Si Raja Bolos Sejak TK

Hari ini saya mau cerita dikit aja. Lucu kalau saya ingat masa kecil saya. Sejak kecil saya suka membolos, termasuk ketika saya masih di bangku Taman Kanak-kanak. Saya ingat bahwa saya pernah membolos waktu jam pelajaran, kabur ke sungai dan kabur ke kuburan untuk uji nyali. Selain itu saya juga sering tidak masuk sekolah. Hal ini diperparah ketika saya berlibur ke Cilegon, ke kampung Ayah saya. Di sana saya belajar bersepeda, membaca, menulis, berhitung, dan iqra.

Masih sangat segar di ingatan saya ketika saya pertama kali bisa menemukan “balance” pada saat mengayuh sepeda. Saat itu saya sedang jalan menanjak. Saya sangat bersemangat dan antusias ketika saya mendapati bahwa saya bisa mengayuh sepeda roda dua dengan seimbang. Namun, karena saya terlarut dalam euforia sesaat, tak lama kemudian keseimbangan saya hilang dan saya menabrak tiang jemuran di jalan. Saya lalu kabur. Continue reading “Si Raja Bolos Sejak TK”

Advertisements

“Gradient Search”

So, I had this conversation with Afin in the lunch time. I asked him whether predictive control is the same animal as adaptive filter. To the best of my knowledge, adaptive filter could be used as predictive filter which could obtain the transfer function producing the future input as the present output. According to him, these two are closely related. The difference between them is the actuating process. In adaptive filtering, we only predict the future input without actuating the thing.

He said that predictive control is not actually applicable up to this day. It is really hard to implement. As we all know, feedback is always a double-edged sword. If we are not careful to employ this sword, it could backfire. But then, if this predictive control is not really applicable, why do people keep doing research on Cognitive Radar? If such a thing could not be implemented well in a control system, why we would use that in Radar? Maybe because it’s never been used before?

Ermm.. anyway, we also talked about Gradient Search.. and I don’t know, it’s just like in life.. sometimes we have no clue of the optimum path we should take. So, sometimes we use this ‘gradient search’, trying to go with the flow.. just follow where the wind blows, only face the thing you can clearly see..

And maybe, currently I am on this ‘Gradient Search’ mode..  Continue reading ““Gradient Search””

Saya Lelah dan Kesal dengan Kebencian

Saya di sini hanya ingin bercerita sedikit tentang kebencian. Entah kenapa saya melihat bahwa dunia ini selain dipenuhi oleh cinta kasih, juga dipenuhi dengan kebencian yang menjalar, diimbuhi sedikit kesombongan.

Sering banget, saya melihat teman-teman saya atau mungkin saya sendiri terjebak dalam lingkaran ini. Entah kenapa mudah sekali rasanya membicarakan kejelekan orang atau orang-orang atau membenci sesuatu. Baik itu di blog, di twitter, di tumblr, di messenger, atau di obrolan sehari-hari. Entah kenapa ya, terkadang saya tidak menyukai kondisi dimana ada seseorang yang kesal dengan sesuatu. Sebenernya tidak menjadi masalah apabila orang tersebut mengungkapkannya dengan halus dan tanpa emosi.

“Gue nggak ngerti deh kenapa sih orang itu melakukan itu.”

“Turut prihatin.”

“Kalo gini gini gini, kenapa nggak gini gini gini?”

Kata-kata di atas tentu menjadi kata yang sering kita dengar sehari-hari, mau itu soal kehidupan sosial, agama, dll. Nah, kalau melihat konten dan konteks dari teksnya sih sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi, buat saya yang salah di sini adalah ketika kata-kata atau tulisan itu ditulis dengan emosi dan kebencian.

Kenapa sih kita harus membenci sesuatu? Kenapa kita nggak mencoba untuk tidak menyukainya saja? 

Ya, menjadi kritis itu baik, menurut saya. Mau itu soal agama, soal sosial, dan soal apapun, berpikir kritis itu perlu. Tapi, kebencian itu tidak pernah baik dan tidak akan membawa kebaikan. Kalau kita bersikap kritis atas dasar kebencian, ini semua akan mengungkung diri kita pada kesombongan.

Dan hanya kesombonganlah yang semakin membuat dunia ini hancur. Sebab dengan menjadi sombong, kita akan merasa diri kita yang paling benar. Di saat itulah kita akan berhenti untuk mencoba memahami orang lain. Padahal, ketika kita telah berhenti untuk mencoba memahami orang lain, di situlah kita sudah kehilangan kemampuan untuk menjadi makhluk sosial yang baik.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang teman saya, “Kalo lo, lo udah mau cabut dan bodo amat sama gelar, pasti lo udah dapet banyak hal kan di sini, apa aja tuh?”

“Banyak sih, salah satu yang paling gue suka dari sini adalah cara orang menyalahkan. Mereka gak pernah nyalahin orangnya. Yang mereka serang adalah viewnya.. they prefer to say ‘your stance is wrong’ instead of ‘you are wrong’. Gue bikin program terus salah, yang dimaki-maki program gue, ‘bego ya programnya’, kalo di indo, mungkin gue udah dikata-katain tolol kali.”

Ya, tidak bisakah kita memilih untuk tidak menyukai sifat atau kesalahannya saja tanpa menjudge orangnya? Tak bisakah kita berhenti melabeli sekelompok orang yang melakukan kesalahan yang tidak kita sukai? Tidak bisakah kita tidak membenci hal-hal yang buruk, tak bisakah kita hanya sekedar tidak menyukainya?

Dan pada akhirnya, tak bisakah ketika ada satu atau dua hal yang mengganggu pikiran kita, kita diamkan sejenak di kepala? Kita telaah dengan sadar, perlukah kita mengeluarkan cacian dan emosi dalam bentuk kebencian?

Seriuslah, rasanya saya ingin bisa melihat orang-orang di sekitar kita yang lebih bisa berbagi cinta dan kasih ketimbang menebar kebencian dan kesombongan hanya karena hal-hal kecil dan sepele.. (yah, hal besar pun sama sih)..

Ah ya, bahkan mungkin di postingan ini ada sedikit rasa kebencian atau geram.. lihat saja dari judulnya..

Ah ya, kita hidup di dunia yang penuh kemunafikan.

Research-Development Whatsoever

Right after attending Research Methods yesterday, I started to wonder about many things. The class itself was very boring. The lecturer admitted it would be very hard to teach how to do research within this course, so what he’s gonna do is to share his experience. This time was the second time he teaches this class. While the lecture was going on, there were a few times he didn’t say anything for a while. All he did was trying to find what line to say on his paper. My friend even whispered to me,”He’s like a politician trying to deliver speech”. And then, everyone started to laugh softly. Though there was some awkward moments when he taught us, what he’s trying to deliver was meaningful indeed.

The first interesting topic was “Innovation”. Actually, we had this guest lecturer from MIT in the previous week. Unfortunately, I couldn’t attend the class because I had to attend another class. But, thanks to technology, I still can watch the recorded lecturer (in edventure) and even the flash presentation (http://nanohub.org/resources/8548/supportingdocs). So, it’s about re-defining innovation.

And then I started to think again what should I do.. questioning myself.. my purpose..

So, what I am currently doing is still in the so called development phase? How am I supposed to do this research?

Is it possible that if I continue to work on what I’m just starting, I will make some impact to the world?

Why did I choose this option? What’s my real purpose actually? Am I in the right path?

Oh, Men.. these all are just tools..

What should I do?

Ermrmrmrmrm..

And then I realize that Indonesia is being faaaaaaaaaaaaaaaaaaar left. And I don’t know how I could make a change and bring up a better situation..

well, the more essential question I should ask to myself is.. how could you make a change if you can’t even change yourself.. All you have to do now is to prove that you are able to invent your own future..

But then, it makes a crazy loop.. because if I want to invent my future, I have to know first what kind of future that I see..

I have no clear vision right now.. Erghh

Well, I know this post is meaningless.. It’s like I don’t have any single point to be pointed out on this post..

I don’t know, in all of a sudden, I’m tired of writing this post..

And Grammar Nazi, don’t kill this post. It’s not an academic writing.. its just an absurd-mumbling-post

Perbedaan itu ada di..

Tidak semua orang beruntung dan bisa terlahir dalam kondisi yang sama dengan kebanyakan orang. Lahir tanpa cacat, mendapatkan asupan nutrisi yang cukup hingga berkembang dengan sehat. Lalu, memiliki kesempatan untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung, hingga akhirnya pendidikan formal pun bisa dimiliki. Tak semua orang beruntung dan bisa mendapatkan berbagai fasilitas yang mencukupi kebutuhan, sebab kebetulan orang tuanya mampu.

Juga tak semua orang mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dalam suatu tataran keluarga yang utuh. Ada Bapak yang pagi-pagi sudah bersiap berangkat kerja ke kantor. Sebelum berangkat sekolah bisa mencicipi sarapan buatan Ibu. Lalu, bersama dengan adik-adik yang sangat akrab, mencium tangan orang tua, sebelum akhirnya diantarkan ke sekolah.

Bebas bercita-cita. Sebab dunia yang dilihat begitu luas. Semuanya terasa mungkin. Tak ada yang tak bisa dilakukan. Tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang diinginkan. Apa yang dimau selalu bisa didapatkan. Tak perlu berpikir tentang hidup susah. Ya, untuk apa hidup susah, akhir pekan pun pasti bisa bertemu dengan seluruh anggota keluarga, bercengkrama, dan bersendagurau bersama. Harmonis, indah, saling menghormati, saling terbuka.

Tapi, ada pula mereka yang ditakdirkan untuk memiliki kehidupan berbeda. Buat orang-orang seperti ini, mereka harus siap menerima kenyataan bahwa yang ia alami memang tak pernah ‘biasa’.

Ada yang ibunya tak bisa memasak, dan selalu sibuk bekerja. Jika anaknya sedang mencari perhatian, yang diberikannya adalah uang agar si anak tak mengganggu pekerjaannya. Ada yang ayahnya seorang pejabat yang selalu sibuk rapat ke sana kemari. Ayah tak pernah ada waktu untuk mengobrol. Yah, sesekali ayah mengajak jalan-jalan untuk membeli mainan dan pakaian, atau sekedar makan di restoran. Tapi Ayah, tetap akan sibuk dengan telepon genggamnya. Adik atau Kakak? Ah, mereka punya kehidupannya masing-masing. Jarak dalam ruang boleh sangat dekat, tapi jarak dalam batin jauh menuju tak hingga.

Ada pula yang orang tuanya berpisah. Dari kecil anak-anak terbiasa melihat pertengkaran. Kesibukan dalam pekerjaan dan konflik dalam hubungan tak jarang membuat anak-anak ‘terlantar’. Ah iya, anak-anak masih bisa makan, masih bisa sekolah, masih bisa bermain, tak ada masalah.

Ada pula yang sejak lahir tak pernah mengenal Ayahnya. Tak tahu Ayahnya dimana, apakah sudah meninggal atau masih hidup, jika hidup bekerja dimana? Tak tahu. Tak pernah tahu. Yang dia tahu hanyalah Ibu. Ibu yang membesarkan saya, Ibu yang membiayai hidup saya. Dan Ibunya memang tak pernah memberi tahu tentang Ayahnya, atau menceritakan bahwa Ayahnya sudah lama meninggal.

Ada pula yang ibunya sudah meninggal. Lalu Ayah dan Adiknya menyeberang perbatasan negara dan beralih kewarganegaraan demi kesejahteraan. Ia hidup dengan kakeknya di sebuah dusun yang benar-benar tertinggal. Jauh dari ricuh gemuruh kota metropolitan. Sekolah dengan nilai yang jauh dari sepuluh, seragam yang jauh dari layak, dan bahkan alas kaki.

Tapi perbedaan itu rupanya bukan ada pada situasi yang ada. Situasi dan segala fasilitas tak menjamin seseorang untuk menjadi ‘bermutu’. Situasi yang begitu sulit dan berbeda dari kebanyakan pun tak menjamin seseorang untuk menjadi ‘kacangan’. Dan bayangkan, dengan kondisi-kondisi yang berbeda tadi-yang dianggap tidak normal-jika mereka bisa mendekati atau bahkan melampaui prestasi mereka yang ‘normal’, orang-orang itu justru akan menjadi lebih kuat.

Sebab mereka tahu bahwa keterbatasan hanya bisa dilihat oleh di mata.. Dan mereka tahu, bahwa hidup harus dipandang tak cukup dengan dua bola mata, tapi juga senyala mata hati..

Inspirasi tulisan disponsori oleh Film yang saya tonton kembali semalam

[Fisika Sosial] Hukum Newton dalam Perjalanan Hidup Manusia

Di sini saya hanya ingin berbagi dengan sedikit hal yang ada di kepala saya beberapa hari ke belakang.

Ada satu dua hal yang membuat saya lebih banyak kembali mempelajari hal-hal yang sangat basic, seperti Fourier Transform, Euler Identity, dan Deret Matematika. Dari situ ada sedikit rasa kesal dalam diri saya. Kenapa sih, saya tidak belajar ini semua dari dulu? Bukankah sebenarnya ada cerita menarik dibalik hal-hal basic tersebut? Kenapa saya tidak bisa melihatnya sih?

Ya, tapi percuma menyesal. Toh yang penting, apapun yang terjadi ke depannya, saya telah mendapatkan banyak pelajaran. Dan dari banyaknya pelajaran tersebut, saya jadi bisa belajar lebih banyak dalam waktu yang singkat, berakselerasi. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan hukum Newton.

Hukum Newton 

1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )

2. Percepatan yang dialami suatu benda akan searah dan berbanding lurus dengan Gaya yang dialaminya, serta berbanding terbalik dengan massanya. Bisa juga dikatakan bahwa total Gaya yang dialami merupakan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu.

\mathbf{F} = m\,\frac{\mathrm{d}\mathbf{v}}{\mathrm{d}t} = m\mathbf{a},

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )

3. Ketika benda pertama memberikan Gaya kepada benda kedua, benda kedua akan memberikan Gaya dengan besar yang sama namun dalam arah berlawanan kepada benda pertama.

Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.

(sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton)

Jadi secara kasar bisa dibilang bahwa Gaya adalah yang membuat sesuatu berubah. Sedikit catatan juga, Hukum Newton ini merupakan pendekatan yang bagus jika kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Jika kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya, konon katanya Teori Relativitas merupakan pendekatan yang lebih tepat.

Lalu, bagaimana analoginya dalam perjalanan hidup kita?

Tentu teman-teman pernah merasakan hal seperti ini. Di tengah perjalanan hidup yang terlihat-lihat mulus saja, kita merasa nyaman. Kita terbiasa untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan kita (entah itu baik entah itu buruk). Kita terbiasa dengan pola yang ada dalam hidup kita, menghindari hal-hal yang kita takuti dan melakukan hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitas.

Sesungguhnya pada saat itulah hukum newton pertama bekerja. Ketika kita terperangkap dalam pola tersebut, sesungguhnya tidak ada Gaya atau semacam Dorongan yang bekerja pada diri kita. Artinya ya kita hidup dalam diam atau dalam lembam. Atau dengan kata lain tidak ada perkembangan.

Nah, tidak bisa dipungkiri, ketika akan lebih mudah untuk berjalan seperti biasanya dengan arah yang sama sampai akhirnya kita menabrak tembok. Seperti dalam hidup, akan lebih mudah bagi kita untuk terjebak dalam zona nyaman sampai akhirnya ada ‘sesuatu’ yang menyentil atau mengingatkan kita. Sesuatu itu bisa berupa permasalahan, musibah, atau kejutan hidup yang tak terduga. Sakit sih memang, tapi dari situ kita banyak belajar.

Ketika hal itu terjadi, tak jarang kita justru terfokus pada tembok tersebut. Saat hal itu terjadi kita justru lebih suka mengutuk masalah yang ada, padahal hal itu justru menyebabkan masalah tersebut mengutuk kita, seperti hukum newton yang ketiga. Padahal daripada terus-terusan mendorong tembok (padahal temboknya juga mendorong/menahan kita), bukankah lebih baik kita berjalan ke arah yang lain? Oh iya, saya jadi ingin berbagi sedikit apa yang saya lihat di newsfeed facebook beberapa minggu lalu:

Di Afrika, teknik / cara berburu monyet begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.

Selamat membuka genggaman tangan …!!:D

Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.

Demikianlah kurang lebih uneg-uneg yang hendak saya bagi. Mungkin saja analogi-analoginya tidak pas atau tidak dalam kerangka yang sama untuk masing-masing hukum. Tapi, semoga bermanfaat.

Oh iya, postingan Fisika Sosial ini juga terinspirasi oleh tulisan teman saya Ichsan Mulia Permata:

http://www.facebook.com/notes/ichsan-mulia-permata/dua-domain-dalam-kehidupan-fisika-sosial-1/10150308851139408

http://ichsanmulia.wordpress.com/2011/07/27/momentum-%E2%80%93-fisika-sosial-2/

“…Cahaya di atas cahaya..”

How To Study Effectively?

Up to now, I am still wondering upon study technique. Since I was kid, I’d been reading so many books about study technique, brain gym, and quantum intelligence. But the problem is none of them worked for me (or I never really had an intention to make one of them works? I am not sure).

You must have known several styles of learning. In fact, I once took a test of it while I was in elementary school. The result said I am a kinaesthetic learner. Honestly I was not so sure about that. A few months later, I had to undergo psychological test as a selection procedure to enter accelerated class. At the time I took the test, one of the most fun parts is the spatial visualization section. Moreover, the result said I have an above average spatial visualization ability. Since then, I had an idea of me being a visual person. But too bad, I don’t think I dream in color, and if it is in color, I think it doesn’t have a good colord depth.

When I entered university, I once found a do-it-yourself test on learning styles. I tried to take it once again. I don’t know whether I mistook it or not, but the result is I had a similar score for all styles. Since then, I thought I could study well using any techniques. In other words, I should not bother about this thing.

But now that I got a very poor performance in the last semester, I started to wonder again how to study effectively. So, I got this conversation with Amril a few weeks ago. Amril pointed out something really important. It’s all about mindset!

“Fik, orang pinter juga kalo kagak belajar nilainya bisa jelek. Lo tuh di atas rata-rata, harusnya lo bisa.”(Fik, even a smart guy could score very badly if he doesn’t study. You are an above average guy, you should be able to do it.”

“Kalo lo nggak ngerti ya harus cari tau, meskipun itu yang basic sekalipun. Kalo lo nggak cari tau ya berarti ada yang salah sama mindset lo.”(If you don’t understand something, even a basic thing, you should try to find out. If you don’t try to find out, there must be something wrong with your mindset)

And then I realized I never studied that hard. I never put real effort on something except on emergency time. It’s a bad habit and as a Ph.D student, I have to change this bad habit. Well, for me the situation status is now an emergency. So, I started to do things which I never tried to do before, like reading textbooks, trying to read lecture notes before the class, and try the exercises which are given in class. It turned out so amazing. Last week, I felt like I had an exceptional experience after doing so.

One thing which really impressed me was when I read a same topic in two different textbooks. It turned out that every textbook has its own way to explain something. In my case, last week I read about Adaptive Filter. One of the textbooks, which is very popular and being the main reference in the courses, was very boring and hard to understand. But the other books, in the contrary, could explain about adaptive filter concept in a fun example like a guessing game. When I read it, it’s like a joke. But later, I thought it was smart way to learn adaptive filter concept. It’s like explaining DoA concept with human ears analogy.

Well, I think I spent quite a lot time for writing this blog. I should start to study again. I hope I could preserve my commitment to study hard. For me it’s really hard to do because I’m not a person which could focus on something for a long time.

You are in emergency state, Fikri! You have no choice!

Harus Kemana Pak Sarjana?

Beberapa waktu ke belakang, rasanya cukup heboh pemberitaan di media mengenai mobil listrik. Ada pula yang salah satu artikel yang berisi curahan hati “anak-anak Habibie” (saya jadi teringat istilah, “Jangan mengaku anak Bung Karno apabila tidak kiri”). Sering juga saya melihat, di halaman rumah facebook saya, orang-orang berbagi artikel tentang Habibie dan gagasannya tentang teknologi. Salah satu yang menarik bagi saya adalah ketika ada yang mengungkapkan tentang gagasan Habibie seputar nilai tambah. Digambarkan dengan perbandingan harga berapa ton beras setara dengan satu pesawat.

Hal ini mengingatkan saya pada buku Jejak Pemikiran BJ Habibie yang belum tuntas saya baca. Di situ dijelaskan konsep pengembangan IPTEK yang coba diusung oleh Pak Habibie. Di buku tersebut dibahas pula bagaimana diperlukannya integrasi antara perguruan tinggi, industri, serta pemerintah. Serta yang tak kalah penting dibahas di buku ini adalah pemikiran beliau mengenai pengembangan SDM. Beliau menempatkan SDM pada suatu posisi yang penting, lebih dari sekedar komoditas. Saya agak lupa bagaimana kalimat pastinya, yang jelas Pak Habibie memandang bahwa pengembangan SDM adalah investasi terbaik dari suatu bangsa. Tak hanya soal hard skill tapi juga tentang karakternya. Mungkin hal ini pulalah yang melandasi banyaknya program beasiswa yang dicanangkan oleh beliau di masa lalu.

Sampai saat ini saya masih sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang bisa saya lakukan? Bagaimana agar keberadaan saya di dunia ini memberikan dampak meskipun kecil. Sementara kawan-kawan saya sudah banyak yang memberikan dampak, saya masih terdiam di sini. Sementara teman saya dengan gagahnya membagi foto piala yang ia menangkan dari lomba technopreneurship dan bahkan berkesempatan untuk mempresentasikan gagasannya di depan wakil presiden dan idola saya, Pak Habibie. Sementara saya, masih terdiam di sini dipusingkan oleh banyak hal-hal personal.

wirausaha muda mandiri

Bro Afin dengan senyum kemenangannya.. Metlamet Don Afin dan Om Teguh, jangan lupa traktiran. (Sumber gambar = http://www.antarafoto.com/bisnis/v1358409011/wirausaha-muda-mandiri)

Lalu saya melihat ke belakang. Kadang kita begitu yakin sekaligus tidak yakin sama sekali tentang masa depan kita dan terkadang lupa bahwa dunia berubah dan kita harus menjadi adaptif.

Flashback

Ketika itu di lantai 55 Gedung Energi. Saya sebagai orang berpendidikan paling rendah dan berpengalaman paling minim tentu saja mencoba sesopan mungkin. Continue reading “Harus Kemana Pak Sarjana?”

Comfort and Pain

Recently, I bought a self-help book. It was a very rare chance that I bought a book with this kind of genre. Since I graduated from ITB, I never put my attention to this kind of book. I always thought such a book was meant for those inferior people who need motivator’s help to buck up themselves and was written by writers who are solely trying to take advantage of those inferior people.

Then, while I was getting around in a bookstore, I stumbled upon a guide book to be a writer. To be a writer is one of my aspirations since I was kid. Although it is my childhood dreams, I don’t even know what kind of book I want to write ( I am not even giving any single real effort to pursue this dream) However, I found some really catchy words. I can’t stop thinking of these words, and it also changed my perception regarding self-help books.

“If you can’t find a book you want to read, then you should start to write it on your own.”

I came into a conclusion that, maybe, there were something which made those writers wrote those books. They might not solely crave for money. Just like me, I have an aspiration to become a writer. because I like to tell stories, and I simply like to write (despite of my bad writings). Yeah, they must have some reasons to write those books.

However, what happened recently in my life also gave contribution to drive me to look at these books. I found one book which is very interesting. One of the author of these book was formerly atheist, but now he does believe in the existence of “higher forces”. This book is not about religion or belief, this book is giving you tools to make use of these higher forces. But as far as I read it, I find this book gets along with my understanding of my religion (I mean I can see connections between them).

Well, let’s start with this kind of excercise:

Pick something you hate doing. It could be traveling, meeting new people, family gatherings, etc.

How do you organize your life so you can avoid doing it? Imagine that pattern is a place you hide in. That’s your Comfort Zone.

What does it feel like?

Basically, it’s very difficult for me to answer these question. I think I don’t have any problem to meet new friend, to join a new group, etc. Yet I must have some comfort zone, I have to find the pattern.

So I looked back.

What are the things I am constantly trying to avoid ?

Errmm..

Gotcha!

So, it turns out that I hate losing. That’s why I never fight with all I have. I always have an escape plan. I never take things seriously (although I speak like I take them seriously.. well actually now I really take my current seriously)

I never give my best shot. Never. And there were many times I failed. It doesn’t feel good. So I started to define failure as something bad. That’s why I never gave my best effort to deliver my aspirations. That’s why I never achieved much (compared to a lot of aspirations I had). All I did was just hoping for luck (lots of lucks) to help my love effort for achieving something.

Leaving comfort zone is yet to learn.. and sometimes, you have to learn it the hard way.

Sebuah Ironi

Sadarkah kita, bahwa terkadang besarnya kekritisan kita, jika diarahkan pada arah yang salah, dia akan tumbuh dan berkembang menjadi keluhan? Lebih jauh dari keluhan, kita pun bisa menjadi buta akan eksistensi sesuatu. Bahwa sebenarnya ada kebaikan dan kebenaran yang dapat disyukuri atau diteladani, ceritanya telah kita lupakan.

Sadarkah kita, bahwa terkadang niat baik yang mengatasnamakan empati, kerendahan hati atau toleransi, terkadang bisa menjadi bumerang? Karena merasa lebih rendah hati dari orang lain, lalu kita membeli tiket untuk bisa mencicipi wahana bersombong. Sebab merasa lebih peduli, kita tak jarang menafikan aturan-aturan yang berlaku.

Tapi toh, apa salahnya? Ini semua kita lakukan karena kita percaya bahwa kita benar. Ya, kita benar. Kita lah yang paling benar. Mereka salah.

Seiring dengan bertambahnya butiran pasir yang turun dalam jam saya, saya merasa bahwa kita telah terjebak oleh berbagai ilusi. Entah siapa yang membuatnya menjadi ilusi seperti itu. Ajaran yang sebegitu bergunanya disempitkan menjadi picisan kosong belaka. Dari kecil, nilai-nilai yang terbentuk rasanya banyak yang samar. Lalu dengan kesamar-samaran ini kita menjalani kehidupan.

Mungkin Syekh Siti Jenar ada benarnya, neraka dan surga itu sudah ada dari sekarang. Pahala dan dosa bisa diukur pula dari saat ini juga. Semua itu bisa kita lihat dengan cermin kita, tempat keduanya beradu.

Mungkin benar kata pepatah, diam itu emas. Sebab, bukan berarti orang-orang yang berteriak itu lebih tahu dan lebih berbuat ketimbang orang-orang yang menutup mulutnya.

Lalu pada akhirnya kita mesti berdoa, biar cermin ini senantiasa dimandikan dengan air, salju, dan embun.

Ya, memang kita berdoa seperti itu setiap harinya, setidaknya lima kali.

Bagaimana Mereka Menjajah Kita

Sejak kapan menuntut ilmu adalah mencari gelar? Sejak kapan rezeki digantikan oleh kata uang? Tak sadarkah kita bahwa kita semua sedang dijajah agar kita menjadi bermental kerdil? Sejak kapan untuk bisa berbuat baik, kita harus menjadi mapan terlebih dahulu?

Memang selalu ada sisi positif dan negatif dibalik segala sesuatu. Mungkin sistem mereka memang bagus. Namun, apakah dengan serta merta kita menjadi lebih tidak bermutu jika kita berada pada sistem yang mereka pergunakan untuk menilai?

Pendidikan, Ekonomi, dan Media.. dari Agama sampai ke HAM.

Kita dibuat lupa bahwa Tuhan telah menjadikan kita dalam sebaik-baiknya bentuk. Bahwa Tuhan akan selalu memberikan kecukupan, dan pertolongan. Bahwa masing-masing orang memiliki jalan hidup, potensi, dan derajatnya masing-masing adalah hal yang kita lupa. Terkadang kita memandang rendah orang-orang yang tak berpendidikan dan tak berduit.

Lama-kelamaan kita mungkin menjadi terlalu sombong dan lupa diri. Lama-kelamaan kita dibuat menjadi semakin pesimis dan hilang asa. Padahal tak boleh kita berputus asa dan berprasangka buruk kepada Tuhan. Padahal ktia tak boleh menjadi sombong dan berbangga diri.

Belum lagi, kita jadi sering meributkan hal yang tak penting. Bermusuh-musuhan dengan orang yang berkacamata berbeda. Apalah salah jika saya pakai frame tebal, sedangkan kamu pakai frame tipis? Apakah bisa kita bandingkan pandangan orang yang matanya minus setengah dengan minus sepuluh? Lalu kita terlupa untuk mengerjakan hal yang penting. Kita pun tertinggal.

Kita, saat ini sedang dijajah..

Telinga Terlambat Mendengar

Sebelum memutuskan untuk pindah ke Singapura, saya sempat menjalani program Apprenticeship di IBM Indonesia. Di sana saya bertemu dengan seorang mentor bernama Ivandeva. Baru-baru ini seluruh perkataan Mas Ivan seperti diputar kembali ke telinga saya.

“Ya memang company juga invest di sini, tapi saya ingin mengubah mindset ini. Apakah Tuhan tidak invest? Setiap manusia pasti diberi tanggung jawab dalam suatu area dan tugas kita lah mencarinya. Ini Tuhan loh yang invest. Company ini mungkin sistemnya kapitalistik, tapi toh company itu hanya alat, yang real orang-orangnya…

Continue reading “Telinga Terlambat Mendengar”