Hari itu saya membatalkan rencana untuk ke Pulau Ubin bersama teman-teman RSIS. Pagi itu entah mengapa saya juga tidak nafsu untuk bermain futsal.  Lalu ada seorang teman yang menanyakan apa rencana saya hari ini, sembari bercerita bahwa ia dan calonnya, yang juga teman saya, hendak mengunjungi rumah Sang ‘Kepala Sekolah’ untuk berkonsultasi. Saya yang tadinya tidak punya ide pun jadi terpikir tentang suatu aktivitas yang sering dianjurkan oleh Mas Kepsek. Saya jawab saja, “Mau merenung aja, pergi ke suatu tempat entah kemana.

Menjelang jam makan siang, saya dan Ronggo, roommate saya, sudah mulai merencanakan akan makan dimana.

“Makan dimana nih fik?”

“Wah elo lah yang nentuin, lo udah lama di Singapore gitu”

“Lo rencana abis makan mau kemana?”

“Gua nggak tau nih mau kemana, kayaknya mau cari taman-taman random gitu terus gua mau baca buku di sana,” sembari memasukkan buku “The Upside of Irrationality” ke dalam tas saya.

“Wah, mending kita main layangan aja kalo gitu.”

“Hah, layangan? Ada gitu di Singapore?”

“Ada, tapi enakan sore ke sana. Kita sekalian makan di rumah makan minang deket masjid sultan aja.

Setibanya di rumah makan minang, saya memesan rendang. Rendang yang ada di sini otentik. Selain itu sambal di sini juga pedasnya seperti sambal yang biasa kita temui di rumah makan di Indonesia. Setelah adzan ashar berkumandang, kami pun mendirikan sholat di Masjid Sultan. Setiap kali sholat di Masjid Sultan, saya teringat dengan kata-kata Afin. Dia bilang bahwa kebanyakan tempat ibadah didesain seperti rumah raksasa agar kita merasa kecil. Kalau berada di Masjid Sultan, efek psikologis serupa pun muncul.

Setelah itu, kami pun berangkat menuju Marina Barrage. Sebenarnya tempat ini merupakan bendungan, di sana juga terdapat Singapore Sustainable Gallery, namun di rooftopnya terdapat lapangan rumput yang cukup luas. Di sana banyak orang-orang yang piknik bersama teman maupun keluarga, dan juga bermain layangan. Dan entah mengapa di tempat tersebut saya melihat orang-orang tampil sangat manusiawi, jauh dari kesan robot dan diburu waktu. Yang terlihat di sana hanyalah tawa, tawa, dan tawa.

Terkadang saya heran sih, mengapa tempat seperti ini tidak ada di Indonesia. Padahal kalau saja mau, tentu tempat seperti ini bisa dibuat dengan mudah di Indonesia. Sebuah instalasi publik yang diintegrasikan dengan ruang publik terbuka hijau, dan tidak memungut biaya untuk pengunjungnya. Luar biasa bukan? Tapi tentu saja dibutuhkan kesadaran dan kedisiplinan bersama dalam merawatnya. Dalam asumsi saya, jika tempat serupa ada di Indonesia mungkin saja akan banyak yang nyampah atau corat-coret di sana.

Kami sempat kebingungan mencari toko penjual layangan dan malah masuk ke dalam galerinya. Dan seperti biasa, galerinya bagus, terdapat beberapa instalasi yang terbuat dari barang bekas. Setelah bertanya ke information center, kami pun akhirnya mendapatkan lokasi toko yang menjual layangan. Atas permintaan pribadi dari saya, akhirnya layangan yang dibeli oleh Ronggo pun bermodel batman, jadi bisa kita sebut batkite.

Pada saat menunggu lift yang akan mengantarkan kami menuju rooftop, Ronggo sedikit berbagi cerita tentang analogi hidup. Tentu telinga kita tidak asing dengan analogi hidup dengan sepeda, jika berhenti mengayuh kita akan terjatuh. Namun adapula beberapa orang yang menganalogikan hidup seperti bermain layang-layang. Harus siap diterpa angin.

Bermain layangan itu diawali dengan berlari sambil menarik-narik si layangan. Namun tentu saja tidak hanya menarik benangnya, kita juga harus perlahan mengulurnya, memperpanjang panjang benang supaya layangan kita bisa terbang lebih tinggi. Dan perlahan pun layang-layang kita mulai mengudara, mengikuti angin. Memanfaatkan angin supaya dapat terbang tinggi.

Setelah ia ada di ketinggian yang cukup, mungkin kita hendak bermain-main dan mengarahkannya. Tentu saja di sini kita harus bermain tarik ulur dengan benangnya. Dan sekali lagi, musuh sekaligus teman kita adalah angin. Di langit luas, tak ada batas, kita mau mengarahkan layang-layang kita kemana pun bebas, selama angin bisa kita taklukkan. Dan lagi-lagi terkadang kita tidak bisa memaksa diri dengan menarik layang-layang terlalu keras. Tak jarang angin yang ada di atas sana tidak bisa kita prediksi. Meskipun benangnya menarik layang-layang, ada di suatu titik dimana dia tidak sepenuhnya tegang. Ah, sejujurnya saya kurang tahu tentang teknik penerbangan, jadi kurang bisa membuat analogi yang lebih detail, dan bisi we yang urang tulis salah :p

Tak lama setelah bermain, ada pula korban dari permainan ini. Apalagi kalau bukan senar putus karena bergesekan dengan layang-layang lain. Tiba-tiba saja ada seorang yang merunut senar dan dari jauh sembari menanyakan kepada sekelompok orang, “Is this yours? I’m just following the string.” Lalu tak lama kemudian mereka kembali memasang benangnya pada layangan, sekali lagi berlari dan menerbangkan layang-layang mereka.

Oh iya, seperti yang saya bilang, tidak semua orang bermain layang-layang di sini. Ada yang melamar pasangannya dengan banyak balon berbentuk hati bertuliskan “will you marry me?“, ada yang sedang foto pre-wedding, ada yang sedang bermain gelembung udara, ada yang asyik memandangi bendungan bersama kekasihnya, dan ada pula anak-anak kecil yang bermain skuter. Untuk beberapa saat dua anak kecil ini berhenti, memandangi batkite yang sedang ada di udara. Pada saat Ronggo hendak menarik layang-layang pun dua bocah ini memandangi Ronggo. Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

Saya sangat suka melihat anak-anak seperti mereka. Anak-anak itu sepertinya tahu betul cara untuk menjalani hidup dengan bahagia. Mereka seperti layang-layang di atas sana yang begitu fleksibel mengikuti arus angin. Mereka tidak dipusingkan oleh aturan-aturan yang dibuat-buat sendiri oleh manusia dewasa. Saat mereka sedih ya mereka menangis, tidak seperti manusia yang katanya dewasa tapi gengsi untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Ketika mereka ingin menyapa orang yang tidak dikenal, mereka pun tidak ragu. Jika tidak tahu, mereka bertanya.

Dan mereka sepertinya cepat move on, mereka tahu cara melanjutkan hidup tanpa terjebak masa lalu. Mereka sepertinya paham betul cara menarik dan mengulur layang-layang kehidupan ya. Dan satu lagi, mereka sepertinya tidak mengenal konsep waktu sebagi hitung-hitungan. Anak-anak sepertinya begitu menikmati setiap momen dalam hidupnya, mengamati dan mempelajari sebanyak mungkin yang mereka bisa, make the most of it.

Dan lalu tak terasa tiba-tiba saja senja datang. Kami pun harus menyudahi bermain layang-layang.

3 thoughts on “Bermain Layang-layang

  1. randomly here and I love this part “Dan mereka sepertinya cepat move on, mereka tahu cara melanjutkan hidup tanpa terjebak masa lalu. Mereka sepertinya paham betul cara menarik dan mengulur layang-layang kehidupan ya. Dan satu lagi, mereka sepertinya tidak mengenal konsep waktu sebagi hitung-hitungan..” nice post!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s