Kisah Tono Mahasiswa Skripsi dan Pak Budi Peneliti Negeri

Hari ini Tono tidak seperti biasanya. Ia pulang ke kontrakannya. Jemu terasa. Bosan ia setiap malam menghabiskan waktu dengan nongkrong di coffee shop bareng teman-teman.

Tiba di kontrakan. Setelah memarkir sepeda motor bututnya, ia datang ke ruang tengah. Ia letakkan helmnya yang basah di kursi. Maklum, kotanya sedang dilanda hujan tiga hari ini. Helm itu tersiram air karena diletakkan di motor ketika ia parkir di kampus.

Karena perutnya keroncongan, ia pergi lagi keluar. Hendak mencari roti. Supermarket terdekat ia datangi. Ia pilih roti dua ribuan. Roti itu berbentuk persegi, sandwich dengan isi coklat. Ia ambil dua buah. Sampai di kasir, ia siapkan enam ribu rupiah. Melihat batangan rokok tersedia di kasir, muncul hasrat untuk mengeluarkan dua ribu rupiah lagi dari kantongnya. Ah, barangkali dua batang saja. Tapi, tidak. Tidak usah. Malam ini saja dia ingin menghabiskan waktu tanpa nikotin.

Tono kembali memasuki kontrakan. Sudah lama ia tidak bersosialisasi di ruang tengah. Kangen rasanya mengobrol dengan kawan sekontrakan ini.

Sampai di ruang tengah, Pak Budi sedang tiduran di kursi panjang. Televisi menyala, memutar sebuah diskusi tentang kondisi penjara di negerinya yang begitu kacrut. Bagaimana tidak kacrut, di lembaga pemasyarakatan di negerinya terdapat bilik khusus untuk bercinta. Huh, sama sekali tidak menarik. Lebih menarik renegosiasi sebuah perusahaan asing yang mendapat keuntungan gila-gilaan dari mengeruk kekayaan alam negeri ini. Sembari memakan roti dua ribuan itu, dia memulai pembicaraan dengan Pak Budi, seorang PNS, “Kenapa tiduran Pak? Lagi setres atau apa?”

“Ah, enggak kok. Duduk terlalu lama juga nggak sehat kan?” Jawab Pak Budi sembari berpindah posisi, mengambil posisi duduk.

“Hah, kok bisa?”

“Iyalah, duduk kan bikin wasir.”

Tono was-was, ia lalu meraba-raba pantatnya. Takut pembuluh darah di bokongnya membengkak. Maklum, seharian dia duduk di laboratorium. Dan sudah beberapa bulan ia melakukannya setiap hari, hanya duduk diam mengerjakan eksperimen.

Kemudian Pak Budi mengambil sebatang rokok. Ia sulut rokok itu dengan pematik berwarna merah, “tokai” merknya. “Gimana Tugas akhir?” Tanya Pak Budi.

 “Yah, gitu deh Pak. Lagi mau nyelesein. Nggak kerasa udah taun kelima saya di kontrakan ini”

“Hoo. Seleseinlah. Kamu masih punya banyak harapan untuk masa depan. Nggak kayak saya, tinggal nunggu hari tua,” timpal Pak Budi sembari menghembuskan asap rokok lewat hidung.

“Pak Budi sendiri gimana Pak, jadi mau S3?”

“Ah, saya mah udah nggak ada harapan. Udah ditolak sama profesornya.”

Belum sempat Tono menimpali, muncul sebuah iklan di televisi. Iklan itu entah kenapa memberikan informasi mengenai sisi negatif rokok. Hal ini merupakan pemandangan yang cukup berbeda, mengingat biasanya rokok menjadi primadona di televisi nasional. Tak jarang, rokok menjadi sponsor kegiatan olah-raga, kegiatan yang menyehatkan.

“Shit!” Pak Budi buru-buru mengganti channel televisi. Tidak ingin mendengar tentang bahaya rokok. Bagaimanapun juga, rokok adalah kawan terbaiknya. Rokok tak pernah selingkuh untuk menemani hari-hari Pak Budi yang semakin berat. Setelah beberapa kali memencet tombol di televisi kuno berlayar cembung itu, Pak Budi kembali menghisap rokoknya. Menarik satu nafas panjang, bersama para nikotin dan tar tentunya.

“Bahkan ini saja saya ada kemungkinan dipecat,” tutur Pak Budi untuk mengawali cerita kelamnya.

Pak Budi adalah pegawai negeri. Jabatan fungsionalnya adalah sebagai peneliti, bidang yang ia teliti adalah kontrol. Sering Tono mendengarkan keluhan-keluhan Pak Budi tentang lembaga tempatnya bekerja. Pada divisi tempat Pak Budi bernaung, idealismenya untuk menjadi peneliti tidak mendapatkan tempat untuk hidup. Ia tidak diberikan kesempatan untuk meneliti, katanya. Terkadang ia mendapatkan tunjangan-tunjangan tambahan, dari proyek yang ia tak ikut mengerjakan. Tapi, bagaimana lagi, namanya toh tercantum dalam proposal proyek. Atasannya juga bilang bahwa operasional lembaga tidak terkover oleh aliran dana dari pemerintah. Korupsi? Entah. Pak Budi pun samar tentang hal ini.

Menyaksikan senior jauhnya sedang dilanda masalah, Tono yang baru saja menghabiskan rotinya menjadi penasaran. Sembari menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi instan, ia bertanya, “Loh kok bisa Pak?”

“Iya, perkiraan saya aja. Nggak tau nih, habis ini saya mau ke mana. Nanti tinggal dipikir aja mau lari ke mana. Mungkin saya mau kabur ke luar pulau aja.”

Terkejut. Tak percaya si Tono. Sambil mengaduk kopi panasnya dengan garpu, ia mulai berpikir. Masa depan tak selamanya semanis yang dibayangkan. Gelar sarjana, bahkan gelar magister, tak menjamin kehidupan seseorang. Nama besar almamater, tak selamanya ikut membesarkan seseorang. Bahkan ijazah, kelak akan usang, menjadi debu dan mungkin akan terurai.

“Wah, mau kerja di mana gitu Pak. Eh, bagi rokoknya ya Pak,” Tono menimpali, gagal sudah rencana Tono untuk menjalani malam tanpa sebatang pun rokok.

“Oh iya, silahkan aja. Hmm… belum tau juga. Yang jelas saya mau lari. Untung aja udah setahun ini saya nggak komunikasi sama keluarga. Jadi bisa lebih bebas.”

“Loh, nanti rencananya udah gak mau hubungan lagi sama keluarga Pak?”

“Yy… ya sepertinya begitu. Biar lebih bisa menentukan nasib sendiri aja, nggak perlu dipengaruhi orang lain. Tinggal nentuin hidup sendiri. Independen.”

Tono menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ia tahan asap itu di tenggorokan, mengeluarkannya sedikit demi sedikit, bukan hembusan panjang. Ia mulai berpikir, mungkinkah suatu saat Pak Budi ini memilih untuk menjadi sebatang kara. Hidup sendiri, yang bahkan ketika mati, tak ada yang peduli. Maklumlah, meskipun usianya sudah beranjak dan gigi-giginyanya sudah rusak, Pak Budi belum berkeluarga. Masih single. Menghabiskan semua gaji untuk diri sendiri, ngontrak di rumah tua, dua bungkus rokok putih, dan terkadang minuman sedikit beralkohol setiap harinya. Hmm. Dan juga internet tentunya.

“Memangnya udah pasti akan dipecat Pak? Darimana taunya?”

“Yah, kemarin ada orang ngasih surat ke meja saya. Surat peringatan pertama karena saya nggak disiplin”

Malam itu menjadi sebuah malam berharga buat Tono. Perbincangan dua orang perokok di ruang tengah di kontrakan tua. Sesuatu yang sudah lama tidak terjadi. Bincang malam penuh makna, ditemani sruputan kopi, hisapan rokok, dan berita-berita tentang realitas negara di televisi. Tak terasa, tiga tahun sudah Pak Budi tinggal di sini. Tak pernah sekalipun Tono berpikir bahwa Pak Budi akan dipecat dan meninggalkan kontrakan ini. Seorang peneliti, pegawai negeri. Rasanya ingin Tono membantu menyelesaikan permasalahan Pak Budi, apa daya, ia hanyalah mahasiswa semester tiga belas di sebuah institut negeri. Tono bukan psikolog, bukan pula pengusaha yang bisa memberikan Pak Budi pekerjaan, apalagi presiden.

Tapi marilah kita coba. Tono berpikir barangkali ia bisa membantu orang lain dengan memotivasinya. Siapa tau mahasiswa yang setiap tahun menyaksikan adik kelasnya diwisuda ini bisa memotivasi seseorang yang usianya jauh lebih tua. Yah, kemungkinannya kecil, bukan berarti tidak ada, pikirnya.

Tapi dasar anak muda ini bodoh. Alih-alih memberikan motivasi, ia justru mengungkapkan dengan blak-blakan apa yang sedang ada di otaknya, “Ngeri juga ya Pak..”

Mendengar kata-kata tersebut, Pak Budi nyengir. Seperti orang mau tertawa, tapi lebih mirip orang tersenyum kecut.

“Menurut Tono itu ngeri?” Pak Budi menjawab sekaligus bertanya

“Hmm.. iya sih Pak,” dengan ragu Tono menjawab

“Kalau buat saya itu biasa saja,” tutur Pak Budi sambil membuang abu rokok di taman. Ruang tengah memiliki sebuah kotak besar -jika tidak bisa dibilang lubang-di dinding. Melalui kotak tersebut Pak Budi bisa membuang abu itu ke taman disamping ruang tengah.

Kotak itu dulunya jendela. Dulu di kotak tersebut, melekat bingkai kayu dengan kaca terpasang. Namun kaca tersebut sekarang sudah tidak ada lagi, kayunya pun sudah tidak dipasang. Tono pelakunya. Beberapa semester yang lalu ia melemparinya dengan sepatu usang yang sudah tidak pernah dipakainya semenjak ia tingkat tiga. Waktu itu indeks prestasinya nol koma. Ia begitu ekspresif sehingga tanpa sadar melemparkan sepatu yang pernah tergigit eskalator di salah satu mall di kota itu. Tentu saja hal itu terjadi persis setelah ia mengetahui bahwa begitu banyak nilai E yang ia peroleh di semester itu. Nol koma.

Tono berpikir keras. Bingung. Heran. Takjub. Bagaimana kalau kisah seperti itu terjadi pada dirinya. Mencapai rekor sebagai satu-satunya orang di angkatannya yang belum lulus saja sudah membuatnya sukses melenyapkan jendela ruang tengah. Apa jadinya kalau dia sepuluh tahun lagi, dengan gelar magister, terancam dipecat. Apa jadinya, jika ia menjadi Pak Budi?

Empati Tono mulai timbul. Ia mulai berpikir bahwa jika ia menjadi Pak Budi, tentulah ia membutuhkan teman untuk berbincang, untuk sekedar mengeluarkan apa yang terpendam dalam hati terdalam.

“Kok bisa biasa aja Pak, udah nyiapin mau kerja di mana setelah ini?”

“Ya karena sebenarnya belum final kan. Saya kan belum tentu dipecat. Saya ini tipe orang yang otaknya baru jalan setelah situasinya terjadi, nggak bisa planning untuk masa depan yang belum pasti. Datar-datar aja sih saya..”

“Wah, kalo Pak Budi sendiri gimana, sebenernya masih pengen kerja di situ apa enggak? Atau emang udah pengen mundur”

“Hmm.. Gimana ya. Kalau dari saya sendiri sih bukan mengajukan diri untuk pergi. Saya kan belum tau gantinya. Tapi kalau memang keputusannya demikian ya mau gimana. Saya sih santai aja, toh saya masuk nggak lewat jalur belakang. Saya masuk baik-baik, kalau dipecat dengan tidak baik ya santai saja,” jawab Pak Budi sambil sedikit tertawa.

Bingung. Lagi-lagi Tono bingung. Tono benar-benar tidak tahu seperti apa jalan pikiran Bapak-bapak di depannya, seniornya yang beda angkatan sepuluh tahun. Entahlah, mungkinkah dunia setelah kuliah akan semengerikan itu? Tono bertanya-tanya dalam hati. Ah, tapi Bapak-bapak ini saja tidak takut menghadapinya. Lantas, untuk apa dia yang masih relatif lebih muda, harus takut? Pemuda kan harus berani, pikirnya.

“Nggak coba pindah kerja Pak? Bapak kan pegawai negeri tuh, bisa nggak pindah ke bagian atau departemen lain?”

“Bisa aja sih, itu kalau departemen lain ada yang membutuhkan saya. Hahaha,” sambil tertawa Pak Budi menjawab. Api sudah hampir menyulut filter rokok. Ia segera mematikan rokok tersebut. Bukan dengan mematikannya di asbak yang ada pada meja, tapi langsung saja buang ke taman lewat ‘jendela’.

“Nggak coba nanya-nanya temen kuliah gitu Pak? Barangkali ada yang butuh gitu Pak?” Tono mencoba menawarkan solusi untuk seorang peneliti di hadapannya. Peneliti itu nampak sedang penat betul meskipun masih nampak tertawa dan rileks dengan sebatang rokok dan secangkir kopi. Iya, Pak Budi menyulut kembali satu batang rokok sembari menyeduh kopi.

“Yah, saya mah udah nggak pernah komunikasi sama mereka. Saya nggak suka cerita sama orang yang sudah kenal saya. Kalau sama mereka, mereka sudah pegang saya, mereka tahu kekurangan saya. Saya lebih suka ngobrol sama orang yang nggak kenal saya, jadi saya yang bisa mengikuti jalan pikiran mereka, mencengkeram mereka.”

Tono menarik napas panjang. Kali ini sudah tidak menghirup racun. Rokoknya sudah habis. Bedanya dengan Pak Budi, ia mematikan rokoknya di asbak. Ia menengok sejenak ke telepon genggamnya, barangkali ada DM Twitter dari pacarnya, pacar yang masih setia meskipun Tono tak kunjung meraih gelar sarjana. Mendengar perkataan Pak Budi, Tono mulai berpikir, barangkali Pak Budi bisa seterbuka ini kepadanya karena sebenarnya Pak Budi menganggapnya orang lain. Bukankah terkadang kita butuh untuk berbicara dengan orang asing, sebab mereka memang masih polos tentang kita?

“Yah pokoknya nanti kalau sudah saatnya lari ya saya harus lari. Sekarang orientasi saya sudah berubah. Bukan lagi mengejar prestasi, tapi untuk bertahan hidup.”

Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Pak Budi semakin membuat Tono berpikir keras. Hidup memang kejam. Rasa-rasanya, tidak ada yang bisa menjamin hidup seseorang. Tak ada jaminan. Dan sepertinya, ada beberapa orang yang lebih nyaman hidup dalam kesendirian. Mereka adalah orang-orang yang telah lelah mendapatkan penilaian yang begitu buruk dari orang lain. Mereka adalah orang-orang telah menyerah untuk mendengar pendapat orang lain tentang mereka. Dan mungkin, mereka adalah orang-orang yang bebas, yang hanya mau berubah kalau memang dirinya mau berubah. Yang jelas, seorang manusia masih ingin bertahan hidup, seberapa sulit kehidupan itu sendiri untuk dijalani. Seseorang yang masih ingin hidup dan menanti datangnya hari tua dan ajal, meskipun tanpa ada keluarga yang menemani.

Setelah lanjut dengan beberapa obrolan santai, Tono akhirnya masuk ke kamar, meninggalkan Pak Budi yang masih asyik menonton film. Sebuah malam yang berharga bagi Tono. Ia menyadari bahwa Tuhan sedang memberikan petunjuk buat dia. Tuhan benar-benar sedang memberikan pelajaran berharga tentang hidup, bukan dari pengalaman pribadi, tetapi lewat pengalaman manusia lain. Manusia lain yang benar-benar nyata, jujur, dan dengan sangat kebetulan, tinggal seatap dengannya. Sebuah perkataan dari Pak Budi lah yang menyadarkannya akan hal ini,

“Saya ini memang contoh yang buruk. Buruk sekali. Tapi baguslah buat kamu, kamu bisa dapet contoh yang buruk.. “

Sebuah kata-kata yang tulus dari seseorang yang mungkin menyesali hidupnya selama ini, meskipun tidak pernah mengutuknya. Seseorang menceritakan semua ini karena ingin Tono, anak muda mahasiswa tingkat perpanjangan yang tinggal serumah dengannya, tidak bernasib sama. Nasib. Semua ini adalah soal nasib. Dan bagi mereka yang tidak berusaha mengubah nasibnya, nasib tidak akan pernah berubah. Tono sadar betul akan hal ini. Lalu ia pun membawa kesadarannya ke alam mimpi. Ke alam tempat ia bebas berekspresi. Di dalam mimpi, ia bisa menjadi sosok yang dicita-citakannya, seorang ahli rekayasa genetika. Ia pun tertidur lelap, memeluk mimpi-mimpinya, melupakan kembali tugas akhirnya.

Cerpen ini pertama saya tulis di tumblr saya dengan judul “Tono dan Pak Budi”. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik dari cerita singkat ini, tentang manusia, tentang realita, tentang masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s