Saya Lelah dan Kesal dengan Kebencian

Saya di sini hanya ingin bercerita sedikit tentang kebencian. Entah kenapa saya melihat bahwa dunia ini selain dipenuhi oleh cinta kasih, juga dipenuhi dengan kebencian yang menjalar, diimbuhi sedikit kesombongan.

Sering banget, saya melihat teman-teman saya atau mungkin saya sendiri terjebak dalam lingkaran ini. Entah kenapa mudah sekali rasanya membicarakan kejelekan orang atau orang-orang atau membenci sesuatu. Baik itu di blog, di twitter, di tumblr, di messenger, atau di obrolan sehari-hari. Entah kenapa ya, terkadang saya tidak menyukai kondisi dimana ada seseorang yang kesal dengan sesuatu. Sebenernya tidak menjadi masalah apabila orang tersebut mengungkapkannya dengan halus dan tanpa emosi.

“Gue nggak ngerti deh kenapa sih orang itu melakukan itu.”

“Turut prihatin.”

“Kalo gini gini gini, kenapa nggak gini gini gini?”

Kata-kata di atas tentu menjadi kata yang sering kita dengar sehari-hari, mau itu soal kehidupan sosial, agama, dll. Nah, kalau melihat konten dan konteks dari teksnya sih sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi, buat saya yang salah di sini adalah ketika kata-kata atau tulisan itu ditulis dengan emosi dan kebencian.

Kenapa sih kita harus membenci sesuatu? Kenapa kita nggak mencoba untuk tidak menyukainya saja? 

Ya, menjadi kritis itu baik, menurut saya. Mau itu soal agama, soal sosial, dan soal apapun, berpikir kritis itu perlu. Tapi, kebencian itu tidak pernah baik dan tidak akan membawa kebaikan. Kalau kita bersikap kritis atas dasar kebencian, ini semua akan mengungkung diri kita pada kesombongan.

Dan hanya kesombonganlah yang semakin membuat dunia ini hancur. Sebab dengan menjadi sombong, kita akan merasa diri kita yang paling benar. Di saat itulah kita akan berhenti untuk mencoba memahami orang lain. Padahal, ketika kita telah berhenti untuk mencoba memahami orang lain, di situlah kita sudah kehilangan kemampuan untuk menjadi makhluk sosial yang baik.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang teman saya, “Kalo lo, lo udah mau cabut dan bodo amat sama gelar, pasti lo udah dapet banyak hal kan di sini, apa aja tuh?”

“Banyak sih, salah satu yang paling gue suka dari sini adalah cara orang menyalahkan. Mereka gak pernah nyalahin orangnya. Yang mereka serang adalah viewnya.. they prefer to say ‘your stance is wrong’ instead of ‘you are wrong’. Gue bikin program terus salah, yang dimaki-maki program gue, ‘bego ya programnya’, kalo di indo, mungkin gue udah dikata-katain tolol kali.”

Ya, tidak bisakah kita memilih untuk tidak menyukai sifat atau kesalahannya saja tanpa menjudge orangnya? Tak bisakah kita berhenti melabeli sekelompok orang yang melakukan kesalahan yang tidak kita sukai? Tidak bisakah kita tidak membenci hal-hal yang buruk, tak bisakah kita hanya sekedar tidak menyukainya?

Dan pada akhirnya, tak bisakah ketika ada satu atau dua hal yang mengganggu pikiran kita, kita diamkan sejenak di kepala? Kita telaah dengan sadar, perlukah kita mengeluarkan cacian dan emosi dalam bentuk kebencian?

Seriuslah, rasanya saya ingin bisa melihat orang-orang di sekitar kita yang lebih bisa berbagi cinta dan kasih ketimbang menebar kebencian dan kesombongan hanya karena hal-hal kecil dan sepele.. (yah, hal besar pun sama sih)..

Ah ya, bahkan mungkin di postingan ini ada sedikit rasa kebencian atau geram.. lihat saja dari judulnya..

Ah ya, kita hidup di dunia yang penuh kemunafikan.

One thought on “Saya Lelah dan Kesal dengan Kebencian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s