Pasmission #3 Find it!

English translation will come up soon! :p

Sekali dua kali atau beberapa kali, dalam hidup ini kita merasa tersesat. Kita berdiri di tempat yang sehari-hari kita temui dan menjalankan aktivitas yang biasanya kita lakukan. Tetapi, entah mengapa rasa-rasanya kita sedang tersesat. Entah mengapa hidup seperti tidak seru, sepertinya hari ini, esok, dan seterusnya akan sama saja. Tidak ada yang istimewa dalam hari-hari yang kita lalui, semuanya biasa saja. Tidak ada keinginan untuk berbuat lebih jika bukan karena dipaksa.

Ya, terkadang ada celetukan dari dalam hati yang bertanya, benarkah ini tempat kita?

Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan agar tidak terus menerus dihantui oleh pertanyaan ini adalah, berusaha menjawabnya. Oleh karena itu kita butuh yang namanya kontemplasi. Sejenak kita tanggalkan seluruh ikatan kita dengan segala rutinitas. Kita coba untuk observe dan aware terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita. Jika sebelumnya kita menjadi pemain sinetron, kali ini kita jadi penontonnya.

Duduk di depan televisi. Perhatikan jalan ceritanya. Kapan kita bersedih, kapan kita tertawa? Aktivitas apa yang membuat aura kita menjadi berbeda ketika melakukannya? Kapan kita merasa begitu larut dalam keasyikan melakukan sesuatu, sampai kita lupa makan, lupa tidur, lupa kalau tadi kita mengantuk dan berencana tidur sejak dua jam yang lalu. Ya, memutar ulang hari-hari yang kita lalui. Berkontemplasi.

Dari kontemplasi demi kontemplasi inilah, kita mulai belajar untuk melihat dunia bukan hanya dengan cara yang berbeda dari yang sebelumnya, tapi kita juga dapat melihat dari berbagai sudut pandang yang ada. Pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan melalui kontemplasi begitu berharga. Sayang jika hasil kontemplasi kita menguap begitu saja. Padahal hidup kita siklusnya ya gitu-gitu aja. Jatuh bangun dalam mengejar cita dan cinta, menghadapi kesulitan, dan kemudahan. Maka dari itu jangan lupa untuk menuliskan lesson learned dari kejadian penting dalam hidup kita🙂

Tantangan yang timbul berikutnya adalah ketika kontemplasi ini justru menimbulkan kegamangan dan kegalauan. Saking asyiknya berkontemplasi, kita lupa bahwa hitungan waktu terus berjalan. Waktu yang kita punya untuk menyelesaikan ‘Game of Life’ semakin berkurang. Tapi, mengapa kita justru terjebak dalam kontemplasi tak berujung? Mengapa ketika kita bertanya dan mencari, justru jawabannya semakin tidak kita temukan?

Satu-satunya cara adalah.. perform!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s