Sekitar Dago

Kami berenam. Berbekal segepok puisi yang dicetak pada kertas A4. Mereka suruh kami kenakan pakaian yang paling ‘merakyat’, compang-camping. Buatku ada satu tambahan, sendal jepitku putus di jalan.

Mengamen. Kami disuruh mengamen. Dengan puisi. Dan buat aku, ekstranya adalah dengan telanjang kaki.

“Sepi di luar.

Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan.

Tak bergerak

Sampai ke puncak.

Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti.

Menanti.

Menanti.Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala.

Belum apa-apa

Udara bertuba.

Setan bertempik. Ini sepi terus ada.

Dan menanti.”

Lalu, pasangan itu memberikan recehan. Aku telusuri jalanan Dago. Perempatan aku lewati. Dibawah jembatan besar mereka teriakiku. Ah iya, mana aku tahu siapa penguasa di sini.

Lain aku, lain dia, lain pula mereka. Dia hampiri jalanan gelap. Dia bacakan senjatanya. Puisi-puisi Chairil Anwar. Dan tanpa sadar, yang ada di hadapannya bukanlah orang-orang berduit. Bergerombol di hadapannya anak-anak jalanan. Setiap harinya mereka hidup dari mengamen. Dan malam itu, mereka memberikan recehan. Untuk pengamen jadi-jadian.

Lain halnya dengan dia yang keturunan Cina. Dia bilang susah untuk mendapatkan recehan-recehan itu. Sulit.

Puluhan ribu terkumpul dalam hitungan jam. Aku belikan sendal jepit. Ah iya, uang ini banyak juga. Apa jadinya jika aku lakukan ini delapan jam sehari? Jadi masalahnya dimana? Apakah mereka pernah bermimpi jadi orang selain mereka sekarang? Atau mereka sudah puas dengan ini semua. Atau apa?

***

Aku berhenti sejenak sebelum perempatan simpang dago. Hendak membeli bunga untuk seseorang yang aku kagumi. Aku menepi dan mematikan mesin. Aku hendak menawar bunga yang dijualnya. Gadis kecil itu.

Aku tanya apakah dia sekolah? aku tanya berapa dia harus setor? Dia bilang dia harusnya SMP kelas satu. Tapi apa lacur, dia sudah berhenti sejak SD. Lalu berjualan bunga. Ah, bisa saja dia punya kakak. Bisa saja dia seumuranku. Apa yang terjadi pada orang tuanya? Apa jadinya jika ia melanjutkan sekolah? Akan lebih baik kah hidupnya?

Hitungan menunjukkan lampu hijau hendak menyala sebentar lagi. Aku melihat jam tangan. Harus aku bergegas, sebelum kemalaman. Lalu aku pun melintas dengan mawar-mawar putih di tangan.

***

Kami di kantin. Mereka mengamen. Mereka bilang mereka lapar, maka dari itu mereka meminta uang. Seorang pria enggan memberinya uang. Dia bilang, pilih makanannya. Anak-anak itu tidak mau.

Lain kantin, lain pengamen, lain orang. Mereka bilang mereka lapar, maka dari itu mereka meminta uang. Seorang pria sodorkan menu kepada mereka. Anak kecil itu menunjuk gambar, “Chicken Cordon Bleu”. Tak lama kemudian makanan datang dan ia memakannya dengan sangat lahap.

Mereka benar-benar lapar ya?

***

Selalu sekitar Dago. Selalu ada cerita di sana. Cerita tentang pedagang penjual baterai arloji. Cerita tentang tukang kupat tahu. Cerita tentang supir angkot. Cerita tentang mahasiswa-mahasiswa. Cerita tentang tukang parkir. Cerita tentang penjaga warung.

Gelap dan terangnya jalanan dago, seiring dengan berputarnya waktu, telah membawa cerita-cerita baru. Setiap orang punya seribu cara melakukan dosa. Cara melakukan kebaikan pun ada beribu. Perjuangan untuk bertahan hidup tidak pernah lewat cara yang hanya satu. Dan di sana, ada orang-orang yang dengan segenap keberaniannya memegang otoritas.

Selalu dari sekitar dago, cerita-cerita yang mengisi kepalaku dalam beberapa tahun ke belakang. Dan setiap harinya, dengan rasa baru, aku  pulang ke rumah. Merenung dengan rasa baru.

Apalah hidup ini kalau bukan soal rasa? Dan kini rasa itu bernama rindu: Rindu sekitar dago.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s