Mi’rajul Mukminin (1)

Saya termangu memandang langit Singapura yang dihinggapi oleh awan-awan yang saling berarakan. Indah. Kalau langit saja seindah ini, seindah apa yang namanya Maha Indah? Kalau di dunia ini saja saya sudah menemui orang-orang yang baiknya gak karu-karuan, sebaik apa yang Maha Baik?

Tapi, benarkah Dia yang bersemayam di atas arsy sana adalah Dia yang juga begitu dekat dengan urat nadi?

Is that God, which resides on His arsy, the same God as the One that is closer to me than my jugular vein?

Sebagai seseorang yang menuntut pendidikan dasar dan menengah di sekolah berkurikulum Islam, saya masih ingat sekali bahwa salah satu hal yang menjadi keutamaan dari Islam adalah bisa dipahami secara sistematik dengan logika. Tapi sejujurnya seiring dengan berjalannya waktu, ada banyak pertanyaan yang timbul.

Ada sisi mistik dari Islam.

Ya, sama halnya dengan agama lain, agama Islam pun memiliki unsur Mistik. Sisi Mistik ini pula yang memberikan ‘warna’ dari Islam yang merupakan agama terakhir, agama yang diturunkan bagi manusia-manusia modern-akhir zaman. Bukankah disebutkan bahwa mukjizat Nabi Muhammad adalah al-Quran, sehingga ketika kaum kafir Quraisy meminta Rasulullah untuk menunjukkan kesaktiannya, Beliau tidak menghiraukannya dan justru mengatakan bahwa, bukankah sangat luar biasa ketika Beliau ditugaskan untuk membawa agama bagi seluruh umat manusia (bukan hanya untuk satu kaum).

Namun, seiring dengan ijtihad yang dilakukan oleh Imam Muslim yang berkelana ke berbagai tempat untuk meneliti keotentikan ‘berita mengenai perkataan dan tindakan’ Rasulullah, ditemukan pula banyak hal-hal yang ‘tidak logis’. Kisah ketika Rasulullah membelah bulan, misalnya. Keberadaan sisi mistik/metafisik serta kaitannya terhadap sains (yang di jaman ini telah banyak memberikan pencerahan bagi manusia dalam menerangkan tentang apa yang terjadi di alam) ini pula yang tak jarang menjadi argumentasi dalam perdebatan antara atheis dan theis.

Bukti Empiris

Pada dasarnya sains menitikberatkan pada pengamatan empiris sehingga teori-teori yang ada bisa digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, ada pula satu kesepakatan dalam sains, bahwa suatu teori mungkin saja terpatahkan jika ada teori baru yang bisa menjelaskan fenomena alam dengan lebih akurat.

Permasalahan utama dari hal-hal yang berbau mistik, seperti mukjizat: ia tidak dapat direplikasi. Tidak ada bukti empiris mengenai keberadaan mukjizat tersebut.

Iya, saya pikir-pikir benar juga sih ya, apa yang ada dalam Islam ini sepertinya kebanyakan teori. Kalau kita tengok ahli fiqh, mereka lebih banyak berbicara mengenai hukum fisik, hukum untuk hal-hal yang bisa dilihat di dunia. Lantas, bagaimana dengan hal-hal yang tidak kasat mata? Bukankah Adam pada akhirnya termakan rayuan Iblis sementara Ia berada di surga, di tempat yang kita semua ingin menujunya? Makhluk seperti apa yang telah disebut-sebut sebagai musuh kita ini, betapa canggih dan tinggi dimensinya.

Bagaimana pula Khidir bisa menyibak misteri dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan?

Bagaimana pula Nabi Musa bisa membelah samudera? Jika benar hal itu sebenarnya hanyalah fenomena alam yang terjadi secara periodik, ‘kebetulan’ sekali ya fenomena ini terjadi pada saat Nabi Musa hendak menyeberang, dan terhenti ketika Firaun sedang di tengah-tengahnya.

Dan masih banyak mistisme lain, yang mana tidak ilmu ke-Islam-an yang selama ini populer di masyarakat kita, tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan mengenai pertentanga yang ada dalam Islam. Bahkan ada pula yang memandang bahwa Islam ini berujung pada politik. Dari mistisme (keberadaan Tuhan) lalu berujung pada Politik, dengan argumen bahwa,

“Jika Nabi Muhammad hanya hendak menyebarkan ‘agama’ saja, tidak mungkin ia diperangi.”

Sufisme: Empiris Mistik

Well, di era modern ini kita mengenal banyak sekali paham mengenai Islam. Semuanya berusaha untuk memodelkan agama Islam yang ‘benar’. Dari yang menggunakan logika, dari yang berbasis tradisi, hingga yang hybrid seperti madzhab mayoritas Islam di Indonesia. Namun selain madzhab fiqih, ada pula kelompok yang disibut Mistikus. Mereka disebut-sebut sebagai Sufi.

Meskipun sejarah tentang ‘sufisme’ sendiri telah lebih tua daripada Islam, di era modern ini Sufi telah identik dengan Islam. Buat saya pribadi ‘sufisme’ ini menarik. Dia sedikit berbeda (tentu saja yang saya maksud sufi di sini bukan sekedar sisi mengasingkan dirinya saja, yang identik dengan yang dikesankan orang-orang). Dan salah satu sufi yang tersohor adalah Imam Al-Ghozali (Algazel).

Ditengah berbagai keberlimpahan yang dimilikinya, Algazel memutuskan untuk menyendiri dari makhluk. Dan bahkan pada akhirnya Algazel berpendapat bahwa logika tak akan mampu mencapai kebenaran. Singkat kata mistisme akhirnya berujung pada mistisme.

Yang menarik dari Sufisme adalah, ia menitikberatkan pada ‘pengalaman’ dan tentu saja hal ini identik dengan pengabdian kepada Guru. Dan hal ini juga lah yang terjadi pada Islam di masa awal. Bahkan konon katanya, Abu Bakar dahulu sempat ragu untuk membukukan Alquran. Ketika Imam Muslim membukukan hadits pun dia memahami bahwa hal ini sangat-sangat riskan sehingga, konon, ia selalu berdoa/sholat sebelum menuliskan setiap haditsnya.

Dalam ilmu Sufi, semuanya didasarkan pada pengalaman. Logika saja tidak akan cukup untuk membuat seseorang ‘nyufi’, sebab sufi adalah perbuatan, yakni menyucikan diri. Dan tentu saja bukan mudah untuk menyucikan diri, ingat, musuh kita adalah Iblis yang berhasil memperdaya Adam di Surga, bukan di pasar malam.

Pengalaman. Mistik. Dan tidak dapat dipahami oleh orang lain. Personal.

Ah, sejujurnya saya agak blank mau melanjutkannya seperti apa. Pikiran saya sudah berkelana kemana-mana. Jadi saya sudahkan saja catatan ini, dan saya bubuhkan tanda (1) di judulnya.. semoga kelak bisa dilanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s