Celengan Memori

Nima, Ayu, Rido. Ah, nama itu nampaknya sudah lama terlupa. Tak pernah aku mengingat masa-masa SD. Sudah lama aku tak pernah membongkar memori masa kecil itu. Rasa-rasanya kepingan memori itu terkumpul dalam celengan yang  belum pernah aku pecahkan.

Prung!! Tiba-tiba saja ada yang memecahkan celengan itu. Nima, teman sepermainan semasa SD memulai obrolan via facebook. Simpel. Menanyakan kabar.

 ”Roy, gimana kabarnya?”

     ”Baik nimmm. Kamu gimana?”

     ”Baik juga. Udah lulus ya?”

Aku tak pernah menyangka pertanyaan itu diajukan. Rasa-rasanya baru tadi aku ke klinik layanan kesehatan milik universitas dan ditanyai hal serupa. Bagi mahasiswa yang seharusnya sudah lulus seperti aku, pertanyaan itu pertanyaan aneh. Mirip buah pir. Rasanya enak meskipun teksturnya agak kasar, seperti memakan ribuan biji yang menyatu dalam daging buah. Pertanyaan itu seperti pertanyaan hiburan buatku, meskipun terkadang pertanyaan itu juga mengingatkanku untuk segera menyelesaikan kuliah.

Aku jadi ingin sedikit bercerita. Hari ini aku datang ke klinik kesehatan universitas. Bagi mahasiswa jurusan gizi dan kesehatan sepertiku, malu rasanya ketika sakit. Harusnya aku bisa menjaga kesehatanku sendiri, bukan malah terkena penyakit dunia ketiga. Andai saja daya tahan tubuhku sedang baik tentu aku tidak akan tertular penyakit semacam ini. Dan kejadian itu pun terjadi pada saat aku menuliskan angkatan di lembar registrasi.

Mas, angkatan 2005?” ibu petugas bertanya

Iya Bu,” jawabku lantang

Loh, udah lulus belum mas?” ibu petugas kembali bertanya, sebab mahasiswa yang sudah lulus tak berhak dapat harga mahasiswa

Hmm.. belum Bu,” jawabku pelan

Masih betah ya mas?” ibu petugas yang lain menimpali

Ah iya Bu, dibetah-betahin,” aku menjawab dengan senyum – semoga saja tulus dari hati.

Ah, begitulah cerita tadi pagi. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Tidak tahu apa sebabnya, pertanyaan dari Nima membuatku melamun pada pertanyaan tadi pagi. Waktu seperti berhenti sejenak…

Kejadian ini persis seperti cerita Captain Tsubasa, ketika Tsubasa akan menendang bola. Biasanya ketika Tsubasa hendak menendang bola dengan salto, dia justru melamun tentang masa lalunya. Mirip juga dengan waktu yang mendadak mogok ketika Barney Stinson menunggu malam yang indah bersama Robin Scherbatsky namun Robin tidak datang. Waktu berhenti.. Sejenak.. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku belum mengetik jawaban di layar.

     ”Beluuum nim. Masih nyelesein tugas akhir nih. Kamu kuliah dimana?” aku kirimkan jawaban itu

     ”Wah mantep banget udah tugas akhir ya. Aku kuliah di palembang nih”

Dan pembicaraan pun mengalir. Seiring dengan mengalirnya pembicaraan, aku jadi teringat betapa akrabnya kami ketika kecil. Meskipun kami selisih tiga tahun, aku sangat sering berkunjung ke rumahnya. Maklumlah, di kompleks kami yang baru, jumlah anak sekolahan – apalagi SD – bisa dihitung dengan jari, apalagi yang satu sekolah denganku.

Aku, Nima, Ayu, dan Rido dulunya adalah para petualang. Kami sering bersepeda, merampok pohon arbei milik kompleks sebelah, dan bahkan kami suka bersepeda menjelajah hingga kompleks elit yang baru dibangun beberapa kilometer dari kompleks kami. Kami sangat senang bisa bermain-main di kolam renang yang sedang dibangun di kompleks itu. Berkhayal tentang banyak hal, tentang kami ingin menjadi apa kelak. Rasa-rasanya masa depan adalah kanvas yang bisa dilukis dengan kuas yang kami punya. Bukankah masa kecil memang masa yang paling bebas dan menyenangkan. Sebab ketika itu imajinasi tak pernah terkurung, berlari seliar-liarnya, lebih liar dari kuda liar yang paling liar.

Hmm.. Aku jadi ingat ketika aku sudah beranjak SMP dan berkunjung ke kompleks itu, aku tak berkunjung ke rumah Nima. Padahal rumahnya hanya selisih dua rumah dari rumahku. Maklum, SMP dan SMA aku habiskan di kota yang berbeda, merantau di tempat saudara. Dan aku ingat betul bagaimana kakak sepupuku mengingatkan aku,

Kamu nggak mampir ke rumah Nima?”

Enggak. Ngapain?

Roy, roy.. Kamu itu dulu waktu kecil setiap hari main ke sana, sepedaan bareng.”

Dan aku saat itu tidak tersadar akan apa pun. Tidak ada sesuatu apapun yang mengganjal pikiranku. Namun, sekarang, setelah bertahun-tahun tidak bertemu Nima, aku jadi tersadar akan satu hal: pertemanan. Pertemanan sampai kapan pun tak boleh sirna. Biar bagaimanapun teman adalah orang-orang yang membantu kita untuk mengenali sifat kekanak-kanakan dalam diri kita, meskipun kita tak pernah punya rencana untuk mempelajarinya.

Iya, teman dan waktu tak terpisahkan. Waktu akan selalu memaksa kita untuk menjadi tua. Sedangkan teman-teman kita, mereka tak pernah mengajari kita untuk dewasa. Keduanya akan terus abadi sampai keabadian lenyap dari diri kita.

Bodoh sekali jika kita melupakan pertemanan hanya karena pertemanan itu sudah lama dan usang. Sebab keusangan dan memori itulah yang telah menjadikan kita pada pribadi yang seperti kini, dan kita harus menghargai itu.

”Udah lama banget ya nggak ketemu. Papa sama Mama sekarang tinggal di mana, masih di kompleks yang dulu?”

Ah, lagi-lagi aku melamun. Dulu kami berteman sangat baik. Nima yang membantuku menghadapi persoalan cinta monyet yang ku alami bersama teman sekelasnya. Nima yang selalu membantuku. Bersama Rido dan Ayu, kami adalah empat serangkai yang begitu erat. Rasa-rasanya kami tak akan pernah terpisah. Bahkan keluarga-keluarga kami sudah seperti keluarga yang begitu besar.

”Oh, mama sih masih tinggal di rumah yang dulu. Papa sekarang kerja di kota lain. Keluarga kamu sendiri di mana sekarang?”

 ”Mas Bima udah kerja merantau ke Kalimantan. Arjuna, papa, sama mama masih di kota masa kecil kita.”

Ya, kalau tidak salah memang keluarga mereka sudah tidak tinggal di kompleks tempat mamaku tinggal. Mereka sudah pindah semenjak aku masuk SMA. Dan semenjak itu juga Nima merantau ke luar kota.

”Hahaha, udah berapa tahun ya Roy, kita nggak bersua?”

Yah lama sekali. Lama sekali kami tidak bersua. Jika menengok ke belakang, libur lebaran saat SMP adalah kesempatan terakhir aku bertemu dengan Nima. Dan kesempatan terakhir itu tak aku gunakan untuk sekedar menyapa dan berbincang.

Tak terasa, kehidupan telah mengantarkan kami yang dulunya teman sepermainan ini ke dalam permainan yang berbeda-beda. Sepeda yang berbeda untuk dinaiki. Pohon arbei yang berbeda untuk dipanjat. Dan kompleks-kompleks perumahan yang berbeda untuk dijelajahi.

Meskipun hanya lewat kata-kata, aku merasa perbincangan ini sangat bermakna. Celengan memori itu akhirnya pecah juga. Membuat kepingan-kepingan yang aku tabung di dalamnya tercecer. Dan dari ceceran itu, aku mengerti satu makna: Pertemanan.

Aslinya diposting di tumblr http://rousyan.tumblr.com/post/13153218707/celengan-lama diubah dikit-dikit.. dan percaya atau enggak, habis posting cerpen ini di tumblr, saya jadi ikut mecahin celengan. Ada temen smp yang baca tumblr saya, terus nyapa saya dan ngebahas cerpen ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s