Nutrisi Spiritual

Waktu saya ke Jakarta kemarin, mama mengajak saya untuk ke surau, sekedar silaturahmi dengan orang-orang di sana. Saya awalnya enggan, merasa tidak enak datang ke sana.

“Males ah ma, dosaku akeh, solat aja nggak bener, akeh maksiat.”

“Nggakpapa. Orang-orang itu juga dulu pernah berbuat dosa, makanya sekarang mereka nggak lelah mengabdi, sebagai bentuk penebusan dosanya.”

“Aku masih sibuk sama urusan duniawi ah, sungkan.”

“Ya makanya itu, jangan sampe kamu kehilangan nutrisi spiritual.”

Dan ya, untuk kesekian kalinya, kerasnya tekad ibu saya untuk membimbing anaknya membuahkan hasil. Kami pun akhirnya sedikit berbincang-bincang dengan salah seorang guru ngaji di surau.

Ada beberapa hal yang menarik dalam perbincangan kali itu. Namun salah di antara sekian banyak, ada satu yang menjawab pertanyaan saya selama ini.

Mengapa orang-orang yang ‘tidak beriman’ tak jarang mendapatkan apa yang mereka mau, sementara orang-orang ‘beriman’ sepertinya begitu lemah dan berada di deret belakang pada perlombaan peradaban. Continue reading “Nutrisi Spiritual”

Advertisements

“Apa yang lo percaya fik?”

Seorang teman saya hari itu bertanya kepada saya. Pertanyaan itu cukup aneh, “Apa yang lo percaya fik?”

Pertanyaan seperti ini cukup aneh sebetulnya. Sebab:

1. Teman saya pasti tahu betul apa yang saya yakini. Kami telah melalui banyak hal. Beberapa orang menganggap hubungan kami sangat aneh. Menurut saya, teman saya ini adalah salah satu orang yang paling sering mendengar cerita saya, yang paling banyak tahu rahasia saya.

2. Teman saya ini orangnya sangat percaya sama yang namanya “Faith”. Berasa aneh aja ketika dia menanyakan itu ke saya.

Pada akhirnya saya pun jawab ngalor-ngidul seadanya apa yang ada di pikiran saya. Salah satunya adalah Continue reading ““Apa yang lo percaya fik?””

Miracle

Have you ever heard what Einstein says about Miracle?

“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

In fact, the world we are living in is a world of unlimited possibilities. As it owns unlimited possibilities, the only thing that is certain is the uncertainty itself. When you are able to think of it, you will notice that this world is really amazing. Even an anti-theist scientist is also religious when they ponder about the universe.

By the way, what does miracle mean to you?

For me, it means that the universe gives you a way out from your problem (or to fulfill your desire) in a way that you’d never imagined before. It’s like the universe pokes you from your blind spot. Then, when one turns one’s head over into that direction, one would consider that as a miracle.

It’s a help of which you never think.

It’s a possibility that you never take into account.

One doesn’t simply expect that could go this way. 

Miracle.

What if it’s not broken out when I threw it to the ground, if it’s a miracle, then my uncle already invented some miracle generator :p You can do that by employing electricity inside your brain anyway.

But then, once you know that the universe owns unlimited possibilities, and the assurance of uncertainty, you started to think, in fact, there is no miracle at all. Because that is how the universe works, its nature is miraculous.

You can also take it as a ‘miracle’ when you don’t see it coming.

Either positive or negative, miracle always brings ambivalence.

Bermain Layang-layang

Bermain Layang-layang

Hari itu saya membatalkan rencana untuk ke Pulau Ubin bersama teman-teman RSIS. Pagi itu entah mengapa saya juga tidak nafsu untuk bermain futsal.  Lalu ada seorang teman yang menanyakan apa rencana saya hari ini, sembari bercerita bahwa ia dan calonnya, yang juga teman saya, hendak mengunjungi rumah Sang ‘Kepala Sekolah’ untuk berkonsultasi. Saya yang tadinya tidak punya ide pun jadi terpikir tentang suatu aktivitas yang sering dianjurkan oleh Mas Kepsek. Saya jawab saja, “Mau merenung aja, pergi ke suatu tempat entah kemana.

Menjelang jam makan siang, saya dan Ronggo, roommate saya, sudah mulai merencanakan akan makan dimana.

“Makan dimana nih fik?”

“Wah elo lah yang nentuin, lo udah lama di Singapore gitu”

“Lo rencana abis makan mau kemana?”

“Gua nggak tau nih mau kemana, kayaknya mau cari taman-taman random gitu terus gua mau baca buku di sana,” sembari memasukkan buku “The Upside of Irrationality” ke dalam tas saya.

“Wah, mending kita main layangan aja kalo gitu.”

“Hah, layangan? Ada gitu di Singapore?”

“Ada, tapi enakan sore ke sana. Kita sekalian makan di rumah makan minang deket masjid sultan aja.

Setibanya di rumah makan minang, saya memesan rendang. Rendang yang ada di sini otentik. Selain itu sambal di sini juga pedasnya seperti sambal yang biasa kita temui di rumah makan di Indonesia. Setelah adzan ashar berkumandang, kami pun mendirikan sholat di Masjid Sultan. Setiap kali sholat di Masjid Sultan, saya teringat dengan kata-kata Afin. Dia bilang bahwa kebanyakan tempat ibadah didesain seperti rumah raksasa agar Continue reading “Bermain Layang-layang”