Self-re-discovering

Baru-baru ini saya banyak berbincang dengan roommate saya, Ronggo (FT 01, yang ternyata merupakan certified Hypnoterapist) mengenai Hypnosis dan Unconscious mind. Sebenarnya saya sudah pernah secara sadar mempelajari hal-hal ini bersama om saya dan beberapa buku yang saya baca. Sebelum pergi ke singapura pun saya sempat mempraktekkan “mind power” bersama om saya, dan saya benar-benar membuat lampu bohlam terpantul ketika dijatuhkan ke tanah.

Ah, lalu saya pun merefresh semua yang terjadi. It seems that I did not continue to do the things that make me success (in the sense of feeling happy no matter what we encounter in life). Dan mungkin beberapa bulan ke belakang saya mengalami breakdown yang cukup gila. Saya pun mulai melakukan terapi kepada diri saya: menulis. Untuk membuat suasana yang baru, saya menulis di posterous. Eh, rupanya beberapa hari lalu posterous memberi kabar bahwa dia akan close down, maka saya pun memigrasikan semuanya ke tumblr yang baru saya buat. (http://roupost.tumblr.com/)

Saya pun teringat suatu judul buku:

“Something you forgot along the way”

After having a journey to my childhood memories, I realize that the thing that we forgot along the way is ourselves. Saya pun teringat kembali bagaimana masa kecil saya. Saya dibesarkan dengan berbagai sugesti positif dari orang tua saya, sehingga saya tumbuh dan berkembang sebagai seorang anak muda yang percaya diri, tidak takut untuk bermimpi. Iya, dulu saya adalah pemimpi dan beruntung, saya selalu diberikan fasilitas oleh orang tua saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Beruntung juga dari kecil saya sudah akrab dengan berbagai dunia, baik itu politik, pendidikan, maupun bisnis. Saya yakin di alam bawah sadar saya hal-hal ini tertanam dengan sangat dalam sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang.

Dan sekarang saya berusaha untuk mengingat kembali siapa diri saya, hendak kemana saya, dan apa yang akan saya lakukan ke depan.

Advertisements

Mi’rajul Mukminin (1)

Saya termangu memandang langit Singapura yang dihinggapi oleh awan-awan yang saling berarakan. Indah. Kalau langit saja seindah ini, seindah apa yang namanya Maha Indah? Kalau di dunia ini saja saya sudah menemui orang-orang yang baiknya gak karu-karuan, sebaik apa yang Maha Baik?

Tapi, benarkah Dia yang bersemayam di atas arsy sana adalah Dia yang juga begitu dekat dengan urat nadi?

Is that God, which resides on His arsy, the same God as the One that is closer to me than my jugular vein?

Sebagai seseorang yang menuntut pendidikan dasar dan menengah di sekolah berkurikulum Islam, saya masih ingat sekali bahwa salah satu hal yang menjadi keutamaan dari Islam adalah bisa dipahami secara sistematik dengan logika. Tapi sejujurnya seiring dengan berjalannya waktu, ada banyak pertanyaan yang timbul.

Ada sisi mistik dari Islam. Continue reading “Mi’rajul Mukminin (1)”