Obrolan Meja Makan Kantin: Riset Ereksiometer?

Akhir-akhir ini saya benar-benar ketagihan The Big Bang Theory. Konon katanya sih kita bakal ketagihan serial kalau kita melihat ada refleksi diri kita pada serial tersebut. Semenjak menjadi mahasiswa Ph.D di NTU, saya bertemu banyak orang baru. Dari yang awalnya saya ke sini hanya mengenal Delphin, Iwan, dan Ina, saya akhirnya mengenal lebih banyak orang. Dari Iwan, saya dikenalkan dengan Aji dan Abi yang waktu itu satu tinggal di satu hostel. Kami sempat menjadi gank berenang bersama. Lalu saya juga berkenalan dengan pasangan aktivis yakni Dinar dan Patrya yang sering memberikan saya kue dan coklat dan lain-lain. Ada juga Mario, Emir, Vina dari gank RSIS. Oh iya ada juga anak-anak undergraduate di sini. Pokoknya banyak deh temen barunya. Nah selain itu saya juga punya gank makan baru. Anggota dari gank makan tersebut tergabung dalam grup whatsapp bernama “Unsisbrozone”. Tergabung di dalamnya tiga orang pria dan dan empat orang wanita. Sebut saja mereka adalah Mas Teguh, Bro Afin, Rousyan, Mbak Fika, Mbak Fitri, Delphin dan Sis Nunu.

Tak jarang obrolan di meja makan tersebut sangat absurd, terkadang tidak kalah absurdnya dengan yang ada di The Big Bang Theory, hanya saja konteksnya banyak diubah menjadi Engineering-sentris. Berhubung Mas Teguh adalah profesor di MAE NTU, beliau sering memberikan wejangan seputar dunia riset. Sebenarnya Mas Teguh ini lebih cocok dipanggil Om Teguh, tapi terlanjur sudah dipanggil Mas. Konon katanya Mas Teguh ini dewa friction, tapi sayang, kita tidak bisa menemukan profilnya di indonesiaproud.com. Oh iya, karena Mas Teguh ini mengajar kuliah, suatu saat saya pernah berkunjung ke ruangannya dan kebetulan beliau sedang memeriksa ujian mahasiswanya. Sebagai seorang mahasiswa yang baru saja ujian, saya shock dan memutuskan untuk undur diri melihat Mas Teguh yang berulang kali menggerutu, “Ini soal gampang-gampang pada gabisa jawab sih”. Haha

Bro Afin dan Mbak Fika juga Ph.D student final year dan banyak memberikan wacana mengenai phdstudentship dan berkontribusi banyak dalam obrolan absurd yang di-scientific-kan. Don Afin adalah orang yang secara absurd berkenalan dengan saya di bus ketika sholat jumat pertama saya di sini. Awalnya saya pikir dia adalah orang India, bukan Indonesia, maka dari itu saya bertanya, “Where is the mosque”, pas bus nya berhenti tepat di depan masjidnya. Don Afin rupanya FT 03 dan sudah banyak mem-publish paper dan sekarang adalah tahun kelimanya di NUS. Sedangkan Mbak Fika, sebenarnya sempat menyandang status sebagai mahasiswa ITB di Informatika. Mbak Fika sudah di tahun keempat program Ph.Dnya dan akan menikah bulan ini dengan seorang dokter. Entahlah, apakah kombinasi computer scientist dengan seorang dokter adalah kombinasi yang bagus? Hahaha, peace, semoga sakinah ma waddah wa rahmah deh mbak.

Sementara itu Mbak Fitri adalah TI UGM 2006 yang terlalu keibuan sehingga saya tidak tega untuk memanggilnya hanya dengan Fitri, selain itu Mbak Fitri juga sudah menikah dengan orang yang bernama Fikri juga (Fikri Sr. ini konon kabarnya akan bergabung juga di NTU mulai semester depan). Lalu, Delphin adalah orang yang saya ospek, ET ITB angkatan 2008, konon katanya Delphin adalah highest GPA di angkatannya. Pergaulan antara Delphin dengan Mbak Fitri rupanya memberikan dampak signifikan pada kemampuan sosial Delphin sampai-sampai Delphin dan Mbak Fitri rela meluangkan waktu mengunjungi panti orang-orang disabled untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Yang terakhir, Sis Nunu adalah seorang yang baru saja bergabung menjadi researcher di Earth Observatory Centre di NTU dan berencana untuk melanjutkan sebagai Ph.D student.

Nah, akhirnya saya bisa mulai masuk ke inti cerita. Huff.

Pada hari Senin, saya dan Bro/Don Afin berbincang sedikit panjang (sedikit apa panjang?) di kantin 11 di malam hari sepulang ngelab. Nah, pada saat kami berbincang mengenai bisnis, Bro Afin bertanya,

“Eh, menurut lo kalo untuk peralatan medis gitu apa ya yang bisa dibikin?”

Karena saya bukan orang biomedik, saya pun berusaha mengingat-ingat teman saya yang dulu tergabung dalam KK Biomedik. Lalu, mendadak saya teringat dengan Yonny Septian, yang sekarang sedang mengambil S2 di bidang ?Computer Science? namun bercita-cita menjadi musisi dan sering ngeblog, yang pernah memposting kisah KP-nya tentang ereksiometer. Kebetulan beberapa bulan yang lalu saya sempat berkunjung ke blog KP ELMMVII sehingga masih segar di ingatan.

“Hmm.. Ereksiometer aja. Temen gue ada yang pernah KP di RSHS dan dokternya kayaknya butuh ereksiometer gitu. Gue pernah googling dan kayaknya udah ada sih barangnya. Cuman kalo dokternya minta, berarti kan di Indo ada pasarnya. Mungkin bisa lo coba.”

Lalu obrolan mengenai prospek bisnis teknologi di industri kesehatan pun berakhir, dilanjutkan dengan obrolan mengenai susahnya hidup tanpa kesombongan.

Hari berganti. Malam ini kami makan malam bersama. Tidak ada Mbak Fika dan Sis Nunu di sana. Sis Nunu sedang di Taiwan dan Mbak Fika.. entah dimana. Nah, tiba-tiba saja dimulai percakapan:

BA: Eh iya Fik, Mas Teguh setuju sama ide lo

MT: Iya Fik, bagus tuh ide lo

RF: Ereksiometer? Loh kan udah ada

BA: Iya, kita juga udah googling, itu bukan elektronik alatnya, masih konvensional

RF: Loh, masa sih? Kan dia namanya meter

BA: Lah kan buat ngukur, makanya meter

MT: Ini konten scientificnya tinggi loh, kita bukan cuman ngomongin dimensi, tapi juga stiffness

Lalu obrolan pun dilanjutkan dengan sedikit penjelasan dari saya bahwa saya pernah mendapatkan informasi bahwa anatomi penis itu masih misterius bagi para ilmuwan biologi.

Memang kalau dipikir-pikir mungkin sampah, mungkin gak penting, dan kesan yang timbul lebih ke pikiran negatif. Tapi jangan salah, adanya ereksiometer ini tentu akan membantu menyelesaikan permasalahan yang diderita ummat manusia. Siapa bilang teknologi harus se-ngeri bom atom atau iron man? Yang penting kan bisa bermanfaat bagi ummat manusia. Lagi pula, rasanya memodelkan anatomi penis sendiri tidaklah mudah.

Sempat ada selentingan sedikit, mungkin nanti alat ini bisa dipasarkan pada Mak Erot dan lain sebagainya. Tapi Bro Afin menyanggah dengan argumen bahwa Mak Erot memakai ukuran sebagai parameter, bukan stiffness. Dan sesungguhnya dua wanita yang ikut bergabung di meja makan hanya bisa tertawa kecil saja tanpa ikut lebih jauh dalam pembicaraan dengan sedikit kebingungan. Sementara para pria masih mengkhayal, bagaimana apabila nanti kita ciptakan juga solusi bagi yang bermasalah: eksoskeleton! Tentu saja nanti akan berhubungan dengan neuroscience. Dan bukan tidak mungkin ke depannya dengan memanfaatkan sinyal listrik yang diberikan pada saraf tertentu, kita akan bisa mendapatkan stiffness yang diinginkan.

Imajinasi pun berkembang lebih jauh hingga khayalan tentang virtual reality untuk yang LDR. Di sini salah seorang wanita mulai ikut banyak komentar. Saya sendiri lebih berpikir tentang pemodelan anatomi penis. Siapa tahu bisa diimplementasikan untuk bangunan tahan gempa?

Lalu obrolan yang seru pun mulai beralih menjadi obrolan yang sangat humiliating buat saya. Tiba-tiba tidak ada salah seorang pun yang suportif kepada saya semenjak saya diduga menderita penyakit dunia ketiga. Saya yang memesan chicken cutlet dengan spaghetti pun kehilangan selera makan dan berencana langsung ke Jurong Point untuk membeli obat bagi penyakit saya, yang diduga berasal dari dunia ketiga. Bro Afin pun sebagai senior yang baik menemani saya sebab dia juga ingin membeli sesuatu.

Setelah selesai dari Jurong Point, saya kembali ke lab. Selama perjalanan, Don Afin mempertegas bahwa obrolan tersebut bukan main-main.

RF: Hah masa sih?

BA: Beneran. Gue sama Mas Teguh udah ngomongin itu serius tadi

Lalu saya pun kembali bergelut dengan MUSIC Algorithm. Setelah berhari-hari tidak menemukan titik temu, akhirnya saya sedikit menggunakan metode yang lain untuk menyimulasikan sesuatu. Yah hari ini cukup berprogress lah, meskipun belum sesuai target. Setidaknya besok saya bisa melangkah ke tahap berikutnya. Dan, entah mengapa saya ingin simulasi ini segera jalan. Ada suara dalam hati yang ingin segera publish paper, sebagaimana obrolan dengan Aditya Prabaswara di gtalk:

AP: duh gw pengen banget punya paper nih
RF: sama dit
AP: itu kayak pembuktian diri grad student gitu
Apalagi sekarang saya juga diajak untuk ikut mengelola Indonesian Scholars Journal. Terkait dengan pembuatan jurnal pelajar ini, sebenarnya kalau mau jadi informed pessimist bisa sih, tapi sampai detik ini ada satu kata dari Bung Iwa yang terngiang, “Malu aja sih kalo kita ga bisa buat.” 

Oh iya, akhirnya jam 11 saya menyerah dan dengan hokinya langsung disamperin bus begitu sampai di halte. Sebenarnya masih banyak hal lain di luar riset yang harus saya kerjakan, tapi rasanya malam ini belum sempet juga karena waktunya dipakai untuk ngeblog.

Hidup hidup.. dinamikanya itu yang membuat hidup menjadi seru. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan saya banyak karunia.

Pesan Sponsor: hari ini sudah triple twelve, Don Afin akhirnya bertambah tua menjadi sangat tua. Semoga cepat lulus Ph.D dan nikah bro! Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s