Ditunjukkan Kebenaran (saja belum selesai)

Doa ini simpel. Sering saya baca di masa sekolah dulu sebagai doa pulang sekolah (kebetulan beberapa hari lalu saya sempat bermimpi tentang masa SD saya). Dan ketika terkenang masa-masa SD dulu, doa ini tak lebih hanyalah rapalan mantra yang dibacakan setiap hari. Artinya pun simpel, mudah dimengerti dan masuk akal.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا

اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.

Dengan rahmat-Mu, yang Mah Pengasih lagi Maha Penyayang.

Lain dulu lain kini. Sudah lama rasanya saya tidak membaca doa tersebut. Bahkan doa itu rasanya telah hilang dari hidup saya, biarpun awalnya adalah doa yang sudah autopilot diucapkan semasa sekolah dulu. Apalagi memang selama bersekolah, saya belum pernah mengikuti unit atau ekskul keagamaan. Saya juga sangat jarang mengikuti pengajian dimana ada ustad yang berceramah atau ada mentoring (kecuali saat mengambil kuliah agama).

Tapi yang namanya berjodoh dengan sesuatu itu tak mengenal waktu, tak mengenal logika. Tiba-tiba saja ia datang, entah dari mana.

Di suatu siang, ketika saya tengah berada di atap gedung sembari menatap langit, tiba-tiba saja saya teringat dan tergugah oleh doa tersebut. Ya mungkin sebagian didorong rasa dongkol sebab orang-orang banyak yang sembarangan merasa benar sendiri dan menampak-nampakkannya di media. Soal banyak hal. Sehingga saya kembali mempertanyakan kembali arti kebenaran, dan seberapa bobotnya jika dibandingkan kebaikan?

Bagaimana tidak, semakin saya mem-push akal saya, yang namanya kebenaran itu semakin sulit untuk dicari. Sebab selalu ada pertanyaan yang tak terselesaikan.

Parameter kebenaran seperti apa yang bisa kita gunakan? Kebenaran empiris yang tak bisa memberikan nilai absolut? Jika memang sejarah yang bisa membuktikan kebenaran, bukankah ada banyak versi sejarah? 

Lalu, kembali saya mencoba berbagai topi. Menilik dari sudut pandang. Perlahan memahami betapa masing-masing terasa benar. Masing-masing membentuk kebenaran berdasarkan model yang dibuatnya masing-masing (model dependant).

Inilah konsekuensi dari pengembaraan intelektual. Orang yang tadinya santri konservatif bisa jadi begitu liberal. Orang yang tadinya preacher, bisa jadi silent atheist.

Bagi mereka yang hendak mengembara dan mencari tahu apa yang ada di luar sana, mereka bisa saja tersesat. Mereka bisa terdampar pada gurun kering tanpa air. Mereka bisa pula sedang mengejar fatamorgana. Tapi, bukan tidak mungkin mereka akan menemukan Harta Tersembunyi yang paling Tersembunyi.

Pilihan memang. Dan cara setiap orang mengembara pun berbeda. Dan bahkan ada yang mengembara dengan diam dan duduk di tenda. Lembam dengan apa yang sudah ada. Enggan mencari.

Begitu pula pengembaraan spiritual. Ianya lebih abstrak dan tanpa arah. Siapa bisa mengembara di dunia tanpa simbol, tanpa kata, tanpa logika? Siapa sanggup mengembara sendirian di sana, di ranah pemaknaan melampaui tatanan huruf dan angka? Siapa sanggup menunjukkan jalan di sana, jalan yang akan mengadili antara kebenaran-kebaikan, kesalahan-keburukan? 

Maka pada ujungnya doa ini menjadi penting. Entah kau mau memanjatkannya kepada tuhan, kepada semesta, atau kepada apapun, selama kau memanjatkannya kepada yang Maha Benar, maka kau melakukan hal yang benar.

Sebab jika sudah berbicara tentang segara proses acak, stokastik, dan kompleks seperti hidup dan alam semesta, kita harus mengakui bahwa kita kecil. Bahwa apa yang kita baca tergantung bacaan yang kita temui, uang yang kita punya untuk membeli buku, atau mungkin kebiasaan membaca di keluarga. Bahwa pemahaman yang kita peroleh tak lain dan tidak bukan kita serap dari lingkungan kita, dari pengalaman menjalani kehidupan. Bukankah ada faktor ‘tidak bisa memilih’ di sana? Sebab variabel yang membentuk kita di hari ini tak terhitung banyaknya..

Maka dari itu saya rasa doa ini begitu penting maknanya dalam kehidupan. Sebab setelah mengetahui kebenaran-kebathilan, tanggung jawab yang lebih berat lagi menanti: mampukah kita mengikuti-menjauhi mereka?

Terlihat simpel. Sesimpel: kalo mau ke Cisitu dari ITB tinggal naik angkot Cisitu-Tegalega, atau pakai jasa tukang ojek, atau jalan kaki.

Tapi jalan menuju pulang tak pernah gampang. Terkadang ada teman mengajak berkunjung, semakin lama kita pulang. Mau naik ojek, harus tawar menawar dulu, ojeknya belum tentu tahu jalan dan motornya bisa saja kehabisan bensin, belum lagi kalau ditilang polisi.

Sudah memakai kendaraan paling nyaman dan paling enak sekalipun, bisa saja di tengah jalan kita minta berhenti sebab tiba-tiba saja sakit perut.

(Yah sebenarnya analogi saya kurang pas, tapi biarlah sudah terketik)

Dan pada akhirnya saya percaya bahwa setiap orang memiliki pengembaraannya masing-masing, unik, dan mengikuti suratan semesta alam, mengikuti formula of everything.

Nah, sebagai penutup, saya tempel di sini cuplikan cerita menarik tentang ‘intan’ yang saya ambil dari blog sufimuda:

Seorang petani yang berada di desa di balik desa nun jauh disana mendengar informasi bahwa di dunia ini yang paling mahal harganya adalah intan. Intan itu bentuknya berkilau, indah di pandang mata. Intan terpendam di dalam tanah, untuk bisa mendapatkan intan kita harus menggali tanah terlebih dulu. Demikian informasi singkat dan ringkas yang diketahui oleh si petani dan dia se umur hidup belum pernah melihat intan apalagi memegangnya, hanya mendengar cerita dari orang-orang.

Sebagai petani yang miskin, dia ingin memiliki intan dan menyimpan untuk diwariskan kepada anak cucu, dengan harapan anak dan cucu nya kelak bisa hidup berkelimpahan. Konon kabarnya sebutir intan bisa untuk membangun sebuah rumah besar, bisa membeli beberapa petak sawah atau kebun yang luas. Petani sangat semangat untuk memiliki intan dan menyimpannya. Dia selalu berharap dan berdoa bisa mendapatkan intan.

Suatu hari ketika dia menyangkul di kebun, tiba-tiba dia melihat benda berserakan dalam tanah, sebenarnya itu adalah beling atau pecahan kaca. Dengan mata yang berbinar-binar, dia sujud syukur ke tanah, “Alhamdulillah, doa saya terkabul, akhirnya saya mendapatkan intan, dalam jumlah yang sangat banyak”.

Pecahan-pecahan kaca yang banyak tersebut kemudian di masukkan ke dalam karung, di cuci dan disampan sangat rapi, dia khawatir nanti intannya di curi orang. Dia tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang benda yang disimpannya, tidak berkonsultasi dengan ahli intan, hanya dengan modal keyakinan tanpa ilmu dan tanpa pembimbing, dia meyakini yang disimpannya itu adalah intan.

Waktu berlalu, 20 tahun kemudian, ketika anak-anak nya sudah besar, dia teringat dengan simpanan berharga yang dulu ditemukan di kebunnya yaitu satu karung intan. Si Petani membawa pacahan kaca yang di yakini intan tersebut ke kota, ke orang yang ahli tentang intan untuk di jual.

Dengan suara pelan dia mengatakan kepada pembeli intan, “Tuan, saya mau jual intan”.

“Mana intan nya?” Tanya Pembeli. Kemudian petani mengeluarkan satu butir pecahan kaca dan diperlihatkan kepada ahli intan. Setelah di amati, ahli intan tertawa dan berkata kepada petani, “ini bukan intan tapi kaca!!”.

Petani bertanya, “Harganya berapa?”

“Pecahan kaca tidak memiliki harga, ini sampah yang dibuang orang” kata pembeli. Kemudian pembeli yang ahli intan memperlihatkan kepada petani bentuk intan yang asli dan dia menjelaskan tentang secara panjang lebar dan detail juga tentang bagaimana cara intan bisa ditemukan.

Mendengar penjelasan ahli intan, petani menjadi lemas, hilang semua impian dan harapannya untuk mewariskan intan kepada anak-anaknya, untuk bekal dia di hari tua. Seluruh yang disimpan dalam karung tersebut semua tidak di terima oleh ahli intan bahkan dianggap sebagai sampah.

Makanya  kita harus rajin-rajin baca doa di atas, agar alam semesta berkonspirasi untuk membantu kita untuk Kembali.😉

those who were destined to go that way will discover it, those who weren’t will never find it. it was already written before it started.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s