Adab Seorang Hamba

Jadi kemarin saya banyak berdiskusi dengan teman-teman saya di suatu grup line. Grup ini biasanya lebih seperti sarang penyamun, tempat kami berbagi canda tawa, mulai dari yang wajar, keterlaluan, sampai yang jorok.  Namun jangan salah, sampai pada suatu titik, grup ini juga berfungsi sebagai majlis taklim, karena kami saling berbagi pengetahuan menarik.

Nah, berhubung bulan ini bulan Ramadhan, tak jarang kami membahas hal-hal seputar agama. Sampai di suatu titik, kami mulai berbincang tentang para Kekasih Tuhan, mengagumi mereka yang telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi manifestasinya. Lebih lanjut lagi muncul suatu pertanyaan,

“Nah gimana kalo kita ditakdirkan masuk neraka?”

Continue reading “Adab Seorang Hamba”

Advertisements

Benarkah kita akan diampuni?

Rasa-rasanya ceramah mengenai keistimewaan bulan Ramadhan selalu berseliweran, entah melalui desas-desus, entah melalui media sosial. Sejujurnya terkadang ini menimbulkan pertanyaan bagi saya..

Bagaimana cara agar kita benar-benar diampuni dari dosa-dosa yang terdahulu?

Apakah benar semudah itu, setiap tahunnya kita disucikan, lalu berbuat doa lagi, lalu disucikan kembali keesokan harinya?

Lalu untuk apa ada malaikat Rokib dan Atid? Untuk apa semesta mencatat amal perbuatan kita?

Tentu saja tidak perlu diperdebatkan masalah apakah benar ampunan itu ada atau tidak. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana konteksnya, bagaimana metodenya?

Kita mungkin bisa bilang bahwa di masa kini tak perlu menggunakan siwak, menggunakan sikat gigi pun jadi. Kita mungkin bisa bilang bahwa sah-sah saja mengaji Kitab dari tablet, tidak harus membaca dari daun-daunan atau pelepah kurma. Kita lakukan semuanya dengan menghitung harga dari modernisasi.

Tapi pernahkah kita berpikir sebaliknya? Continue reading “Benarkah kita akan diampuni?”

Ditunjukkan Kebenaran (saja belum selesai)

Doa ini simpel. Sering saya baca di masa sekolah dulu sebagai doa pulang sekolah (kebetulan beberapa hari lalu saya sempat bermimpi tentang masa SD saya). Dan ketika terkenang masa-masa SD dulu, doa ini tak lebih hanyalah rapalan mantra yang dibacakan setiap hari. Artinya pun simpel, mudah dimengerti dan masuk akal.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا

اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.

Dengan rahmat-Mu, yang Mah Pengasih lagi Maha Penyayang.

Lain dulu lain kini. Sudah lama rasanya saya tidak membaca doa tersebut. Bahkan doa itu rasanya telah hilang dari hidup saya, biarpun awalnya adalah doa yang sudah autopilot diucapkan semasa sekolah dulu. Apalagi memang selama bersekolah, saya belum pernah mengikuti unit atau ekskul keagamaan. Saya juga sangat jarang mengikuti pengajian dimana ada ustad yang berceramah atau ada mentoring (kecuali saat mengambil kuliah agama).

Tapi yang namanya berjodoh dengan sesuatu itu tak mengenal waktu, tak mengenal logika. Tiba-tiba saja ia datang, entah dari mana.

Di suatu siang, ketika saya tengah berada di atap gedung sembari menatap langit, tiba-tiba saja saya teringat dan tergugah oleh doa tersebut. Continue reading “Ditunjukkan Kebenaran (saja belum selesai)”

Jiwa Yang Tenang

Doa

Terkadang kita tak sadar dengan ‘doa’, baik itu yang kita ucapkan dalam hati maupun secara lisan. Tak jarang hal itu bersifat pengandaian atau mungkin sekedar guyon belaka. Iya, lalu kita pun terlupa.. hingga akhirnya suatu hari hal itu menjadi kenyataan, dan kita tidak siap menerima konsekuensinya.

Ironi

Sekali waktu dalam hidup, kita akan mendapatkan pelajaran yang begitu keras dari Tuhan.. melalui berbagai cara, berbagai orang, berbagai kejadian. Tertampar, kita pun mencoba untuk berubah, hijrah, memasukkan prinsip atau nilai baru ke dalam diri kita. Mulai dari situ kita menganggap orang-orang yang tidak sesuai dengan nilai kita sebagai penjahat..

Lalu manusia kembali terlupa. Prinsip yang dibuatnya sendiri dilanggar. Dan, terkadang Tuhan langsung ingatkan kembali bahwa kita hendak jatuh ke lubang yang sama. Dan kita, tak ada bedanya dengan orang yang tadinya kita anggap penjahat.

Teman

Dalam hidup ini, mungkin kita akan menemukan seorang teman yang begitu unik hubungannya dengan kita. Mungkin kita pernah saling bermusuhan, mungkin hingga detik ini kita masih memiliki perbedaan pandangan yang begitu nyata, tapi entah mengapa dia justru menjadi teman sejati, yang berani mengkritik kita dan mengingatkan kita ketika salah.

Pertanyaan

Masihkah kita menjadi Jiwa Yang Tenang?

Masihkah kita senantiasa awas bahwa segala yang kita lakukan terekam begitu jelas dalam kitab yang akan ditimbang nanti?

Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah. Fadhuli fi ibadi wad huli jannati.” (Al-Fajr 26-30)

 

Kapak Ibrahim

Berhala-berhala masa kini sebenarnya begitu nyata. Berhala itu bukan lagi berwujud arca. Tengok hatimu dan lihat, ia ada di sana. Jika kau tak dapat melihatnya, bersihkan dulu. Bersihkan agar cahaya dapat mengiluminasi dan membentuk bayang.

Mereka yang selalu menghiasi harimu, sebab hidupmu kau persembahkan untuknya, bukan untuk-Nya.

Gengsi, ambisi. Uang? Tahta.. 

Di usia 15 tahun saya pertama kali menyadari keberadaan berhala itu. Sudah diingatkan berkali-kali baik di masa TK,SD, SMP, maupun SMA, saya tidak sadar juga. Berhala itu bernama sombong. Kalau mau lihat, tinggal ambil cermin. Mukanya muka kita, tingkah lakunya tingkah laku kita. Takabur, ujub, dan segala bentuk ke-aku-an. Itu berhalanya.

Sekali waktu berhala yang bernama sombong hancur. USM yang saya jalani gagal. Shock. Lupa sudah segala rasa syukur karena sudah mendapatkan kursi di UGM. Berhala lain datang: angan-angan untuk masuk ITB. Bukan hanya penasaran, tapi ambisi itu sudah menggerogoti, sampai-sampai saya begitu ingin memaksa Tuhan.

Hingga di suatu titik, saya menyadari, tak baik memaksa-maksa Tuhan. Sebab memaksa Tuhan itu Continue reading “Kapak Ibrahim”