Yang Saya Salah Pahami Tentang Hidup

Dulu waktu saya kuliah di ITB, saya berpikir perjuangan dan capek akan berakhir setelah saya lulus kuliah. Dan karena kebetulan saya dibesarkan dalam lingkungan yang penuh gejolak, saya selalu merasa apa yang saya alami ketika kuliah itu too much. Saya dulu berpikir, kenapa segitunya sih? Kenapa saya harus hancur di akademik, berkonflik sangat panas di organisasi, ditolak di percintaan (maklum masa puber :D), dan bahkan ketika saya mengharapkan bahwa kehidupan saya akan normal pada lingkungan terkecil yang saya miliki, yang saya jumpai justru sebaliknya.

Kapal di Pelabuhan..

Waktu itu saya pun sedikit bermain tebak-tebakan dengan Tuhan. Saya pikir maksud Tuhan memberikan suguhan seperti ini buat saya adalah supaya saya belajar. Sebab dulu, ketika roda di atas, saya masih saja kurang bersyukur dan bahkan cenderung arogan. Tapi ya, bagaimana tidak arogan. Meskipun dulu saya tidak pernah merasa kehidupan saya mewah, pada akhirnya saya merasa bahwa kehidupan di masa itu adalah kehidupan yang mewah. Mewah yang saya maksud di sini bukan sekedar mewah yang ditakar dengan uang loh. Kemewahan di sini termasuk hal-hal yang simpel, sesimpel bisa menyium tangan orang tua sebelum pergi dari rumah, berbincang dengan adik-adik.

Saya juga berpikir bahwa Tuhan ingin mendidik saya agar tidak manja dan memahami bahwa di dunia ini semuanya bisa berubah dengan cepat, secepat satu sisi telor dadar menjadi hangus saat tidak segera dibalik. Iya, makanya saya dikirimkan ke sebuah rumah kos yang waktu itu saya tidak pernah membayangkan akan bisa tinggal di sana (meskipun pada akhirnya saya tinggal di sana selama lima tahun dan tidak pernah pindah). Waktu itu saya ingat-ingat saja pesan orang tua saya, pemimpin hebat biasanya pernah tinggal bukan di rumahnya.

Menerka lagi, nampaknya Tuhan juga ingin memperkenalkan saya dengan berbagai macam cerita manusia. Iya, makanya sepanjang saya di ITB saya diberikan kesempatan untuk menikmati banyak cerita personal dari beragam manusia yang saya temui. Cerita yang saya dapatkan pun beragam, mulai dari cerita pedagang kelontong, peneliti yang frustrasi, hingga dongeng orang gedean. Dan saya selalu percaya ini semua dimaksudkan untuk mempersiapkan diri saya, entah apa amanah yang akan saya emban kelak.

Dan pada akhirnya ketika roda menjadi kembali di atas, saya pun merasa bahagia. Saya merasa telah menjadi pribadi yang baru, yang telah ditempa berbagai ujian. Masa-masa terakhir di ITB merupakan masa paling berbahagia. Sebab, pada akhirnya saya mendapatkan semuanya. Mulai dari berbagai penghargaan, kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara menarik maupun organisasi yang dulunya cukup penting, dan bahkan hingga berbagai pengalaman spiritual yang bukan terhitung normal. Bahkan sebelum lulus pun saya secara ajaib bisa lolos seleksi suatu perusahaan bonafid, dan tak lama setelahnya saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, direct Ph.D.

Yang ada di pikiran saya sih, dari sini hidup akan mulus, sebab saya sudah mencicil semua kesengsaraan saya pada saat saya kuliah. Saya sudah membayar harganya, begitu pikir saya. Jadi ya fair dong kalau hidup saya setelah ini mulus-mulus saja.

Namun rupanya, setelah ke sini saya menyadari bahwa hidup bukanlah sesuatu yang statis. Tidak bisa semuanya menjadi lancar tanpa hambatan sama sekali. Tidak bisa roda kita berhenti hinggap di atas. Dan ‘sukses’ pun bukan kondisi pasif. Sukses adalah sebuah kondisi tunak dinamis, dimana perjuangan dalam hidup terus dikobarkan.

Dan persis ketika kita merasa bahwa perjuangan kita ini sudah yang paling keras, akan muncul di samping kanan dan kiri kita, teman-teman yang rupanya hidupnya lebih sengsara dari kita, yang rupanya perjuangannya jauh lebih dahsyat dari kita. Dan mereka tidak mengeluh.

Oh iya, semua itu akan tampak hanya kalau kita mau melihat. Sebab, di banyak kesempatan kita lebih suka untuk menghindari kontak mata. Karena hanya dengan menghindari kontak mata, kita bisa mencari alasan untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan orang lain, sehingga bisa sibuk dengan diri sendiri.

Dan di sini saya mau menuliskan sedikit perbincangan dengan teman saya sebagai penutup. Teman saya ini merupakan salah satu teman yang pada suatu masa pernah menjadi teman ngobrol paling sering saya.

Teman:

semoga (….) dan gak ada aral melintang *asik

samasama fikk🙂

Saya:

atuh (..) tanpa aral melintang mah

gw cuman jadi perahu ga beruna di pelabuhan

Teman:

hahahaaa, harus ada ya. ombak2 gitu seru pasti, bisa jd bahan cerita

harus tahu kapan harus berlabuh dan berlayar ya fik

Saya:

iya (..), kapal mungkin awet kalo disimpen di pelabuhan

tp ya kapal kan harus berlayar

krn dia ga dibuat utk pajangan

kecuali kapal2an di botol

Kata-kata yang saya tuliskan mungkin klise. Tapi kata-kata itu adalah hasil kontemplasi atas pengalaman saya selama 21 tahun hidup di dunia. Mungkin setahun atau dua tahun lalu saya pernah mendengar kata-kata itu. Tapi sekarang maknanya berubah. Selang waktu yang sekarang saya pahami adalah hingga kematian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s