Yang Saya Salah Pahami Tentang Hidup

Dulu waktu saya kuliah di ITB, saya berpikir perjuangan dan capek akan berakhir setelah saya lulus kuliah. Dan karena kebetulan saya dibesarkan dalam lingkungan yang penuh gejolak, saya selalu merasa apa yang saya alami ketika kuliah itu too much. Saya dulu berpikir, kenapa segitunya sih? Kenapa saya harus hancur di akademik, berkonflik sangat panas di organisasi, ditolak di percintaan (maklum masa puber :D), dan bahkan ketika saya mengharapkan bahwa kehidupan saya akan normal pada lingkungan terkecil yang saya miliki, yang saya jumpai justru sebaliknya.

Kapal di Pelabuhan..

Waktu itu saya pun sedikit bermain tebak-tebakan dengan Tuhan. Saya pikir maksud Tuhan memberikan suguhan seperti ini buat saya adalah supaya Continue reading “Yang Saya Salah Pahami Tentang Hidup”

Blackjack

Ini adalah postingan pertama saya setelah menginjak usia 21 dalam hitungan masehi. Beberapa orang bilang usia ini adalah usia legal, sebab ia adalah batas minimum umur untuk masuk Casino. Bagi saya pribadi, ia merupakan judul dari salah satu film favorit saya. Film tersebut berkisah tentang mahasiswa MIT yang memainkan judi blackjack di Casino dengan disponsori oleh dosen pembimbingnya. Saya sendiri suka memainkan game ini di PC.

 

 

Buat saya ada pelajaran menarik yang bisa dipetik. Bahkan hal yang kesannya murni spekulasi seperti judi pun bisa dipelajari dengan ilmu statistik dan matematika yang sederhana. Well, saya jadi teringat kalau dalam Radar pun ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan prosesnya seperti apa, tetapi ternyata memenuhi distribusi tertentu. Saya pernah mendengar dari salah satu dosen saya bahwa sebenarnya manusia memiliki kemampuan pattern recognition yang terus berkembang, tapi tidak dengan analisis. Itulah mengapa ilmu statistik dan proses stokastik menjadi penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dan tentu saja kalau mencoba menarik lebih dalam filosofinya untuk kehidupan, mungkin kita akan kembali kepada salah satu pertanyaan dasar tentang kehidupan, Continue reading “Blackjack”

[Social Analogy] Doppler Radar

This post is inspired by three things which cross my mind. The first thing is my research on Pulse-Doppler Radar which doesn’t show any progress since I have been procrastinating for the last few days. The second, I visited my friend’s blog which discusses “frequency” in social life. It happens that the life story of this friend reminds me of an Indonesian novel-movie, “Perahu Kertas”. In that narration, the term “Radar of Neptune” (it’s more like some kind of telekinesis to track someone which has intimate spiritual relation with the radar user, and it’s only a joke in the story anyway ) is mentioned. It is also a coincidence that this ‘radar’ lead my memory to a question asked by Mas Ivandeva, the coach in my former company:

“Can you build a radar which is able to penetrate through the heart of human, to detect their true feeling?”

Because nowadays, people are prone to forget that human is not a heartless being. Yet some of them would prefer to live like a heartless one, to pay no attention to the others. Sometimes they even forget that they do live their own lives. They live their lives according to what people told them, or simply do the routine they took for granted.

Sheldon Cooper wearing Doppler Effect costume in a costume party.

Continue reading “[Social Analogy] Doppler Radar”

Celengan Memori

Nima, Ayu, Rido. Ah, nama itu nampaknya sudah lama terlupa. Tak pernah aku mengingat masa-masa SD. Sudah lama aku tak pernah membongkar memori masa kecil itu. Rasa-rasanya kepingan memori itu terkumpul dalam celengan yang  belum pernah aku pecahkan.

Prung!! Tiba-tiba saja ada yang memecahkan celengan itu. Nima, teman sepermainan semasa SD memulai obrolan via facebook. Simpel. Menanyakan kabar.

 ”Roy, gimana kabarnya?”

     ”Baik nimmm. Kamu gimana?”

     ”Baik juga. Udah lulus ya?”

Aku tak pernah menyangka pertanyaan itu diajukan. Rasa-rasanya baru tadi aku ke klinik layanan kesehatan milik universitas dan ditanyai hal serupa. Bagi mahasiswa yang seharusnya sudah lulus seperti aku, pertanyaan itu pertanyaan aneh. Mirip buah pir. Rasanya enak meskipun teksturnya agak kasar, seperti memakan ribuan biji yang menyatu dalam daging buah. Pertanyaan itu seperti pertanyaan hiburan buatku, meskipun terkadang pertanyaan itu juga mengingatkanku untuk segera menyelesaikan kuliah.

Aku jadi ingin sedikit bercerita. Hari ini aku datang ke klinik kesehatan universitas. Bagi mahasiswa jurusan gizi dan kesehatan sepertiku, malu rasanya ketika sakit. Harusnya aku bisa menjaga kesehatanku sendiri, bukan malah terkena penyakit dunia ketiga. Andai saja daya tahan tubuhku sedang baik tentu aku tidak akan tertular penyakit semacam ini. Dan kejadian itu pun terjadi pada saat aku menuliskan angkatan di lembar registrasi.

Mas, angkatan 2005?” ibu petugas bertanya

Iya Bu,” jawabku lantang

Loh, udah lulus belum mas?” ibu petugas kembali bertanya, sebab mahasiswa yang sudah lulus tak berhak dapat harga mahasiswa

Hmm.. belum Bu,” jawabku pelan

Masih betah ya mas?” ibu petugas yang lain menimpali

Ah iya Bu, dibetah-betahin,” aku menjawab dengan senyum – semoga saja tulus dari hati. Continue reading “Celengan Memori”

Nanti Mau Kerja Dimana?

Tumblr mlb0kvRH0c1qcqxh7o1 500

Sheldon dan Dr. Proton

Baru saja saya berbincang dengan Bapak-bapak flatmate saya. Kebetulan saya sedang running simulasi di ruang tengah. Mereka pun bertanya simulasi apa ini? Mungkin karena bawaan saya hari ini males dan mager, saya pun ogah-ogahan memberikan jawaban. Saya jawab saja ini menyimulasikan sinyal. Tak lama kemudian setelah akhirnya sedikit banyak akhirnya saya menjelaskan bahwa sinyal ini menyimulasikan radar dan cara mendeteksi arah dan jarak dari suatu target, muncul pertanyaan dari Bapak tersebut.

Dugaan saya, Bapak tersebut terpengaruh media Indonesia yang terkadang tidak seimbang dan berlebihan. Bapak tersebut mengungkapkan keheranannya, mengapa orang-orang di sini kalah pintar dengan orang-orang Indonesia. Saya agak terkejut. Saya pun sedikit menjelaskan bahwa bahkan h-index dari rektor ITB pun di bawah kebanyakan Associate Professor di Singapore.

Setelah itu muncul pertanyaan dari Bapak tersebut, “Nanti kalau lulus gelar kamu Ph.D ya?”

“Oh, iya kalau lulus Pak, hehe”

“Nah nanti kalau setelah lulus kamu mau kerja dimana?” Continue reading “Nanti Mau Kerja Dimana?”

Tanda

Tanda itu ada dimana-mana. Setiap kata, setiap benda, setiap tekstur yang bisa diraba.

Hari ini pun, ketika aku menjawab pertanyaan sampai kapan, aku menjawabnya dengan aku menunggu tanda.

Di saat yang sama, aku kembali tersadar bahwa tanda itu tak perlu ditunggu, sebab mereka selalu ada. Hanya saja aku tak tahu, tanda yang mana!

Aku cari di kolong logika, kebenaran tidak pernah tersisa. Ia selalu kalah oleh berbagai pertentangan yang tak ada habisnya.

Pola itu tak pernah berhenti, selalu demikian adanya.

Di saat ragu mulai merasuk, tanda yang ada semakin nyata.

Ia bukan masuk lewat logika, tapi lewat rasa. Sebab logika ku pasti akan menolaknya! Logika ku tak pernah menemukan satu jawaban dengan seribu kepastian. Logikaku selalu memberikan seribu jawaban dengan satu ketidakpastian.

Ia juga sering masuk bukan lewat orang lain, tapi lewat perkataanku sendiri di masa silam. Sebab kita pernah mendapatkan jawabannya di masa lampau tapi lupa mencantumkannya pada tas di punggung kita!

Tanda, benarkah ini semua tanda?

Karena bukankah hal sepalsu, serapuh, dan seabstrak kehidupan duniawi adalah bagian dari perjalanan yang sebenarnya?

Ini bukan tentang berbuat, lalu masa bodoh dengan hasilnya. Ini tentang perjuangan, sedikit dari yang kita lakukan pun bermakna!

Lebih Baik Tidak Peduli

Akhirnya senin kemarin ujian di semester ini berakhir. Awalnya hari senin saya mau langsung merayakannya dengan pergi entah kemana. Namun saya juga tidak tahu apa yang membuat saya malah ke lab. Sesungguhnya pergi ke lab itu pekerjaan yang sangat meng-enggan-kan (bahasa gaulnya malesin).

Seperti biasa, sampai di lab saya menyalakan komputer, yang seperti biasa sebenarnya hanya di sleep sejak beberapa hari/minggu lalu, lalu membuka gmail, youtube, facebook, tweetdeck, wordpress, dan tumblr. Sembari memutar daftar putar di youtube, saya mengecek beberapa game facebook yang sudah lama tidak dimainkan. Continue reading “Lebih Baik Tidak Peduli”

Percakapan dalam Mimpi

Malam ini saya bermimpi berbincang dengan seorang teman. Dulu kami memang sering berbincang sembari makan bersama. Perbincangan itu terasa begitu nyata, saking nyatanya pesan yang disampaikannya di dalam mimpi masih membekas, bahkan hingga enam jam saya terbangun dan menuliskan post ini.

Di mimpi itu teman saya mengingatkan saya agar berhati-hati dalam “fake it ’till you make it” karena jika hal itu dilakukan dengan berlebihan, saya jadi membohongi diri sendiri. Terkadang kita begitu berhasrat untuk menjadi sesuatu, menampilkan kesan bahwa kita  telah menjadi sesuatu. Hal ini memberikan gratifikasi instan secara sosial dan membuat kita jadi lembam dan berpangku tangan, padahal perjalanan masih jauh.

Saya lupa detail percakapannya, yang jelas dalam mimpi tersebut teman saya memberikan analogi dengan sebuah tablet. Kalau tidak salah dia sempat membuka sebuah apps sambil memberikan saya nasehat yang isinya kurang lebih seperti yang saya tulis di atas.

Mimpi memang selalu menjadi misteri. Beberapa kepercayaan menyebutkan bahwa jika kita bermimpi tentang seseorang, mungkin seseorang itu yang merindukan kita. Tapi saya sebenarnya lebih percaya bahwa pada umumnya mimpi adalah apa yang terekam di bawah sadar kita. Hal itu bisa jadi merupakan manifestasi dari apa yang kita alami sehari-hari maupun hasrat terpendam. Dan saya bisa bermimpi begini mungkin karena dulu saya sering mengobrol dengan teman tersebut.

Apapun itu, saya senang mendapatkan life lesson, bahkan di dalam mimpi.

Kita Masih Butuh Motivator

“Sekarang kan udah bukan jamannya Mario Teguh.”

“Orang Indonesia tuh terlalu banyak omdo, motivasi-motivasi doang tapi ga ada konkret-konkretnya.”

Untuk apa?

Sebelum ini saya termasuk orang yang skeptis dengan peri ke-motivator-an dan buku-buku self-help. Untuk apa sih orang-orang harus dimotivasi? Memangnya orang tidak tahu cara memotivasi dirinya sendiri? (satu)

Untuk apa sih orang-orang harus diajarkan cara untuk menggapai kebahagiaan? Memangnya orang-orang tidak tahu cara untuk bahagia? Segitu sulitnya hidup ini kah, sampai-sampai kita harus diajari cara untuk menjalani hidup oleh motivator-motivator, oleh buku-buku self-help? (dua)

Hingga akhirnya timbul pertanyaan lebih ultimate lagi, dengan beredarnya begitu banyak buku-buku self-help dan seminar oleh motivator kondang (baik on air, off air, online maupun offline), mengapa ‘sepertinya’ orang-orang belum bisa ‘sukses’, belum bisa ‘bahagia’? Banyak buku menawarkan cara untuk sukses, kenapa orang tidak sukses-sukses? (tiga)

Trainer: Sebatas Orang yang Jago Ngomong Doang? Continue reading “Kita Masih Butuh Motivator”