Kapak Ibrahim

Berhala-berhala masa kini sebenarnya begitu nyata. Berhala itu bukan lagi berwujud arca. Tengok hatimu dan lihat, ia ada di sana. Jika kau tak dapat melihatnya, bersihkan dulu. Bersihkan agar cahaya dapat mengiluminasi dan membentuk bayang.

Mereka yang selalu menghiasi harimu, sebab hidupmu kau persembahkan untuknya, bukan untuk-Nya.

Gengsi, ambisi. Uang? Tahta.. 

Di usia 15 tahun saya pertama kali menyadari keberadaan berhala itu. Sudah diingatkan berkali-kali baik di masa TK,SD, SMP, maupun SMA, saya tidak sadar juga. Berhala itu bernama sombong. Kalau mau lihat, tinggal ambil cermin. Mukanya muka kita, tingkah lakunya tingkah laku kita. Takabur, ujub, dan segala bentuk ke-aku-an. Itu berhalanya.

Sekali waktu berhala yang bernama sombong hancur. USM yang saya jalani gagal. Shock. Lupa sudah segala rasa syukur karena sudah mendapatkan kursi di UGM. Berhala lain datang: angan-angan untuk masuk ITB. Bukan hanya penasaran, tapi ambisi itu sudah menggerogoti, sampai-sampai saya begitu ingin memaksa Tuhan.

Hingga di suatu titik, saya menyadari, tak baik memaksa-maksa Tuhan. Sebab memaksa Tuhan itu sama saja mencoba menjadi Tuhan itu sendiri. Sama saja rupanya, masih berhala sombong ujung-ujungnya.

Dan, bukankah iblis pun monotheis sejati? Namun berhala yang berdiri di antara ia dengan Tuhannya adalah merasa dirinya lebih baik.

Tantangan hidup semakin sulit. Sesama manusia saja kita sering merasa lebih baik. Merasa lebih baik hanya karena dosa yang kita lakukan berbeda dengan yang mereka lakukan. Sesama makhluk saja merasa paling benar, seolah kita paling pintar, mengalahkan Kebenaran itu sendiri yang Maha Pintar. Kalau Jin Ifrit mau muncul, tentu dia lebih pintar dari ahli sejarah paling ahli sekalipun. Dan jatuh cinta? Apalagi ia kalau bukan berhala yang nyata, membuat kau lupa menyebut nama-Nya, sementara di sana kau asik bercumbu asmara? Kerja, kerja, dan kerja, sebab tak ada waktu untuk beristirahat dan merenungi apa guna kehidupan.

Maka kita harus ambil Kapak Ibrahim kita penggal kepala-kepala mereka.

Sebab kita tak boleh lupa segala yang ada di hidup ini adalah demi menyambut kematian. Kita sedang berpesta ria untuk menyambut datangnya kematian.

Sebab setelahnyalah kita akan bertemu dengan-Nya yang Maha Dirindu. Dan saking cintanya Beliau, Beliau turunkan agama. Tidak, kita tidak bisa korupsi, atau memberikan gratifikasi kepada malaikat. Yang benar akan tetap benar, dan yang salah akan tetap salah, sepandai apapun kita berkelit dan berdialektika.

Dua puluh satu tahun sudah dan peperangan belum usai.

Tak pernah mudah memang, sebab lawan kita tadinya adalah malaikat senior. Tapi kita harus yakin, kita harus berpegang teguh pada tali-tali. Daki gunungnya. Berat memang, tapi jangan merasa lelah, sebab puncak tertinggi itu yang ingin kita raih: saat cahaya-Nya mengiluminasi semesta, sehingga semesta hilang dari pandangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s