut, saya pun jadi teringat sesuatu. Nah, berhubung ide yang ada di kepala adalah hal lain, maka saya akan menuliskan cerita kali ini, tentang “Indonesia Menunggu“.

Tenang, postingan ini bukan postingan tentang idealisme, postingan ini hanyalah sedikit cerita, dan masih bagian dari cerita masa fresh graduate saya. 🙂 (Mendadak jadi ingat kalau saya juga punya hutang untuk melanjutkan cerita yang amat panjang ini https://rousyan.wordpress.com/2012/09/08/a-fresh-graduate-story-of-mine-1/)

Mari kita mulai..

Jika Anda diberikan pilihan untuk menunggu atau ditunggu, mana yang akan Anda pilih?  Continue reading ““Indonesia Menunggu””

Cognitive Computing Era

The world changes rapidly. I don’t know if children nowadays are still playing hide and seek –like I was back then-, but I am sure most of them are now familiar with PC, smart phone, and tablet. Technology has reshaped the way kids live.

The thing is, in our daily lives, we always deal with information. As the time goes by, we need tools to help us managing information. Therefore, information technology is rising. And nowadays, this technology has been growing rapidly. It plays a significant role in our lives. The presence of the internet, computer, and mobile device have changed the way we do our job. For example, if in the past we used to post mail to send letter and document, today we like to use electronic mail which is easier and more accessible. We only need to write our letter on screen and then send it by computer or mobile device. This new way to do our job was never imagined before.

Well, actually people had ever imagined that kind of technologies in the past. We can tell from a lot of science-fictions. It turned out that yesterday’s dream had already become today’s reality. But the next question is “what is next?

It’s the very nature of human being to have some kind of curiosity and desire to invent something. This curiosity has led human to observe the universe and try to make some creations by using nature principle. Then, people create an airplane based on their knowledge about birds and other flying animals. People also try to imitate their brain by developing artificial intelligence. People then start to observe how bat locates its target in order to improve their military radar. Continue reading “Cognitive Computing Era”

A Fresh Graduate Story of Mine: Ideas (1)

What happened in this month last year? Looking back to the past, I think I was still in such mixed feeling. I was accidentally postponing my graduation. Well, honestly, I don’t want to call it accident, because I was not trying at my best to graduate on time (October, as I planned before). However, I guess I will never regret that decision (to not trying harder). If only I had tried harder, I might not be here.

Turning point

Knowing that I was supposed to graduate next year, I started to talk with a lot of friends who had already graduated since the beginning of my final year (in fact, it turned out that it was not my final year). I tried to get some portrait of life after graduation, how wild it is, what they do, what they really want to do. Then, I made up my mind. I had a plan.

Plan, plan, and plan. Why do we have to make a plan if in the end we change the plan? Sometimes, we do change plan because the world changes. It doesn’t mean that we are inconsistent. In some circumstances, we need to adapt and do some revision, so we could go on to continue our journey. Continue reading “A Fresh Graduate Story of Mine: Ideas (1)”

Sebuah Cerita tentang Blueprint HME ITB 2011-2015

Pepatah bilang, pengalaman adalah guru terbaik..

Ya. Menjadi pemain dan penonton selalu berbeda. Penonton terkadang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh pemain, memiliki pandangan yang mungkin holistik. Namun, yang bisa menyaksikan dinamisasi di lapangan dan bisa merasakan kemana permainan ini harus dibawa tetaplah pemain. Untuk itulah, pada suatu titik pemain yang akan diganti merasa perlu untuk memberikan suatu pelajaran dari apa yang dia alami di lapangan. Satu harapan dari pemain yang keluar ini, yakni pemain yang masuk bisa melanjutkan arah permainan yang sudah dibangun oleh pemain lama.

(mungkin)Kurang lebih seperti itulah yang kami rasakan ketika itu. Kami merasa bahwa kami mencapai suatu pemikiran bahwa himpunan yang kami miliki ini butuh suatu mimpi baru. Dari situlah kami berencana untuk merancang blueprint ini. Mimpi itu harus tinggi katanya. Supaya kita tidak terlena dengan pencapaian kita yang sekarang dan merasa tinggi, kita harus segera mencari mimpi yang baru. Mimpi itu harus ideal, mimpi itu harus susah.

Lalu, kami sebagai orang yang mungkin masih bersemangat dan yakin bahwa generasi mendatang di himpunan ini akan bisa berbuat lebih dari yang telah kami lakukan sekarang pun mulai berangan-angan. Mimpi tinggi macam apa yang bisa kami jadikan sebagai tantangan bagi generasi mendatang untuk lima tahun mendatang.

Menuliskannya.. Continue reading “Sebuah Cerita tentang Blueprint HME ITB 2011-2015”