Protected: 31 Desember 2012

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Tentang Life of Pi dan Pencarian

Film Life of Pi dan Gadis Bermeditasi

Beberapa minggu lalu banyak teman saya, menyarankan saya untuk menonton Life of Pi. Entah kenapa tiba-tiba gayung bersambut, saya pun akhirnya menonton Life of Pi sebab kebetulan ada orang yang juga ingin menontonnya. Buat saya pribadi film tersebut bagus, banyak mengungkap realitas yang ada di masyarakat. Tapi, saya masih tidak dapat menangkap bagaimana kisah Pi dapat membuat orang percaya kepada Tuhan. Saya pun bertanya kepada beberapa orang. Bagi beberapa orang, poin utama dari kisah ini adalah ketika ada dua cerita yang diberikan Pi, satu cerita yang di luar akal, satu cerita yang masuk akal. Di situ teman-teman yang saya tanyai pendapatnya berkata bahwa analogi yang diberikan seperti perbedaan “logika Tuhan” dan logika manusia. Jujur saja, kalau seperti itu titik tekannya, saya tidak puas. [http://en.wikipedia.org/wiki/Life_of_Pi]

Beberapa hari setelah saya pertama kali menonton Life of Pi, saya sempat berdiskusi dengan Don Afin tentang Tuhan dalam tinjauan sains atau analogi dalam sains (metafisik yang dianalogikan dengan hukum-hukum fisika). Di situ kami sedikit berbicara tentang konsep bahwa hidup ini sebenarnya hanyalah mimpi. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya sempat mengalami mimpi tiga lapis, dimana mimpi tersebut rasanya sama seperti kenyataan. Dan bukan tidak mungkin hidup kita ini sebenarnya sesingkat mimpi, tidak nyata, hanya main-main belaka, hanya senda gurau belaka.  [bagi yang ingin mengetahui tentang sains dibalik mimpi mungkin bisa menonton ini http://www.youtube.com/watch?v=XB7HqZc2p2Y]

Malam harinya, setelah makan malam di kantin, saya berjalan menuju lab. Di perjalanan menuju lab, saya ingin buang air dan mencari toilet. Pada saat menuju toilet, saya melihat seorang perempuan bermeditasi di salah satu sudut di kampus. Rasa penasaran saya terbangkitkan. Setelah dari toilet, saya duduk di dekat tempat perempuan tersebut bermeditasi. Tak lama kemudian dia selesai bermeditasi. Saya agak bingung sebenarnya, aneh rasanya, tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk mendatanginya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana. Dia pun menjawab bahwa dia sedang melakukan meditasi. Dari pertanyaan simpel tersebut kami pun berbincang cukup lama.

Yang menarik dari perbincangan tersebut adalah perempuan tersebut pernah katolik dan pernah pula memeluk budhism. Namun, pada akhirnya dia memilih untuk menjadi free-thinker dan tidak memeluk suatu agama pun. Meskipun demikian, dia tetap percaya tentang Tuhan dan bahwa semua makhluk sebenarnya terhubung satu sama lain. Agama bagi dia hanyalah cara menuju Tuhan, dan buat dia sama saja. Dia merasa dengan melakukan meditasi, dia bisa menyatu dengan Tuhan lebih cepat, maka dari itu dia tidak memeluk agama tertentu. Selain itu motivasi lain yang membuat dia bermeditasi adalah trauma masa lalu. Dengan bermeditasi, dia akhirnya dapat menepikan pengalaman buruknya dan membuatnya lebih bahagia. Mencari bahagia.

Ujung Kehidupan

Lalu keesokan harinya tiba-tiba saja saya mendapatkan suguhan yang menarik ketika makan malam. Pada akhirnya saya pun kembali tersadar bahwa ini semua bukan lomba. Ini adalah tentang cara Tuhan mengajarkan berbagai pengalaman yang unik untuk setiap makhluknya. Ada satu cerita pendek yang menarik tentang ini, berjudul The Egg. [http://www.galactanet.com/oneoff/theegg_mod.html]

Kemudian beberapa hari kemudian, saya kembali menonton Life of Pi. Di sini hukum newton bekerja. Jika sebelumnya saya mentraktir orang, kali ini giliran saya yang ditraktir. Satu adegan yang menarik yang berkesan buat saya adalah ketika seekor ikan yang cukup besar berhasil ditangkap oleh Pi. Waktu itu Pi sangat khawatir karena Richard Parker sudah sangat kelaparan. Lalu, Pi berkata kurang lebih seperti ini, “Terima kasih Tuhan, kau menyelamatkanku dalam wujud seekor ikan.”

Ini adalah sebuah hal yang menarik buat saya. Ke-Ikhsan-an seperti inilah yang mungkin kita perlukan. Yakni, ketika segala benda tidak terlihat lagi sebagai benda, melainkan sebagai ‘wajah’ Tuhan. Segala hal membuat kita ingat bahwa kita dan Tuhan sangat dekat. Meskipun terkadang kita tidak mau mendengar ‘suara’ dalam hati kita dan menyerah pada ‘suara’ lain.

Hari demi hari berlalu. Seorang teman tiba-tiba bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dalam hidupnya dan bagaimana dia merasa mendapatkan petunjuk Tuhan. Bagi orang-orang yang skeptis, mungkin mereka akan berpendapat bahwa itu hanyalah perasaan saja. Sebenarnya semuanya hanya kebetulan belaka, dan hanya pikiran kita lah yang membuat kita melihat ini semua sebagai petunjuk Tuhan. Tapi, jika berbicara tentang kebetulan, kita mungkin akan berbicara tentang Grand Design dari alam semesta. Ada sebuah film yang bagus untuk ditonton terkait ini http://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs [pada 11:30 diceritakan tentang Game of Life, sebuah simulasi tentang bagaimana aturan yang simpel pada sistem yang kompleks menghasilkan hasil yang sangat dinamis]

Dan.. pada akhirnya setiap orang harus mencari dengan caranya masing-masing 🙂 Namun memang ada kalanya kita harus berhenti memakai otak. Sebab sebagaimana argumen God of the Gaps [https://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs], yang menjadi konstrain adalah waktu.

Ah, mari kita sudahi saja racauan hari ini. Alhamdulillah hari ini simulasi sedikit berprogress dan masih bisa ngeblog lagi. Alhamdulillaaah.p(^-^q) p(^-^)q (p^-^)q

Obrolan Meja Makan Kantin: Riset Ereksiometer?

Akhir-akhir ini saya benar-benar ketagihan The Big Bang Theory. Konon katanya sih kita bakal ketagihan serial kalau kita melihat ada refleksi diri kita pada serial tersebut. Semenjak menjadi mahasiswa Ph.D di NTU, saya bertemu banyak orang baru. Dari yang awalnya saya ke sini hanya mengenal Delphin, Iwan, dan Ina, saya akhirnya mengenal lebih banyak orang. Dari Iwan, saya dikenalkan dengan Aji dan Abi yang waktu itu satu tinggal di satu hostel. Kami sempat menjadi gank berenang bersama. Lalu saya juga berkenalan dengan pasangan aktivis yakni Dinar dan Patrya yang sering memberikan saya kue dan coklat dan lain-lain. Ada juga Mario, Emir, Vina dari gank RSIS. Oh iya ada juga anak-anak undergraduate di sini. Pokoknya banyak deh temen barunya. Nah selain itu saya juga punya gank makan baru. Anggota dari gank makan tersebut tergabung dalam grup whatsapp bernama “Unsisbrozone”. Tergabung di dalamnya tiga orang pria dan dan empat orang wanita. Sebut saja mereka adalah Mas Teguh, Bro Afin, Rousyan, Mbak Fika, Mbak Fitri, Delphin dan Sis Nunu.

Tak jarang obrolan di meja makan tersebut sangat absurd, terkadang tidak kalah absurdnya dengan yang ada di The Big Bang Theory, hanya saja konteksnya banyak diubah menjadi Engineering-sentris. Berhubung Mas Teguh adalah profesor di MAE NTU, beliau sering memberikan wejangan seputar dunia riset. Sebenarnya Mas Teguh ini lebih cocok dipanggil Om Teguh, tapi terlanjur sudah dipanggil Mas. Konon katanya Mas Teguh ini dewa friction, tapi sayang, kita tidak bisa menemukan profilnya di indonesiaproud.com. Oh iya, karena Mas Teguh ini mengajar kuliah, suatu saat saya pernah berkunjung ke ruangannya dan kebetulan beliau sedang memeriksa ujian mahasiswanya. Sebagai seorang mahasiswa yang baru saja ujian, saya shock dan memutuskan untuk undur diri melihat Mas Teguh yang berulang kali menggerutu, “Ini soal gampang-gampang pada gabisa jawab sih”. Haha

Bro Afin dan Mbak Fika juga Ph.D student final year dan banyak memberikan wacana mengenai phdstudentship dan berkontribusi banyak dalam obrolan absurd yang di-scientific-kan. Don Afin adalah orang yang secara absurd berkenalan dengan saya di bus ketika sholat jumat pertama saya di sini. Awalnya saya pikir dia adalah orang India, bukan Indonesia, maka dari itu saya bertanya, “Where is the mosque”, pas bus nya berhenti tepat di depan masjidnya. Don Afin rupanya FT 03 dan sudah banyak mem-publish paper dan sekarang adalah tahun kelimanya di NUS. Sedangkan Mbak Fika, sebenarnya sempat menyandang status sebagai mahasiswa ITB di Informatika. Mbak Fika sudah di tahun keempat program Ph.Dnya dan akan menikah bulan ini dengan seorang dokter. Entahlah, apakah kombinasi computer scientist dengan seorang dokter adalah kombinasi yang bagus? Hahaha, peace, semoga sakinah ma waddah wa rahmah deh mbak.

Sementara itu Mbak Fitri adalah TI UGM 2006 yang terlalu keibuan sehingga saya tidak tega untuk memanggilnya hanya dengan Fitri, selain itu Mbak Fitri juga sudah menikah dengan orang yang bernama Fikri juga (Fikri Sr. ini konon kabarnya akan bergabung juga di NTU mulai semester depan). Lalu, Delphin adalah orang yang saya ospek, ET ITB angkatan 2008, konon katanya Delphin adalah highest GPA di angkatannya. Pergaulan antara Delphin dengan Mbak Fitri rupanya memberikan dampak signifikan pada kemampuan sosial Delphin sampai-sampai Delphin dan Mbak Fitri rela meluangkan waktu mengunjungi panti orang-orang disabled untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Yang terakhir, Sis Nunu adalah seorang yang baru saja bergabung menjadi researcher di Earth Observatory Centre di NTU dan berencana untuk melanjutkan sebagai Ph.D student.

Nah, akhirnya saya bisa mulai masuk ke inti cerita. Huff.

Pada hari Senin, saya dan Bro/Don Afin berbincang sedikit panjang (sedikit apa panjang?) di kantin 11 di malam hari sepulang ngelab. Nah, pada saat kami berbincang mengenai bisnis, Bro Afin bertanya,

“Eh, menurut lo kalo untuk peralatan medis gitu apa ya yang bisa dibikin?”

Karena saya bukan orang biomedik, saya pun berusaha mengingat-ingat teman saya yang dulu tergabung dalam KK Biomedik. Lalu, mendadak saya teringat dengan Yonny Septian, yang sekarang sedang mengambil S2 di bidang ?Computer Science? namun bercita-cita menjadi musisi dan sering ngeblog, yang pernah memposting kisah KP-nya tentang ereksiometer. Kebetulan beberapa bulan yang lalu saya sempat berkunjung ke blog KP ELMMVII sehingga masih segar di ingatan.

“Hmm.. Ereksiometer aja. Temen gue ada yang pernah KP di RSHS dan dokternya kayaknya butuh ereksiometer gitu. Gue pernah googling dan kayaknya udah ada sih barangnya. Cuman kalo dokternya minta, berarti kan di Indo ada pasarnya. Mungkin bisa lo coba.”

Lalu obrolan mengenai prospek bisnis teknologi di industri kesehatan pun berakhir, dilanjutkan dengan obrolan mengenai susahnya hidup tanpa kesombongan.

Hari berganti. Malam ini kami makan malam bersama. Tidak ada Mbak Fika dan Sis Nunu di sana. Sis Nunu sedang di Taiwan dan Mbak Fika.. entah dimana. Nah, tiba-tiba saja dimulai percakapan:

BA: Eh iya Fik, Mas Teguh setuju sama ide lo

MT: Iya Fik, bagus tuh ide lo

RF: Ereksiometer? Loh kan udah ada

BA: Iya, kita juga udah googling, itu bukan elektronik alatnya, masih konvensional

RF: Loh, masa sih? Kan dia namanya meter

BA: Lah kan buat ngukur, makanya meter

MT: Ini konten scientificnya tinggi loh, kita bukan cuman ngomongin dimensi, tapi juga stiffness

Lalu obrolan pun dilanjutkan dengan sedikit penjelasan dari saya bahwa saya pernah mendapatkan informasi bahwa anatomi penis itu masih misterius bagi para ilmuwan biologi.

Memang kalau dipikir-pikir mungkin sampah, mungkin gak penting, dan kesan yang timbul lebih ke pikiran negatif. Tapi jangan salah, adanya ereksiometer ini tentu akan membantu menyelesaikan permasalahan yang diderita ummat manusia. Siapa bilang teknologi harus se-ngeri bom atom atau iron man? Yang penting kan bisa bermanfaat bagi ummat manusia. Lagi pula, rasanya memodelkan anatomi penis sendiri tidaklah mudah.

Sempat ada selentingan sedikit, mungkin nanti alat ini bisa dipasarkan pada Mak Erot dan lain sebagainya. Tapi Bro Afin menyanggah dengan argumen bahwa Mak Erot memakai ukuran sebagai parameter, bukan stiffness. Dan sesungguhnya dua wanita yang ikut bergabung di meja makan hanya bisa tertawa kecil saja tanpa ikut lebih jauh dalam pembicaraan dengan sedikit kebingungan. Sementara para pria masih mengkhayal, bagaimana apabila nanti kita ciptakan juga solusi bagi yang bermasalah: eksoskeleton! Tentu saja nanti akan berhubungan dengan neuroscience. Dan bukan tidak mungkin ke depannya dengan memanfaatkan sinyal listrik yang diberikan pada saraf tertentu, kita akan bisa mendapatkan stiffness yang diinginkan.

Imajinasi pun berkembang lebih jauh hingga khayalan tentang virtual reality untuk yang LDR. Di sini salah seorang wanita mulai ikut banyak komentar. Saya sendiri lebih berpikir tentang pemodelan anatomi penis. Siapa tahu bisa diimplementasikan untuk bangunan tahan gempa?

Lalu obrolan yang seru pun mulai beralih menjadi obrolan yang sangat humiliating buat saya. Tiba-tiba tidak ada salah seorang pun yang suportif kepada saya semenjak saya diduga menderita penyakit dunia ketiga. Saya yang memesan chicken cutlet dengan spaghetti pun kehilangan selera makan dan berencana langsung ke Jurong Point untuk membeli obat bagi penyakit saya, yang diduga berasal dari dunia ketiga. Bro Afin pun sebagai senior yang baik menemani saya sebab dia juga ingin membeli sesuatu.

Setelah selesai dari Jurong Point, saya kembali ke lab. Selama perjalanan, Don Afin mempertegas bahwa obrolan tersebut bukan main-main.

RF: Hah masa sih?

BA: Beneran. Gue sama Mas Teguh udah ngomongin itu serius tadi

Lalu saya pun kembali bergelut dengan MUSIC Algorithm. Setelah berhari-hari tidak menemukan titik temu, akhirnya saya sedikit menggunakan metode yang lain untuk menyimulasikan sesuatu. Yah hari ini cukup berprogress lah, meskipun belum sesuai target. Setidaknya besok saya bisa melangkah ke tahap berikutnya. Dan, entah mengapa saya ingin simulasi ini segera jalan. Ada suara dalam hati yang ingin segera publish paper, sebagaimana obrolan dengan Aditya Prabaswara di gtalk:

AP: duh gw pengen banget punya paper nih
RF: sama dit
AP: itu kayak pembuktian diri grad student gitu
Apalagi sekarang saya juga diajak untuk ikut mengelola Indonesian Scholars Journal. Terkait dengan pembuatan jurnal pelajar ini, sebenarnya kalau mau jadi informed pessimist bisa sih, tapi sampai detik ini ada satu kata dari Bung Iwa yang terngiang, “Malu aja sih kalo kita ga bisa buat.” 

Oh iya, akhirnya jam 11 saya menyerah dan dengan hokinya langsung disamperin bus begitu sampai di halte. Sebenarnya masih banyak hal lain di luar riset yang harus saya kerjakan, tapi rasanya malam ini belum sempet juga karena waktunya dipakai untuk ngeblog.

Hidup hidup.. dinamikanya itu yang membuat hidup menjadi seru. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan saya banyak karunia.

Pesan Sponsor: hari ini sudah triple twelve, Don Afin akhirnya bertambah tua menjadi sangat tua. Semoga cepat lulus Ph.D dan nikah bro! Haha

Blekhol and Revelaisyen

“Lo suka cerita, tapi lo nggak pernah cerita tentang diri lo”

Saya cukup terkejut hari ini. Akhirnya ada seorang teman yang menyadari bahwa saya sebenarnya sangat introvert. Menarik. Saya pun jadi teringat pertama kali saya membuka pintu berkas rahasia dari dalam diri saya. Tidak mudah, tapi akhirnya orang itu ada. Mungkin di dunia ini, dia adalah orang pertama yang benar-benar saya percaya. Mungkin jika tidak ada dia, saya pun tidak akan pernah berani bercerita banyak hal kepada beberapa teman.

Saya yang introvert ini konon menyimpan ambisi di dalam hati. Namun, sesuai kata demi kata yang tertuang pada psikotes, saya adalah orang yang angin-anginan. Saya perfeksionis dan ambisius, tetapi angin-anginan. Jika saya benar-benar menginginkan sesuatu, saya akan benar-benar mengerahkan segala yang saya punya.

Dan rupanya perjuangan saya untuk mengenali diri saya sendiri terus berlanjut bahkan sampai sekarang. Mempertanyakan kembali jalan seperti apa yang harus saya ambil. Bertanya kembali mengapa sains dan agama sepertinya tidak bisa akur.

Messiah complex. Benarkah dunia ini dibangun oleh orang-orang messiah complex? Mengapa agama dari tanah arab tetap survive? Mengapa agama Islam turun di Arab? Mengapa manusia berperang? Benarkah apa yang sains itu benar? Mengapa terjadi kesenjangan di dunia? Seperti apakah dimensi ke-empat itu?

Lalu ditarik kembali, apa yang harus saya lakukan? Apa yang saya suka? Benarkah saya seharusnya ada di sini? Mengapa? Kapan ini akan berlalu?

Satu semester di sini saya habiskan dengan banyak buku dan video youtube, dan kebanyakan justru bukan tentang riset atau kuliah. Menarik.

Pada akhirnya toh ujung-ujungnya manusia haus akan jawaban yang berkaitan dengan kehidupan setelah mati dan penciptaan. Manusia adalah curious being. Dan semua orang harus menjalani ini semua dan menemukan jawaban dari pertanyaan besar dalam hidupnya. Sebelum habis life time-nya:

Oh iya, saya sangat menyarankan teman-teman yang bingung mengisi waktu luangnya untuk menonton Crashcourse world history di waktu senggang; mengikuti TechCrunch di wordpress; dan menuliskan kontemplasi teman-teman. Someday it will benefit you..

 

 

Hello Again!

I can’t believe that my first semester’s already passed. As I finished my last paper on Machine Vision two days ago, examination period was over. What a relief. Now, I am free from learning something I don’t want to know. Now, I can go back into the jungle of research.

Starting from yesterday, I continued to write simulation code for a stepped radar. I have been trying to apply a new algorithm which works like MUSIC algorithm. Of course up to now, my simulation is not yet running correctly. Even the MUSIC algorithm itself is not working properly. But on the other hand, the new algorithm is being a good approximation for the MUSIC algorithm, this is a positive appeal which makes me think that not all of this work is a waste 😀

Yeah of course many people say that this is what we called research. It is not a research if it is working in the first place, as they said “Failure? Get upset, get up, and get on with it!”. I think I need to learn the basic concept of antenna array again, since I did not even grasp the  whole idea of this thing. All I am trying to do is, I want to produce result quickly, so I thought it would be better if I just try to work on code directly. Unfortunately, this attempt has succeed to lead me into confusion. There are many papers on my desk, I try to compare all of them, try to find the correlation between this and that, matching matrices dimensions, and so on.  But in the end, I draw a conclusion that I should read again the basic theory. A man once said that a true master is the one who master the basic concept.

I guess time does fly. Many things happened during my first semester. I was experiencing many ups and downs. There are many stories I want to tell you, I think I will make another post later. See you!

Gelap Tiada Lagi

Dua kaki yang dipergunakan melangkah di malam hari

Menopang badan dan kepala yang penuh dengan asa esok hari

Rasanya esok mentari akan bersinar sangat terang

Tak akan ia kalah oleh bulan yang begitu benderang

 

Satu, dua, dan tiga, cinta dan harapan menjadi benang kusut

Setiap pertemuan mengubah arti kehidupan dengan lembut

Sekejap bahagia berubah menjadi penderitaan

Sekecap manis berubah menjadi pahit tak tertahankan

 

Tuhan sudah bilang, jangan pernah kau mengeluh

Kamus pun sudah kau coreti hitam di atas kata suram

Tapi, waktu tak pernah menyerah, memaksa untuk menguji

Digulingkannya kita pada jurang dalam

Meskipun pernah kita terperosok dan telah bangkit lagi

 

Kini gelap

Harus kau terima

Meski tak sanggup kau tinggal bersama

Terima dan hanya terima

 

Lalu suatu saat semua berlalu kembali

Gelap tiada lagi

Kembali kita duduk berbaring di puncak gunung tertinggi

Bahwa hidup hanyalah menanti menatap mentari

Bersama mereka yang melalui rute yang lain

 

Lalu aku teriak sembari berdiri

Gelap tiada lagi

Selamat pagi!