Benarkah kita akan diampuni?

Rasa-rasanya ceramah mengenai keistimewaan bulan Ramadhan selalu berseliweran, entah melalui desas-desus, entah melalui media sosial. Sejujurnya terkadang ini menimbulkan pertanyaan bagi saya..

Bagaimana cara agar kita benar-benar diampuni dari dosa-dosa yang terdahulu?

Apakah benar semudah itu, setiap tahunnya kita disucikan, lalu berbuat doa lagi, lalu disucikan kembali keesokan harinya?

Lalu untuk apa ada malaikat Rokib dan Atid? Untuk apa semesta mencatat amal perbuatan kita?

Tentu saja tidak perlu diperdebatkan masalah apakah benar ampunan itu ada atau tidak. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana konteksnya, bagaimana metodenya?

Kita mungkin bisa bilang bahwa di masa kini tak perlu menggunakan siwak, menggunakan sikat gigi pun jadi. Kita mungkin bisa bilang bahwa sah-sah saja mengaji Kitab dari tablet, tidak harus membaca dari daun-daunan atau pelepah kurma. Kita lakukan semuanya dengan menghitung harga dari modernisasi.

Tapi pernahkah kita berpikir sebaliknya? Bahwa mendapatkan ampunan Ramadhan tidak segampang itu, sebab.. kita menghitung harga yang dibayar dari modernisasi. Tentu saja kita tak lagi hidup di jaman Rasulullah hidup. Bisa saja rukun dan syarat yang sudah ada sejak dulu, tidak kita ketahui atau belum bisa kita penuhi di masa kini, sehingga kualitas ibadah kita berbeda dengan kaum yang terdahulu..

Anyway, saya beberapa minggu lalu akhirnya menemukan artikel lengkap mengenai pelacur yang masuk surga setelah memberi minum seekor anjing. Ya, ternyata bukan sekedar memberi makan anjing lalu masuk surga, bukan pula serta merta memberi minum kepada anjing membuat seseorang diampuni dosa-dosanya.

Ternyata pelacur tersebut telah pada tahap dimana ia mau mengorbankan nyawanya demi seekor anjing, dengan ikhlas. Ia telah menghilangkan keterikatannya pada dunia, demi menjadi saluran rahmat bagi si anjing. Lalu iapun menutup lembaran kehidupannya dengan kebaikan yang ikhlas.. lalu dengan bekal keikhlasan, ia pun menjolok ampunan Tuhan..

..sebab ia akhirnya ada pada frekuensi termulia: frekuensi Al-Ikhlas.

lagi-lagi semua ini adalah misteri ilahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s