Megatron, tentang Layar Segede Gaban

Loh, aku dengar sekarang di sana ada layar. Layar yang segedhe gaban. Ada di depan, dipampang di tempat yang dulunya sih baligho. Konon diputar sebuah parodi dari video yang paling ditonton di situs pemutar video paling heboh di dunia.

Loh, loh, loh. Benarkah ini? Bukankah ini si megatron yang dulu diimpi-impikan. Bukankah ini yang dari dulu kita cita-citakan. Punya tiga layar di masing-masing jalur. Sebuah alat yang diharapkan cukup heboh untuk bisa mencuci otak anak-anak kampus gadjah duduk yang terlalu menunjukkan gading-gading Ganesha. Ah, bukankah gading ganesha patah sebelah?

Loh, kok bisa ya. Dulu impian itu ada, sempat dikubur dalam-dalam karena mereka bilang masih jutaan tahun cahaya lagi. Ah, tapi kami tidak menyerah, kami tidak menyerah, kami tidak menyerah. Bukankah karena itu kita buat semuanya dari nol. Kanal kampus yang setiap tahun didengungkan tapi rupanya sulit untuk mempertahankan, membuatnya lebih bagus.

Loh, akhirnya kan tongkat estafetnya sempat ada di saya. Lalu saya ajak teman demi teman untuk buat sesuatu. Kami kumpulkan setiap elemen dari ITB. Unit film yang konon katanya jarang ikut berdiskusi pun ikut pada acara itu. Focus Group Discussion. Sebuah grup diskusi yang menyiapkannya butuh perdebatan panjang, demi membuat diskusi yang tak sekedar asal. Mencari data, menebak-nebak apa pikiran orang-orang.. hingga akhirnya sepakat. Kita butuh media untuk mencerdaskan? Tapi, bagaimana caranya?

Lalu tersebutlah kisah Faikar yang pernah kerja praktek di stasiun televisi. Mereka bilang untuk bikin berita tetap ada, kita butuh dana. Dijuallah paket-paket berita. Dengan maksud. Ah! Ternyata semua yang ada di dunia ini punya maksud. Kenapa lalu tak kita buat saja media kita sendiri dengan maksud baik.

Lalu ide pun tarik menarik. Loh, akhirnya timnya mulai jalan lagi, hidup lagi. Video-video karya dibuat. Kampus mulai akrab dengan dokumentasi karya menarik. Apresiasi mulai ada untuk mereka yang berprestasi. Baligho-baligho mulai ramai, meskipun saya tak pernah sekalipun tercantum dalam baligho. Video-video mulai ramai, dan untung akhirnya saya pernah ikut bikin video.

Dan akhirnya saya keluar dari permainan. 

Dan akhirnya saya melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Pasang surut ide terus terjadi, namun suatu saat ia akan terwujud, entah kapan, entah siapa. Ah, jadi tak ada salahnya bermimpi ya?

Lalu saya keluar seorang diri mencari kehangatan. Rupanya di luar dingin. Saya pandangi rembulan yang bersinar dengan begitu bulatnya. Ah, jadi ingat cerita tentang rembulan. Bagaimana kekaguman seseorang tentang rembulan dapat menyelamatkannya dari hidup yang sia-sia menjelang kematian. Bagaimana rembulan membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ah, tapi itu kan kisah fiktif.

Tak pernah ada mimpi yang setinggi bintang. Tak ada yang bisa menggapai bintang. Eh, mimpi seperti ini mungkinkah terwujud? Loh tapi kan itu megatron, layar yang segede gaban.

Lalu saya kembali dengan secangkir kopi mendidih. Berpikir begitu banyak tugas menumpuk. Lanjut lagi, malam masih panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s