Kita Masih Butuh Motivator

“Sekarang kan udah bukan jamannya Mario Teguh.”

“Orang Indonesia tuh terlalu banyak omdo, motivasi-motivasi doang tapi ga ada konkret-konkretnya.”

Untuk apa?

Sebelum ini saya termasuk orang yang skeptis dengan peri ke-motivator-an dan buku-buku self-help. Untuk apa sih orang-orang harus dimotivasi? Memangnya orang tidak tahu cara memotivasi dirinya sendiri? (satu)

Untuk apa sih orang-orang harus diajarkan cara untuk menggapai kebahagiaan? Memangnya orang-orang tidak tahu cara untuk bahagia? Segitu sulitnya hidup ini kah, sampai-sampai kita harus diajari cara untuk menjalani hidup oleh motivator-motivator, oleh buku-buku self-help? (dua)

Hingga akhirnya timbul pertanyaan lebih ultimate lagi, dengan beredarnya begitu banyak buku-buku self-help dan seminar oleh motivator kondang (baik on air, off air, online maupun offline), mengapa ‘sepertinya’ orang-orang belum bisa ‘sukses’, belum bisa ‘bahagia’? Banyak buku menawarkan cara untuk sukses, kenapa orang tidak sukses-sukses? (tiga)

Trainer: Sebatas Orang yang Jago Ngomong Doang?

Ingatan saya kembali ke masa berkuliah di ITB. Waktu itu yang pernah menjadi trainer di acara penerimaan mahasiswa baru diundang untuk perumusan wadah bagi para trainer SSDK dalam bentuk Unit Pengembangan Karakter. Dan seperti biasa, belum apa-apa sudah ada draft AD/ART (saya selalu muak dengan hal seperti ini dan beberapa kali menggagalkan pembentukan suatu organisasi yang dilakukan dengan taktik seperti ini, meskipun saya pribadi mungkin akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisi mereka yang menginisiasi). Waktu itu muncul pro-kontra dalam forum. Saya ingat, salah satu inisiator unit tersebut (kalau tidak salah angkatan bawah) bahkan sampai sempat menceritakan sedikit aspirasinya,Saya ingin suatu saat nanti bisa memberikan training untuk para CEO.

Akhirnya saya sendiri tidak tahu kelanjutan nasib untuk tersebut karena saya pergi di tengah-tengah acara. Sebenarnya saya pribadi suka sih kalau ITB mempunyai Unit Pengembangan Karakter, hal ini cukup unik apabila konsepnya benar-benar matang. Kalau cuman sekedar kumpulan orang-orang yang hobi ngomong dan demen berbicara di depan dan ngajarin orang lain cara untuk hidup mah, rasanya kok terlalu dangkal. Iya, seperti yang saya bilang di awal, dulu saya sangat skeptis.

Lalu, pernah lagi saya menjadi penanggung jawab sebuah acara yang mengundang motivator. Saya mengantarkan si motivator ke travel dan berbincang-bincang santai. Motivator tersebut memberikan brand tertentu yang berupa kata sifat setelah namanya, sebut saja RUDI “BOMBASTIS”. Saya pun bertanya, “Pak Rudi, sebenarnya “Bombastis” ini maksudnya apa ya Pak?

“Oh itu sih branding aja dik, biar kita gampang diinget. Maklumlah, sekarang kan kompetisi ketat, ada banyak motivator, ini untuk membedakan dari yang lain saja,” jawab Pak Rudi

Saya agak tercengang di dalam hati. Saya pikir Pak Rudi akan memberikan jawaban dengan kata-kata yang indah dan filosofi yang dalam sebagaimana yang dia berikan kalau lagi manggung. Tapi saya sangat mengapresiasi jawaban yang jujur dan bukan pencitraan. Sekaligus di sana saya mengamati dari intonasi dan ekspresinya bahwa ada sedikit takaran pesimisme di sana. Dan otak saya pun berpikir dan menduga, mungkin dia mau diundang gratis juga dalam rangka promosi.

Iya, saya melihat ada ironi di sana. Motivator-motivator yang nampak seperti macan garang di panggung rupanya manusia biasa yang bisa merasa sedih dan pesimis (yaiyalah, mereka memang manusia biasa). Mereka juga masih bergelut dengan hidupnya, karena memang hidup adalah perjuangan tanpa henti hingga nafas terakhir bukan?

Jawaban atas Tiga Pertanyaan

Kita semua pernah berada dalam kondisi rendah dimana kita merasa sedih, terpukul, gagal, dan kehilangan arah. Akui sajalah, kita semua manusia biasa dan dikala kita terjatuh, kita selalu berharap ada orang-orang yang membantu kita. Dan, mungkin, kita adalah bagian dari orang-orang beruntung yang lebih jarang merasa di bawah dibandingkan merasa di atas. Tapi kalau mau melihat ke sekeliling kita, masih banyak loh ternyata orang-orang yang membutuhkan motivasi. Masih banyak orang-orang yang butuh dikasih tahu kalau mereka sebenarnya bisa menjadi orang yang lebih baik, lebih optimis, dan bisa lebih berusaha daripada sekedar menerima nasib dan melakukan hal-hal seadanya. Mereka adalah orang-orang yang mungkin selama ini tidak tahu bahwa ada cara lain untuk memandang dan menjalani hidup. Arah bro, arah..

Dan terkadang, benar, manusia lupa cara untuk bahagia. Manusia terkadang lupa bagaimana caranya untuk bisa hidup di dunia seperti bayi-bayi innocent. Kita yang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi saja terkadang masih mencari cara untuk bahagia. Sebab seiring dengan berjalannya roda kehidupan, kita mulai membentuk model tentang kehidupan, dan tak jarang isinya lebih banyak yang negatif. Kita terbiasa berpikiran negatif dan pesimis dengan berkedok rasionalitas yang logis.

Dan di sinilah pentingnya, “cara“. Karena ternyata semua hal harus dilakukan dengan ilmu. Dan itu semua adalah bagian dari cara kita untuk memahami diri sendiri, misalnya saja bagaimana cara alam bawah sadar kita membentuk behavior kita, bagaimana gerakan dan bahasa tubuh kita bisa mempengaruhi emosi, dan bagaimana kadar “motivasi” atau “insentif” mempengaruhi tingkah laku kita. Masing-masing ada ilmunya, dan mungkin secara sadar atau tidak sadar kita telah pernah mempraktekkannya sehingga kita bisa mencapai “kebahagiaan”. Mengetahui tujuan saja rupanya tidak cukup agan-agan sekalian, kita juga harus tahu caranya.

Terakhir, ternyata hidup memang adalah perbuatan. Kata-kata klise yang begitu manis, sekalipun kita menyadari betul bahwa mereka benar, rupanya begitu sulit untuk dijalankan. Ambil contoh tentang sabar, kita tahu sabar itu bagus, tetapi rupanya terkadang kita tidak bisa sabar. Ini semua terjadi karena kita bukan makhluk yang sepenuhnya logis, bukan robot. Jadi jangan heran kalau orang sakit dikasih obat pun terkadang obatnya tidak diminum. Tapi ada juga orang sakit yang dikasih obat, diminum sesuai dosis, tapi tidak sembuh juga. Dalam hidup ini terkadang kita menemukan obat yang salah, obat yang palsu, atau mungkin obat yang tepat tapi tidak kita minum sesuai dosis yang tepat.

Semua ada rukun dan syaratnya, rupanya.

Ya, ya ya.. pada akhirnya kita masih butuh motivator. Motivator yang mengajarkan orang-orang di sekelilingnya untuk berpikir positif, menanamkan sugesti positif, memberikan energi positif. Dan setiap dari kita harus bisa menjadi motivator bagi orang-orang di sekeliling kita. Saya pribadi merasa hal ini sangat sulit. Saya bahkan tidak bisa memotivasi diri sendiri, apalagi memotivasi adik-adik saya, teman-teman saya.. Tapi ya harus terus diupayakan.

Oh iya, kalau sekarang setiap kali saya ke sesi self-help dan menemukan ada anak kecil yang sudah lihat-lihat buku di sana, saya jadi berpikir, “Wah hebat ya anak kecil ini, dari kecil saja dia sudah mau berusaha lebih untuk mengerti tentang cara menjalani hidup” 

Dan ketika melihat motivator-motivator itu saya pun berpikir, “Orang ini pasti sudah memiliki suatu pengalaman hidup yang keras yang membuatnya bisa berbicara dengan begitu yakin di atas panggung.”

tapi tetep sih bisa aja kita skeptis dan menganggap itu semua demi profit semata :p. It’s up to you guys mau melihatnya dari sudut pandang yang mana..

One thought on “Kita Masih Butuh Motivator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s