“Indonesia Menunggu”

Tadinya saya hendak melanjutkan tulisan saya yang ini https://rousyan.wordpress.com/2012/07/31/cerita-tentang-ospek-kaderisasi-troniuminion-atau-apapun-namanya-1/. Saya hendak menulis tentang lanjutannya. Namun, ketika membaca ulang postingan tersebut, saya pun jadi teringat sesuatu. Nah, berhubung ide yang ada di kepala adalah hal lain, maka saya akan menuliskan cerita kali ini, tentang “Indonesia Menunggu“.

Tenang, postingan ini bukan postingan tentang idealisme, postingan ini hanyalah sedikit cerita, dan masih bagian dari cerita masa fresh graduate saya.🙂 (Mendadak jadi ingat kalau saya juga punya hutang untuk melanjutkan cerita yang amat panjang ini https://rousyan.wordpress.com/2012/09/08/a-fresh-graduate-story-of-mine-1/)

Mari kita mulai..

Jika Anda diberikan pilihan untuk menunggu atau ditunggu, mana yang akan Anda pilih? 

Kasusnya begini, anda janjian untuk berkumpul dengan teman-teman kuliah Anda di suatu tempat. Nah, kebetulan teman sekantor Anda tiba-tiba ingin ikut. Teman sekantor Anda lelet sekali, padahal Anda sudah terlambat, teman Anda yang lain sudah menunggu di TKP. Mana yang lebih membuat Anda merasa tidak enak, menunggu teman Anda yang lelet, atau ditunggu oleh teman-teman yang sudah berkumpul?

Saya pribadi lebih merasa tidak enak apabila saya ditunggu oleh orang lain. Walaupun pada prakteknya saya masih sering membuat orang lain menunggu, tapi sungguh rasanya tidak enak apabila kita ditunggu. Menepati janji adalah bagian dari kejujuran. Kejujuran adalah bagian dari kepercayaan. Kepercayaan akan menimbulkan harapan.

Ya. Membuat orang lain menunggu berarti memberikan harapan. Dan tidak rasanya cukup jahat apabila kita membiarkan orang lain berharap pada kita tanpa ada kepastian yang kita berikan.

Nah, sekarang bayangkan apabila Anda ditunggu. Bukan oleh manusia. Tetapi oleh sebuah entitas bernama Indonesia. Abstrak nggak sih? Ngeri nggak sih?

Tapi, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, Indonesia itu apa? Apakah Indonesia adalah gedung-gedung megah bertingkat di jantung kota Jakarta? Atau justru kampung-kampung kumuh yang disembunyikan di sebelahnya? Atau kali-kali kotor di sekitarnya? Atau justru orang-orang di desa sana yang bahkan tidak mengenal huruf alfabet? Atau Indonesia adalah pemerintah yang korup? Atau Indonesia adalah pemuda-pemudi yang sudah mengenal rokok sejak di bangku sekolah dasar?

Kompleks. Indonesia, sebuah negara tempat banyak orang berkumpul, dengan banyak sekali masalah baik yang dialami masing-masing individu maupun kolektif. Dan bukan kebetulan saja saya terlahir di sana. Ketika saya secara bukan kebetulan berada di Indonesia, somehow saya punya ikatan yang tersendiri dengan Indonesia. Entah kenapa setiap saya bepergian, saya selalu melihat bahwa Indonesia itu indah. Di kereta, di pedesaan, di perkotaan, selalu saja ada sudut yang membuat saya merasa ‘waw’ dengan Indonesia.

Ya, sekali lagi mungkin bukan hanya kebetulan saja tempat ini bernama Indonesia. Tapi, entah kenapa bukan kebetulan juga saya jadi punya perasaan tertentu dengan Indonesia. Entah kenapa suatu saat saya ingin melakukan sesuatu untuk masyarakat di Indonesia. Maklum, mungkin karena saya ini pada dasarnya adalah orang desa, orang kampung. Intinya mah, karena bukan kebetulan saja, saya jadi punya sebuah rasa untuk Indonesia.

Dan ketika Ada seseorang mengatakan, “Yang nunggu, bukan saya loh, tapi Indonesia,” sambil bercanda, saya justru jadi berpikir sangat dalam.

Apa jadinya kalau Indonesia menunggu saya? Apa jadinya jika apa yang saya lakukan detik ini juga memiliki arti untuk Indonesia? Masihkah saya boleh bermalas-malasan? Terkadang jadi mengerikan kalau kita merasa punya tanggung jawab untuk memberikan sesuatu buat bangsa ini. Apa yang kita lakukan bukan tentang diri sendiri. Kita tidak lagi berbicara tentang melakukan semuanya suka-suka kita, toh ini semua hanya tentang saya kok, yang rugi saya sendiri. Dengan merasa bahwa apa yang Indonesia menunggu kita, tentu saja kita menjadi ingin secepat mungkin menjawab harapan tersebut. Dengan memiliki beban, kita jadi punya dorongan lebih untuk menjadi diri yang terbaik.

Ya. Dengan beban lebih, kita akan memiliki dorongan lebih. Kita akan bisa lebih melejit dan melompat lebih tinggi. Jika Anda merasa bahwa Anda hanya bertanggung jawab pada diri sendiri ya Anda tidak akan berkembang. Coba lihat, orang yang sudah menikah, karena punya tanggungan, dia berkembang. Punya tanggung jawab lebih, harus punya kekuatan lebih. Apalagi jika Anda merasa bahwa Anda bertanggung jawab pada negara.

Dan.. ujung-ujungnya adalah. Apalagi jika Anda punya perasaan bahwa Anda bertanggung jawab kepada Tuhan. Tuhan menunggu Anda. Menunggu Anda agar mampu menjadi Khalifah fil ardh.. Masihkah akan Anda sia-siakan hari Anda? Masihkah Anda berbuat sesuka hati Anda?

Kalau Tuhan terlalu abstrak dan terlalu tinggi.. Kalau Indonesia terlalu luas dan terlalu absurd.. pikirkan saja lingkaran terdekat kita. Keluarga. Keluarga kita menunggu. Apa hal terbaik yang bisa kita berikan kepada keluarga?

Well, saya juga masih dalam proses belajar. Saya ngomong gini bukan karena saya sudah kelebihan motivasi, bukan karena saya sudah sempurna.. tetapi justru karena saya malasnya setengah mati dan sedang menggali-gali motivasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s