Tentang Menginkubasi Inovasi Mahasiswa

bang, mau nanya2 sikit tentang inovasi. apa sih dasar meningkatkan inovasi menurut lo? kyknya I3M skarang ga terlalu tergaung di HME nih, sebenarnya peluang apa aja yang bisa didapat di I3M?

Jadi ceritanya waktu saya bangun tidur, ada message seperti ini dari Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Elektroteknik dengan visi IPK:Inovasi, Prestasi, dan Kesepahaman (dan sebenarnya begitu melihat prestasi, saya jadi ingat visi yang pernah diusung Sigma). Pertanyaan yang sedikit namun berat untuk dijawab, tapi mari saya coba jawab berdasarkan pengalaman selama 4,5 tahun lebih di kampus ganesha (dengan telah mengenyam banyak sekali kegagalan pahit dan cerita manis dalam usaha saya memecahkan telur-telur ide).

PERTANYAAN 1

Kalau ditanya apa bahan bakar dasar untuk meningkatkan inovasi, mungkin ada beberapa hal yang bisa saya sebutkan:

1. Masalah :

Semakin banyak masalah, seharusnya semakin banyak peluang untuk melakukan pembaharuan. Masalah ini bisa saja muncul dari tantangan perlombaan, atau kesadaran individu ketika melihat realitas sosial.

2. Ilmu:

Dengan adanya ilmu, seseorang akan bisa menstrukturkan permasalahan yang ada serta membuat konstruksi solusi atas permasalahan.

Dengan mencampurkan dua bahan bakar tadi, seharusnya kita bisa mendapatkan cikal bakal “ide”. Nah, ternyata untuk bisa membuat ide yang masih mengawang tersebut menjadi nyata, diperlukan proses dan waktu. Anggaplah “ide” merupakan input, dengan “inovasi” sebagai output, maka kita pun akan memiliki plant, controller, disturbance, dan feedback (inget sistem kendali, inget apa yang diajarkan Pak Iyas :p). Jadi, menurut saya ada banyak hal yang bisa dimasukkan ke dalam sistem inovasi tersebut. Secara praktikal mungkin akan saya sebutkan beberapa di sini:

3. Dana:

Logika tanpa logistik tidak akan berjalan.

4. Orang Ahli:

Ilmu yang dimiliki mahasiswa tentu masih belum sedalam tenaga ahli, seperti dosen-dosen atau praktisi-praktisi di Industri. Untuk proyek pembuatan satelit misalnya, ITB-SAT tentunya tak akan lengkap tanpa kehadiran dosen-dosen yang menginspirasi dan berdedikasi seperti Pak Ridanto dan Pak Doni, serta Pak Heru dari LAPAN, dan ahli-ahli lainnya yang tak pernah bosan dalam membimbing.

5. Pemahaman terhadap pasar :

Tentunya sasaran akhir dari inovasi adalah membuat sebuah pembaharuan agar diterima masyarakat. Dulu kami (I3M, Kementrian Pengmas KM ITB, LK ITB, HME, HMM, HMS, dan IMG) sempat membuat sebuah inisiatif untuk membuat PLTMH di sebuah desa di Gunung Halu. Inisiatif tersebut mungkin tidak dimulai dengan proses yang benar, sebab terhitung proyek kejar tayang. Karena pemahaman yang kurang mengenai struktur sosial di sana, proyek ini terhambat.

Ada baiknya memetakan pasar yang dituju terlebih dahulu. Jika berkaca dari pengalaman teman-teman Satoe Indonesia, mereka benar-benar melakukan pemetaan sosial. Jadi perlu tahu, siapa yang jadi mafianya, siapa yang jadi influencernya. Kalau misalnya kita mau membuat telepon genggam, tentu kita perlu tahu, bagaimana kondisi pasar sekarang, bagaimana cara masuk ke dalam pasar tersebut.

Nah, taruhlah kita pakai bahasa yang berat, “inovasi untuk rakyat” atau “bergerak bersama rakyat”, kita harus bisa melewati tahap pertama dulu, yakni “dekat dengan rakyat”, memahami “rakyat”.

6. Fasilitas dan Kebijakan : 

Saya teringat ketika dulu saya dan Syakur berbincang dengan Bung Jawa dan beberapa panitia Pasar Seni. Waktu itu ide pasar seni benar-benar brilian, tapi sempat terkendala dengan kebijakan dari K3L yang melarang penggunaan lapangan sebagai wahana pasar seni. Tentu saja ironis, jika ide yang bagus tidak mendapatkan dukungan fasilitas dan kebijakan. Sampai sekarang saya masih wondering seharusnya pasar seni ITB tuh bisa lebih keren lagi kan, bakal sekeren apa ya?

Sama halnya ketika kita mau melakukan eksperimen, membuat prototype, tentunya butuh dukungan (laboratorium, komponen, dll).

7. Value/Karakter :

Ketika berbicara tentang ide dan inovasi, ujung-ujungnya kita akan membicarakan tentang manusia dan peradaban, dan berbicara tentang dua hal ini tidak akan pernah lepas dari karakter. Untuk bisa meningkatkan inovasi, kita butuh orang-orang yang siap menjadi inovator. Mereka adalah orang-orang yang visioner, konkret, kolaboratif, dan solutif.

Dari pengalaman saya, sesuatu gagasan hanya akan menjadi nyata jika orang-orang yang mengerjakannya benar-benar mencintai gagasannya. Orang tersebut mau melakukan apapun, tidak kenal menyerah, dan tak pernah berhenti percaya bahwa gagasannya akan menjadi nyata. Tanpa adanya orang-orang seperti ini (yang mau mendedikasikan dirinya untuk berinovasi) maka bicara tentang inovasi pun tak ada gunanya. Kalau dihadang tembok sedikit saja sudah mengeluh dan menyerah, maka tidak akan pernah tercipta yang namanya pembaharuan. Bayangkan jika Soekarno dulu menyerah dan tidak jadi melakukan proklamasi hanya karena tidak ada mikrofon (“Ah, sial mikrofon rusak semua, gua gak jadi deh mau proklamasiin kemerdekaan”), tentu bangsa Indonesia tidak akan merdeka. Maka, dari itu orang-orang yang solutif lah yang bisa menciptakan perubahan, sebab mereka percaya bahwa ada solusi simpel untuk setiap masalah.

Oh iya, tentu saja kemampuan bekerja sama dengan orang lain mutlak diperlukkan. Untuk bisa menjadi kolaboratif, seseorang juga harus bisa berkomunikasi dan mengungkapkan gagasan dengan baik. Dibutuhkan kolaborasi untuk bisa membuat sesuatu yang hebat, nah tentunya satu orang bekerja sendirian tak pernah sama dengan bekerja tim. Dari pengalaman saya, konflik selalu ada, maka dari itu dibutuhkan jiwa kepemimpinan dari masing-masing orang.

Dan sebagai bagian dari ITB, mungkin kita perlu mengingat kembali value ITB (bisa dilihat di Summary Grand Plan ITB 2025 hal 11):

  1. Keunggulan
  2. Kejuangan
  3. Kepeloporan
  4. Pengabdian

Saya rasa jika nilai ini selalu tertanam dalam diri kita, roh Ganesha akan selalu hidup dalam raga kita. #yazeik

PERTANYAAN 2

Sebenarnya untuk menjawab kondisi kekinian mengenai I3M, tentulah harus Presiden KM saat ini dan Presiden I3M saat ini yang menjawabnya. Tapi kalau bicara tentang konseptual, saya masih bisa menjawabnya.

I3M sebagai inkubator, berperan untuk membangun atmosfir yang mendukung terciptanya inovasi. Tentu saja komponen-komponen yang idealnya harus dapat disediakan I3M adalah komponen yang saya sebutkan di atas. Pada proses pengerjaan ide (proyek), I3M seharusnya mengambil peranan sebagai Project Management Officer. Jadi I3M yang menciptakan standar, menstrukturkan alur kerja mahasiswa ITB dalam berinovasi.

Nah, dalam hal ini, yang pernah merasakan kompetisi keprofesian mungkin dapat memahami pentingnya pihak yang mengurusi manajemen ini. Mulai dari membantu planning, mengurus hal-hal non teknis, menjadi reminder, (simpelnya membantu POAC). Dalam praktiknya para Inovator sendiri sibuk untuk memeras otak dan ilmunya untuk menciptakan produk (teknis), belum lagi kalau stuck. Tentu akan lebih ringan jika mereka tidak perlu pusing memikirkan pendanaan, kapan rapat, dan hal-hal non teknis lainnya.

Nah, sekian untuk postingan kali ini. Jika ingin membaca lebih lanjut tentang I3M, bisa membaca ini:

http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/

http://www.slideshare.net/rousyan/i3m-for-not-informed

http://ikhwanalim.com/2010/02/15/mengapa-km-itb-membutuhkan-inkubator-ide-dan-inovasi-mahasiswa-i3m/

Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan tentang inkubasi inovasi mahasiswa, semoga di lain waktu saya bisa melanjutkannya. Oh iya, tentu saja tulisan ini adalah opini, sangat mungkin untuk salah, dan saya terbuka untuk kritik, saran, dan diskusi 🙂

Advertisements

Kisah Tono Mahasiswa Skripsi dan Pak Budi Peneliti Negeri

Hari ini Tono tidak seperti biasanya. Ia pulang ke kontrakannya. Jemu terasa. Bosan ia setiap malam menghabiskan waktu dengan nongkrong di coffee shop bareng teman-teman.

Tiba di kontrakan. Setelah memarkir sepeda motor bututnya, ia datang ke ruang tengah. Ia letakkan helmnya yang basah di kursi. Maklum, kotanya sedang dilanda hujan tiga hari ini. Helm itu tersiram air karena diletakkan di motor ketika ia parkir di kampus.

Karena perutnya keroncongan, ia pergi lagi keluar. Hendak mencari roti. Supermarket terdekat ia datangi. Ia pilih roti dua ribuan. Roti itu berbentuk persegi, sandwich dengan isi coklat. Ia ambil dua buah. Sampai di kasir, ia siapkan enam ribu rupiah. Melihat batangan rokok tersedia di kasir, muncul hasrat untuk mengeluarkan dua ribu rupiah lagi dari kantongnya. Ah, barangkali dua batang saja. Tapi, tidak. Tidak usah. Malam ini saja dia ingin menghabiskan waktu tanpa nikotin.

Tono kembali memasuki kontrakan. Sudah lama ia tidak bersosialisasi di ruang tengah. Kangen rasanya mengobrol dengan kawan sekontrakan ini.

Sampai di ruang tengah, Pak Budi sedang tiduran di kursi panjang. Televisi menyala, memutar sebuah diskusi tentang kondisi penjara di negerinya yang begitu kacrut. Bagaimana tidak kacrut, di lembaga pemasyarakatan di negerinya terdapat bilik khusus untuk bercinta. Huh, sama sekali tidak menarik. Lebih menarik renegosiasi sebuah perusahaan asing yang mendapat keuntungan gila-gilaan dari mengeruk kekayaan alam negeri ini. Sembari memakan roti dua ribuan itu, dia memulai pembicaraan dengan Pak Budi, seorang PNS, “Kenapa tiduran Pak? Lagi setres atau apa?”

“Ah, enggak kok. Duduk terlalu lama juga nggak sehat kan?” Jawab Pak Budi sembari berpindah posisi, mengambil posisi duduk.

“Hah, kok bisa?”

“Iyalah, duduk kan bikin wasir.”

Tono was-was, ia lalu meraba-raba pantatnya. Takut pembuluh darah di bokongnya membengkak. Maklum, seharian dia duduk di laboratorium. Dan sudah beberapa bulan ia melakukannya setiap hari, hanya duduk diam mengerjakan eksperimen.

Kemudian Pak Budi mengambil sebatang rokok. Ia sulut rokok itu dengan pematik berwarna merah, “tokai” merknya. “Gimana Tugas akhir?” Tanya Pak Budi.

 “Yah, gitu deh Pak. Lagi mau nyelesein. Nggak kerasa udah taun kelima saya di kontrakan ini”

“Hoo. Seleseinlah. Kamu masih punya banyak harapan untuk masa depan. Nggak kayak saya, tinggal nunggu hari tua,” timpal Pak Budi sembari menghembuskan asap rokok lewat hidung.

“Pak Budi sendiri gimana Pak, jadi mau S3?”

“Ah, saya mah udah nggak ada harapan. Udah ditolak sama profesornya.” Continue reading “Kisah Tono Mahasiswa Skripsi dan Pak Budi Peneliti Negeri”

Megatron, tentang Layar Segede Gaban

Loh, aku dengar sekarang di sana ada layar. Layar yang segedhe gaban. Ada di depan, dipampang di tempat yang dulunya sih baligho. Konon diputar sebuah parodi dari video yang paling ditonton di situs pemutar video paling heboh di dunia.

Loh, loh, loh. Benarkah ini? Bukankah ini si megatron yang dulu diimpi-impikan. Bukankah ini yang dari dulu kita cita-citakan. Punya tiga layar di masing-masing jalur. Sebuah alat yang diharapkan cukup heboh untuk bisa mencuci otak anak-anak kampus gadjah duduk yang terlalu menunjukkan gading-gading Ganesha. Ah, bukankah gading ganesha patah sebelah?

Loh, kok bisa ya. Dulu impian itu ada, sempat dikubur dalam-dalam karena mereka bilang masih jutaan tahun cahaya lagi. Ah, tapi kami tidak menyerah, kami tidak menyerah, kami tidak menyerah. Bukankah karena itu kita buat semuanya dari nol. Kanal kampus yang setiap tahun didengungkan tapi rupanya sulit untuk mempertahankan, membuatnya lebih bagus.

Loh, akhirnya kan tongkat estafetnya sempat ada di saya. Lalu saya ajak teman demi teman untuk buat sesuatu. Kami kumpulkan setiap elemen dari ITB. Unit film yang konon katanya jarang ikut berdiskusi pun ikut pada acara itu. Focus Group Discussion. Sebuah grup diskusi yang menyiapkannya butuh perdebatan panjang, demi membuat diskusi yang tak sekedar asal. Mencari data, menebak-nebak apa pikiran orang-orang.. hingga akhirnya sepakat. Kita butuh media untuk mencerdaskan? Tapi, bagaimana caranya?

Lalu tersebutlah kisah Faikar yang pernah kerja praktek di stasiun televisi. Mereka bilang untuk bikin berita tetap ada, kita butuh dana. Dijuallah paket-paket berita. Dengan maksud. Ah! Ternyata semua yang ada di dunia ini punya maksud. Kenapa lalu tak kita buat saja media kita sendiri dengan maksud baik.

Lalu ide pun tarik menarik. Loh, akhirnya timnya mulai jalan lagi, hidup lagi. Video-video karya dibuat. Kampus mulai akrab dengan dokumentasi karya menarik. Apresiasi mulai ada untuk mereka yang berprestasi. Baligho-baligho mulai ramai, meskipun saya tak pernah sekalipun tercantum dalam baligho. Video-video mulai ramai, dan untung akhirnya saya pernah ikut bikin video.

Dan akhirnya saya keluar dari permainan. 

Dan akhirnya saya melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Pasang surut ide terus terjadi, namun suatu saat ia akan terwujud, entah kapan, entah siapa. Ah, jadi tak ada salahnya bermimpi ya?

Lalu saya keluar seorang diri mencari kehangatan. Rupanya di luar dingin. Saya pandangi rembulan yang bersinar dengan begitu bulatnya. Ah, jadi ingat cerita tentang rembulan. Bagaimana kekaguman seseorang tentang rembulan dapat menyelamatkannya dari hidup yang sia-sia menjelang kematian. Bagaimana rembulan membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ah, tapi itu kan kisah fiktif.

Tak pernah ada mimpi yang setinggi bintang. Tak ada yang bisa menggapai bintang. Eh, mimpi seperti ini mungkinkah terwujud? Loh tapi kan itu megatron, layar yang segede gaban.

Lalu saya kembali dengan secangkir kopi mendidih. Berpikir begitu banyak tugas menumpuk. Lanjut lagi, malam masih panjang.

13 Alarm dan ‘Hidup’ 8.34 Tahun Lebih Lama

Alarm

Untuk bisa bangun pagi, hari ini saya memasang 12 set alarm, dari pukul 5 hingga 8.30 dengan jeda 20-25 menit, di telepon genggam saya (yang sebenarnya tidak bisa digenggam karena layarnya saja 7.0 inch) ditambah dengan jam waker kecil. Saya tidak tahu apa sebabnya, biasanya saya tidak pernah mendengar seluruh alarm itu berbunyi. Mungkin karena biasanya saya baru tidur jam 2 pagi atau bahkan habis subuh dan alarmnya jam 6 atau jam 7. Mungkin saya baru memasuki fasa tidur lelap pada durasi tidur empat jam sehingga saya bahkan tidak mendengarnya.

Karena hari ini ada group meeting bersama profesor pada pukul 9.30, dari kemarin saya sudah was-was. Belum lagi saya sedang tidak enak badan, maka dari itu saya pulang cepat dan bolos setengah kuliah. Saya pulang setelah break. Saya sampai di hall jam delapan. Benar-benar sangat cepat dibandingkan biasanya. Biasanya saya baru sampai di hall jam sepuluh malam.

Saya berusaha memejamkan mata secepat mungkin. Tapi rupanya malah sulit. Ada yang bilang bahwa semakin kita berusaha untuk tidur, maka semakin sulit untuk tertidur. Lalu saya mengganti cara saya untuk tidur. Saya mencoba meracau di kamar. Saya mencoba orasi bebas, membacakan kata demi kata yang ada di pikiran saya. Dan mau tahu apa yang ada di pikiran saya?

Agar Hidup 10 Tahun Lebih Lama

Jadi, semalam saya meracau dalam bahasa inggris (yang pas-pasan tentunya) tentang waktu tidur. Baru-baru ini teman saya membagikan link tentang orang-orang besar yang sedikit tidur. Ada teman yang lain melempar komentar, “think about the multiplier effect,” dia bilang.

Berhitung. Mereka bilang, orang yang menang adalah orang yang menghitung. The winner is the one who counts!

If I spend 8 hours in each day for sleep, it means I spend one-third of my day not doing anything (but sleep). When I reach the age of 50, I got 33.33 years of productive (not sleeping) time . Now, what if I could minimize time allocation for sleep? What happen if I could compress my sleeping duration into 4 hours per day? If you could do so, you will only spend one-sixth of your day for sleep. Hence, you will end up at having 41.67 years of productive time.

Since the 2010 world average life expectancy is 67.2 years, the significance of your 8.34 years ‘extra time’ will be 12.41% . But then, the question is, Is that worth it?

You should read this article first!

Well, maybe you do notice that I take 50 years to my calculation in order to get 12.41% of significance. It based on a very rough assumption that your ‘real life’ start at 17 years old, the so called sweet seventeen. I presume someone at this age started to discover what they want to do in life. So, if you have finished reading the article, you will know that this extra years means that you will have the chance to pursue one more direction in life! 

Mungkinkah?

Okesip. Sekarang, permasalahannya adalah mungkinkah kita mengurangi tidur? Faktanya, orang dewasa membutuhkan tidur sebanyak 7.5 jam per hari. Tapi, ada beberapa orang dengan gen tertentu yang hanya membutuhkan 6 jam per harinya. Nah, seperti yang disebutkan di artikel, ternyata problemnya juga ada pada kualitas, bukan sekedar kuantitas. Kita bisa saja tidur 10 jam, tetapi badan tidak fit. Nah, oleh karena itu muncul-lah tips dan tips untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. Ada bermacam cara yang mungkin bisa dicoba.

Ah, lalu artinya mungkinkah kita tidur hanya 4 jam satu hari? Bukankah itu namanya mendzalimi diri sendiri? Kenyataannya kita sering mendengar cerita tentang orang-orang (terutama orang-orang suci) yang bisa menekan dan menguasai tubuhnya agar beradaptasi dengan sedikit makan, sedikit minum, dan tidur.

Tapi pada akhirnya, banyak jalan menuju roma. Belum tentu hidup anda lebih bermakna jika anda punya waktu produktif yang lebih banyak. Belum tentu juga hidup anda lebih bermakna jika anda punya waktu produktif yang lebih sedikit. Bukankah yang bisa membuat hidup bermakna adalah cara kita memaknai hidup kita sendiri?

Lalu hari ini pun saya terbangun pukul empat dini hari, mendengarkan dan mematikan 13 alarm saya dengan sadar.

Sedikit Ingatan, tentang A, B, dan G

2008.

Satu. Sekretariat HME.

“Gue pengen deh nanti jadi researcher”

“Ah, ga mungkin, gak percaya gue orang kayak lo bakal jadi researcher”

Dua. Nasi Goreng di SR.

“Kenapa sih gue dimasukin ke Karakter? Kenapa gue nggak dimasukin ke Keprofesian? Gue kan pengen banget masuk ke Keprofesian?”

“Kalo lo dimasukin Karakter, lo bakal bisa jadi sembilan atau sepuluh, tapi kalo lo masuk ke keprof, paling lo cuman bisa ampe lima”

Tiga. Diklat Aktivis Terpusat.

“Kelak saya akan menguasai Media, dan memanfaatkannya untuk rekayasa sosial”

2010.

Saya tingkat tiga. Kami baru saja menghadiri sebuah diskusi dengan BIC pada acara ITB Fair.

“Kan katanya kalo kita butuh kolaborasi antara A, B sama G tuh. Kalo gue sih pengennya jadi B, si Syakur katanya mau masuk ke G, lo gimana?” tutur Ade Harnusa.

Dalam hati saya sih, ketika kita berbicara tentang 3 orang dan 3 pilihan, seolah-olah pilihan yang tersisa adalah A. Saya hanya diam. Saya hanya berpikir, apa yang terjadi kalau saya jadi A? Mungkinkah saya jadi A sementara saya selama ini sama sekali tidak punya setelan akademisi. Ah, tapi apa mau dikata, demi mimpi untuk berkolaborasi bertiga, tak ada salahnya saya bermimpi untuk jadi A.

2011.

Awal.

Hari itu seolah istimewa. Saya di-hearing, ditanyakan, dan didebat lagi soal konsep I3M yang ingin saya bawa. Besoknya saya mengikuti babak final lomba PLC. Tak perlu ditanya, partner saya Amril Hidayat, salah satu “bright & gifted” di Teknik Elektro 2007. Usai lomba saya sangat lelah. Mengantuk. Mereka bilang kami mendapatkan penghargaan, mereka ajak saya untuk ke Aula Barat. Mata saya tidak kuat. Saya tetap tidur.

“Fik, lo harusnya sekarang tembak cewek, biar perfect. Menang lomba, jadi Presiden I3M, kurang cewek doang lo.”

Bukan hari itu. Semester itu nampaknya istimewa buat saya. Semester tersebut adalah semester dimana saya belajar untuk menjadi laskar pelangi. Pemimpi. Begitulah mereka dulu menyebut saya. Mungkin terlalu banyak imajinasi dan khayalan saya, sehingga mereka bilang saya pemimpi.

Meskipun orang bilang mimpi saya yang lalu tanpa implementasi, gagasan yang hendak saya wujudkan terasa sangat nyata buat saya. Dan gagasan itu saya sendiri yang akan berada di garis terdepan untuk merealisasikannya. Saya.

Tapi tidak dengan wanita. Sampai sekarang saya tidak tahu apa-apa untuk urusan yang satu itu.

Akhir.

Sulit. Rupanya konsep yang terasa begitu sempurna dan begitu menyilaukan mata, sekalipun terasa benar dan sempurna, tetaplah konsep belaka. Ia adalah utopia yang harus tetap menjadi utopia agar kita mengejar sempurna.

Masalah-masalah dan masalah. Selalu ada masalah, sekalipun yang tujuan kita adalah menyelesaikan masalah. Tapi, pasti ada solusi simpel untuk semua masalah yang ada. Ketika kita ingin menyelesaikan masalah, lalu ada masalah dalam proses penyelesaian masalah, pasti ada cara paling mudah untuk menyingkirkannya satu persatu.

Hingga akhirnya saya tahu satu fakta. Kita tak pernah bisa mengontrol semuanya.

2012.

Awal.

Saya masih ada di antara mereka. Kumpulan A, B, dan G. Saya sebagai mahasiswa. Itu berarti saya sebagai A. Sementara itu, Ade masih bergelut untuk menjadi B. Chordeo yang ingin dia wujudkan. Sebuah isu besar untuk era baru gotong royong. Syakur dimana? Syakur sedang ada di daerah terpencil, di halmahera selatan. Syakur sedang jadi G juga, guru. Tapi, konon di sana dia juga mulai bisa masuk ke arah G di sana.

Saya? Apalah dikata mau jadi A. Mau jadi A itu tahapannya lebih rumit. Kalau mau jadi A, saya harus sekolah lagi. Sudah sekolah lagi pun belum tentu saya jadi A.

Tapi satu hal yang saya pelajari dari lingkaran A-B-G pada lembaga tertinggi di kampus Ganesha tersebut. Hal ini adalah tentang giliran. Suatu saat kita akan mendapatkan giliran kita. Ketika waktu itu tiba, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya kita telah siap mendapatkan giliran tersebut?

Banyak orang-orang yang akhirnya ketika mendapatkan gilirannya, mereka justru lupa akan kitab suci yang seharusnya mereka pegang teguh. Mereka harusnya jadi Nabi, menyebarkan dan menyampaikan kebenaran kepada mereka yang tidak tahu. Tapi mereka lupa.

Pertengahan.

“Pilihannya ada dua nantinya, nih company asyik banget nih ternyata, atau ya memang ini bukan tempat gue nih, terus Fikri lanjut sekolah”

Tak pernah ada grow, jika terus ada di comfort zone. Kita butuh pain, untuk dapat gain. Tapi, tak selamanya pain itu membuat kita grow. Ada pain yang justru menghambat diri kita untuk bahkan berjalan.

Lalu ternyata takdir akhirnya jatuh pada pilihan kedua. Entahlah, apakah mungkin ini ada kaitannya dengan cerita tentang A, dan B, dan G?

Pain? Jangan ditanya. Painful untuk pemalas seperti saya, untuk seseorang yang sangat sulit untuk fokus. Dan rasanya saya jadi merasa pilihan saya benar, ketika ada yang bilang seperti ini.

“Aing salut maneh berani keluar dari comfort zone”

Sebenarnya masih banyak hasil kontemplasi yang ingin saya tuliskan di sini, tapi apa daya saya harus segera ke lab. Sesungguhnya menulis itu berguna. Jika disuruh memilih aktivitas yang tidak ingin saya buang, salah satunya tentu menuliskan hasil kontemplasi. Sebab, ketika saya sedang negatif dan turun, saya menjadi bersemangat lagi ketika melihat postingan blog dari saya yang sedang positif, yang sedang naik.

Option and Hard Work

It is only when you have nothing that you realise what you can truly achieve.

The value of nothing is this: if I did not start out with nothing, I might not have worked as hard as I did. If you really want to commit yourself to a task, then the ultimate way to do so is to destroy all your options.

Why? Because if you know that you have no escape route, then you know that failure is not an option. You can either succeed or perish. Sometimes, it is only at the brink of death that man begins to reveal his true potential.

I am quoting this from a book titled “Singapore’s Lost Son”. Somehow it gives me the answer of a question I’ve been questioning for a long time..

I realized why I end up being a loser. I always have an escape route. That’s why I never give my best shot for everything. That’s why I never work as hard as the others.

Now, I spent my Saturday and Sunday to resolve my personal issues. I try to understand what my real goal is. I looked back to recall some words said by my coach-my friend-a great man. He once said that I should have set my goal before I made up my decision. At that time, I found it was difficult to produce a crystal clear vision. However, I think I had absolutely nothing back then. Because the goal is not set, it will be impossible to be achieved. That’s why I don’t perform quite well up to this time.

I also made a list of things that I thought impossible to do. I believe to achieve the impossible, one must attempt the impossible. Hope it will bring greater good in the future.

Cognition, Radar Sensing, Echoic Flow, and a Joke about Radar

Firstly, please don’t be scared of the title, I am not going to write something in a rocket scientist language :p

I just attended a seminar held by division of circuit and system. It’s not my division, but since this seminar will talk about radar, I planned to attend it when I saw its poster at the previous day.

Why did I attend this seminar?

The seminar title was “Cognition, Radar Sensing, and Echoic Flow”. Actually, there was a lot of seminars on radar in the past few weeks, but for this time I was eager to come because it is very relevant with my topic. My research topic is Surveillance Cognitive Radar Signal Processing. Yet, I don’t know anything about cognitive radar. I barely read one paper about it, but I already decided that it will be my research topic for the years to come.

So, I sought for enlightenment about cognitive radar. Up until this time, I am not quite sure whether my understanding about cognitive radar definition is correct or not (even though I had attended the seminar),

The interesting insight I acquired

As I told you earlier at my previous post, radar researchers envy bat which could locate obstacles very well. A group of bats can choose a safe path. Well, in this seminar this story of bats was being explained in a few graphics.

Interestingly, this echolocation ability is not only appeared in bats. It turns out that every homo sapiens in this world has such an ability. However, we just do not use it frequently. That’s why we don’t realize the existence of our echolocation capability. Nevertheless, some people had developed their echolocation ability at a level where they could understand and describe the shape of particular things without eyes. They are blind people who could do tongue clicking to get some kind of visions from the echo of that sound. Somehow they could reconstruct the information from echoing sound to represent an object.

This kind of story was first brought up not by a radar engineer but psychology community. Neuroscientists are curious about which part of the brain that works when people doing echolocation. If I am not mistaken, this part of the brain is the same part processing vision.

Well, I guess I am just tired to write more technical explanation. Maybe I am going to write more about it later.

A Joke about Radar

Radar has been used for a long time. And I guess, it started on the world war. However, there are so many researchers doing research on this field. This will lead to a question, is radar already saturated? or, on the contrary, it is just emerging?

Someone threw this question. Mr. Chris Baker said that we just barely touch the surface of this echoic flow.

Between Research and Coursework

I think it is the first time I am writing a story about my academic life. Actually, I wrote a few stories about my academic life at tumblr. You can check these out:

Okay, so now, I want to tell you about what happened yesterday 2 days ago in previous week.

Previous week, a senior told me to come to prof’s office. I walked to his office. Then, I knocked the door.

“Come in”

“Zee Shan told me that you call me”

“Yes, I want to know whether you are making a progress or not”

So I took a seat. There was a senior. He’s been studying here for four years, now is his fifth year.

They were arguing. I only sat and heard their conversation in mandarin. Awkward moment. I could feel the emotion between them. It’s like 20 mintes, I had been waiting, listening to a debate that I couldn’t understand except a few words like SNR and SINR. Finally, professor asked him to move out, to end the debate. Senior stood up, yet he continued a little bit. It ended up with a little anger from prof.

Then, it came to my turn. At first he said sorry. He said that it would be very difficult to make a correction if one doesn’t tell the truth. There will be no improvement, if one doesn’t admit the mistake. It turns out that a good communication is also needed in academia. Inability to communicate well is a big problem.

I think it will never harm for telling the truth and answering the question. The reason is, in this so called academia, integrity must be upheld. It’s not an easy task to carry on. One also has other agendas. In my opinion, sometimes, there is a thing much more important than the truth itself. Doing something for your own good, although it is not a 100% right, often helps to keep you alive.

He asked me about my progress. I said “Nothing”. I am taking three course and the assignment is many. But then he said I should have the time for doing the reading. Then he asked about what he asked me to do. I opened my note, read what I took note of.

“Is that all?”

“Yes, that’s all what you said”

I was so anxious. I was afraid that I didn’t take a note for something important. I thought he was still in a bad mood. Silence was there for a few minutes.

“Now I remember what I want to tell you”

It turned out he really forget what he want to tell me. What a relief. He gave me two papers to take picture of. He said I should do the same with algorithm developed by our team. He asked me whether I go to campus everyday or not. I said yes. He asked me at what time I go to campus. I answered his question. Then, he asked me to go to campus earlier.

But, it’s quite an issue for me to come earlier -__-

Kecut

Aku tersudut dalam ambang batas antara puncak dan dasar. Satu tepukan kecil dapat membuatku terbang ke angkasa maupun jatuh dalam jurang tanpa batas. Kecut dan masam. Tak pernah ada satu hal pun di dunia ini yang memuaskan dengan sebegitunya. Tak pernah ada puncak tertinggi, sebab matahari tak pernah terjangkau. Namun, tak pernah ada yang lebih dalam. Karena ini sudah yang paling buruk. Tak ada jurang yang lebih dalam selain takut, cemas, dan tanpa harapan.

Tersenyum dengan kecut. Sampai kapan aku mau jadi pengecut. Berkemah tak mampu, mendaki pun terlalu malas. Lemah tak berdaya, keputusasaan menggerogoti tangan-tangan yang ingin diam. Ah, mau tidur saja. Pulang akan aku ke rumah. Menikmati bantal, kasur, makanan yang ada di meja makan. Lalu hari pun akan sama seperti biasanya. Ah, bosan.

Takut. Lawan dari takut adalah harapan. Selama masih ada harapan, kita masih tetap hidup. Mereka bilang itu mimpi, mereka bilang itu lentera jiwa. Tak penting. Mereka bukanlah tujuan. Mereka adalah cara untuk menjalani hidup. Memberi makan harapan. Memberi makan mentari yang ada dalam dada, agar ia tak jadi pengecut. Supaya aku tak lari dari semua ini. Aku ingin mengejar matahari. Aku ingin mengejar ia nya yang tinggi dan tak pernah teraih. Karena dengan itu aku tak akan pernah berhenti menggerak-gerakkan kakiku dalam samudera yang luas ini. Sebab jika iya, aku akan mati. Tenggelam dalam takut, putus asa, dan tanpa harap.

Karena ada haraplah, aku masih mencoba di sini. Meski dalamnya samudera seakan tak berbatas. Meski panjangnya pun tak terukur. Aku tak akan berhenti menjejak-jejak kaki demi udara bebas!

Sebenarnya Bahagia

Apa sebenarnya bahagia? Sampai detik ini jutaan manusia masih mencari bahagia. Dapat ditemui di toko-toko buku, tulisan-tulisan yang menawarkan cara untuk bahagia. Dapat ditemui di semua tempat, detik itu juga manusia bergelut dengan perasaan.

Apa sebenarnya bahagia? Mungkin bahagia itu abstrak, tapi tidak dengan es krim. Sebelas dua belas dengan bahagia, kata mereka. Untuk bisa membeli es krim aku butuh uang. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Semuanya demi uang. Sebab uang bisa mengantarkanku pada limit menuju bahagia.

Lelah aku tersesat. Sepertinya tempat ini bukan untukku. Apa yang aku lakukan di sini? Apa sebenarnya bahagia? Bukankah lebih baik aku bermain dan menikmati hidup ku sekarang, buat apa hidup kalau bukan untuk dinikmati. Lalu mereka berhenti bekerja. Mencoba menikmati hidup yang sekarang ini. Mereka ambil gitar, mereka ambil balon, mereka bawa istri dan anak mereka ke pantai.

Apa sebenarnya bahagia? Tak bisakah aku mendapatkan semuanya. Dan mereka pergi ke gua-gua. Berdiam diri dalam hening dan sunyi. Mereka menutup mata mereka dari pemandangan yang dilihat sehari-hari. Bertapa dan bertanya.

Apa sebenarnya bahagia? Mungkinkah aku melihatnya dengan mata hati, jika memang ada yang semacam itu. Mungkinkah dunia ini dijungkir balikkan. Aku tak butuh penggaris yang sama dengan mereka. Aku ingin hidup sebagai aku yang bebas. Aku ingin menemui bahagia sekarang juga. Sekarang juga!

Lalu keluarlah mereka dari gua. Bangkit mereka dari pertapaan. Tapi masih mencari cara untuk menjalani bahagia. Bahagia tanpa kenal waktu. Bahagia dengan alasan permanen. Bahagia yang tak tergantikan dan tak akan pernah selesai.

Hasil perenungan di kamar mandi..

Passmission #Index

“Apa passion yang abang miliki? (mungkin bisa bentuk kegiatan yang abang passionate lakukan) terus seberapa pentingkah passion itu dalam hidup abang?”

English translation will come up soon! :p

Pertanyaan ini sangat singkat namun sangat susah untuk dijawab. Setelah berpikir cukup lama. Saya akhirnya menuliskan jawabannya seperti ini:

“Manusia diciptakan unik dan terlahir sebagai jenius di suatu area tertentu. kalau nggak berusaha nyari apa sebenarnya passion kita, sama aja menyia-nyiakan hidup. Tapi yang namanya pencarian passion itu rupanya long life research. Jadi saya pun belum tahu apa sebenarnya passion saya 😀 ”

Ya, pada akhirnya dari pengalaman saya selama 20 tahun hidup di dunia, buku-buku yang saya baca, orang-orang yang saya temui (terutama Mas Ivandeva), dan informasi yang ada di internet, ada beberapa hal yang mau saya garis bawahi..

1. Everyone is special!

2. Your passion is inside you!

3. Find it!

4. Deliver!

5. Expand your legacy!

6. Submission!

Pasmission #3 Find it!

English translation will come up soon! :p

Sekali dua kali atau beberapa kali, dalam hidup ini kita merasa tersesat. Kita berdiri di tempat yang sehari-hari kita temui dan menjalankan aktivitas yang biasanya kita lakukan. Tetapi, entah mengapa rasa-rasanya kita sedang tersesat. Entah mengapa hidup seperti tidak seru, sepertinya hari ini, esok, dan seterusnya akan sama saja. Tidak ada yang istimewa dalam hari-hari yang kita lalui, semuanya biasa saja. Tidak ada keinginan untuk berbuat lebih jika bukan karena dipaksa.

Ya, terkadang ada celetukan dari dalam hati yang bertanya, benarkah ini tempat kita?

Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan agar tidak terus menerus dihantui oleh pertanyaan ini adalah, berusaha menjawabnya. Oleh karena itu kita butuh yang namanya kontemplasi. Sejenak kita tanggalkan seluruh ikatan kita dengan segala rutinitas. Kita coba untuk observe dan aware terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita. Jika sebelumnya kita menjadi pemain sinetron, kali ini kita jadi penontonnya.

Duduk di depan televisi. Perhatikan jalan ceritanya. Kapan kita bersedih, kapan kita tertawa? Aktivitas apa yang membuat aura kita menjadi berbeda ketika melakukannya? Kapan kita merasa begitu larut dalam keasyikan melakukan sesuatu, sampai kita lupa makan, lupa tidur, lupa kalau tadi kita mengantuk dan berencana tidur sejak dua jam yang lalu. Ya, memutar ulang hari-hari yang kita lalui. Berkontemplasi.

Dari kontemplasi demi kontemplasi inilah, kita mulai belajar untuk melihat dunia bukan hanya dengan cara yang berbeda dari yang sebelumnya, tapi kita juga dapat melihat dari berbagai sudut pandang yang ada. Pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan melalui kontemplasi begitu berharga. Sayang jika hasil kontemplasi kita menguap begitu saja. Padahal hidup kita siklusnya ya gitu-gitu aja. Jatuh bangun dalam mengejar cita dan cinta, menghadapi kesulitan, dan kemudahan. Maka dari itu jangan lupa untuk menuliskan lesson learned dari kejadian penting dalam hidup kita 🙂

Tantangan yang timbul berikutnya adalah ketika kontemplasi ini justru menimbulkan kegamangan dan kegalauan. Saking asyiknya berkontemplasi, kita lupa bahwa hitungan waktu terus berjalan. Waktu yang kita punya untuk menyelesaikan ‘Game of Life’ semakin berkurang. Tapi, mengapa kita justru terjebak dalam kontemplasi tak berujung? Mengapa ketika kita bertanya dan mencari, justru jawabannya semakin tidak kita temukan?

Satu-satunya cara adalah.. perform!