Si Raja Bolos Sejak TK

Hari ini saya mau cerita dikit aja. Lucu kalau saya ingat masa kecil saya. Sejak kecil saya suka membolos, termasuk ketika saya masih di bangku Taman Kanak-kanak. Saya ingat bahwa saya pernah membolos waktu jam pelajaran, kabur ke sungai dan kabur ke kuburan untuk uji nyali. Selain itu saya juga sering tidak masuk sekolah. Hal ini diperparah ketika saya berlibur ke Cilegon, ke kampung Ayah saya. Di sana saya belajar bersepeda, membaca, menulis, berhitung, dan iqra.

Masih sangat segar di ingatan saya ketika saya pertama kali bisa menemukan “balance” pada saat mengayuh sepeda. Saat itu saya sedang jalan menanjak. Saya sangat bersemangat dan antusias ketika saya mendapati bahwa saya bisa mengayuh sepeda roda dua dengan seimbang. Namun, karena saya terlarut dalam euforia sesaat, tak lama kemudian keseimbangan saya hilang dan saya menabrak tiang jemuran di jalan. Saya lalu kabur.

Setelah bisa membaca, menulis, dan berhitung, saya kembali ke Jogja. Di sana saya semakin malas bersekolah. Untuk apa saya sekolah kalau saya hanya akan diajarkan hal-hal yang saya sudah tahu? Ketika itu usia saya sudah lima tahun dan saya sudah berpikir dengan sangat modern (alias mindset pemalas). Saya pun tidak bersekolah lagi. Saya ngotot supaya dimasukkan ke SD. Tapi sayang, tidak ada SD yang mau menerima saya di Jogja, sebab usia saya masih lima tahun.

Prihatin dengan anaknya yang baru berusia lima tahun tetapi sudah malas bersekolah, akhirnya saya dipaketkan ke Malang, ke tempat Eyang saya. Di sana saya masuk kelas 1 SD di tengah caturwulan. Saya tidak bisa memakai seragam sendiri. Saya ingat betul pagi-pagi saya didandani oleh Eyang saya serta Mbak-mbak, dipakaikan dasi, kaus kaki, sabuk, topi, hingga sepatu. Lalu saya diantarkan oleh seorang tukang becak (ARGH SAYA LUPA NAMANYA!) dan membayar seribu rupiah. Saya masih ingat pada saat pertama kali saya masuk ke kelas. Saya ingat bahwa ruang kelas nampak begitu besar dengan tiga puluhan murid di dalamnya. Hari pertama bersekolah, saya tidak bisa duduk diam. Sepanjang pelajaran saya keliling kelas dan mengganggu teman satu demi satu. Saya masih ingat ketika itu saya membaca buku tulis teman saya yang bernama Risa Usman, di sana dia menuliskan namanya: Risau dengan tulisan yang sangat khas. Visualisasinya masih segar di kepala saya. Tulisan saya sendiri masih naik gunung turun jurang. Ujian pun saya kerjakan asal-asalan, maklum dulu ujiannya pilihan berganda.

Saya ingat, baru ketika menginjak kelas dua, kesadaran bahwa saya adalah seorang pelajar mulai tumbuh dalam diri saya. Saya mulai mengerjakan PR, memperhatikan pelajaran, dan mengerjakan ulangan. Tapi ada satu hal yang tidak berubah dari saya, saya tetap tukang bolos. Saya ingat ketika saya selalu dimarahi oleh tante saya (Mbak Iin) yang sedang kuliah di Kedokteran Unibraw. Waktu itu Mbak Iin adalah orang yang paling saya takuti kalau saya sedang membolos. Saya sering mengunci diri di kamar dan bersembunyi sampai akhirnya saya memastikan bahwa Mbak Iin tidak ada di rumah. Saya juga ingat, pada saat saya kelas lima, saya pernah mengajak teman sekelas untuk bolos pelajaran. Waktu itu atas ajakan saya, kami semua melompati pagar, pergi ke rumah saya untuk bermain PS. Saking banyaknya yang membolos di rumah saya, satpam pun mendatangi rumah saya dan menyuruh kami untuk kembali ke sekolah. Oh iya, sekolah saya dan rumah jaraknya hanya lima menit berjalan kaki. Waktu itu kami dihukum berdiri di depan kelas dan dimarahi. Saya ingat persis, hanya saya yang waktu itu masih kekeuh mendebat guru.

Di masa SD ini kecintaan saya kepada buku mulai tumbuh. Saya membuat perpustakaan pribadi dan menyewakannya. Saya juga sering iseng membuat komik sendiri. Selain itu saya juga suka berjualan mainan, terutama mini WD atau yang akrab disebut tamiya. Menariknya adalah, meskipun saya membolos, tak jarang teman saya mampir ke rumah untuk keperluan di atas.

Cerita menarik lain tentang membolos di waktu SD adalah ketika saya membolos upacara. Yang menarik, pada saat upacara tersebut, rupanya saya seharusnya dipanggil karena telah menjadi murid yang paling aktif meminjam buku di perpustakaan. Ironisnya, saya sedang membolos. Hahaha

Akhirnya hari itu tiba, ketika saya harus meninggalkan kota Malang. Waktu itu berat rasanya karena saya punya orang yang disuka. Sebenarnya saya sudah terdaftar di sekolah yang sama dengan dia, tapi saya ingin melanjutkan sekolah di Jogja. Bukan apa-apa, tapi di Jogja, saya bisa berkumpul bersama keluarga saya, dan di Jogja juga sudah ada kelas akselerasi. Ya, saya ingin mencoba kelas akselerasi. Akhirnya saya pun melanjutkan sekolah saya di kelas akselerasi angkatan kedua.

Rupanya, masuk kelas akselerasi tidak bisa menghentikan kegilaan saya terhadap membolos. Salah satu hal paling epic terjadi pada saat saya membolos upacara. Waktu itu saya, Rangga, dan Najmi diam-diam kabur dari barisan upacara untuk membolos. Sebenarnya niat kami mulia, kami hendak mengantar Najmi yang sakit perut. Namun sayang, kami yang sedang bersantai di lantai atas akhirnya terlihat oleh salah seorang guru. Kami pun digelandang kembali ke bawah lalu dihukum push up di tengah upacara oleh kepala sekolah.

Itu belum seberapa. Saya pernah membolos selama seminggu dan kabur ke Malang. Walikelas saya sampai mendatangi rumah saya. Saya akhirnya di kemudian hari mengetahui hal ini. Saya merasa telah mengecewakan orang tua saya. Semenjak saat itu saya sudah tidak pernah tidak berangkat ke sekolah lagi (kalau tidak salah) bahkan hingga SMA. Selama SMA saya hanya dua kali tidak berangkat ke sekolah, yakni pada saat kami kompak membolos sekolah dan pada saat menghadiri pernikahan Mbak Iin.

Lepas dari SMA, saya sempat terdaftar di UGM. Tentu saja saya membolos sepanjang semester hingga dropout, sebab saya akhirnya memilih untuk menjalani perkuliahan di ITB. Di ITB saya akhirnya menjadi raja bolos lagi. Saya pernah bolos ujian dan akhirnya dapat nilai E (sebenarnya itu kecelakaan). Saya juga pernah bolos praktikum (karena lupa jadwal). Yah benar-benar tidak membanggakan sih sebenarnya.

Sekian cerita tentang aktivitas bolos saya dan hobi saya gonta-ganti sekolah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s