Nanti Mau Kerja Dimana?

Tumblr mlb0kvRH0c1qcqxh7o1 500

Sheldon dan Dr. Proton

Baru saja saya berbincang dengan Bapak-bapak flatmate saya. Kebetulan saya sedang running simulasi di ruang tengah. Mereka pun bertanya simulasi apa ini? Mungkin karena bawaan saya hari ini males dan mager, saya pun ogah-ogahan memberikan jawaban. Saya jawab saja ini menyimulasikan sinyal. Tak lama kemudian setelah akhirnya sedikit banyak akhirnya saya menjelaskan bahwa sinyal ini menyimulasikan radar dan cara mendeteksi arah dan jarak dari suatu target, muncul pertanyaan dari Bapak tersebut.

Dugaan saya, Bapak tersebut terpengaruh media Indonesia yang terkadang tidak seimbang dan berlebihan. Bapak tersebut mengungkapkan keheranannya, mengapa orang-orang di sini kalah pintar dengan orang-orang Indonesia. Saya agak terkejut. Saya pun sedikit menjelaskan bahwa bahkan h-index dari rektor ITB pun di bawah kebanyakan Associate Professor di Singapore.

Setelah itu muncul pertanyaan dari Bapak tersebut, “Nanti kalau lulus gelar kamu Ph.D ya?”

“Oh, iya kalau lulus Pak, hehe”

“Nah nanti kalau setelah lulus kamu mau kerja dimana?”

Saya terdiam. Sebenarnya kalau ditanya apakah saya ingin bekerja, susah bagi saya untuk menjawabnya. Bisa saja sih sebenarnya saya menjawab saya mau kerja jadi peneliti di sini, atau saya mau jadi dosen, atau jawaban yang umum. Dan tentu rasanya agak aneh kalau saya bilang ke Bapak ini bahwa saya mau jadi penulis, atau musisi, atau career coach. Sebab saya tahu bahwa logika seperti ini mungkin agak sulit diterima, dan saya sedang malas untuk menjelaskan sesuatu panjang lebar.

Akhirnya saya jawab saja kalau saya tidak mau kerja kantoran. Saya bilang, saya mau bikin usaha. Nah beruntung, sepertinya Bapak yang satu lagi menangkap logika saya. Bapak yang satu lagi mencoba berargumen bahwa orang seperti saya ini ke depannya akan menjadi penemu dan menciptakan suatu jenis bisnis yang baru.

Saya hanya mengaminkan.

Dan saya jadi berpikir kembali, mungkin sekarang ini waktu yang tepat untuk kembali menggali dan mempertajam visi saya di masa mendatang. Saat ini ada begitu banyak hal di kepala saya. Tak jarang hal ini membuat saya tidak fokus. Tapi tidak masalah, toh yang penting saya dapat pelajarannya.

Dan honestly, sekarang ini saya tidak peduli loh tentang kelanjutan studi saya di sini. Tidak peduli di sini bukan berarti saya tidak punya keinginan untuk menyelesaikan, saya sangat ingin menyelesaikan Ph.D di sini di usia 24 tahun, seperti Leonard di TBBT. Bukan pula ketidakpedulian ini membuat saya menjadi tidak bertanggungjawab. Dan, bukan pula ketidakpedulian ini disebabkan oleh saya yang sedang merasa kesulitan sehingga saya menilai sesuatu dengan negatif.

Bukan.

Tidak peduli di sini berarti saya memerdekakan akal pikiran saya dari belenggu “gelar”, “leverage”, “nanggung”, atau hal-hal lain. Dan kalaupun saya akhirnya tidak lanjut Ph.D di sini, saya berpikir bahwa suatu saat saya ingin menjalani program Ph.D lagi, mungkin saja di program studi yang lain yang saat ini nampak menarik buat saya.

Tapi memang, gambaran terbaik yang ada di kepala saya adalah seperti tadi. Setelah mengalami pergulatan yang berkepanjangan lalu saya meraih gelar Ph.D di usia 24 tahun dengan publikasi di jurnal-jurnal high impact di bidang saya, hingga let’s say mendapatkan h-index 2 atau 3. Lalu setelah itu mendapatkan research grant di Singapore untuk mempekerjakan diri sendiri sembari melebarkan sayap di Indonesia. Setelah itu, beberapa tahun kemudian kuliah lagi di social science atau physical science, setidaknya untuk mengobati rasa penasaran saya. Atau mungkin ambil Ph.D sekali lagi.

Innovator

Iya, kalau mengekstrapolasi hingga detik ini, saya masih ingin berkutat di bidang penelitian dan teknologi sampai usia 35 tahun. Goal saya adalah di usia 35 tahun saya bisa menjadi 35 under 35. Bukan award atau apa yang menjadi esensi, tapi saya benar-benar ingin membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama di negara saya sendiri, yang mana sesuatu tersebut memiliki nilai tambah bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Cutting-edge.

Community Leader

Nah tentu saja di sela-sela perjalanan itu, saya juga ingin bisa mulai merintis suatu komunitas inovator di Indonesia yang punya produk konkret, bukan yang sekedar politis dan pencitraan semata, atau yang cuman paguyuban kongkow-kongkow. Salah satu program dari komunitas ini nantinya adalah Innovation Rangers. Saya mau bikin Power Rangers yang berkelana dari satu kampung ke kampung lain, menciptakan inovasi di sana. Semua proses didokumentasikan dan menjadi semacam discovery channel.

Civic Media

Iya, saya pengen banget punya perusahaan media yang isinya mempopulerkan sains dan teknologi di Indonesia. Kalau teman-teman mengikuti serial the Big Bang Theory yang edisi Proton Resurgence. Di situ diceritakan bahwa Sheldon kecil dulu tidak punya teman. Temannya hanyalah Dr. Proton yang mengisi acara TV dengan eksperimen fisika di kehidupan sehari-hari. Saya ingin anak-anak Indonesia kelak juga punya idola seperti Dr. Proton, tapi namanya Dr. Rousyan. :p

Bukan cuman anak-anak saja, meskipun anak-anak yang paling penting, saya ingin melakukan program cuci otak masyarakat Indonesia. Saya merasa media di Indonesia saat ini benar-benar kurang sehat.

Writer and Artist

Setelah lepas dari usia 35 tahun, saya ingin untuk mulai fokus kepada hal lain, hal-hal yang selama ini menjadi minat terpendam saya. Ya kalau boleh berdoa, di usia 35 tahun saya sudah jadi konglomerat yang memberikan nilai lebih dalam mengurangi kesenjangan di masyarakat. Di saat itu, saya mungkin sudah bisa mencukupkan sejenak hasrat saya di bidang inovasi teknologi dan bisnis. Nah, setelah itu saya bisa fokus untuk menjadi penulis dan seniman.

Saya sangat ingin bisa menghabiskan waktu di pinggir pantai sambil menulis naskah buku atau melukis, atau mungkin menciptakan lagu. Di masa-masa ini juga saya mungkin bisa memenuhi mimpi saya untuk membuat museum pribadi yang berisi hal-hal menarik, mulai dari buku-buku menarik dan hal-hal antik yang berhubungan dengan sejarah peradaban manusia. Selain itu museum itu juga nanti berisi berbagai macam karya yang saya buat.

Renaissance Men Factory

Tak perlu lama-lama lah saya menjadi penulis dan seniman full-time. Di usia 40 tahun nanti, saya ingin fokus untuk menciptakan Renaissance Men Factory, saya ingin menciptakan revolusi pendidikan di Indonesia, entah itu dengan membuat sekolah sendiri atau dengan mengubah sistem yang sudah ada.

ah lanjut lagi kapan-kapan deh.. kayaknya udah kepanjangan :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s