Kita Punya Segalanya untuk Menang?

Katakanlah saya gagal move on, tapi sampai sekarang saya masih banyak berpikir tentang ITB. Saya masih terjebak pada kehidupan saya yang lama, memikirkan betapa lambatnya ITB bergerak jika dibandingkan ‘rekan-rekannya’. Masih terbelalak mata saya ketika mengecek, h-index dari petinggi-petinggi kampus. Agak ironis mendengar selama ini merekalah yang meneriakkan ITB sebagai world class research university.

Beruntung saya di sini, saya bisa melihat semuanya dari sisi lain. Betapa tertinggalnya ITB, bahkan dari universitas muda tetangga sebelahnya, NTU, tempat saya kuliah saat ini. Dari mulai penerapan e-learning untuk perkuliahan, kemampuan branding, dan kerjasama internasional yang dihasilkan.

Entah karena gagal move on, entah karena cinta? atau mungkin karena di sini pun saya banyak bertemu dengan alumni ITB? Saya masih sering menuliskan tentang ITB di blog saya, membicarakan ITB pada diskusi makan siang dan malam (membandingkan ITB jaman saya dengan jaman-jaman para senior). Masih ingat pula, saya sempat-sempatnya membuat grup ITB pecinta satelit, meskipun pada akhirnya saya sudah tidak sempat lagi meramaikannya.

Ingin suatu saat saya kembali lagi ke ITB, melakukan sesuatu bersama mahasiswa. Melakukan hal seperti ini misalnya:

Mungkin juga alasannya simpel, banyak benih khayalan yang pernah saya tanam di ITB. Tak sedikit hal-hal itu mulai terwujud satu demi satu meskipun saya hanya bisa menonton.

Pernah saya mendapatkan sebuah cerita dari seniro, pada sidang terbuka mahasiswa baru, seorang mahasiswa baru (2005) bertanya seperti ini:

“Kapan ya, MIT jadi ITB-nya Amerika?”

Segitu terinspirasinya saya oleh kata-kata ini sehingga saya sempat menjadikannya bio twitter @inovasiitb. Saya waktu itu bermimpi agar kelak I3M ITB bisa menjadi lembaga yang mengkatalisasi perubahan di masa depan, menjadikan MIT jadi ITB-nya Amerika. Ah, mimpi yang waktu itu terasa benar-benar cuman mimpi. Saya orangnya lebih memilih jadi informed pessimist ketimbang jadi uninformed optimist.

Lalu, ada sebuah pesan yang waktu itu agak mengubah mindset saya. Seorang kawan saya, Ikhsan (yang pernah menjadi Pimpro proyek I3M) mengirimkan pesan di facebook. Buat saya pribadi, proyek ini merupakan salah satu proyek yang paling keren yang pernah saya ikuti. Ini semua dimulai dari FGD tentang realitas media masa kini, waktu itu beberapa unit media juga hadir. Satu kesimpulan yang diambil ujung-ujungnya kita harus membuat lagi semacam Campus Channel (ide lama). Lalu, kebetulan ada yang mau menjadi Pimpro dan memasukkannya ke PKM dan lolos ke PIMNAS. Bahkan, baru-baru ini artikel ilmiahnya masih menang PKM-AI. Senang rasanya bisa menjadi bagian dari proyek ini, meskipun sampai saat ini saya tak tahu bagaimana perkembangannya. Iya, menjaga agar sesuatu tetap sustain itu lebih sulit daripada memulainya, terlebih ketika kita sudah sangat jauh darinya.

fik, I3M masih hidup ga sekarang?

Hmm, masih cmn gw gatau ya skrg gmn aja kegiatannya. Knp?

Gw dihubungin mahasiswa di mit media lab, dia pengen kerjasama sm anak” ITB di project OpenIR, (http://openir.media.mit.edu/main/) gw pengen hubungin I3M buat assemble teamnya

Seperti ditampar. Betapa bodohnya saya. Saya lupa bahwa dunia jaman sekarang sudah memiliki konektivitas yang tinggi. Bukan tidak mungkin para akademisi di MIT saya mengembangkan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan di Indonesia. Bukan tidak mungkin juga ketika akhirnya mereka mengajak mahasiswa lokal untuk bekerja sama. The world is filled with unlimited-yet-unimaginable possibilities. When one of them says hello to you, it’s just wonderful.

Dan entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang bernyala di dalam diri saya. Saya melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang bagus bagi mahasiswa ITB untuk belajar, dan bukan tidak mungkin jika kerja sama ini bisa merambah ke project-project lain dan mungkin juga kerjasama antara dua institut. Well, tentu saja jalan masih sangat panjang.

Sulit, banyak rintangan, tapi bukan tidak mungkin. Dan toh kalau dihubungkan dengan pertanyaan di sidang terbuka tadi, rasanya masih sangat jauh, tapi sekali lagi, bukan tidak mungkin. Siapa pernah sangka bahwa Abbasid akan mengembangkan ilmu pengetahuan dan melestarikan kitab-kitab pemikir Yunani, dan India. Siapa sangka setelah itu mereka runtuh, lalu Eropa yang tadinya mengalami Dark Age akhirnya menyambut era Renaissance?

Ah iya, sementara itu saya juga baru membaca berita bahwa ITB sudah mulai terinspirasi oleh MIT Open Course Ware. Saya jadi ingat, dulu ketika saya akan mencalonkan diri sebagai Presiden I3M, saya sempat berbincang dengan Iwa tentang ide untuk membuat hal serupa. Waktu itu saya sempat berbincang dengan beberapa dosen, dan kesimpulan yang saya ambil waktu itu belum feasible untuk mengeksekusi proyek ini.

Saya pun berpikir bahwa kita bisa melakukan proyek sejenis untuk ‘menyindir’ birokrat ITB. Saya pun membentuk tim, idenya simpel, mendokumentasikan sekolah bakat di SKHOLE ITB. Lalu nanti ide itu akan di-integrasikan dengan proyek Campus Channel. Ah, tapi sayang waktu itu proposal PKM kami tidak lolos. Lalu, semakin banyak saja pembenaran saya secara pribadi untuk tidak melanjutkan eksekusi ide tersebut setelah saya berhenti menjadi presiden I3M.

Kalau melihat ke belakang, saya jadi tersadar, sebenarnya saya waktu itu punya segalanya untuk menang. Bahkan salah satu orang yang paling getol menyuarakan e-learning di ITB adalah dosen pembimbing saya.

Tapi ya waktu terbatas, saya memilih untuk kalah (pada ide tersebut). Ya, untungnya saya masih memenangkan beberapa ide lain. Hal ini sesuai dengan teori probabilitas (dekatilah 10 wanita cantik, seapes-apesnya minimal ada 1 yang mau diajak jalan :p).

Tapi bener loh, kita punya segalanya untuk menang. Sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s