Sedikit Ingatan, tentang A, B, dan G

2008.

Satu. Sekretariat HME.

“Gue pengen deh nanti jadi researcher”

“Ah, ga mungkin, gak percaya gue orang kayak lo bakal jadi researcher”

Dua. Nasi Goreng di SR.

“Kenapa sih gue dimasukin ke Karakter? Kenapa gue nggak dimasukin ke Keprofesian? Gue kan pengen banget masuk ke Keprofesian?”

“Kalo lo dimasukin Karakter, lo bakal bisa jadi sembilan atau sepuluh, tapi kalo lo masuk ke keprof, paling lo cuman bisa ampe lima”

Tiga. Diklat Aktivis Terpusat.

“Kelak saya akan menguasai Media, dan memanfaatkannya untuk rekayasa sosial”

2010.

Saya tingkat tiga. Kami baru saja menghadiri sebuah diskusi dengan BIC pada acara ITB Fair.

“Kan katanya kalo kita butuh kolaborasi antara A, B sama G tuh. Kalo gue sih pengennya jadi B, si Syakur katanya mau masuk ke G, lo gimana?” tutur Ade Harnusa.

Dalam hati saya sih, ketika kita berbicara tentang 3 orang dan 3 pilihan, seolah-olah pilihan yang tersisa adalah A. Saya hanya diam. Saya hanya berpikir, apa yang terjadi kalau saya jadi A? Mungkinkah saya jadi A sementara saya selama ini sama sekali tidak punya setelan akademisi. Ah, tapi apa mau dikata, demi mimpi untuk berkolaborasi bertiga, tak ada salahnya saya bermimpi untuk jadi A.

2011.

Awal.

Hari itu seolah istimewa. Saya di-hearing, ditanyakan, dan didebat lagi soal konsep I3M yang ingin saya bawa. Besoknya saya mengikuti babak final lomba PLC. Tak perlu ditanya, partner saya Amril Hidayat, salah satu “bright & gifted” di Teknik Elektro 2007. Usai lomba saya sangat lelah. Mengantuk. Mereka bilang kami mendapatkan penghargaan, mereka ajak saya untuk ke Aula Barat. Mata saya tidak kuat. Saya tetap tidur.

“Fik, lo harusnya sekarang tembak cewek, biar perfect. Menang lomba, jadi Presiden I3M, kurang cewek doang lo.”

Bukan hari itu. Semester itu nampaknya istimewa buat saya. Semester tersebut adalah semester dimana saya belajar untuk menjadi laskar pelangi. Pemimpi. Begitulah mereka dulu menyebut saya. Mungkin terlalu banyak imajinasi dan khayalan saya, sehingga mereka bilang saya pemimpi.

Meskipun orang bilang mimpi saya yang lalu tanpa implementasi, gagasan yang hendak saya wujudkan terasa sangat nyata buat saya. Dan gagasan itu saya sendiri yang akan berada di garis terdepan untuk merealisasikannya. Saya.

Tapi tidak dengan wanita. Sampai sekarang saya tidak tahu apa-apa untuk urusan yang satu itu.

Akhir.

Sulit. Rupanya konsep yang terasa begitu sempurna dan begitu menyilaukan mata, sekalipun terasa benar dan sempurna, tetaplah konsep belaka. Ia adalah utopia yang harus tetap menjadi utopia agar kita mengejar sempurna.

Masalah-masalah dan masalah. Selalu ada masalah, sekalipun yang tujuan kita adalah menyelesaikan masalah. Tapi, pasti ada solusi simpel untuk semua masalah yang ada. Ketika kita ingin menyelesaikan masalah, lalu ada masalah dalam proses penyelesaian masalah, pasti ada cara paling mudah untuk menyingkirkannya satu persatu.

Hingga akhirnya saya tahu satu fakta. Kita tak pernah bisa mengontrol semuanya.

2012.

Awal.

Saya masih ada di antara mereka. Kumpulan A, B, dan G. Saya sebagai mahasiswa. Itu berarti saya sebagai A. Sementara itu, Ade masih bergelut untuk menjadi B. Chordeo yang ingin dia wujudkan. Sebuah isu besar untuk era baru gotong royong. Syakur dimana? Syakur sedang ada di daerah terpencil, di halmahera selatan. Syakur sedang jadi G juga, guru. Tapi, konon di sana dia juga mulai bisa masuk ke arah G di sana.

Saya? Apalah dikata mau jadi A. Mau jadi A itu tahapannya lebih rumit. Kalau mau jadi A, saya harus sekolah lagi. Sudah sekolah lagi pun belum tentu saya jadi A.

Tapi satu hal yang saya pelajari dari lingkaran A-B-G pada lembaga tertinggi di kampus Ganesha tersebut. Hal ini adalah tentang giliran. Suatu saat kita akan mendapatkan giliran kita. Ketika waktu itu tiba, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya kita telah siap mendapatkan giliran tersebut?

Banyak orang-orang yang akhirnya ketika mendapatkan gilirannya, mereka justru lupa akan kitab suci yang seharusnya mereka pegang teguh. Mereka harusnya jadi Nabi, menyebarkan dan menyampaikan kebenaran kepada mereka yang tidak tahu. Tapi mereka lupa.

Pertengahan.

“Pilihannya ada dua nantinya, nih company asyik banget nih ternyata, atau ya memang ini bukan tempat gue nih, terus Fikri lanjut sekolah”

Tak pernah ada grow, jika terus ada di comfort zone. Kita butuh pain, untuk dapat gain. Tapi, tak selamanya pain itu membuat kita grow. Ada pain yang justru menghambat diri kita untuk bahkan berjalan.

Lalu ternyata takdir akhirnya jatuh pada pilihan kedua. Entahlah, apakah mungkin ini ada kaitannya dengan cerita tentang A, dan B, dan G?

Pain? Jangan ditanya. Painful untuk pemalas seperti saya, untuk seseorang yang sangat sulit untuk fokus. Dan rasanya saya jadi merasa pilihan saya benar, ketika ada yang bilang seperti ini.

“Aing salut maneh berani keluar dari comfort zone”

Sebenarnya masih banyak hasil kontemplasi yang ingin saya tuliskan di sini, tapi apa daya saya harus segera ke lab. Sesungguhnya menulis itu berguna. Jika disuruh memilih aktivitas yang tidak ingin saya buang, salah satunya tentu menuliskan hasil kontemplasi. Sebab, ketika saya sedang negatif dan turun, saya menjadi bersemangat lagi ketika melihat postingan blog dari saya yang sedang positif, yang sedang naik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s