Video Itu Berjudul “Harlem Shake Basement”

Gara-gara kemarin habis diajak mengobrol seputar majalah Elektron, saya jadi terkenang masa-masa menjalani kehidupan sebagai anggota biasa Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB. Himpunan ini sangat seru dengan anggotanya yang beragam dan aktivitas yang sangat variatif. Anggotanya pun beragam dari yang suka nongkrong sambil merokok, doyan main dota di lab, sampai yang doyan pengajian.

Lalu hari ini ketika di perjalanan pulang dengan bus, saya jadi teringat kisah tentang Sigit Firmansyah. Saya tak tahu apakah sampai sekarang kisahnya masih diceritakan turun temurun. Yang jelas kalau dilihat dari ceritanya memang Mas Sigit ini keren. Kalau tidak salah dulu saya punya beberapa file tulisan-tulisan Mas Sigit serta testimoni-testimoni setelah Mas Sigit meninggal.

Nah, salah satu kata-katanya yang buat saya masih berkesan adalah:

Pulang ke rumah telah mempertemukan kembali saya dengan realitas.
Membuat saya semakin yakin bahwa bangsa ini sangat membutuhkan lebih banyak pahlawan.
Kamu salah satunya!

Iya, benar. Rumah adalah realitas yang nyata. Dan hanya dengan pulang kampung dan kembali pada jati diri sebagai anak kampung, saya menyadari bahwa realitas sebenarnya sangat dekat. Masalah-masalah itu tidak jauh kok letaknya, masalah itu ada di keluarga kita, tetangga kita, keluarga besar kita, kampung kita.. Dan bukan hal yang terlalu dewa untuk mau jadi pahlawan, meskipun untuk jadi pahlawan sendiri tidaklah mudah.

Menariknya, setibanya di rumah, saya sebuah link menuju sebuah video pada timeline saya. Judulnya “Harlem Shake Basement”. Sembari mencoba mengalihkan diri dari rasa sakit karena saya menggigit lidah saya sendiri dan agak meradang, saya pun menontonnya.

Ya ya ya, saya menyikapinya positif sebagai bentuk kreativitas dan aktualisasi diri. Saya pun pernah melakukan hal-hal sejenis, dan lebih gila malah selama di HME. Dan ada pada sebuah kesempatan, ketika video ‘gila’ saya di facebook dikomentari oleh banyak orang, seseorang bernama Ikhsan Sigma Putra memberikan komentar seperti ini:

kontras sekali dengan ini ya

[sebuah link]

Nah, link tersebut jika diklik mengantarkan kita pada sebuah video di facebook. Kelak, video tersebut saya reupload di youtube saya untuk keperluan lomba pada saat teman saya, Kharisma Surya Gautama tengah menjabat sebagai Ketua Palapa. Video tersebut adalah ini:

Ya, memang kontras sih.. tapi hidup kan ga melulu harus serius, hehe.

Ketika “Sukses” Bukanlah Fungsi Waktu

“Lo liat deh, Mas Teguh aja mulai Ph.D baru umur 29. Dia dulu ngulang SPMB, udah buang waktu tuh, terus sempet kerja pula. Belum lagi dia terus S2 di ITB, buang waktu lagi 2 tahun. Tapi toh sekarang di akademik dia termasuk yang jago di banding temen-temennya, salah satu ahli friction di Asia.”

Terkadang kita sibuk berkejaran dengan waktu dan lupa bahwa tak selamanya sukses adalah fungsi waktu. Semua proses yang ada, meskipun mungkin tidak berkaitan langsung dengan tujuan akhir kita, tentunya akan berperan dalam menambah ketangguhan diri.

Tak jarang hal-hal seperti pride, dan apa kata orang nanti?, membuat kita ragu untuk menjemput diri kita sendiri; membuat kita ragu untuk berjalan di jalur yang seharusnya. Continue reading “Ketika “Sukses” Bukanlah Fungsi Waktu”