Batang Gajah, Cerita Tentang Bibit-Bebet-Bobot

Seperti biasa, saat ke Malang merupakan waktunya mendengar dongeng dari Eyang Putri. Satu hal yang harus saya syukuri adalah kesempatan bagi saya untuk tinggal bersama Eyang saya di masa kecil (meskipun trade-off nya adalah saya tidak tinggal bersama orang tua saya). Gambaran masih jelas ketika setiap malam Eyang Putri mendongengi saya dengan cerita nabi-nabi, mengajari saya untuk menghapalkan ayat kursi untuk dibaca sebelum tidur, dari semenjak saya kelas satu SD.

The most influential people in my life.. is mothers. And someday in a future, i will probably take another photo with them, plus one woman, she might be the another mother, mother of my children..

Saya bersama Eyang dan Ibu saya, lebaran tiga tahun lalu.

Kini, tak terasa waktu sudah berlalu. Saya yang tadinya seorang anak kecil berusia lima tahun – anak TK nyasar ke SD yang tidak bisa memakai dasi, seragam, kaos kaki, dan celana sendiri.. dan bahkan tidak bisa menyisir rambut sendiri – telah tumbuh menjadi seorang manusia berusia dua puluh satu tahun – sarjana perantau yang menghabiskan hampir sepertiga hidupnya di kota orang. Kini dongeng yang diceritakan oleh Yangti pun berbeda, lebih kepada perjuangan dari lahir hingga mati.

Salah satu yang hendak saya ceritakan di sini adalah kisah tentang bibit-bebet-bobot. Eyang saya bercerita mengapa Mbah Buyut saya mau menerima Eyang Kakung sebagai menantu. Sebab, jika didengar dari ceritanya, Eyang Kakung bukanlah seseorang yang mengenyam pendidikan formal, pun demikian memiliki wawasan yang mendalam tentang agama. Hal ini tentu berbeda dengan anak-anak Mbah Buyut yang mengenyam pendidikan formal (hanya Eyang saya yang tidak berkuliah) dan mendapatkan pendidikan agama yang memadai (bahkan anak pertama Mbah Buyut saya diajak naik haji pada usia 17 tahun).

Nah, rupanya orang Jawa punya kebiasaan untuk menyelidiki bibit-bebet-bobot dari seseorang sebelum mau mengambilnya sebagai menantu. Dan melihat yang namanya bibit itu tidak hanya dari orang-tuanya saja, tetapi juga dari leluhur-leluhur di atasnya. Nah, kebetulan rupanya atas-atas-nya Eyang Kakung saya merupakan orang-orang yang cukup berada dan kesemuanya mendapatkan kesempatan pergi haji. Namun memang karena satu dan lain hal, Eyang Kakung saya ditinggal oleh Bapaknya ke Belanda, dan harta warisan-nya tidak sampai ke tangan Eyang Kakung. Setelah itu, Eyang Kakung pun berjuang dari nol untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Hal ini pula lah yang menyebabkan Eyang Kakung baru hendak menikah di usia 30-an tahun.

Lalu, melihat bagaimana perjuangan Eyang Kakung saya, Mbah Buyut saya pun merasa melihat sosok dirinya ketika dulu. Mbah Buyut saya kurang lebih memiliki kondisi yang sama. Meskipun terlahir dari keluarga yang kaya, Mbah Buyut memulai perjuangannya dari nol karena satu dan lain hal. (Tentu saja dalam konteks ini, mereka semua berdagang.)

Iya di sinilah ada yang namanya filosofi batang gajah, yakni bahwa orang yang berasal dari keturunan yang baik (bisa dalam hal kekayaan, keterpandangan dalam masyarakat, maupun dalam hal religiusitas) akan memiliki potensi untuk menjadi sebaik atau lebih baik dari pendahulunya, meskipun hal itu belum terlihat sekarang. Saya cukup bingung ketika Eyang Putri menggunakan istilah ‘batang gajah‘, rupa-rupanya hal ini diambil dari filosofi Gajah yang meninggalkan ‘gading‘, yakni sesuatu yang masih berharga meskipun Si Gajah telah tiada.

Atas dasar filosofi ini, Eyang Putri selalu melakukan penyelidikan terhadap keluarga calon menantunya sebeleum menerimanya menjadi bagian dari keluarga. Salah satu cerita menarik adalah bagaimana cara Eyang Putri menyelidiki Yadhe saya (ayah gedhe, menantu pertama yang menikah dengan Budhe saya yang anak pertama). Jaman dahulu, Eyang saya sampai meminta tolong kepada adiknya untuk mencari data-data Yadhe saya di universitas, apakah memang benar berkuliah di sana dan ada datanya. Selain itu, Eyang juga pergi ke Banyuwangi untuk menyelidiki keluarga Yadhe.

“Loh memangnya Eyang nggak bilang ke Yadhe kalau mau sowan dengan orang-tuanya”

“Loh ya Enggak, Eyang memang ke sana cuman mau menyelidiki, dan kebetulan Eyang punya famili di sana. Nah rupanya famili tersebut masih famili dengan keluarganya Yadhe.”

“Wah, kalau ternyata familinya Eyang bukan familinya Yadhe, apa eyang mau datang ke rumah keluarga Yadhe?”

“Ya Enggak, paling ya Eyang ke pasar terus takon-takon orang di pasar lah, wong keluarganya Yadhe juga keluarga pedagang.”

Saya tertegun. Rupanya, segitunya yah cara orang jaman dahulu menyelidiki asal-usul calon menantunya. Tapi toh susah-susah juga untuk kebaikan bersama, demi menyambung mata rantai nasab yang juga merupakan amanah dari Tuhan YME.

Selain filosofi tentang ‘batang gajah’ tadi, saya juga merasa ada hal-hal yang disebut bawaan dari atas. Dari cerita-cerita Eyang saya, saya menemukan bahwa ada beberapa kemiripan antara Eyang saya dan Ibu saya. Mereka berdua sama-sama sering mendapatkan titipan anak dari famili untuk tinggal bersama maupun anak dari kolega untuk (belajar) menjadi pegawai di toko mereka. Selain itu, mereka sama-sama sering menjadi tempat curhat dan konsultasi oleh orang-orang lain. Mereka berdua sama-sama memiliki karisma, sehingga orang-orang tetap menganggap mereka positif, terlepas dari hal-hal lain yang ada di ‘dapur‘ mereka.

Tapi terkadang saya bingung, Eyang putri itu begitu sabar dan lemah lembut, tapi entah mengapa Mama saya jadinya tetap saja tidak serupa.πŸ˜€

Kali ini segini dulu, saya menulis kisah ini juga karena Eyang Putri bilang kepada saya untuk menuliskan pelajaran yang bisa diambil dari dongengnya. Sebenarnya ada juga hal lain yang sangat ingin saya tuliskan, yakni kisah Eyang Putri dan Eyang Kakung pada saat menjelang perginya Eyang Kakung.

Nah sebagai penutup, tak lupa kita berdoa supaya kelak diberikan pasangan yang memiliki bibit-bebet-bobot yang apik.πŸ™‚

*Oh iya, katanya sih, naik Haji jaman dulu itu tidak seperti sekarang. Sebab tantangannya jauh lebih berat. Perjalanan menggunakan kapal saja berbulan-bulan, sehingga selain membutuhkan kemampuan finansial (dikala kemiskinan masih lebih parah dari sekarang) juga membutuhkan keteguhan haji yang kuat.

One thought on “Batang Gajah, Cerita Tentang Bibit-Bebet-Bobot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s