Langit Malam antara Jakarta dan Singapura,  1 September 2013

IMG_20130902_134044

Saya suka dengan awan. Awan adalah satu-satunya kenangan indah yang terekam di memori saya tentang pengalaman pertama saya terbang dengan pesawat. Ketika itu saya berusia sekitar 2-3 tahun, kami sekeluarga (waktu itu saya masih anak satu-satunya) dan beberapa saudara sepupu terbang dari Jogja ke Jakarta dalam rangka memberikan penghormatan terakhir kepada Ayah dari Ayah saya di Cilegon.

Selain itu, mungkin sejak saya mulai membaca Dragon Ball, saya jadi semakin tertarik dengan awan. Pernah saya bertanya kepada Eyang Putri saya, “Mungkinkah seseorang dimakamkan di atas awan?

Sementara itu di hari ini saya emnempuh perjalanan udara dari Jakarta ke Singapura. Entah kenapa rasa yang ada di dada saya hanyalah bahagia. Bahagia, sebab sampai detik ini saya masih termasuk orang-orang yang beruntung. Bukan sekedar beruntung dari kacamata dunia saja, saya merasa bahwa diri ini masih termasuk orang yang beruntung (tentu saja beruntung ada tingkatannya juga) berdasarkan kacamata Al-Quran. Saya merasa bahwa Tuhan dan kekasih-kekasih-Nya masih begitu sayang kepada saya. Saya masih ‘dijewer(diberi petunjuk) ketika ‘nakal‘ dan masih diberi peringatan untuk kembali. Lebih dari itu, saya masih mendapatkan limpahan karunia baik yang sifatnya fisik maupun spiritual.

Ah, memang, tak pernah ada kata mahal untuk sesuatu yang sebanding. Tak ada kata ‘terlalu jauh’ ataupun ‘terlalu berat’ untuk hal-hal yang benar-benar begitu berharga. Kita toh sering menghabiskan harta, waktu, dan tenaga kita untuk hal-hal duniawi; belajar jauh ke negeri seberang untuk bisa menguasai ilmu-ilmu dunia; mencari guru-guru maestro di bidangnya untuk hal-hal yang sifatnya hanya sementara. Lantas, mengapa tidak kita kerahkan perjuangan yang lebih dahsyat lagi untuk mengejar hal-hal yang sifatnya abadi? – menuntut ilmu serta mengejar tujuan dan satu-satunya tempat pemberhentian terakhir kita, yakni ke haribaan Tuhan YME ?

Bahwa hari ini, pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengusik akal saya, sudah hilang. Mutlaklah memang perlu bagi diri kita untuk berkumpul bersama dengan orang-orang yang selalu mengingatkan serta mengingat mereka membuat kita teringat bahwa kehidupan ini hakikatnya adalah medium untuk mengenal dan mencari ridho Tuhan – tak kurang tak lebih.

Kita-kita ini, rupanya adalah makhluk yang lemah, tak jarang kita kalah oleh ego nafs sendiri. Ia bagai naga yang terkadang bisa memberontak ketika kita tak sanggup menaklukkannya. Namun tak apalah kita berbuat kesalahan, selama kita tak melakukan pembenaran. Sebab yang salah adalah salah, benar adalah benar. Jika belum mampu menjadi baik, setidaknya kita harus sadar bahwa kita salah dan harus selalu berusaha, tak boleh lelah dan tak boleh lengah, untuk menjadi orang baik dan lebih baik lagi.

Hari ini pula, saya masih takjub, di zaman yang semakin gila ini, masih ada rupanya, orang-orang yang menjelma menjadi penerus Nabi. Mereka adalah orang-orang yang telah berubah menjadi akhlak itu sendiri. Mereka tidak ragu dan tak perhitungan dalam berjuang menata ummat. Kasih sayang yang terus mengalir selalu menyertai mereka yang hendak memurnikan tauhid, menegakkan syariat, serta menyempurnakan akhlak, secara kaffah dengan tindakan yang benar-benar nyata.

Sulit dipercaya bahwa di zaman seamburadul ini, masih ada ulama yang begitu concern terhadap akhlaq umat. Mereka yang menjual dunia untuk akhirat, menginvestasikan apa harta yang dimilikinya dan bahkan rela kehilangan pengaruh duniawinya, demi untuk menegakkan Islam Kaffah. Mereka adalah orang yang sangat jauh dari hingar bingar media, apalagi yang menjual akhirat demi dunia, demi untuk harta, demi untuk kekuasaan, dan bahkan ke-aku-an semata.

Di titik ini pula, akhirnya keinginan saya seolah mati. Yang saya inginkan hanyalah agar saya bisa menjadi orang baik yang selalu mencoba memahami dan mencari petunjuk Tuhan, apa amanah yang sedang ditugaskan kepada saya? Bagaimana saya harus mengembannya? Sebab pada akhirnya toh, semua ini hanyalah sarana semata jika dibandingkan dengan tujuan akhir kita.

Tak lupa pula, saya ingin menuliskan nasihat yang saya terima hari ini. Bahwa jika memilih istri kelak, saya harus memilih dia yang merupakan seorang ‘Ibu’. Setiap ibu pastilah perempuan. Sementara perempuan belum tentu ianya adalah seorang Ibu. Seorang Ibu bukanlah ditakar dari manisnya paras, atau tua mudanya usia, melainkan dari akhlaq-nya, baik atau tidaknya. Sebab hanya ia yang berakhlaq mulia yang menjadi cermin atas pernyataan Nabi bahwa surga terletak di bawah kakinya.

Iya, rupanya tak semua perempuan  adalah ibu, yang bisa menjadi pintu surga bagi anak-anaknya. Dan tentunya kita ingin mencarikan pintu surga bagi anak kita nanti. Sebab bagi saya sudah jelas bahwa saya bisa ada di sini, dilimpahi berbagai keberuntungan, adalah karena doa Ibu. Iya, tentunya saya ingin, dia yang menjadi ibu bagi anak saya nanti adalah dia yang bisa mengantarkan anaknya menuju Tuhan, sama seperti ibu saya yang tak kenal lelah memperkenalkan ilmu-ilmu Ke-Tuhan-an kepada saya.

Dan pada spiritual retreat ke tanah air kali ini, saya mendapatkan kesimpulan bahwa sering petunjuk Tuhan itu tidak bisa kita prediksi. Yang bisa kita lakukan adalah bersyukur ketika mendapatkan petunjuk, serta menjalani dan senantiasa berbuat baik saja. Kelak, kita akan tahu makna dari petunjuk tersebut, post-diction. Dan bukankah memang takdir adalah kenyataan setelah terjadi?

Perjalanan kita masih jauh, tapi itu bukanlah alasan untuk berleha-leha. Akhirat harus selesai di dunia. Dan tentu kita harus senantiasa bersuci, mengganti dosa-dosa yang terdahulu dengan taubat dan kebaikan. Ya, supaya kelak bisa dimakamkan di atas awan. Sebab dalam kisah Dragon Ball, hanya orang-orang yang memiliki hati yang bersihlah yang bisa naik di atasnya🙂

2 thoughts on “Makam di Atas Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s