Tentang Life of Pi dan Pencarian

Film Life of Pi dan Gadis Bermeditasi

Beberapa minggu lalu banyak teman saya, menyarankan saya untuk menonton Life of Pi. Entah kenapa tiba-tiba gayung bersambut, saya pun akhirnya menonton Life of Pi sebab kebetulan ada orang yang juga ingin menontonnya. Buat saya pribadi film tersebut bagus, banyak mengungkap realitas yang ada di masyarakat. Tapi, saya masih tidak dapat menangkap bagaimana kisah Pi dapat membuat orang percaya kepada Tuhan. Saya pun bertanya kepada beberapa orang. Bagi beberapa orang, poin utama dari kisah ini adalah ketika ada dua cerita yang diberikan Pi, satu cerita yang di luar akal, satu cerita yang masuk akal. Di situ teman-teman yang saya tanyai pendapatnya berkata bahwa analogi yang diberikan seperti perbedaan “logika Tuhan” dan logika manusia. Jujur saja, kalau seperti itu titik tekannya, saya tidak puas. [http://en.wikipedia.org/wiki/Life_of_Pi]

Beberapa hari setelah saya pertama kali menonton Life of Pi, saya sempat berdiskusi dengan Don Afin tentang Tuhan dalam tinjauan sains atau analogi dalam sains (metafisik yang dianalogikan dengan hukum-hukum fisika). Di situ kami sedikit berbicara tentang konsep bahwa hidup ini sebenarnya hanyalah mimpi. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya sempat mengalami mimpi tiga lapis, dimana mimpi tersebut rasanya sama seperti kenyataan. Dan bukan tidak mungkin hidup kita ini sebenarnya sesingkat mimpi, tidak nyata, hanya main-main belaka, hanya senda gurau belaka.  [bagi yang ingin mengetahui tentang sains dibalik mimpi mungkin bisa menonton ini http://www.youtube.com/watch?v=XB7HqZc2p2Y]

Malam harinya, setelah makan malam di kantin, saya berjalan menuju lab. Di perjalanan menuju lab, saya ingin buang air dan mencari toilet. Pada saat menuju toilet, saya melihat seorang perempuan bermeditasi di salah satu sudut di kampus. Rasa penasaran saya terbangkitkan. Setelah dari toilet, saya duduk di dekat tempat perempuan tersebut bermeditasi. Tak lama kemudian dia selesai bermeditasi. Saya agak bingung sebenarnya, aneh rasanya, tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk mendatanginya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana. Dia pun menjawab bahwa dia sedang melakukan meditasi. Dari pertanyaan simpel tersebut kami pun berbincang cukup lama.

Yang menarik dari perbincangan tersebut adalah perempuan tersebut pernah katolik dan pernah pula memeluk budhism. Namun, pada akhirnya dia memilih untuk menjadi free-thinker dan tidak memeluk suatu agama pun. Meskipun demikian, dia tetap percaya tentang Tuhan dan bahwa semua makhluk sebenarnya terhubung satu sama lain. Agama bagi dia hanyalah cara menuju Tuhan, dan buat dia sama saja. Dia merasa dengan melakukan meditasi, dia bisa menyatu dengan Tuhan lebih cepat, maka dari itu dia tidak memeluk agama tertentu. Selain itu motivasi lain yang membuat dia bermeditasi adalah trauma masa lalu. Dengan bermeditasi, dia akhirnya dapat menepikan pengalaman buruknya dan membuatnya lebih bahagia. Mencari bahagia.

Ujung Kehidupan

Lalu keesokan harinya tiba-tiba saja saya mendapatkan suguhan yang menarik ketika makan malam. Pada akhirnya saya pun kembali tersadar bahwa ini semua bukan lomba. Ini adalah tentang cara Tuhan mengajarkan berbagai pengalaman yang unik untuk setiap makhluknya. Ada satu cerita pendek yang menarik tentang ini, berjudul The Egg. [http://www.galactanet.com/oneoff/theegg_mod.html]

Kemudian beberapa hari kemudian, saya kembali menonton Life of Pi. Di sini hukum newton bekerja. Jika sebelumnya saya mentraktir orang, kali ini giliran saya yang ditraktir. Satu adegan yang menarik yang berkesan buat saya adalah ketika seekor ikan yang cukup besar berhasil ditangkap oleh Pi. Waktu itu Pi sangat khawatir karena Richard Parker sudah sangat kelaparan. Lalu, Pi berkata kurang lebih seperti ini, “Terima kasih Tuhan, kau menyelamatkanku dalam wujud seekor ikan.”

Ini adalah sebuah hal yang menarik buat saya. Ke-Ikhsan-an seperti inilah yang mungkin kita perlukan. Yakni, ketika segala benda tidak terlihat lagi sebagai benda, melainkan sebagai ‘wajah’ Tuhan. Segala hal membuat kita ingat bahwa kita dan Tuhan sangat dekat. Meskipun terkadang kita tidak mau mendengar ‘suara’ dalam hati kita dan menyerah pada ‘suara’ lain.

Hari demi hari berlalu. Seorang teman tiba-tiba bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dalam hidupnya dan bagaimana dia merasa mendapatkan petunjuk Tuhan. Bagi orang-orang yang skeptis, mungkin mereka akan berpendapat bahwa itu hanyalah perasaan saja. Sebenarnya semuanya hanya kebetulan belaka, dan hanya pikiran kita lah yang membuat kita melihat ini semua sebagai petunjuk Tuhan. Tapi, jika berbicara tentang kebetulan, kita mungkin akan berbicara tentang Grand Design dari alam semesta. Ada sebuah film yang bagus untuk ditonton terkait ini http://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs [pada 11:30 diceritakan tentang Game of Life, sebuah simulasi tentang bagaimana aturan yang simpel pada sistem yang kompleks menghasilkan hasil yang sangat dinamis]

Dan.. pada akhirnya setiap orang harus mencari dengan caranya masing-masing🙂 Namun memang ada kalanya kita harus berhenti memakai otak. Sebab sebagaimana argumen God of the Gaps [https://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs], yang menjadi konstrain adalah waktu.

Ah, mari kita sudahi saja racauan hari ini. Alhamdulillah hari ini simulasi sedikit berprogress dan masih bisa ngeblog lagi. Alhamdulillaaah.p(^-^q) p(^-^)q (p^-^)q

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s