Ketika Cinta Gundah Gulana

Mungkin salah satu kata yang paling sering jadi pesakitan adalah Cinta. Bagaimana Cinta tidak kesal, apa-apa yang terjadi selalu ia yang disalahkan. Sebutlah orang yang mati bunuh diri, mereka bilang Cinta yang jadi alasan kematiannya. Sebutlah orang yang berkelahi satu sama lain, mereka bilang Cinta yang diperebutkannya. Sebutlah orang yang tidak melakukan apa-apa, mereka bilang Cinta yang membuat mereka hampa. Sebutlah orang yang mau melakukan apa saja, mereka bilang Cinta tak kenal logika.

Tapi Cinta, dari lahir dia selalu menjadi orang yang terlalu baik. Tak mungkin ia memaki orang-orang yang selalu mengatasnamakan dirinya dalam bertindak bodoh. Mereka hanya korban, pikir Cinta. Dan semakin banyak orang yang mengejar Cinta, semakin kencang Cinta berlari. Ia tak ingin membuat mereka terluka, seperti yang sudah-sudah. Hari ini Cinta memang tengah dilanda gundah. Sedang berkecamuk di hatinya, benarkah dirinya yang menyebabkan semua kekacauan ini?

Sometimes, the world of #fable and the world you live in are #overlapped with each other. I once wrote a short fable about House of Heart, where Love was looking for an answer, and this scene quite resembles my imagination.

Mencari sebuah jawaban, ia berkelana. Berpikir ia, mungkin Hati tahu jawabannya? Berlarilah ia ke arah Hati menetap. Lalu ia mengetuk pintu rumahnya. Tak perlu lama menunggu, Hati membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Dengan terengah-engah, Cinta pun masuk dan berterima kasih karena sudah disambut oleh Hati.

“Wahai Cinta, apa yang terjadi, mengapa kau terlihat kelelahan? Duduklah, akan aku buatkan secangkir teh untukmu.”

Cinta pun duduk, mengambil napas panjang. Sementara Hati sedang meramu teh untuk Cinta. Sudah tak tahan menahan gundahnya, Cinta melontarkan pertanyaan kepada Hati.

“Wahai Hati, apakah benar aku yang menyebabkan orang-orang itu bertindak aneh seperti itu?”

Hati hanya diam. Tak lama kemudian ia kembali ke hadapan Cinta sembari membawa tiga cangkir teh untuk dihidangkan di atas meja. Ia pun duduk sembari mempersilahkan Cinta untuk meminum tehnya. Cinta terheran, mengapa ada tiga cangkir teh yang dihidangkan. Hati mampu menangkap ekspresi kebingungan dari Cinta.

“Wahai Cinta, aku percaya bahwa kau sungguh tulus dan murni, aku pikir bukan kau penyebabnya. Tapi ketahuilah, sesungguhnya setiap kali engkau masuk ke dalam rumahku, ada orang lain yang masuk lewat pintu belakang tak lama kemudian.”

“Oh iya? Siapa dia wahai Hati?”

Tak lama kemudian terdengar suara engsel pintu. Pintu belakang terbuka. Dari satu sudut pandang, Cinta melihat sosok yang baru saja menyusup datang itu begitu mirip dengan dirinya.

“Ah benarkah kalian berdua belum pernah berjumpa sebelumnya? Nampaknya kalian harus saling memperkenalkan diri, aku pikir kalian sudah tahu sama tahu” ujar Hati.

Sosok yang baru tiba langsung mendekat dan bergabung di ruang tamu. Tanpa dipersilahkan, ia langsung duduk dan menyambar salah satu cangkir teh, cangkir teh milik Cinta; lalu meminumnya. Cinta terheran, tapi hanya bisa diam. Sementara Hati, ia tidak bisa tinggal diam, ia menegurnya,

“Hei kau, mengapa kau tetap saja seperti ini?”

“Kita sudah berteman lama, Hati. Masihkah kau mau mempertanyakan hal sekonyol itu? Aku ini Cemburu, sudah jelas aku selalu merasa bahwa teh yang kau buat untuknya lebih enak, maka dari itu aku ambil minumannya,” jawab Cemburu dengan santai.

“Oh iya, Cinta, mungkin kita belum pernah berkenalan sebelumnya, tapi aku tahu banyak tentangmu, namaku Cemburu.”

Dengan sedikit canggung, Cinta berkata, “Wah, iya ya. Salam kenal kalau begitu. Ermm, namaku Cinta. Iya, betul, namaku Cinta.”

akankah cerita ini bersambung? Saya pun tidak tahu.. :p

2 thoughts on “Ketika Cinta Gundah Gulana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s