Lebih Baik Tidak Peduli

Akhirnya senin kemarin ujian di semester ini berakhir. Awalnya hari senin saya mau langsung merayakannya dengan pergi entah kemana. Namun saya juga tidak tahu apa yang membuat saya malah ke lab. Sesungguhnya pergi ke lab itu pekerjaan yang sangat meng-enggan-kan (bahasa gaulnya malesin).

Seperti biasa, sampai di lab saya menyalakan komputer, yang seperti biasa sebenarnya hanya di sleep sejak beberapa hari/minggu lalu, lalu membuka gmail, youtube, facebook, tweetdeck, wordpress, dan tumblr. Sembari memutar daftar putar di youtube, saya mengecek beberapa game facebook yang sudah lama tidak dimainkan.

Setelah kesadaran bahwa tugas baru menanti, saya pun mencari-cari beberapa conference yang deadlinenya dalam waktu dekat. Long story short, terakhir kali bertemu supervisor, beliau mengatakan bahwa dua bulan ke depan saya harus bekerja keras dan bisa membuat satu atau dua publikasi. Iya, untuk apalagi kalau bukan untuk memperjuangkan kelangsungan saya di sini yang sudah di ujung tanduk (dan membutuhkan mukjizat untuk membuatnya tetap berlangsung).  Nah, selain itu saya juga mengecek kuliah radar yang dikoordinasikan oleh supervisor saya. Kuliah ini akan dibawakan oleh dosen tamu, seorang top guy di radar yang salah satu topiknya adalah echo-locating bat yang pernah saya ceritakan di blog ini.

Tak lama kemudian, seorang senior di tim datang dan dia hendak mencetak formulir registrasi. Setelah menunggu beberapa jam karena printer di lab troubled, kami akhirnya selesai mengisinya dan akan mencair profesor untuk menandatanganinya. Agak lucu sih, mengingat sebenarnya course coordinator-nya ya supervisor kami sendiri. Karena profesor, seperti biasa, tak ada di tempat meksipun lampu kantornya menyala, kami pun kembali ke lab.

Saya pun iseng-iseng membuka beberapa paper di IEEExplore. Selagi bosan, saya pun memainkan game stalking di tablet saya. Tiba-tiba saja ada supervisor saya di samping dan mengajak saya berbicara. Beliau menanyakan hasil ujian saya, ini adalah hal yang sudah saya duga. Saya sendiri sebenarnya enggan membahas yang sudah-sudah. Saya tidak mau menebak-nebak hasil ujian saya seperti apa, sebab saya tidak ingin menjadi terlalu khawatir. Tapi, karena beliau menanyakan, saya pun menjawab saja bahwa menurut perkiraan saya bisa menjawab 80-90% dari ujian. Setelah itu beliau kembali mengingatkan saya bahwa saya harus membuat publikasi. Profesor menyuruh saya bertemu beliau dua hari lagi.

Lalu setelah selesai mengobrol dengan beliau saya pulang dan alhamdulillah hari itu saya sangat mengantuk. Setibanya di rumah saya langsung tidur dan terbangun di jam dua belas malam. Saya pun merayakan bebasnya diri saya dari ujian dengan membaca kembali buku “The Origin of Political Order” yang benar-benar menarik buat saya. Dari dulu saya selalu penasaran, bagaimana tatanan sosial dan politik bisa menjadi seperti sekarang. Bagaimana manusia yang tadinya tidak mengenal kepemilikan, lalu mulai mengenal kepemilikan komunal, hingga mengenal kepemilikan pribadi. Bukankah sebenarnya itu semua ilusi? Kekuasaan pun demikian.

Keesokan harinya saya memulai hari saya dengan bermain gitar. Bebas rasanya. Setelah itu di salah satu group line, Tari sedikit menyinggung HIMYM episode terbaru. Ah benar juga, saya sudah lama tidak menonton serial. Maka saya pun menonton HIMYM dan TBBT. Setelah itu ketika hari mulai sore, saya pun mulai merasa bahwa saya harus ke kampus dan melakukan hal produktif. Setelah mandi sore, tiba-tiba Tari meminta saya untuk proof-read sebagian kecil dari tugasnya. Secara kebetulan, tugasnya menyinggung tentang strategi services IBM. Setelah selesai, saya pun berpikir, sekarang giliran saya menulis paper.

Saya pun sudah berada di lab dan mulai menulis paper kembali dan melakukan beberapa eksperimen. Sebenarnya saya merasa basic concept saya masih kurang dan ragu dengan hasil yang saya peroleh. Tapi ya sepertinya lebih baik saya melakukannya dengan paralel, menjalankan simulasi sembari menulis paper. Memang sulit untuk menulis paper apabila kita sendiri tidak yakin dengan data yang kita peroleh. Apalagi ini adalah studi riset pertama yang saya lakukan di sini, agak bingung, tapi ya dijalani saja lah.

Lalu tadi ketika saya akhirnya bisa masuk ke ruangan supervisor, saya menemukan beliau sedang dikelilingi oleh banyak mahasiswa (sepertinya undergraduate).

“Ah, Fikri.. I think we should talk tomorrow”

“Ok, at what time?”

“Afternoon, 1.30, is it okay?”

“Ok professor.”

“Anything urgent?”

“Actually, I found a conference but the deadline is 10th of may.”

“No, don’t do conference. Look for a letter. We will talk tomorrow”

“Ok.”

Yah, memang terkadang kita punya rencana, orang lain punya rencana, tapi toh akhirnya waktu yang akan memberitahu apa yang akan terjadi ke depan. Bukankah lebih baik kita tidak perlu peduli atau tidak perlu kelewat khawatir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s