Model-Dependant Realism – Dibalik Hukum, Sains, dan Agama

*kayaknya tulisan ini rada panjang dibanding biasanya

Sebagai orang yang dididik di sekolah bernafaskan agama Islam sejak SD sampai SMA, saya dipaksa untuk mempelajari mata pelajaran ISMUBA [Al-Islam, Kemuhammadiyahan (yang ini SMP dan SMA, dan Bahasa Arab]. Iya, dulu saya juga suka mengeluh, kenapa sih, saya udah harus belajar pelajaran yang umum masih aja ditambahin sama pelajaran yang lain-lain. Dan terkadang saya juga berpikir, emangnya segitu ngaruhnya ya efek adanya kurikulum ini? Kok kayaknya murid-murid di sekolah saya tetep aja bandel-bandel.

Spirit Beramal

Well, kalau kata mama saya yang bulan lalu lagi heboh-hebohnya mau reuni silver bersama teman-teman SMAnya (SMA tempat mama bersekolah merupakan yang juga dimasuki oleh Om Aris dan saya, dan beberapa guru yang pernah mengajar mereka juga pernah mengajar saya, bahkan tukang parkirnya pun masih sama), entah kenapa setelah sekian lama rupanya pelajaran-pelajaran tadi meninggalkan bekas. Mama bilang teman-temannya yang dulu sepertinya biasa-biasa aja dan kayak nggak ada semangat pergerakannya, sekarang terlihat punya sesuatu yang berbeda. Iya, biar bagaimanapun perjuangan dan pergerakan yang diorganisasikan oleh KH Ahmad Dahlan membekas di alam bawah sadar.

Saya ingat, salah satu janji pelajar muhammadiyah yang selalu dibacakan setiap upacara berbunyi: “sanggup melangsungkan amal usaha.Muhammadiyah”. Mungkin karena dibaca berulang-ulang, jadi bertahun-tahun setelah lulus pun masih ada bekasnya. Dan memang di sekolah Muhammadiyah ditanamkan sedikit ‘arogansi’ bahwa amal usaha Muhammadiyah tersebar di berbagai penjuru dalam berbagai bentuk (sekolah, rumah sakit, universitas, dll).

Saya sendiri sampai sekarang masih terkagum dengan sosok Ahmad Dahlan yang begitu inspiratif dan bisa membuat sesuatu yang bertahan puluhan tahun, gerakan yang masif. Dan sebenarnya, yang saya tangkap dari Ahmad Dahlan bukanlah bentuk arogansi sebagaimana yang sering saya dengar dari cerita guru saya (bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi pembaharu, dan mungkin punya pemahaman Islam yang murni, jauh dari takhayul, bid’ah, dan khurafat), tapi justru perwujudan Islam dalam membangun peradaban dan menolong sesama. Kesan ini saya tangkap dari kisah pengajian Ahmad Dahlan yang mengulang bahasan surat Al-Maun berkali-kali hingga waktu yang lama dan para jamaah sampai bosan, hingga ada yang bertanya mengapa diulang-ulang. Simpel sih, sebab Al-Maun mengajarkan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim.

Bukan soal menghapal ilmunya, tapi bagaimana mengamalkannya dalam tindakan nyata.

Dibalik Hal-hal yang ‘taken for granted’

Well, baru-baru ini saya kembali membaca tentang sejarah perkembangan Islam. Dimulai dari pertanyaan-pertanyaan simpel yang saya dapatkan dari membaca buku-buku atheis. Dan rupanya ada banyak hal yang jaman dulu (waktu saya belajar Fiqh, Tarikh, Aqidah, Akhlak) saya terima begitu saja, menjadi pertanyaan. Rupanya setelah ditelusuri, semuanya tak lepas dari kejadian-kejadian yang ada pada sejarah.

Mengenai Al-Quran misalnya, dulu saya terima begitu saja bahwa Al-Quran mulai dibukukan oleh Abu Bakar dan dilanjutkan oleh suksesornya. Ternyata jika ditelusuri ada beberapa versi dari sejarah tentang hal ini. Ada juga yang menganggap sebenarnya Al-Quran telah dibukukan oleh Ali. Ada juga yang bilang bahwa Abu Bakar sebenarnya saat itu ragu untuk membukukan Al-Quran. Dalam tradisi Arab di jaman tersebut bahwa any wisdom worth possessing was worth learning by heart. It’s quite strange while many verses mention “hadza al-kitaba”, the physical book itself did not exist. 

Belum lagi terkait formation of law schools dan hadits. Di Indonesia, umumnya Islam yang dianut adalah Islam Sunni bermadzhab Syafi’i, sehingga kita cenderung take it for granted hukum-hukum fiqh berdasarkan Imam Syafi’i (meskipun akhirnya masih terpecah-pecah lagi). Belum lagi hadits, di masa awal Islamic Empire, umat Islam masih mulai meraba bagaimana penegakan syariat Islam, dan waktu itu hadits belum menjadi rujukan dan belum sesistematis yang nampak sekarang. Sampai akhirnya Imam Bukhori melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dan melakukan ijtihad untuk mensortir hadits dan membukukannya. Hal itu merupakan inovasi yang cukup ‘gila’ di jamannya. Sadar akan risiko yang dihadapinya, konon katanya Imam Bukhori berdoa dulu setiap akan menulis hadits-hadits tersebut.

Ada yang bilang buku adalah elixir yang menawarkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, namun tak jarang buku justru memberikan rahasia untuk kebodohan dan kesombongan. Adanya buku terkadang membuat kita merasa bisa belajar tanpa guru.

Hukum, Sains, dan Agama

Menarik ketika mendengar istilah khulafaur rashidin, dalam rujukan Islam Sunni, hanya ada empat khalifah yang termasuk dalam kelompok ini, yakni empat khalifah pertama. Dulu saya menerima ini begitu saja tanpa menanyakan, siapa yang menamai mereka. Dulu saya pikir memang sudah demikian adanya. Rupanya penyebutan khulafa (khalifah/caliph) ar-rashidin (diberi petunjuk/rightly-guided) ini baru muncul di era Abbasiyah (Abbasid), tentu saja para sejarawan yang akhirnya meng-coin-kan istilah ini.

Tentu saja implikasi dari penyebutan ini adalah, khalifah selanjutnya jadi kurang diberi petunjuk. Padahal khalifah sendiri adalah bayangan/wakil Tuhan di muka bumi. Well, somehow, empat orang Khalifah pertama disebut demikian karena terobosan mereka dalam menegakkan syariah. Setelah era mereka banyak terjadi perselisihan mengenai penegakan syariah (termasuk soal madzhab dan hadits tadi). Bahkan ada suatu masa dimana orang-orang benar-benar takut jika diminta menjadi hakim. Catatan menarik juga, sebenarnya Umar bin Khattab banyak melakukan ‘inovasi’, entah hitungannya bid’ah yang dolalah atau bukan sih ya, seperti mengadakan tarawih berjamaah. Selain itu Umar juga dikisahkan pernah ‘mengusir’ seorang pria yang ketampanannya ‘meresahkan’ di sebuah kota dan berkata, “kau tidak punya dosa, tapi aku akan berbuat dosa jika tidak menyuruhmu pergi”.

Well, Islamic Empire sendiri mencapai wilayah terluasnya pada era Umayyah dengan Muawiyah sebagai khalifah pertama yang bertahta bukan melalui penunjukan oleh pendahulunya atau majelis syuro. Semenjak saat itu political dinasty di Islamic Empire pun terbentuk untuk kali pertama. Di jaman ini banyak muslim non-Arab yang merasa terdiskriminasi. Dinasti ini akhirnya digulingkan oleh As-Saffah (yang masih memiliki hubungan darah dengan Nabi) melalui sebuah ‘revolusi’ yang bisa menarik massa dengan semangat penegakan syariah yang lebih baik dan politik yang tidak membedakan suku. Lalu, era dinasti politik pun berpindah tangan ke dinasti Abbasid. Pada dinasti inilah sains dan agama disebut-sebut bisa get along dan menghantarkan umat pada Islamic Golden Age (while it’s a dark age in Europe).

Sebenarnya kalau agak ditilik, Islamic Golden Age bisa terjadi berkat akumulasi pengetahuan dari Yunani dan India. Banyak kitab-kitab filsuf Yunani yang dilestarikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ilmu matematika dari India pun dikembangkan sehingga muncul al-jabr dan penggunaan trigonometri untuk mengukur kiblat. Ditambah pula oleh rasa penasaran dari khalifah yang mendorong dibuatnya observatorium. Hal ini menimbulkan sedikit polemik juga dengan agama, sehingga gerakan yang super duper rasional berkembang dan mulai bergesekan dengan otoritas agama. Waktu itu hal yang cukup membuat heboh adalah ketika ada yang mempertanyakan “apakah al-Quran diciptakan oleh Tuhan atau al-Quran sudah ada sejak jaman azali?”

Biar bagaimanapun peradaban manusia tidak hanya dibentuk oleh satu kaum dan tidak dimonopoli oleh satu agama. Kita bisa hidup di era sekarang berkat kontribusi dari masyarakat terdahulu, tidak hanya orang-orang yang segama dengan kita, dan orang-orang yang sesuku dengan kita. 

Adakah sebuah arti?

Terkadang saya bertanya, adakah sebuah arti dibalik hukum, sains, dan agama? Mengapa tak jarang hubungan ketiganya seperti benci-benci rindu. Belum lagi kaitannya dengan sistem politik yang mengakomodasi ketiganya. Mengapa jaman dulu agama sering sekali dijadikan alat politik. Dan tentu saja hal ini berkaitan erat dengan hukum yang diterapkan oleh penguasa. Pernah ada suatu jaman dimana kekuasaan Raja di atas Pope, dan ada pula jaman di mana Pope di atas Raja. Ya, ya, ya setiap ‘agama’ dalam sejarahnya punya polemiknya masing-masing dengan ‘penguasa’. Belum lagi ketika sains berkembang.

Kalau menurut saya, sebenernya ujung-ujungnya ini semua hanyalah cara Tuhan agar kita tidak merasa paling benar sendiri. Sebagai manusia, kita hanya bisa melakukan pendekatan dan menciptakan teori berdasarkan model dependant realism. Iya, istilah ini saya pinjam dari Stephen Hawking yang sedikit melakukan pendekatan filosofis untuk sains, meskipun dalam bukunya The Grand Design, ada statemen yang mengatakan philosophy is dead.

Soal kebenaran, mungkin memang pada akhirnya sejarah-lah yang benar-benar berpeluang untuk membuktikannya. Tentu saja jika berbicara sejarah, kita berbicara tentang ‘waktu’. Argumen inilah yang disebut-sebut sebagai ‘God of the Gaps’ di buku-buku atheis. Jika benar agama bermaksud menyelamatkan umat manusia, tapi kebenarannya sendiri baru bisa dibuktikan seiring waktu (hal ini sebagai rebuttal atas argumen kaum beragama bahwa suatu saat agama akan terbukti benar dan suatu saat sains akan membuktikannya, meskipun saat ini mungkin bertentangan), untuk apa ada agama?

Yah sekali lagi, pada akhirnya kita harus memilih model seperti apa untuk memandang hidup..

Saya pun iseng bergumam, dan karena waktu itu ada gitar disamping saya, saya pun iseng merekamnya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s