Adab Seorang Hamba

Jadi kemarin saya banyak berdiskusi dengan teman-teman saya di suatu grup line. Grup ini biasanya lebih seperti sarang penyamun, tempat kami berbagi canda tawa, mulai dari yang wajar, keterlaluan, sampai yang jorok.  Namun jangan salah, sampai pada suatu titik, grup ini juga berfungsi sebagai majlis taklim, karena kami saling berbagi pengetahuan menarik.

Nah, berhubung bulan ini bulan Ramadhan, tak jarang kami membahas hal-hal seputar agama. Sampai di suatu titik, kami mulai berbincang tentang para Kekasih Tuhan, mengagumi mereka yang telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi manifestasinya. Lebih lanjut lagi muncul suatu pertanyaan,

“Nah gimana kalo kita ditakdirkan masuk neraka?”


Memang kalau dipikir-pikir, Tuhan itu  kan the Almighty, Dia tahu semuanya, Dia mendesain semuanya, dan Dia mengontrol semuanya. Bahkan sehelai daun yang gugur pun tak lepas dari intervensi-Nya.

Namun kita harus paham posisi kita sebagai hamba Tuhan. Kebetulan saya juga baru membaca kembali sebuah buku. Dalam buku itu diceritakan bahwa kita harus senantiasa menisbatkan segala kebaikan kepada Tuhan, namun sudah menjadi adab seorang hamba bahwa segala keburukan sepatutnya diasosiasikan dengan kelalaian kita.

Hal ini pun telah jelas tertera pada Al-Fatihah yang kita baca setiap harinya bahwa di sana jalan yang diberi nikmat dinisbatkan kepada Tuhan, sedang jalan satunya tidak. Oleh karena itu kita juga familiar dengan doa Nabi Adam:

“Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Iya, bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memberikan aturan-aturan untuk kebaikan kita sendiri. Kita diberi kebebasan untuk memilih. Dan saking sayangnya Tuhan sama kita, dia tulis Surat Cinta dalam bentuk Kitab suci.

Kita harus berhati-hati, jangan sampai kita mengasosiasikan hal-hal buruk yang terjadi pada diri kita kepada Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Iblis pada QS 15:39:

[Iblis] said: “O my Lord! Because you misled me, I shall indeed adorn the path of error for them (mankind) on the earth, and I shall mislead them all.”

Maka dari itu kita harus senantiasa berprasangka positif pada Tuhan.

Nah, sementara itu, jika ada kita berbuat kebaikan atau memberikan manfaat, kita tak boleh lupa bahwa semua itu datangnya dari Tuhan. Kita hanya berada di bumi sebagai saluran dan perpanjangan tangan-Nya untuk merahmati semesta. Sehingga, ketika ada orang lain berbuat baik kepada kita, kita wajib berterima kasih kepadanya dan juga kepada-Nya.

Iya, ketika kita menjadi baik, itu karena Tuhan. Sebaliknya, ketika kita menjadi buruk, itu karena kita sendiri. Begitulah adab menghamba kepada Tuhan.

Di saat seperti ini saya jadi teringat betapa naif, sombong, dan bebalnya saya ketika mengatakan kepada ibu saya,

“Ya biar aja sih ma, siapa tau jalannya (yang diskenariokan Tuhan) memang begini (jadi buruk dulu).”

Lalu jawaban ibu saya simpel:

“Kamu nggak sayang ta (terhadap semua usaha menuju kebaikan yang selama ini sudah dilakukan)?”

Dan setelah lewat dari setahun, saya baru memahami semua ini. Semuanya seperti puzzle yang tiba-tiba tersambung. Saya pun jadi teringat nasihat Guru:

“Jangan jadi orang bodoh, mengepel lantai dengan memakai sepatu yang kotor penuh lumpur.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s