Tentang Menginkubasi Inovasi Mahasiswa

bang, mau nanya2 sikit tentang inovasi. apa sih dasar meningkatkan inovasi menurut lo? kyknya I3M skarang ga terlalu tergaung di HME nih, sebenarnya peluang apa aja yang bisa didapat di I3M?

Jadi ceritanya waktu saya bangun tidur, ada message seperti ini dari Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Elektroteknik dengan visi IPK:Inovasi, Prestasi, dan Kesepahaman (dan sebenarnya begitu melihat prestasi, saya jadi ingat visi yang pernah diusung Sigma). Pertanyaan yang sedikit namun berat untuk dijawab, tapi mari saya coba jawab berdasarkan pengalaman selama 4,5 tahun lebih di kampus ganesha (dengan telah mengenyam banyak sekali kegagalan pahit dan cerita manis dalam usaha saya memecahkan telur-telur ide).

PERTANYAAN 1

Kalau ditanya apa bahan bakar dasar untuk meningkatkan inovasi, mungkin ada beberapa hal yang bisa saya sebutkan:

1. Masalah :

Semakin banyak masalah, seharusnya semakin banyak peluang untuk melakukan pembaharuan. Masalah ini bisa saja muncul dari tantangan perlombaan, atau kesadaran individu ketika melihat realitas sosial.

2. Ilmu:

Dengan adanya ilmu, seseorang akan bisa menstrukturkan permasalahan yang ada serta membuat konstruksi solusi atas permasalahan.

Dengan mencampurkan dua bahan bakar tadi, seharusnya kita bisa mendapatkan cikal bakal “ide”. Nah, ternyata untuk bisa membuat ide yang masih mengawang tersebut menjadi nyata, diperlukan proses dan waktu. Anggaplah “ide” merupakan input, dengan “inovasi” sebagai output, maka kita pun akan memiliki plant, controller, disturbance, dan feedback (inget sistem kendali, inget apa yang diajarkan Pak Iyas :p). Jadi, menurut saya ada banyak hal yang bisa dimasukkan ke dalam sistem inovasi tersebut. Secara praktikal mungkin akan saya sebutkan beberapa di sini:

3. Dana:

Logika tanpa logistik tidak akan berjalan.

4. Orang Ahli:

Ilmu yang dimiliki mahasiswa tentu masih belum sedalam tenaga ahli, seperti dosen-dosen atau praktisi-praktisi di Industri. Untuk proyek pembuatan satelit misalnya, ITB-SAT tentunya tak akan lengkap tanpa kehadiran dosen-dosen yang menginspirasi dan berdedikasi seperti Pak Ridanto dan Pak Doni, serta Pak Heru dari LAPAN, dan ahli-ahli lainnya yang tak pernah bosan dalam membimbing.

5. Pemahaman terhadap pasar :

Tentunya sasaran akhir dari inovasi adalah membuat sebuah pembaharuan agar diterima masyarakat. Dulu kami (I3M, Kementrian Pengmas KM ITB, LK ITB, HME, HMM, HMS, dan IMG) sempat membuat sebuah inisiatif untuk membuat PLTMH di sebuah desa di Gunung Halu. Inisiatif tersebut mungkin tidak dimulai dengan proses yang benar, sebab terhitung proyek kejar tayang. Karena pemahaman yang kurang mengenai struktur sosial di sana, proyek ini terhambat.

Ada baiknya memetakan pasar yang dituju terlebih dahulu. Jika berkaca dari pengalaman teman-teman Satoe Indonesia, mereka benar-benar melakukan pemetaan sosial. Jadi perlu tahu, siapa yang jadi mafianya, siapa yang jadi influencernya. Kalau misalnya kita mau membuat telepon genggam, tentu kita perlu tahu, bagaimana kondisi pasar sekarang, bagaimana cara masuk ke dalam pasar tersebut.

Nah, taruhlah kita pakai bahasa yang berat, “inovasi untuk rakyat” atau “bergerak bersama rakyat”, kita harus bisa melewati tahap pertama dulu, yakni “dekat dengan rakyat”, memahami “rakyat”.

6. Fasilitas dan Kebijakan : 

Saya teringat ketika dulu saya dan Syakur berbincang dengan Bung Jawa dan beberapa panitia Pasar Seni. Waktu itu ide pasar seni benar-benar brilian, tapi sempat terkendala dengan kebijakan dari K3L yang melarang penggunaan lapangan sebagai wahana pasar seni. Tentu saja ironis, jika ide yang bagus tidak mendapatkan dukungan fasilitas dan kebijakan. Sampai sekarang saya masih wondering seharusnya pasar seni ITB tuh bisa lebih keren lagi kan, bakal sekeren apa ya?

Sama halnya ketika kita mau melakukan eksperimen, membuat prototype, tentunya butuh dukungan (laboratorium, komponen, dll).

7. Value/Karakter :

Ketika berbicara tentang ide dan inovasi, ujung-ujungnya kita akan membicarakan tentang manusia dan peradaban, dan berbicara tentang dua hal ini tidak akan pernah lepas dari karakter. Untuk bisa meningkatkan inovasi, kita butuh orang-orang yang siap menjadi inovator. Mereka adalah orang-orang yang visioner, konkret, kolaboratif, dan solutif.

Dari pengalaman saya, sesuatu gagasan hanya akan menjadi nyata jika orang-orang yang mengerjakannya benar-benar mencintai gagasannya. Orang tersebut mau melakukan apapun, tidak kenal menyerah, dan tak pernah berhenti percaya bahwa gagasannya akan menjadi nyata. Tanpa adanya orang-orang seperti ini (yang mau mendedikasikan dirinya untuk berinovasi) maka bicara tentang inovasi pun tak ada gunanya. Kalau dihadang tembok sedikit saja sudah mengeluh dan menyerah, maka tidak akan pernah tercipta yang namanya pembaharuan. Bayangkan jika Soekarno dulu menyerah dan tidak jadi melakukan proklamasi hanya karena tidak ada mikrofon (“Ah, sial mikrofon rusak semua, gua gak jadi deh mau proklamasiin kemerdekaan”), tentu bangsa Indonesia tidak akan merdeka. Maka, dari itu orang-orang yang solutif lah yang bisa menciptakan perubahan, sebab mereka percaya bahwa ada solusi simpel untuk setiap masalah.

Oh iya, tentu saja kemampuan bekerja sama dengan orang lain mutlak diperlukkan. Untuk bisa menjadi kolaboratif, seseorang juga harus bisa berkomunikasi dan mengungkapkan gagasan dengan baik. Dibutuhkan kolaborasi untuk bisa membuat sesuatu yang hebat, nah tentunya satu orang bekerja sendirian tak pernah sama dengan bekerja tim. Dari pengalaman saya, konflik selalu ada, maka dari itu dibutuhkan jiwa kepemimpinan dari masing-masing orang.

Dan sebagai bagian dari ITB, mungkin kita perlu mengingat kembali value ITB (bisa dilihat di Summary Grand Plan ITB 2025 hal 11):

  1. Keunggulan
  2. Kejuangan
  3. Kepeloporan
  4. Pengabdian

Saya rasa jika nilai ini selalu tertanam dalam diri kita, roh Ganesha akan selalu hidup dalam raga kita. #yazeik

PERTANYAAN 2

Sebenarnya untuk menjawab kondisi kekinian mengenai I3M, tentulah harus Presiden KM saat ini dan Presiden I3M saat ini yang menjawabnya. Tapi kalau bicara tentang konseptual, saya masih bisa menjawabnya.

I3M sebagai inkubator, berperan untuk membangun atmosfir yang mendukung terciptanya inovasi. Tentu saja komponen-komponen yang idealnya harus dapat disediakan I3M adalah komponen yang saya sebutkan di atas. Pada proses pengerjaan ide (proyek), I3M seharusnya mengambil peranan sebagai Project Management Officer. Jadi I3M yang menciptakan standar, menstrukturkan alur kerja mahasiswa ITB dalam berinovasi.

Nah, dalam hal ini, yang pernah merasakan kompetisi keprofesian mungkin dapat memahami pentingnya pihak yang mengurusi manajemen ini. Mulai dari membantu planning, mengurus hal-hal non teknis, menjadi reminder, (simpelnya membantu POAC). Dalam praktiknya para Inovator sendiri sibuk untuk memeras otak dan ilmunya untuk menciptakan produk (teknis), belum lagi kalau stuck. Tentu akan lebih ringan jika mereka tidak perlu pusing memikirkan pendanaan, kapan rapat, dan hal-hal non teknis lainnya.

Nah, sekian untuk postingan kali ini. Jika ingin membaca lebih lanjut tentang I3M, bisa membaca ini:

http://otakkurusak.wordpress.com/2008/04/12/pusat-inkubator-ide-dan-kreativitas-mahasiswa-itb/

http://www.slideshare.net/rousyan/i3m-for-not-informed

http://ikhwanalim.com/2010/02/15/mengapa-km-itb-membutuhkan-inkubator-ide-dan-inovasi-mahasiswa-i3m/

Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan tentang inkubasi inovasi mahasiswa, semoga di lain waktu saya bisa melanjutkannya. Oh iya, tentu saja tulisan ini adalah opini, sangat mungkin untuk salah, dan saya terbuka untuk kritik, saran, dan diskusi🙂

One thought on “Tentang Menginkubasi Inovasi Mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s