Telinga Terlambat Mendengar

Sebelum memutuskan untuk pindah ke Singapura, saya sempat menjalani program Apprenticeship di IBM Indonesia. Di sana saya bertemu dengan seorang mentor bernama Ivandeva. Baru-baru ini seluruh perkataan Mas Ivan seperti diputar kembali ke telinga saya.

“Ya memang company juga invest di sini, tapi saya ingin mengubah mindset ini. Apakah Tuhan tidak invest? Setiap manusia pasti diberi tanggung jawab dalam suatu area dan tugas kita lah mencarinya. Ini Tuhan loh yang invest. Company ini mungkin sistemnya kapitalistik, tapi toh company itu hanya alat, yang real orang-orangnya…

Colonel Sanders saja baru mengerti passion dia pada umur 60-an. Fikri sekarang masih muda udah baguslah mulai memikirkan ini…

Saat ini mungkin titiknya tersebar, tapi sekarang kan kita tahu titiknya ada dimana aja. Nanti, kalau sudah waktunya kita bergerak, tinggal hubungkan titik-titik yang ada dan kita langsung memikirkan masalah operasional, bukan konseptual lagi,” ketika konsultasi tentang passion saya untuk kesekian kalinya.

“Kunci dari kebahagiaan adalah jangan meng-compare,” pesannya menjelang BU Attachment.

Saya salah dengan membagikan nilai rata-rata untuk quiz,.

Menurut saya, yang bikin dunia ini rusak adalah orang-orang pinter. Kalau orang bodoh, masa iya mau disalahin?..

Gedung-gedung ini (sambil menunjuk ke jendela) bukan Indonesia..” ketika 1on1 pertama kali.

“Sekalipun sudah mau keluar, end game nya pun harus bagus. Tetap berikan yang terbaik, sebab dunia itu sempit,” ketika saya sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan saya ke tempat lain.

“Waktu itu saya memberikan pelatihan dan saya mendapatkan award. Saya pikir ini adalah petunjuk dari Tuhan,” ketika saya bertanya tentang bagaimana dulu Mas Ivan menemukan passionnya.

“Jangan menunggu, perform dari sekarang. Kuncinya cuman satu kok, deliver,” kata-kata yang paling sering diucapkan.

“Kalau kita mau mencari grey area, maka nggak akan ada istilah gabut. Nggak peduli sistemnya seperti apa, tapi kita tetap bisa kontribusi,” ketika saya menceritakan bahwa beberapa menganggap sistemnya tidak siap untuk program ini.

“Ini semua karena saya ingin melihat Fikri yang lebih baik, Fikri yang super,”pada saat saya diberikan kesempatan kedua meskipun saya akhirnya kembali mengecewakannya.

“Saya ingin bikin sekolah yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk jadi dirinya sendiri,” ketika saya bertanya apa mimpi Mas Ivan yang belum kesampaian.

“Ketika kita ada di tempat yang tidak kita sukai, bukan berarti kita nggak perform. Kita harus tetap deliver, dan nanti kalau kita sudah bisa berprestasi di bidang tersebut kita bisa bilang bahwa kita bisa berprestasi di yang bukan bidang kita, apalagi kalau kita ditempatkan di bidang kita. Tapi bukan berarti kalau tidak suka sama sekali harus dipaksa juga”

Life is all about revision. Nanti kalau kita berikan yang terbaik pasti ditunjukin kok jalannya.”

Kata-kata tersebut mungkin begitu cepat masuk ke telinga, tapi saya terlambat mendengar. Untuk mencernanya dan benar-benar mengerti maknanya, dibutuhkan waktu yang lama. Saat itu mungkin saya setuju-setuju saja dengan kata-kata tersebut. saya tidak memiliki sanggahan terhadapnya. Tapi, rupanya saya waktu itu tidak bisa memaknai kata-kata itu dengan baik. Kini, setelah banyak hal yang terjadi, kata-kata itu kembali muncul di pikiran saya. Dia sudah bukan lagi terdengar oleh telinga, tapi terasa seperti sensasi “Eureka” di kepala. Dan mungkin pelajaran itu mahal harganya.

Ya, terkadang kita harus membayar mahal untuk sebuah pelajaran berharga. Sama seperti kemarin, saya membaca sebuah bab buku di toko buku. Bab tersebut membahas tentang mengapa kita memerlukan musibah. Jawabnya adalah, lebih mudah bagi kita untuk lembam dan tak berubah sampai akhirnya kita menabrak tembok. Ya, itulah cara paling mudah untuk merubah seseorang.

Banyak orang bilang, I learned it the hard way. Dari mana datangnya hard lesson tersebut? Kalau menurut saya, itu semua berasal dari tough love Sang Maha Kuasa. Bukankah kasih sayang tak selamanya memanjakan? Saya pun masih ingat ketika Ayah saya menyabeti saya dengan sapu lidi setiap kali saya bolos sekolah. Jeweran, bentakan, dan mungkin pukulan lah yang telah membuat saya sampai pada saat ini. Namun, itu semua tidak berarti orang tua saya tidak menyayangi saya. Justru itu semua mereka lakukan agar saya berubah. Begitu pula Tuhan, dia ingin setiap makhluk-Nya untuk berubah. Terkadang cara-cara halus pun tak dapat membuat kita berubah.

Persis seperti yang saya rasakan sekarang ini. Saya baru sadar bahwa sebenarnya kata-kata dari orang-orang di sekitar saya, termasuk Mas Ivan, sebenarnya adalah petunjuk dari Tuhan. Namun rupanya itu semua tak cukup untuk membuat saya ngeh dengan pelajaran yang diberikan Tuhan. Terkadang kita merasa Tuhan begitu jahat. Mengapa dia tidak memberikan kita peringatan sebelum kita terjatuh. Rupa-rupa-Nya Tuhan sebenarnya sudah memberikan begitu banyak pesan-pesan, hanya saja telinga kita tidak mampu kita pergunakan untuk mendengar. Kita terlalu naif untuk memandang segala sesuatu terjadi tanpa ada intervensi dari Tuhan. Padahal semua sudah dirancang oleh Tuhan.

Lalu demikianlah cinta yang keras itu dilayangkan membuat telinga kembali mendengar. Bayarannya mahal? Kalau kata ibu saya, tidak ada bayaran yang mahal semuanya akan setara dengan apa yang kita dapatkan. Kurang lebih persis seperti apa yang dibilang Mas Suryo pada saat peresmian kantor IBM di Bandung,

“Kami tidak menjual barang murah, kami menjual barang yang berkualitas.”

2 thoughts on “Telinga Terlambat Mendengar

  1. Setiap kali membandingkan diri dan kemampuanku dengan beliau, aku merasa malu karena diri ini masih sangat kurang. Juga terinspirasi secara otomatis.
    Benar-benar sosok seorang role-model.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s