Nutrisi Spiritual

Waktu saya ke Jakarta kemarin, mama mengajak saya untuk ke surau, sekedar silaturahmi dengan orang-orang di sana. Saya awalnya enggan, merasa tidak enak datang ke sana.

“Males ah ma, dosaku akeh, solat aja nggak bener, akeh maksiat.”

“Nggakpapa. Orang-orang itu juga dulu pernah berbuat dosa, makanya sekarang mereka nggak lelah mengabdi, sebagai bentuk penebusan dosanya.”

“Aku masih sibuk sama urusan duniawi ah, sungkan.”

“Ya makanya itu, jangan sampe kamu kehilangan nutrisi spiritual.”

Dan ya, untuk kesekian kalinya, kerasnya tekad ibu saya untuk membimbing anaknya membuahkan hasil. Kami pun akhirnya sedikit berbincang-bincang dengan salah seorang guru ngaji di surau.

Ada beberapa hal yang menarik dalam perbincangan kali itu. Namun salah di antara sekian banyak, ada satu yang menjawab pertanyaan saya selama ini.

Mengapa orang-orang yang ‘tidak beriman’ tak jarang mendapatkan apa yang mereka mau, sementara orang-orang ‘beriman’ sepertinya begitu lemah dan berada di deret belakang pada perlombaan peradaban.

15. Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.

16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.

Iya, di sinilah yang membedakan keimanan dengan tidak. Bagi mereka yang percaya adanya hari akhir dan adanya hal-hal metafisika yang sudah lebih halus dari alam fisika, seharusnya kita tidak mudah dipermainkan oleh logika. Sebab, bukankah permainan logika itu yang membuat orang-orang jadi atheis. Sebab, bukankah permainan logika itu yang membuat si kaum beriman jadi bermusuhan satu sama lain, berdebat tak ada habisnya, merasa benar sendiri saling serang?

Karena kebenaran itu berbeda dengan pembenaran.

Tentu di era sekarang ini sudah tidak asing lagi kita semua dengan “agama untuk politik”, setiap pihak bisa saling tuduh dan berdebat dalam ruang diksi mengenai hal ini. Berdebat-berdebat-dan-berdebat..

Saya pun terkadang bertanya, apakah yang dilakukan para Sunan di jaman dahulu merupakan hal yang benar? Bukankah mereka juga melakukan politik praktis dan menjadi penguasa di tanah Jawa. Dan seperti apa yang dilakukan para penguasa, mereka akan berusaha membatasi hal-hal yang bisa melemahkan pemerintahannya.

Lalu kalau dibuka kembali buku-buku dan catatan sejarah, ada banyak versi di sana. Saya pun sampai detik ini masih tidak sepaham dengan teman saya yang berkeyakinan bahwa Islam itu berujung pada politik. Tapi toh kami masing-masing melalui perjalanan yang berbeda. Versi sejarah yang kami baca pun berbeda.

Belum lagi kalau nanti kita mau lebih lanjut membahas Sunni-Syiah. Membaca setiap versinya seperti memberikan kacamata dengan filter yang berbeda-beda. Ujung-ujungnya seperti kata Stephen Hawking, kita tidak bisa mendefinisikan realitas sebagai suatu kebenaran tunggal, kita hanya bisa memodelkannya. Dan di sinilah letak dimana sains tidak bisa memberikan kebenaran mutlak.

Dan sekali lagi, hukum Tuhan tidak bisa dibohongi. Kita mungkin bisa terus-terusan melakukan pembenaran atas maksiat yang kita berbuat sementara malaikat tak berhenti mencatatnya. Atau mungkin kita bisa legowo dan menerima bahwa kita hanya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, dan hanya orang lemah yang banyak salah dan dosa.. lalu memohon supaya diberikan kekuatan untuk jadi lebih baik ke depannya.

Sebab pada akhirnya sulit mempercaya banyak hal di dunia ini.. kebohongan yang dipropagandakan selama seratus tahun toh akan menjadi kebenaran. Dan di situlah ada ruang untuk beriman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s